Home » Sakinah

Merawat Cinta Kasih Dengan rahmah Alloh

19 January 2010 No Comment

Pengalaman hidup kawan saya ini benar-benar membuat saya berdecak kagum. Luar biasa! Tak pernah saya dapat membayangkan bagaimana ia dan keluarganya bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan kondisi istri yang sakit. Sakit yang menurut saya bebannya jauh lebih berat dirasakan dari pada sakit yang biasa dialami oleh kebanyakan orang.
Tapi cobaan tersebut tidak membuat keluarganya berantakan. Sang suami tetap setia hidup bersama istri sedangkan anak-anaknya-pun tumbuh dengan normal. Tiga dari sekian anaknya sudah menginjak bangku kuliah. Dua di perguruan tinggi negeri ternama dan satunya di perguruan tinggi swasta. Masih ada lagi adiknya yang sekolah di tingkat dasar dan menengah.
Derita sang istri ini datang di tengah perjalanan kehidupan keluarganya. Awal mereka berumah tangga hingga lahirnya beberapa anak tidak terjadi masalah yang begitu berarti. Masalah baru datang sekitar 13 tahun lalu, ketika tiba-tiba sang istri terkena penyakit yang menyerang syaraf. Orang awam mengenal dengan istilah sakit jiwa. Konon, sakitnya terjadi akibat trauma yang dialami ketika melihat tetangga rumahnya bunuh diri.
Beberapa kali sang istri dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh, lalu kambuh lagi. Begitu berkali-kali yang terjadi. Namun, Alhamdulillah kini kondisinya lebih baik. Kehidupan keluarganya tetap lurus berjalan, meski mungkin tetap ada yang tidak biasa jika dibandingkan dengan keluarga normal yang lain. Tapi itu semua dilalui sebagai ujian kehidupan yang mesti dilewati.
Dengan telaten sang suami merawat istrinya sembari berharap kondisinya pulih seperti sedia kala. Sang suamipun juga dengan sabar mengerjakan pekerjaan rumah tangga disamping tetap harus bekerja keras menafkahi keluarga dan terutama bertanggung jawab menyekolahkan anak-anak sampai jenjang pendidikan yang terbaik.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana semua itu bisa dijalani dengan penuh kesabaran oleh keluarga tersebut. Tetapi dari situlah kita bisa mengambil pelajaran penting bagaimana membangun cinta kasih dalam rumah tangga.
Mahabbah dan Mawaddah
“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum : 21).
Tertarik lawan jenis adalah fitrah, naluri kemanusian yang telah dititipkan Alloh kepada manusia. Banyak sisi-sisi yang membuat kita tertarik kepada lawan jenis. Umumnya disebabkan oleh pertimbangan fisikal. Kecantikan atau kegagahan seringkali menjadi pertimbangan awal terjadinya proses pernikahan. Itu alamiah sekali. Dalam istilah Arab, maqam ketertarikan yang berdasarkan aspak lahiriyah ini disebut mahabbah.
Selain mahabbah, dikenal juga istilah mawaddah. Yaitu proses jatuh cinta yang bukan semata-mata berdasarkan aspek lahiriyah semata melainkan yang bersumber pada sesuatu yang abstrak, misalnya sisi kepribadian seseorang. Dalam bahasa kini, mungkin ini yang disebut dengan istilah inner beauty, yaitu kecantikan yang tumbuh dari kepribadian seseorang.
Biasanya karena berdasakan segi kepribadian, aspek mawaddah akan menjadikan cinta kasih yang dijalani menjadi lebih langgeng usianya bila dibanding jika hanya berdasarkan mahabbah semata. Sebab kepribadian seseorang itu lebih kuat dan lama bertahan. Sementara aspak lahiriyah mudah sekali berubah, baik akibat perubahan umur maupun sebab-sebab lain.
Wajah cantik bisa luntur menjadi keriput oleh berjalannya waktu. Paras ayu bisa menjadi babak belur mengerikan akibat kecelakaan. Tubuh yang dianggap ideal-pun bisa mengalami perubahan-perubahan. Kelangsingan yang dibangga-banggakanpun mungkin saja akan menjadi kegendutan oleh berbagai sebab. Yang membanggakan tubuh subur pun bisa menjadi kurus kering oleh sebab tertentu. Demikian juga fisik gagah lelaki, bisa lumpuh oleh suatu penyakit.
Atau sebaliknya, orang menjadi cantik karena di-“permak” oleh perhiasan dan kosmetik, atau bahkan (ada yang nekat) operasi plastik. Maka jadilah cantik secara imitatif, cantik yang serba topeng. Kecantikan yang sangat artifisial: serba permukaan, dangkal, dan instan.
Karena sifatnya yang serba berubah itulah maka ketertarikan yang berdasarkan mahabbah menjadi sangat rawan untuk luntur dan sulit dipertahankan dalam jangka waktu yang lama. Ini berbeda dengan ketertarikan yang berdasarkan mawaddah. Karena memiliki unsur kesejatian yang lebih mendalam, maka mawaddah akan menjadikan cinta kasih lebih langgeng.
Oleh karena itu kini dikembangkan ilmu kepribadian. Kita didorong dan diajari untuk menjadi pribadi yang menarik; menjadi sosok yang berkarakter kuat.
Meluaskan Cinta Kasih
Lebih dari sekedar ketertarikan dan cinta kasih yang berdasarkan kepribadian, ada lagi jenis cinta kasih yang lebih tinggi nilainya, yaitu rahmah. Meminjam istilah almarhum Cak Nur, cinta kasih ini adalah jenis kecintaan Ilahi karena bersumber dan berpangkal dari Tuhan yang bersifat ar-Rahman dan ar-Rahim.
Seperti sebuah pesan dari Rasulullah SAW, “Berakhlaklah kamu dengan akhlak Alloh!”, maka hubungan cinta kasih dalam pernikahan seharusnya didasari oleh sifat Alloh, yaitu ar-Rahman. Dengan dasar ar-Rahman itulah maka cinta kasih akan mencapai kualitas yang murni, sejati, serba tak terbatas dan serba meliputi. Ini sejalan dengan firman Alloh “…rahmat-Ku meliputi segala sesuatu …” (al-A’raf/7:156).
Karena sifatnya yang bersumber dari Alloh, maka rahmah akan menjadikan cinta kasih dalam rumah tangga terbebas dari sekat-sekat artifisial. Cinta kasih ini sudah tak lagi memandang kepribadian seseorang, apalagi sekedar kecantikan atau ketampanan. Sebab rahmah adalah salah satu manifestasi Alloh. Dan ia harus menjadi citra Alloh dalam diri kita.
Rasulullah saw mengajarkan, “Orang-orang yang kasih sayang akan dikasih-sayangi oleh Yang Maha Kasih-Sayang. Karena itu kasih-sayangilah manusia di bumi maka Dia yang di langit akan kasih-sayang kepadamu.”
Cinta kasih yang didasarkan rahmah inilah yang mampu mengantarkan kehidupan rumah tangga mencapai sakinah, yaitu keluarga  bahagia yang diliputi rasa tenang tenteram. Maka, kembali pada cerita kehidupan keluarga seorang kawan di atas, saya rasa hanya rahmahlah yang membuat sang suami tetap setia dan sabar hidup berumah tangga bersama istrinya yang sakit itu. Sungguh luar biasa! Bagaimana dengan kita? [*]

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.