Home » Hikmah Muallaf

Tak Cukup Sekedar Pindah Agama, Perhatikan Juga Sisi Sosialnya

19 January 2010 No Comment

Saya lahir dari keluarga Katolik. Bapak mantan tentara Portugis, dan meninggal ketika saya berusia 2 tahun. Beruntung keluarga ibu saya tergolong orang “berada” di Timor Timur sehingga secara ekonomi tak terlalu menghadapi masalah.
Ibu saya keturunan raja di sana. Ada juga keluarga saya yang jadi orang besar di Mabes Timtim, juga ada yang jadi kepala desa dan kepala sekolah. Namun sayangnya ibu saya buta huruf. Dan ketika umur 10 tahun saya sadar akan hal ini. Saya tidak terima keadaan itu, hingga saya berfikir saya harus mengubah keadaan ini. Maka saya tak boleh menyerah, harus bisa bersekolah.
Beda dengan di Jawa, di sana orang sekolah bukan untuk mencari pengetahuan sebagaimana umumnya, namun hanya agar bisa berbahasa Indonesia saja. Waktu di kelas 4 SD, sebagai bungsu dari 3 bersaudara, saya keluar sekolah. Saya memilih ikut tentara, ke hutan selama 2 tahun sebagai  TBO (tenaga bantuan operasional) yang siap berjuang melawan Portugis.
Pas di hutan itu saya ketemu dengan seorang tentara yang kebetulan berwudhu sebelum sholat. Setiap Jum’at ia ke kota sholat Jum’at. Saya tanya, kenapa bapak wudhu-wudhu terus, kita ini kan sedang perang bukan sedang ibadah. Saya pun ditanya balik, kenapa sebagai orang Katolik kamu tak pernah ibadah. Saya jawab, kita ini di hutan tak ada gereja, jadi ya tak usah ibadah.
Kami pun lalu terlibat diskusi. Yang menarik ia menganalogikan pentingnya ibadah dengan keberadaan seorang anak dengan orang tuanya. Dimisalkan, bila seorang anak Dili merantau ke Jawa atau kemanapun, apa perlu menjalin komunikasi dengan orang tua di tempat asal. Orang tua atau anak akan merasa tenang bila komunikasi itu senantiasa terhubung.
Nah, begitu pak tentara itu menjelaskan, hubungan manusia dengan tuhannya juga harus ada komunikasi terus menerus, tak peduli ia berada, di kota, di hutan atau dimana saja. Hubungan tanpa komunikasi sama dengan mati. Dari situ saya menangkap, Islam itu agama yang ibadahnya bisa dilakukan tanpa mengenal tempat, begitu mudahnya. Lalu saya juga tahu bahwa di Katolik itu cara berdoanya sesuai tempat, bila di Dili pakai bahasa Dili, di Jawa berbahasa Jawa, di Inggris pakai bahasa Inggris. Namun dalam Islam bahasa ibadahnya satu, bahasa Arab.
Sedikit demi sedikit benih untuk pindah agama sudah mulai ada. Begitu ada kesempatan ke kota, saya sempatkan ke masjid, dan bermaksud menyatakan pada ustadz di sana bahwa saya akan masuk Islam. Namun ternyata batal. Ini karena ada kabar seorang teman saya yang masuk Islam, diancam pasturnya kemudian berdiri di atas jembatan melompat ke sungai mencoba bunuh diri. Berita ini menggemparkan seluruh desa. Namun yang aneh, teman itu ternyata bisa selamat. Diam-diam  saya ke jembatan itu ingin tahu. Aneh, mestinya mati kok bisa selamat ya, begitu benak saya waktu itu.
Waktu demi waktu berlalu, ketika kelas 6 SD saya bulatkan tekad masuk Islam ketika tinggal bersama tante di kota. Di masjid saya mulai belajar Islam. Saat Dhuhur saya mulai belajar adzan, sebelum subuhpun saya sudah di sana. Di masjid itu semua amalan Islam saya pelajari. Enam bulan kemudian ada kesempatan ke Dili, di sana saya bergabung dengan para muallaf di yayasan Yakin. Di sana saya digembleng tentang akidah dan ritual agama lainnya. Kami benar-benar digembleng, sebab bila tidak, ada sholat,  tapi tetap makan babi, tetap mabuk-mabukan dan banyak kebiasaan buruk lainnya apa gunanya.
