Kesejahteraan
1. Penciptaan Lapangan Kerja Mandiri (PILAR MANDIRI)
Zakat akan memiliki daya ubah manakala pemanfaatannya lebih bersifat pemberdayaan dan bukan hanya untuk kebutuhan konsumtif. Dalam program PILAR MANDIRI, NH memberikan modal kerja, pendampingan dan pelatihan kepada mustahik binaan hingga mereka bisa menjalankan usahanya sendiri.
Dalam proses, tim NH akan melakukan assessment terhadap kondisi ekonomi, kemampuan dan kemauan mustahiq yang kemudian ditetapkan apakah mustahiq bisa menjadi anggota program PILAR MANDIRI atau tidak. Yang demikian dilakukan agar program bisa berjalan efektif dan produktif.
Selain itu, PILAR MANDIRI juga digerakkan melalui program kemitraan usaha. NH yang notabene memiliki komitmen kemandirian ( biaya gaji dan operasional kantor tidak mengambil dari ZIS), mengambil langkah konkrit dengan mendirikan unit-unit usaha. Pada unit-unit usaha itulah kemudian memunculkan multieffect program. Pertama, kemandirian itu sendiri Alhamdulillah bisa terjaga. Kedua, unit usaha itu akhirnya mampu merangkul para mustahiq atau dhuafa sebagai mitra usaha.
“Mustahiq to Muzakki”. Misi kami merubah orang yang berhak zakat menjadi wajib zakat. Kemiskinan tak dapat dihilangkan semuanya memang, tapi jika ada sebuah gerakan menuju perubahan, bukankah kita juga ingin mengambil bagian di sana?
2. Majlis Ta’lim Abang Becak (MATA BACA)
Hidup dijalanan bukanlah sesuatu yang nyaman. Keras dan menakutkan adalah stigma yang selalu melekat pada kehidupan di jalanan. Para Abang becak, adalah salah satu komunitas kehidupan jalanan. Bukan tak mungkin apabila karena lingkungan yang keras dan kebutuhan akan segenggam beras, membuat mereka tak punya waktu untuk mengasah ruhaniah mereka. Dalam lelahnya kerja, kerasnya pergaulan dan beban ekonomi yang semakin mencekik, bisa jadi tak pernah terlintas dipikiran mereka kata “iman”, “sholat”, “mengaji” dan semua amaliah-amaliah akhirat. Dan selanjutnya, ketika jalan takwa tidak dirajut sama sekali, hatipun semakin buta. Maka kita melihat di pangkalan-pangkalan becak mereka isi kekosongan waktunya dengan main kartu, kadang sembunyi pesta miras, dan perilaku negative lainnya.
Sabda nabi “Kemiskinan mendekatkan pada kekafiran” menjadi benar adanya bila melihat keadaan mereka dalam hal penunaian kewajiban sebagai muslim.
Oleh karena itu, NH sebagai lembaga dakwah tergerak untuk menyentuh kehidupan agama mereka. Dengan pendekatan yang penuh kekeluargaan akhirnya NH berhasil menyatukan 400-an abang becak delam majlis ta’lim. Ketika ada yang memfasilitasi dan membantu mengorganisir, ternyata kami baru tahu bahwa antusiasme mereka untuk mengaji sangat tinggi.
Para abang becak sudah sangat hafal, setiap rabu malam kamis minggu kedua, mereka berbondong-bondong menuju masjid lokasi majlis ta’lim. Untuk tujuan pemerataan dakwah juga, masjid yang ditempati untuk program MATABACA ini setiap bulannya selalu berpindah-pindah. Sifatnya safari.
Biarpun lelah bekerja seharian mengayuh becak, tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk berkumpul dan mengaji. Dengan penuh semangat mereka kayuh becaknya menuju masjid tempat pelaksanaan MATABACA. Setiap moment MATABACA, pangkalan yang menjadi anggota biasanya menjadi sepi.
Program ini adalah manivestasi dari sebuah cita-cita mulia kita untuk mereka, “Jika mereka sudah susah di dunia, jangan sampai mereka juga susah di akhirat”.
3. Tanda Cinta Untuk Penghafal Qur’an (TAFAQUR)
Cita-cita mulia mereka untuk menghafal Al-Qur’an di tunjukkannya dengan menghabiskan banyak hidupnya di pondok pesantren. Kegigihan mereka untuk menjadi pribadi mulai sebagai pemelihara kalamullah lewat hafalannya, sanggup mengalahkan rasa bosan dan keputusasaan selama mereka menjalani pembinaan di pesantren. Kalau bukan karena kehendak Allah untuk memuliakan mereka daripada manusia-manusia lainnya, pastilah mereka akan berpikiran sama seperti sebagian besar kita, “yang penting bisa baca”.
Tapi tidak untuk mereka. Tentulah ada di setiap zaman hamba-hamba Alloh yang terpilih sebagai pemelihara Al-Qur’an lewat hafalannya. Dan merekalah orang-orang yang memiliki kemuliaan itu. Mereka dimuliakan Alloh di dunia dan akhirat.
Masa – masa produktif mereka dihabiskan di lingkungan pondok pesantren. Dan ketika keluar pesantren mereka harus mendapatkan pekerjaan sembari tetap menjaga hafalannya agar tidak hilang. Sebagian besar para khuffadz itu adalah mustahiq. Kami menyebutnya mustahik plus. Karena selain menempati asnaf sebagai fakir-miskin mereka juga menempati asnaf sebagai fisabilillah. Karenanya bila di ukur, membantu fakir miskin yang menyerahkan hidupnya untuk agama Alloh adalah lebih berhak untuk mendapatkan pertolongan. Karena sekali lagi, mereka adalah orang-orang kecintaan Alloh subhanahu wa ta’ala.
NH memberikan program TAFAQUR, yaitu program bantuan uang tunai setiap bulan. Selain itu, NH melibatkan mereka sebagai objek utama dari program PILAR MANDIRI. Mereka akan mendapatkan bantuan modal dan pembinaan agar memiliki usaha mandiri.
Ketika mereka gigih menjaga hafalannya, harusnya ada yang memberikan sinergi dengan membantu kehidupan ekonominya. Mari kita hadir ke tengah-tengah mereka.
3. SIGAP (SIAGA DAN TANGGAP BENCANA)



