Tamu Yang Tak Dianggap
Pertengahan bulan adalah saat ketika kami (tim redaksi) sedang berada pada fase yang sensitif. Terkadang seharian saya menjadi lebih pelit senyum. Dahi tambah berkerut dan hampir semua rekan di jajaran media bekerja lebih keras dibanding biasanya. Itu semua dilakukan karena pada pertengahan bulan itu kami harus mengejar tenggat waktu untuk naik cetak majalah. Tensi yang tinggi itulah yang membuat kami harus terus menerus belajar melatih diri dalam menjaga kesabaran dan emosi.
Tak terkecuali sore pertengahan bulan itu. Selepas maghrib, ketika jam dinding di Ruang Media Nurul Hayat menunjuk angka 6 lebih, tergopoh-gopoh rekan yang bertugas piket malam memanggil.
“Mas… tolong ada orang datang. Saya gak bisa handle, sampeyan saja.” begitu katanya. Memang kadang kala jika ada tamu yang butuh pelayanan khusus, rekan tadi sering meminta kami yang ada di ruang redaksi untuk membantunya. Namun berbeda pada sore itu, ia tampak lebih panik dari biasanya.
Sesaat kemudian saya ke front office. Tampak seorang tamu yang sedang melihat-lihat koleksi buku di perpustakaan kecil kami. Bergegas saya hampiri. “Assalamualaikum, ada yang bisa kami bantu pak?” Sapa saya kepadanya.
“Saya ingin beli buku-buku ini.” Jawabnya dengan aksen tak begitu lancar. Saya melongo tak percaya. Bukankah di situ jelas tertulis “perpustakaan”. Fikiranpun terbang kemana-mana. Menduga-duga jangan-jangan ada kejanggalan pada kondisi psikisnya. Astaghfirullah… ampuni hamba ya Alloh.
“Maaf pak, ini koleksi perpustakaan, jadi tidak dijual.” kata saya menjelaskan sambil tetap berlagak ramah.
Beberapa saat kemudian ia berpamitan dan berjalan-jalan entah kemana. Sayapun kembali berkutat dengan pekerjaan di ruang media NH.
Tiba-tiba tamu tadi masuk ke ruangan saya, duduk di depan saya dan ngobrol kesana-kemari. Berhubung saya masih sibuk dengan pekerjaan, saya sedikit tak menghiraukannya. Senyum simpul saya sunggingkan sekedar memberi tanda bahwa saya mendengarkannya, namun sebenarnya hampir tak ada kata-katanya yang masuk ke dalam memori.
Saya tak habis fikir dengan orang ini. Di tengah situasi dengan tekanan yang tinggi ini seharusnya ia bisa menghormati kepentingan saya. Seharusnya ia hentikan ceritanya yang kadang terbata-bata itu dan bertanya-tanya yang tak perlu itu. Seharusnya ia bicara secukupnya dan segera pergi setelah usai keperluannya. Apalagi ditambah (maaf) aroma tubuhnya yang sepertinya belum dibasuh air beberapa hari itu sungguh sangat tidak ramah dengan indera penciuman. Saya rasa manusiawi jika akhirnya saya semakin tak nyaman duduk berdekatan. Sungguh sangat tidak enak. Meski tetap dapat saya tahan namun perasaan jengkel mulai mengalir menuju ubun-ubun. Namun semua berubah ketika ia mengatakan sesuatu…
“Saya tadi di warung makan baca Majalah Nurul Hayat yang diletakkan di sana.” katanya suatu saat. Deg…!! Perhatian saya berubah. Jari-jari yang tadi aktif memainkan keyboard komputer saya hentikan. Pandangan saya beralih pada mimik wajahnya yang ternyata terlihat agak mongoloid.
“Saya lalu catat alamatnya, dan mencari kantor Nurul Hayat hingga di sini.” ujarnya membuat saya tertegun. Perhatian yang tadi saya berikan asal-asalan, kini 100% tercurah untuk mendengarkan kisahnya.
“Saya ingin membeli majalahnya mas, tapi tidak punya uang.” katanya malu-malu sambil menyebutkan judul sebuah artikel yang tadi ia baca yang pernah ditulis majalah Nurul Hayat.
Namun justru ucapan itulah yang kemudian menampar keangkuhan saya. Sayalah yang akhirnya harus malu. Malu atas kegigihan sang tamu. Malu atas semangatnya mencari ilmu, karena belum tentu saya mempunyai semangat seperti yang ia punya. Dan saya teramat malu lagi pada perasaan saya yang merasa lebih tinggi, lebih penting, lebih tahu dan lebih dibutuhkan.
Saya yang pada awalnya tak begitu peduli dengan kehadirannya karena sikapnya yang kurang menyenangkan berubah menjadi respek padanya. Di titik itulah saya teringat sebuah kisah…
Suatu saat, ketika Rosululloh sedang menjamu tamu-tamu penting, rombongan pembesar suku yang diharapkan dapat memeluk dan menyokong awal perjuangan Islam tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang buta lagi miskin dengan pakaian amat lusuh. Abdullah bin Ummi Maktum nama lelaki itu. Seorang cacat dari kalangan masyarakat biasa. Karena kebutaannya, ia tak melihat para pembesar ada di dekatnya hingga dengan santainya memotong pembicaraan Rosululloh SAW dengan para tamunya itu.
Sikap yang kurang menyenangkan ini menyebabkan Rasulullah memalingkan muka yang masam darinya, hingga Alloh menegur melalui ayat: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta padanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya…” (’Abasa : 1-4)”
Di kemudian hari, lelaki buta ini akhirnya menjadi salah seorang sahabat yang sangat dihormati Rosululloh karena kemuliaannya. Ia menjadi wakil Rasulullah sebagai imam shalat apabila beliau keluar berperang. Iapun menjadi muadzin bagi ummat Islam ketika Bilal berhalangan.
…..
Tanpa terasa percakapan kami telah hampir dua jam. Waktu yang tidak sebentar. Ketika ia membicarakan masalah agama, saya mendengar dengan seksama. Ketika saya mengemukakan wacana-wacana baru keagamaan, buru-buru ia catat dalam buku lusuh yang dibawanya. Sungguh jarang saya temui orang dengan semangat belajar seperti tamu saya sore itu. Melihat ghiroh memperbaiki diri yang seperti itu, saya tersadarkan bahwa bisa jadi ia adalah orang yang diberi kemuliaan jauh lebih tinggi dibanding apa yang saya lihat, lebih-lebih dibandingkan dengan saya yang tadi mengacuhkan dan seakan kurang menganggap dia ada.
Ya Alloh, bukakan hati ini untuk mengikis kesombongan yang mudah sekali terjadi…



Komentar Saudara !