Home » Menu Utama

menata Ulang Ruhaniah Kita

18 February 2010 No Comment

Yang akrab dengan komputer, tak asing dengan istilah Defragmentasi. Dalam pengertian sederhana, menurut wikipedia, defragmentasi adalah penataan ulang berkas-berkas yang berantakan. Berantakan tersebut, terjadi secara “alamiah” pada sistem operasi komputer. Karena peristiwa alamiah, mau dijaga atau dibaik-baikkan seperti apapun, semakin sering komputer dipakai, tetap saja pada akhirnya komputer terfragmentasi. Sistem-sistemnya tak teratur dan berantakan.
Ruhaniah kita, mirip dengan sistem operasi komputer itu. Ada saatnya secara alamiah ruhaniah kita terfragmentasi. Tak beraturan, berada dalam kebingungan orientasi, kehilangan pegangan, tak punya arah. Ketidakberaturan itu terjadi secara alamiah karena ruhaniah kita setiap saat diforsir untuk mengisi aktivitas hidup yang begitu padat. Seperti komputer itu, semakin sering dipakai semakin berpotensi ruhaniah kita terfragmentasi.
Oleh karena ruhaniah yang tak stabil, maka keimanan kita sangat berpotensi menjadi tidak sempurna. Dalam bentuk yang lain, Rasulullah mengibaratkan peristiwa alamiah ini seperti pakaian usang. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya iman yang ada di dalam hatimu akan usang sebagaimana halnya pakaian, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati-hati kamu” (HR. Thabrani)
Salah satu yang menyebabkan ketidakstabilan ruhaniah adalah kekeliruan kita dalam menerima beban hidup. Orientasi hidup yang semula kuat sedikit demi sedikit menjadi lemah. Dalam keadaan terpaksa atau tidak, ruhaniah ini kita ajak bekerja keras untuk menghindari himpitan hidup. Bekerja keras pagi hingga malam, meminta pertolongan kesana-kemari, mencoba-coba peluang, kadang memaksa, kadang juga menghiba dan menengadah pada manusia. Setiap hari, setiap waktu. Kita terdesak oleh kepentingan-kepentingan.
Dalam keadaan lapangpun, ruhaniah kita tak pernah mendapatkan kesempatan beristirahat. Kita bawa ia bergelut untuk mencapai keinginan dan angan. Fikiran sesak oleh impian-impian, menghayali hidup orang-orang yang dikelilingi simbol-simbol keberhasilan, merubah-rubah lapangan kerja, tergoda merubah prinsip, berjingkat-jingkat di seminar-seminar motivasi, kemudian setiap hari tidak ada yang lain kecuali berburu materi. Tabiat manusia yang tak pernah merasa puas Allah sinyalirkan dalam Al-Qur’an, “..Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga)..” (QS. Al-A’raff : 169)
Tak ada yang salah dengan upaya-upaya hidup tersebut. Tak ada yang keliru dengan sikap-sikap positif seperti “kerja keras”, “totalitas”, atapun “membangun impian hidup”. Bahkan sikap-sikap itulah yang membuat kita menjadi “ada” sebagai manusia. Membuat kita merasa berguna disetiap komunitas yang kita tempati. Baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun sosial kita.
Hanya sekali lagi, ini lebih pada peristiwa alamiah saja. Sebagaimana kata nabi, pakaian kalau sering dipakai pasti akan usang. Maka ada saatnya kita merenung sejenak. Merenungi sebuah pertanyaan, “setelah berjibaku dalam setiap sisi kehidupan, atau ditengah kesuksesan-kesuksesan yang kita miliki, masih stabilkah ruhaniah kita?”. Sedangkan Allah mengingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (QS. At-Takatsur : 1)
Mari belajar pada ketergelinciran beberapa kaum Anshar yang membuat mereka ditegur oleh Allah. Mereka adalah orang-orang yang tak diragukan lagi keimanan dan ketakwaannya. Mereka mencintai Allah dan Rasulnya serta selalu berjihad dijalan-Nya. Namun suatu ketika, tabiat manusiawi yang muncul dari ketidakstabilan ruhani terkadang muncul tak tertahankan. Tatkala Islam mulai mencapai keberhasilan dan sudah banyak pemeluknya, mulailah nafsu menunggangi pikiran mereka. Menurut mereka, apa salahnya kalau mereka rehat dan memikirkan ulang pengorbanan harta yang dulu telah mereka berikan. “Harta kita telah habis, dan Allah telah menjayakan Islam. Bagaimana sekiranya kita membangun dan memperbaiki ekonomi kembali?”, kata sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Dari desas-desus itu kemudian turunlah Ayat, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, ..”  (QS. Al-baqarah : 195)
Tak ada dosa besar bahkan mungkin tidak pula mereka melakukan tindakan haram. Tapi Allah menegur mereka. Karena Allah mencintai mereka dan berkenan mengingatkan para mujahid itu sebelum benar-benar jatuh dalam kebinasaan karena meninggalkan Jihad disebabkan besar kemungkinan nantinya mereka terlalu getol memburu harta. Begitu Imam Tirmidzi menceritakan dalam hadistnya.
Maka membaca apakah ruhaniah kita sudah sehat atau tidak, bukanlah dari sudut pandang kita sendiri. Melainkan bagaimana Allah ta’ala memandang kita. Lebih getol mana kita dengan sahabat Anshar itu dalam urusan memburu harta?, lantas siapa yang lebih berpotensi “jatuh ke dalam kebinasaan” ? kita atau mereka..
Dalam perjalanan, Ruhaniah kemudian jatuh sakit atau berantakan menjadi sangat mungkin. Mengingat kita tidak pernah tidak tertarik melakukan hal-hal yang bersifat haram, makruh dan mubah. Apalagi untuk ukuran saat ini, potensi kita bersentuhan dengan urusan-urusan makruh bahkan haram sangatlah besar. Kadang kita sanggup berlepas darinya. Kadang juga tidak.
Semakin sering bersentuhan dengan perkara-perkara makruh dan haram, semakin berantakanlah jiwa kita. Mungkin kita pernah mendengar kisah hilangnya hafalan hadist Imam Syafi’ie. Dimana beliau pernah kehilangan 40 hafalan hadistnya gara-gara tidak sengaja memandang betis seorang wanita bukan muhrimnya. Hanya karena tidak sengaja melihat betis, ingatan Imam Syafi’ie terfragmentasi, berantakan. Tercecer kemana-mana.
Sekarang, dengan pura-pura tidak sengaja, berapa kali kita menyaksikan lebih dari sekedar betis? Maka masih tak setujukah bahwa kita layak men-“defrag” (menata ulang) Ruhaniah yang ada di dalam diri kita.