Alhamdulillah, hasil belajar saya cepat sekali. Iqro’ cepat lancar. Dan dalam berbagai lomba keagamaan saya sering menang. Tinggal di Yakin rasanya tiada hari tanpa pertengkaran dengan warga sekitar. Maklum tiap malam warga Kristen Katolik di sana selalu membuat ulah yang memancing kemarahan kami.
Suatu waktu saya ingin menjenguk ibu di samping ingin bertemu kakak saya. Di tengah jalan saya bertemu 2 orang teman dan kemudian mengikuti jejak saya masuk Islam. Ibu tak mempersoalkan kepindahan agama saya, namun justru para tetanggalah yang usil. Saya dan kakak saya yang alhamdulillah juga telah masuk Islam sempat dimusuhi tetangga sekampung bahkan sempat mau dibunuh. Tapi kami yakin di pihak yang benar, resiko apapun akan kami hadapi.
Dan alhamdulillah, bersama 18 pemuda Timtim, pada tahun 1995, kami hijrah ke Jawa, tepatnya ke sebuah pesantren di Bogor. Di sini proses saya belajar juga lancar. Saya bahkan sering disuruh ikut lomba ceramah dan menang. Setahun kemudian, karena alasan keuangan,  saya pindah ke Cijantung, sementara nasib teman-teman lainnya tak jelas. Setengah gelisah saya memikirkan mereka, namun apa daya, saya juga tak bisa berbuat banyak.
Dan ketika saya berniat balik ke Dili, saya bertemu teman yang menawari saya bisa melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah Cibiru. Di sini kembali saya bertekad harus berprestasi. Berprestasi di OSIS juga dalam kegiatan keagamaan, termasuk mengisi pengajian kultum di masjid. Rupanya prestasi itulah yang memudahkan saya untuk mengajak sekolah teman-teman saya dulu di SMA ini.
Pernah suatu ketika saya ceramah di depan ibu-ibu PKK di Bandung, mereka terharu dan menawari saya kuliah di Unisba, namun akhirnya saya diterima di UIN Gunung Jati Bandung. Kuliah sambil kerja, pagi kuliah, siang ngajar privat iqro’, menjaga vila, jadi kuli bangunan dan sebagainya. Ini semua saya lakukan agar bisa hidup layak dan bisa mengajak teman-teman seperjuangan untuk tidak main-main dengan agama Islam yang telah dipilih.
Diamanahi sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Timdim di sana, saya berusaha menanamkan pada anggota agar mereka tetap merasa benar-benar tak salah memilih Islam. Namun saran saja tak cukup. Kita harus realistis, terutama berhadapan dengan tuntutan dunia nyata. Karena prestasi yang saya raih, alhamdulillah saya bisa menyekolahkan yang tak bisa sekolah, yang butuh biaya saya carikan beasiswa. Bahkan ada yang saya masukkan kerja. Ini semata-mata agar mereka semangat ber-Islam. Intinya adalah jangan sampai orang masuk Islam, tapi ternyata tak bisa makan, tak bisa kerja.  Percuma bicara tauhid, tapi untuk cari makan saja susah.
Pada teman-teman senantiasa juga saya tekankan bagaimana cara ber-Islam yang baik. Mengajak teman-teman masuk Islam memang harus dibarengi dengan memikirkan juga sisi sosialnya. Bersyukur, setiap tahun, sepulang teman-teman pulang dari Timtim selalu mereka membawa 2-3 temannya untuk juga masuk Islam. (*)

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.