Merasa Merepotkan Yang Menolong
Di luar kebiasaan. Sampai sekarang saya masih terkesan terhadap ibu donatur ini. Hari itu beliau pertama kalinya datang ke kantor NH. Berhajat untuk menyampaikan sebuah permintaan maaf. Beliau menemui saya…
Usai dipersilahkan duduk, sang ibu membuka pembicaraan, “Saya mau nyampaikan permintaan maaf, saya merasa bersalah, ustadz…” kata beliau dengan mimik memelas.
Beliau bercerita, beberapa hari lalu beliau didatangi seorang tenaga fundraiser (kurir pengambil donasi-pen.). Seperti biasa, sang fundraiser berencana mengambil donasi bulanan dari ibu tersebut. Namun, waktu itu si ibu meminta si Fundraiser untuk kembali beberapa hari lagi dikarenakan donasinya masih dibutuhkan untuk keperluan lain.
“Lain kali kalau ngambil jangan tanggal muda ya, Mas..” kata beliau, menirukan percakapannya dengan si fundraiser waktu itu. Sampai disini, tiba-tiba mata beliau berkaca-kaca. Ah, Si Ibu menangis…
Sebenarnya si Fundraiserpun pergi dengan tak membawa perasaan apa-apa, tidak ada kekecewaan. Si Fundraiser berlalu seperti biasa dan melanjutkan kunjungan-kunjungan berikutnya. Ya, sebagaimana 15 orang tenaga fundraiser NH lainnya, datang ke donatur dan kembali dengan tangan hampa adalah sesuatu yang sangat biasa. Sebiasa sawah yang ditumbuhi rerumputan. Ketidakenakan yang sudah sangat diwajarkan.
Makanya resiko itu sudah kami ingatkan sejak di awal mereka, para kurir donasi itu, ketika melamar ke NH. Dan mereka sangat memahami, sampai-sampai untuk memenuhi target, mereka harus datang tiga sampai empat kali ke tempat yang sama. Tapi bukan untuk mengejar bak tukang tagih hutang, samasekali bukan. Itu semua dilakukan demi memaksimalkan arti sebuah layanan.
Yang justru menjadi tak nyaman di hati rekan-rekan fundraiser itu, adalah kekhawatiran apabila donaturnya sendiri melihat donasinya sebagai sebuah beban layaknya tagihan. Sampai terkesan seperti melarikan diri dan kucing-kucingan. Ah, padahal menyampaikan secara langsung untuk libur atau mundur adalah lebih baik dan sangat membantu hingga para fundraiser itu tak bingung dibuatnya.
Kembali ke cerita si ibu. Sang ibupun waktu itu tak merasakan apa-apa. Apalagi melihat wajah petugas fundraiser yang fine-fine saja.
Sampai entah kenapa, beliau bercerita bahwa malam harinya beliau terhenyak. “Saya teringat lagi tentang kejadian tadi siang, di hati rasanya tak nyaman, gelisah, tiba-tiba malam itu saya menangis, sangat menyesal.” katanya dengan suara tercekat, berusaha mengalahkan ritmik air matanya.
Saya berusaha mendengarkan dengan seksama.
“Saya menyesali perbuatan saya, kenapa saya mempersulit orang yang mau membantu saya berbuat kebaikan, meminta si masnya itu (fundraiser) untuk kembali lagi, padahal yang butuh adalah saya, padahal saya sudah dibantu diambilkan donasinya” Ungkapnya.
Subhanallah…
Sekarang saya yang terhenyak. Sebegitunya beliau meletakkan sebuah permasalahan. Menemukan sebutir jawaban “Siapa yang butuh dan siapa yang dibutuhkan” dalam gundukan pasir “pada umumnya” tentu bukan urusan mudah.
Kedalaman prinsip dan kejernihan nurani-lah yang membuat beliau melihat permasalahan dalam sudut pandang yang sangat mulia. Baru saya benar-benar mengerti, ternyata hanya dalam urusan itulah beliau datang ke kantor NH. Mau menyerahkan donasi sekaligus meminta maaf.
Mendengar kisah ibu tersebut, saya jadi teringat kisah pemuda zaman salafusshalih yang tak sengaja memakan buah delima yang mengalir di sungai. Sang pemuda gelisah, merasa memakan sesuatu yang bukan miliknya. Dia sedih dan bingung. Sebenarnya ini hal sepele, dalam urusan hukum syariat, buah delima itu sudah halal dimakan karena sudah lepas dari pohonnya. Apalagi mengalir di sungai yang tak diketahui siapa pemiliknya.
Tapi tidak dengan si pemuda, kejernihan hatinya menuntut dia untuk mencari pemilik pohon delima lalu meminta maaf dan memohon kehalalan buah tersebut. Kelak, sang pemuda akhirnya justru mendapatkan barokah dari kebaikan akhlaknya, dinikahkan dengan putri si pemilik kebun delima. Kelak, dari keduanya lahir seorang imam besar bernama Imam Syafi’ie. Menjadi sumber pahala dan keberkahan yang tak pernah putus bagi ayah ibunya. Dalam jeda selanjutnya, saya berusaha menenangkan beliau. Memastikan bahwa semua baik-baik saja dan kami tak ada rasa marah maupun kecewa.
Sementara dihati saya pribadi, ada rasa kagum pada beliau yang tak saya ungkapkan.
***
Saudaraku, kita dapat mengambil pelajaran tentang kisah si Ibu dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Bahwa hal-hal besar, biasanya yang tak ada hubungannya dengan urusan dunia, terkadang kalau tak awas akan terlihat kecil dan sepele.
Tidak sholat, tidak berzakat, tidak berpuasa, tidak berhaji, kita lihat pada sebagian besar orang dianggap urusan-urusan kecil yang tak ada nilai pentingnya sama sekali.
Akan tetapi sebaliknya, pada segolongan orang yang lain, jangankan sesuatu yang haram, melakukan yang makruh saja mereka enggan. Sekedar menunda sedekah, merasa mempersulit orang lain, memakan buah delima yang terbawa arus sungai atau ketinggalan takbiratul ihram shalat jamaah, malah bagi mereka menjadi perkara yang sangat-sangat penting dan begitu disesali.
Maka kejernihan jiwa dan kerelaan untuk merendahkan hati adalah yang membedakan satu dengan yang lain. Semakin jernih hatinya, semakin jelas dia melihat hakikat-hakikat kehidupan. Semua dilihat dalam sudut pandang hakikat dirinya sebagai hamba. Hakikat dirinya sebagai pencari bekal kebaikan. Hakikat dirinya yang pasti mati. Dan hakikat dirinya kelak yang pasti diadili. Orang yang seperti inilah yang tak akan pernah tertipu. Tahu siapa dirinya dan apa yang ada dihadapannya.
Mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan kepada kita kejernihan hati dan pikiran. Allahumma aarinal haqqa, haqqa…wa aarinal baathila-baathilan..Ya Allah tampakkan kepada kami yang benar itu benar dan tampakkan kepada kami yang salah itu salah… Aamiiin.



Komentar Saudara !