Menata Ulang Orientasi Hidup
Ukuran ruh atau jiwa dikatakan sehat cuma satu. Yaitu menanyakan kembali apakah ruhaniah kita masih sejalan dengan tujuan penciptaannya. Sebagaimana surat Adz-Dzariyaat: 56 tentang tujuan penciptaan manusia, wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa li ya’buduun. Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk Ibadah kepada Allah.
Tak ada lagi tawar menawar terhadap tujuan penciptaan tersebut. Beribadah kepada Allah adalah harga mati. Bukankah orientasi hidup ini pula yang sering kita dengungkan setiap mendirikan ibadah shalat, Inna shalaati wa nusuki wa mahyaya wamamatii..lillahi rabbail ‘Aalamiin..
Oleh karena itu, menjadi salah kalau kita mendikotomikan aktivitas yang kita isikan dalam hidup antara ibadah dan bukan ibadah. Mestinya semuanya harus bernilai ibadah. Kerja, hubungan dengan manusia, pakai sarung atau sedang pakai dasi, didepan pelanggan atau didepan guru ngaji, semuanya harus berorientasi ibadah.
Sekarang mari bertanya, apakah pekerjaan dikantor yang kita lakukan bernilai ibadah. Apakah melayani suami sudah diniatkan ibadah. Apakah berbicara dengan orang lain sudah dalam kerangka ibadah. Apakah sedekah kita sudah bersih dari sifat pamer? Ya, pertanyaan apakah dan apakah, semuanya telah diniatkan ibadah dan ibadah.
Kenyataannya, seiring waktu berjalan orientasi hidup untuk ibadah kepada Allah itu kadang memudar. Orientasi hidup beribadah kepada Allah menjadi nomer kesekian diantara orientasi-orientasi pemenuhan hawa nafsu.
Orientasi hidup beribadah kepada Allah hanya akan dipakai kalau ia tak bersinggungan dengan orientasi duniawi. Namun bila keduanya bersinggungan, maka orinetasi pemenuhan syahwat lebih sering menang dan orientasi hidup beribadah kepada Allah lebih sering diminta untuk mengalah. Contoh yang mewakili adalah seorang yang berzakat 2,5%, tapi seluruh hartanya berasal dari hasil korupsi dan riba. Atau seorang karyawan yang sholat, tapi masih suka berbohong untuk sebuah kepentingan.
Maka menata ulang orientasi hidup akan membuat kita serasa menemukan kembali “diri kita sejatinya”. Kita akan memiliki jiwa yang kokoh, yang tak tercerai berai disebabkan terlalu banyaknya orientasi-orientasi duniawi. Apapun kondisinya, entah pahit atau manis, pandangan kita hanya tertuju pada satu titik, “mengharap keridhaan Allah”.
Adalah Rasulullah paling mengerti mengenai orientasi hidup dan tidak silau oleh suguhan-suguhan dunia. Beliau bersabda “Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551).

