Merepotkan Orang Sampai Tua
Anak selalu membuat repot orang tua. Siapapun tidak bisa memungkirinya. Meskipun demikian, dengan naluri kasih sayang yang Alloh anugerahkan, orang tua si anak tidak pernah merasa direpotkan. Dari sejak awal kehamilan anak mulai merepotkan ibu.
Perubahan hormon dalam diri Sang Ibu membuat sebagian ibu mulai susah makan dan minum. Bahkan sekedar mencium bau masakan saja terkadang sudah membuat si Ibu merasa tersiksa. Jangankan membayangkan bisa menikmati sarapan, makan siang dan dan makan malam dengan makanan kesukaan, sekedar melihat makanannya saja seringkali sudah membuat perut mual tidak karu-karuan.
Jangan pula tanya kondisi kesegaran badan Si Ibu di saat-saat awal kehamilan. Amat terasa menjadi jauh lebih menurun dibandingkan sebelum kehamilan.
Melewati usia kandungan dua–tiga bulan, Si Ibu sudah mulai bisa menikmati makan lebih nyaman dibandingkan masa kehamilan awal. Namun keadaan itu tidak membuat ibu terbebas dari kerepotan. Kandungan yang makin membesar pasti membuat kebebasan bergerak ibu menjadi makin jauh berkurang. Keadaan itu makin bertambah berat dari waktu ke waktu hingga menjelang saat-saat kelahiran. Alloh menggambarkan kondisi yang ibu rasakan selama kehamilan selama sembilan bulan lebih ini dengan firman-Nya,”Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS : Lukman (31) : 14).
Puncak kerepotan ibu adalah saat detik-detik melahirkan. Dalam kondisi fisik yang tidak lagi optimal karena kelelahan saat menjalani masa kehamilan yang sedemikian lama, sang ibu sudah harus bersiap-siap untuk melahirkan putra-putri tercinta.
Masa-masa yang sangat mendebarkan. Hati ibu dalam keadaan harap-harap cemas. Berharap kelahiran putra-putrinya bisa normal dan lancar. Berharap anak lahir dalam keadaan sehat dan wal afiat. Juga mendebarkan karena mengkhawatir jika terjadi apa-apa saat melahirkan pada diri dan anak tercinta. Nyawa dan kehidupan sang ibu dipertaruhkan utuh, demi melahirkan buah hati tercinta. Selama proses persalinan ini ibu menanggung rasa sakit yang luar biasa. Sakit yang amat sakit. Tidak tertahankan dan tidak tergambarkan. Hanya para ibu yang tahu perasaan ini.
Persalinan-pun usai. Namun kerepotan jenis baru telah menantinya. Siang dan malam ibu menjaga, merawat dengan amat hati-hati untuk kebaikan dan keselamatan putra-putri tercinta. Ibu tidak bisa tidur dengan optimal sebagaimana biasanya. Di saat Ibu tidur nyenyak di tengah malam, sang bayi tiba-tiba merengek membangunkan Ibu yang lelah menjaga seharian. Sang Bayi menangis karena haus atau karena tidak nyaman sebab popoknya basah.
Ibu-pun dengan kesabaran luar biasa bangun menyusui atau mengganti popok sang bayi. Semalaman, kejadian seperti yang demikian itu tidak hanya terjadi sekali, namun bisa berkali-kali. Yang demikian itu terjadi bukan sehari dua hari. Bukan seminggu dua minggu, tetapi hingga berbulan-bulan.
Dan puncak kerepotan ibu selama membesarkan putra-putri tercinta adalah saat sang buah hati terserang sakit. Siang malam rewel terus-menerus. Siang malam tidak memberi kesempatan ibu untuk istirahat dengan nyaman. Siang malam ibu harus menjaga dan mengawasinya dengan intensif.
Dari waktu ke waktu putra/putri tercinta makin besar. Kerepotan bergeser kepada soal memberikan pendidikan terbaik kepada buah hatinya. Mulai dari taman-kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas hingga perguruan tinggi. Selain repot memilihkan tempat belajar yang sesuai kemampuan, juga repot harus mencarikan biayanya. Kerepotan juga semakin bertambah saat orang tua harus menjaga anak dari pengaruh lingkungan yang kurang baik serta mengawal prestasi pendidikannya.
Setelah putra/putri tercinta lulus dari jenjang pendidikan dan bekerja serta punya penghasilan, kerepotan orang tua belum juga berakhir. Masih ada satu lagi tanggung jawab orang tua, yaitu mengantarkan putra/putri ke jenjang pernikahan. Mengantarkan anak memasuki kehidupan rumah tangga.
Kebaikan dan jasa orang tua kepada putra/putri tercinta tidak terbayangkan besarnya. Untuk itu Alloh memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu dan ayahnya,”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS : Lukman (31) : 14)
Ketika anak sudah berkeluarga, seharusnya anak telah berhenti dari merepotkan kedua orang tua. Kini status anak sudah berubah, yaitu sebagai suami atau istri. Sebentar lagi dalam waktu tidak lama setelah pernikahan, juga akan berstatus sebagai ayah dan ibu bagi anak-anaknya. Sayang sebagian anak yang sudah berkeluarga tetap saja tidak berhenti merepotkan orang tua. Ketika dikaruniai putra dan putri, sementara suami istri sama-sama bekerja, tidak sedikit yang menyerahkan perawatan cucu kepada nenek dan kakeknya. Alasannya dari pada menyerahkan kepada pembantu atau karena tidak kuat membayar pembantu. Jadilah nenek dan kakek repot membesarkan cucu sebagaimana dulu repot membesarkan anak-anaknya.
Saudaraku, rasanya keadaan ini mesti dipikirkan kembali. Memang kasih sayang orang tua kepada putra-putri tercinta tidak ada batasnya. Orang tua dengan penuh kasih sayang bersedia menanggung kerepotan anak-anaknya hingga usia tua sekalipun dengan kesediaan merawat dan membesarkan cucu-cucunya. Namun pertanyaannya adalah tegakah kita merepotkan orang tua, ibu dan ayah kita, terus menerus hingga hari tua? Tanpa disadari sesungguhnya kita telah merampas hak mereka berdua untuk menikmati hari tua dengan tenang dan nyaman. Tanpa disadari kita telah mengganggu kedua orang tua kita untuk memiliki waktu memperbanyak ibadah kepada-Nya di saat waktu semakin dekat untuk kembali menghadap-Nya.
Haruskah kita menghalangi mereka untuk memperbanyak kesempatan untuk beribadah kepada-Nya? Haruskah kita menjadi penghalang bagi ibu dan ayah untuk memperbanyak kesempatan menjemput amunan-Nya? Seharusnya kita sebagai anak justru memfasilitasi dengan segenap kemampuan kita agar orang tua kita bisa tenang beribadah di hari tuanya. Memfasilitasi agar kedua orang tua kita, ibu dan ayah, bisa bersungguh-sungguh menjemput akhir hidup mereka dengan husnul khotimah.
Apakah kita termasuk anak yang merepotkan orang tua hingga hari tua? Atau kita termasuk anak yang memfasilitasi kedua orang tua untuk tenang beribadah kepadaNya? Kita pasti mampu menjawabnya..



Komentar Saudara !