Moment Mengasah Kecintaan Kepada Rasulullah
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah. Kemudian dia berkata sungguh-sungguh, “Duhai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku, engkau lebih aku cintai daripada keluargaku dan hartaku, dan engkau lebih aku cintai daripada anakku..”
Rasulullah menatapnya ramah. Diam. Laki-laki tersebut melanjutkan perkataannya, “Aku di rumah selalu menyebutmu, aku tidak sabar untuk segera menjumpaimu lalu aku melihatmu, apabila aku teringat kematianku dan kematianmu, aku mengetahui bahwasanya engkau sekiranya masuk Surga engkau akan diangkat bersama para Nabi yang lain, sedangkan aku sekiranya aku masuk Surga aku takut kalau aku tidak dapat lagi melihatmu..” wajahnya pias, menunduk.
Mendengar itu Rasulullah diam. Maka Jibril turun membawa satu ayat : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa : 69)
Inilah Cinta yang melampaui batas dunia. Balasan Surga sekalipun masih menyisakan kekhawatiran baginya, takut tak jumpa dengan Nabi tercinta. Begitulah sebagaimana diceritakan hadist Asbabun Nuzul yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam As-Shaghir.
Suatu waktu yang lain, seorang laki-laki mencegat Rasulullah ketika beliau keluar dari Masjid. Kemudian laki-laki itu bertanya, “Wahai Rasulullah ! Kapankah Hari Kiamat terjadi ?”
Rasul menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?“
Laki-laki itu terdiam sebentar, muram, terlihat malu dan khawatir. Kemudian ia menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku tidak mempunyai banyak persiapan amal, baik itu shalat, puasa, maupun sedekah. Tapi aku mencintai Allah dan Rasul Nya.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Engkau akan beserta dengan orang yang Engkau cintai.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dua orang laki-laki yang berbeda namun mempunyai kecintaan yang sama. Cinta kepada nabi-nya. Mereka meletakkan cinta kepada Rasulullah di atas diri, harta, bahkan keluarganya. Maka tak ada balasan yang lebih mereka dambakan kecuali menatap wajah Rasulullah kelak di Surga.
Memang dalam urusan cinta, ternyata tak selesai pada urusan di dunia. Cinta tak terputus seiring putusnya nyawa para pencinta. Karena cinta menggerakkan hati, kata, dan perbuatan. Maka cinta membawa konsekuensi tak hanya dunia tapi akhirat juga.
Tak heran bila Rasulullah mengatakan, “Engkau akan beserta orang-orang yang engkau cintai”. Mencintai sesuatu akan membawa sang pencinta mengikuti dan berusaha “menyamakan diri” dengan yang dicintai. Tak pernah mau berbeda. Sedang dalam waktu yang sama, perhitungan amal terhadap setiap gerak orang-orang yang mencinta tak pernah berhenti. Amal baik atau buruk mereka tertulis secara adil. Kejelekan akan tetap ditampakkan kejelekan hatta ia mengatasnakan sesuatu yang suci, sebutlah cinta. Bila cinta menyatukan mereka di dunia. Maka cinta juga berpotensi mengumpulkan mereka di akhirat. Di Surga atau Neraka.
Saudaraku, Sedangkan cinta kepada Nabi Muhammad adalah Surga bagi kita. Maka ia bukanlah sebuah pilihan, melainkan kebutuhan. Kita butuh mencintai beliau. Cinta kepada Nabi Muhammad adalah sebentuk terima kasih kita, atas petunjuk Islam yang beliau bawa. Cinta kepada Nabi Muhammad adalah penyejuk hati biar tak lelah dalam beramal. Cinta kepada nabi Muhammad adalah alasan tertinggi, agar mendapat syafaat di akhirat nanti.
Ibnu Atha’illah dalam kitab bahjat Al-Nufus, meletakkan “Cinta Rosul” sebagai bab paling depan dalam tahap pencerahan hati. Sebelum bab taubat, bahkan. Ada dua alasan kuat mengapa beliau meletakkan sebagai tahapan pertama. Orang yang mendambakan kedudukan mulia, kata beliau, maka dia harus memulai dengan mencintai nabi. Taubat yang serasa sulit, akan menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang dihatinya mulai menanamkan kecintaan kepada nabi Muhammad. Itu bukan tanpa alasan. Sebab dari situlah Allah memberikan cinta-Nya. Kalau cinta-Nya sudah diberikan, maka amal baik akan begitu mudah dikerjakan.kalau Alloh telah mencinta, dosapun akan terhapuskan sebelum kita mengangkat tangan. Allah ta’ala berfirman “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Imran : 31)
Kedua, orang yang dihatinya mencintai nabi Muhammad, maka ia akan senantias menyebut-nyebut orang yang ia cintai. Senantiasa bershalawat atas beliau. Mereka merasa tak cukup dan merasa pelit bila hanya berslawat saat di sholat tahiyat akhir saja.
Mari kita membaca bagaimana salawat atas nabi membuat kita lebih dekat dan dirahmati Allah ta’ala. Terhadap salawat, Ibnu Athaillah membeberkan kepada kita dalam cara pandang rububiyah (ketuhanan). Beliau berkata “Seandainya seumur hidup engkau melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah memberikan satu shalawat saja atasmu, tentu satu shalawat tersebut lebih berat dari semua amal ketaatanmu selama hidup. Sebab engkau bersalawat sesuai kapasitas kemampuanmu, sementara Allah bersalawat sesuai dengan rububiyah (sifat ketuhanan)-Nya. Dengan segala kebesaran dan kekuasaan-Nya. Tak ada siapapun yang sanggung menghalangi bila Dia berkehendak memberikan keselamatan. Ini baru satu shalawat. Bagaimana bila Allah bershalawat untukmu sebanyak sepuluh kali (sebagai balasan) atas setiap satu kali salawatmu atas Rasulullah?
Hal ini berdasar sabda Rasulullah “Barangsiapa bershalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali” (HR. Muslim dan Abu Daud)
Saudaraku, sebentar lagi kita menghadapi bulan Rabiul Awwal. Juga sering kita menyebutnya bulan Maulud. Bulan dimana lahirnya Rasulullah Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam.
Yang saya tahu, orang-orang yang merayakan maulud tak pernah membuat keyakinan baru bahwa itu adalah hari raya ketiga. Atau pula mengatakan itu sunnah dari nabi. Tak pernah. Maulud hanya sekedar sebuah momentum. Ya, momentum yang dibuat oleh orang-orang yang berijtihad dalam dakwahnya. Memainkan moment untuk sebuah tujuan mulia, mengembalikan ummat kepada kecintaan terhadap nabinya. Mengingat, sekali lagi mengingat, semakin jauh jarak ummat dengan nabinya, semakin usanglah rasa cinta mereka.
Pejuang Islam yang namanya menyejarah, Salahuddin Al-Ayyubi adalah contoh nyata atas kecerdasan memanfaatkan Maulud sebagai momentum. Atas nama rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya, di atas benteng Al-Quds, Salahuddin membakar semangat Jihad para pemuda muslim Palestina. Di tanggal 12 Rabiul Awwal, tepat dimana kelahiran Rasulullah Saw.
Maulud, oleh Salahuddin dijadikan momentum bangkitnya kembali perlawanan terhadap pasukan salib. Hari ini kita diingatkan kembali akan datangnya momentum itu. Ayo saudaraku, saatnya menggelorakan cinta kita kepada nabi Muhammad Saw, dengan banyak shalawat dan menunaikan sebanyak-banyaknya sunnah beliau…Wallahu ‘Alam Bisshowab..



Komentar Saudara !