Menata Ulang Akhlak Kita
Setelah orientasi hidup tertata kembali sebagaimana fitrah penciptaannya, kita akan mulai bergerak untuk menata aspek prakteknya. Tentang akhlak. Sudah benarkah kita dalam berakhlak?
Akhlak adalah inti agama. Kualitas agama seseorang, dapat dilihat dari akhlaknya. Bahkan hal substansi yang membuat Rasulullah hadir menjadi rahmat di bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah bersabda, “aku diutus (oleh Allah) hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad)
Akhlak adalah cara kita merespon sesuatu. Respon yang baik dan benar, menunjukkan akhlak kita baik. Sebaliknya, cara merespon yang buruk, membuat kita rendah dihadapan orang lain karena dianggap punya akhlak yang buruk.
Kehidupan kita tidaklah berjalan datar-datar saja. Suatu saat landai, suatu ketika berbadai. Dengan cara kita sendiri, yang menurut kita paling benar, kita merespon keadaan-keadaan di luar kita itu. Kadang terbawa emosi, kadang terpaksa “menipu diri sendiri”. Ya, menipu diri sendiri.
Kita sering marah berlebihan kepada seseorang, sampai tanpa sadar membuka aib, dengan alasan pembenaran agar tak mengulang kesalahan lagi. Sering juga lisan ini mengghibah atas nama “menilai kinerja dan evaluasi”. Padahal yang dibicarakan, tak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan yang bersangkutan. Betapa sering pula kita berbohong dengan alasan demi kebaikan.
Memang kita punya alasan dan cara tersendiri untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik. Hanya saja, kalau cara itu tidak muncul dari hati yang jernih, sangat mungkin kita tertipu oleh nafsu. Maka ada baiknya kita menahan diri sejenak dan menata ulang cara-cara kita dalam merespon sesuatu. Pikirkanlah apa saja yang akan terjadi dihadapan,lalu tatalah akhlak terbaik yang akan kita berikan.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.