Home » Cermin

Tersenyumlah

18 February 2010 No Comment

Kita akan tersenyum kala nilai rasa tersentuh nuansa bahagia. Sentuhan rasa itu hadir bisa lewat penglihatan atau pendengaran. Banyak momen dalam hidup keseharian yang membuat kita tersenyum. Bersua saudara atau teman kita tersenyum.  Mendengar ucapan lucu kita tersenyum. Melihat tingkah lucu kita tersenyum. Senyum menjadi katarsis atau ungkapan yang mewakili nilai rasa suka hati kita.
Kalau karena melihat dan mendengar hal-hal yang lucu orang kemudian tersenyum, maka senyum yang demikian memang wajar. Senyum yang memang digerakkan oleh insting yang ada pada semua manusia.
Ada jenis senyum yang digerakkan kesadaran akal dan nurani. Yaitu senyum yang timbul kala memikirkan dan merenungi sikap, perbuatan dan tingkah laku sendiri. Kalau kita mau memikirkan dan merenungi perjalanan hidup diri, pasti kita akan menemukan obyek senyum yang tidak ada habis-habisnya. Kita akan tersenyum kala menemukan sikap kekakanak-kanakan justru saat diri sudah beruban sekalipun. Kita akan tersenyum karena ternyata tanpa disadari kita sering bersikap konyol dalam menyikapi sesuatu. Bahkan kita akan tersenyum karena ternyata sekali waktu diri ini bersikap (maaf) dungu.
Mari kita lihat beberapa sikap dan perbuatan diri yang pantas kita tersenyumi atau bahkan sekalian kita tertawakan. Misalnya tentang sikap kekanak-kanakan kala harapan tidak tergapai. Mungkin suatu saat diri ini berharap betul akan sesuatu. Harapan itu mengisi hati dan pikiran siang dan malam. Harapan itu mampu mendorong diri untuk berikhtiar dengan segenap kemampuan. Ketika tahu-tahu berujung pada kegagalan, hati sedih luar biasa merasa dunia mau ambruk saja rasanya. Tidak enak makan, uring-uringan, pasang muka masam dalam waktu panjang. Bawaannya mau marah saja. Hati panas dan pikiran pusing.
Ketika diri gagal meraih harapan kemudian bersikap seperti itu, sungguh teramat sangat lucu yang pantas ditersenyumi dan bahkan ditertawakan. Bagaimana tidak. Sudah dewasa bahkan sudah tua, masih juga tidak tahu dan tidak menyadari bahwa bukan diri kita yang menentukan ujung dari segala sesuatu. Wilayah manusia adalah usaha dan ikhtiar. Sedang hasil adalah pemberian dan penolakan yang Maha Menggenggam Alam. Dengar saja apa kata firman-Nya,”(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadiid (57) : 23).
Mari kita lihat sikap diri yang lain. Kadang dan bahkan mungkin seringkali kita bersikap (maaf) dungu. Tidak peduli usia kita sudah uzur sekalipun. Ini misalnya. Untuk urusan yang bernama keuntungan dunia, orang mau berkorban apapun. Jauh ditempuh, sulit diatasi, lelah dijalani. Usaha terus menerus diperbaiki. Harapannya adalah menggenggam keuntungan sebanyak-banyaknya. Entah itu bernama gaji bulanan, karier meningkat,  laba berlipat dan entah keuntungan apa lagi. Tapi coba ingat saat berjuang meraih keuntungan akhirat. Semua terasa berat. Kaki berat melangkah. Hati sulit tergugah. Pikiran  seperti tersumbat. Kekuatan sirna seketika. Itu terjadi kala mendengar panggilan adzan untuk rukuk dan sujud lima waktu.
Sikap yang demikian inilah yang sangat lucu dan pantas ditersenyumi dan bahkan ditertawakan secara sarkastis. Lucu karena sampai usia dewasa dan bahkan tua tidak juga mampu berfikir sebagai orang dewasa dan masih berfikir seperti anak kecil. Anak kecil kesenangannya hanya terbatas pada obyek yang dapat dilihat secara visual. Kasat mata. Itu yang menjadi penjelas mengapa anak kecil suka dengan mainan. Maka kalau orang dewasa hanya bisa menyenangi hal-hal yang kasat mata seperti materi, ya tak ubahnya anak kecil yang suka mainan.
Dalam urusan sholat berjamaah, ummat Islam lucunya luar biasa. Malas dan sangat enggan melangkah ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Apa agar ummat ini semangat pergi ke masjid  kita minta malaikat  berdiri berjajar di muka pintu majid seraya membawa segepok uang? Begitu kita keluar dari masjid usai berjamaah, malaikat menyalami kita sekalian ngamplopi uang sebagai pahala dunia sebelum pahala akhirat. Ah, sampai kapan ummat ini akan menanggalkan sikap kenakan-kanakan dalam urusan sholat sehingga kita tidak termasuk orang-orang dewasa yang lucu.
Kelucuan yang lain adalah orang kaya yang merasa bahwa kekayaan di dalam genggamannya adalah semata-mata karena kepintarannya dan keluasan relasi. Mereka manafikan takdir dan ketentuan-Nya bahwa dirinya dipilih dilapangkan rezekinya. Pergaulannya ekslusif hanya mau bergaul dengan yang sederajad dengan dirinya. Sikapnya merendahkan orang-orang yang tidak punya. Tidak manusiawi dalam memperlakukan orang-orang yang bekerja untuk dirinya. Memperlakukan para pekerja bak mesin tanpa perasaan.
Orang-orang kaya yang demikian ini lucunya luar biasa. Bisa-bisanya mereka bersikap demikian. Kalau mereka merasa kaya karena semata-mata cerdas dan pintar. Apa kecerdasan dan kepintaran itu buatan orang tuanya? Sejak kapan orang tuanya bisa membuat otak? Jangankan orang tua mereka. Andai semua ahli dari jaman manusia pertama hingga manusia terakhir disuruh membuat sepotong otak, pasti tidak bisa melakukannya.
Kalau saja Alloh menakdirkan dia lahir sebagai manusia idiot, maka orang tuanya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Manusia kaya seperti ini lucunya luar biasa. Pantasnya mereka mentersenyumi dan bahkan menertawakan diri sendiri. Mengaku-ngaku diri sebagai superman yang mampu melipatgandakan kekayaan. Padahal kekayaan itu adalah pemberian-Nya semata. Silahkan baca firman-Nya,”Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba- hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS : Al Ankabut (29) : 62)
Kalau saja kita rajin mencermati setiap sikap dan perbuatan diri sendiri dalam semua aspek kehidupan, pasti kita akan menemukan banyak alasan untuk banyak mentersenyumi diri sendiri. Karena ternyata kita mendapat-kan kenyataan bahwa diri ini adalah manusia-manusia yang lucu.
Saudaraku, orang yang bisa mentersenyumi dan bahkan menertawakan diri sendiri adalah mereka yang berhati ikhlas yang menyadari kelemahan diri serta siap memperbaiki diri. Sementara mereka yang ada perasaan sombong meski setitik dengan menolak setiap kebaikan, maka mereka tidak bisa mentersenyumi dan apalagi menertawakan diri sendiri. Pertanyannya termasuk golongan mana kita? Wallohu a’bhisshowab.

Komentar Saudara !

Saudara bisa menggunakan tags HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Disupport Gravatar. Saudara bisa daftar di Gravatar.