Dia Yang Begitu Peduli
Malam itu Madinah senyap, hawa dingin menusuk tulang. Namun sesosok bayangan itu terus mengendap-endap berjalan keluar dari rumah sederhananya. Masih seperti malam kemarin, ia kembali menyusuri jalan tanpa seorangpun. Rumah demi rumah, kampung demi kampung ia amati dengan cermatnya, memastikan tak ada mara bahaya. Sungguh hampir setiap malam tak dapat ia pejamkan mata sebelum yakin bahwa kotanya baik-baik saja. Tak akan pernah rela ia berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala.
Madinah telah usai ia susuri, malam hampir di puncak, namun ia masih terus berjalan. Letih tergambar jelas dalam desah nafasnya. Sesekali ia labuhkan pandangan ke langit Madinah yang bertabur manik-manik cahaya. Sesungging syukur ia bisikkan pada Sang Pencipta atas nikmat yang ia dapati hari itu. Tak terasa Madinah sudah ia tinggalkan dan langkahnyapun jauh hingga keluar kota.
Namun sesaat ia terhenti demi dilihatnya seorang lelaki duduk sendirian menghadap sebuah pelita. “Assalamu’alaikum wahai Fulan..” sapanya santun. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian,” tambahnya. Namun lelaki pemilik tenda itu tidak jadi menjawab ketika dari dalam tendanya suara perempuan mengaduh memanggilnya. Terbata-bata ia memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan sedangkan tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.
Berlari sekuat tenaga ia-pun pergi meninggalkan lelaki di depan pelita. Secepatnya ia menuju rumah sederhananya di jantung kota. Letih mendera namun ia terus saja berlari. Dengan alas kaki yang tipis dan penuh lubang dimakan usia terasa jelas ia rasakan perihnya batu-batu yang dipijaknya sepanjang jalan, namun ia terus berlarian.
“Ummu Kultsum, bangunlah..! Ada kebaikan menanti kita malam ini,” Dengan nafas tersengal ia bangunkan istrinya. Dan Alloh-lah yang menjadi saksi bagaimana mereka berdua kini berlari membelah malam menuju tenda dimana seorang lelaki sendirian menunggu istrinya melahirkan.
Umm Kultsum segera masuk membantu persalinan. Dan tak seberapa lama tangis bayi membahana memecah kesunyian malam. Dan lelaki pemilik tenda itupun bersujud mencium tanah. Kemudian ia menghampirinya sambil berkata, “Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?”
Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena hampir bersamaan suara Ummu Kultsum memecah lengang udara, “Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah.”
Sahabat, terpesona kita mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Meskipun seorang pemimpin negara, namun sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai seorang yang sederhana tanpa gelimang harta. Ia orang yang amat berkuasa, namun kisah hidupnya begitu dipenuhi dengan kerja keras mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Dialah yang sanggup berlari tanpa henti demi menolong seorang perempuan melahirkan yang bahkan tak dikenalnya sendiri, tak dikenal apa latar belakang agama, suku atapun nasabnya. Dan ia melakukannya sendirian….
Sahabat, mari kita jadikan kisah ini sebagai ibroh bagaimana seharusnya kita ikhlas dan tulus berbuat untuk sesama..



luar biasa …..