Menanamkan Aqidah pada Anak

Menanamkan Aqidah pada Anak

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orang tua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ﷻ semata. Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orang tua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya aqidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah ﷻ semata. Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan aqidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?

Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah ﷻ. Kedua, ajak anak mengaktualisasikan aqidah dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir Islami pada anak.

Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan (rukun iman) merupakan perkara yang ghaib.  Orang tua mungkin bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada ananda.  Muhammad Suwaid dalam bukunya “Mendidik Anak Bersama Nabi” memaparkan bahwa ada lima pilar mendasar dalam menanamkan aqidah, yaitu:

  1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
  2. Mencintai Allah ﷻ dan merasa diawasi olehNya, memohon pertolongan kepadaNya serta beriman kepada Qadha’ dan Qadar
  3. Mencintai Nabi ﷺ dan keluarga beliau
  4. Mengajarkan Al Quran kepada Anak
  5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya

 

Mendikte Anak dengan Kalimat Tauhid

Hakim meriwayatkan dari ibnu Abbas r.a bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ajarkanlah kalimat La Ilaha ilallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama,  dan tuntunkanlah mereka (mengucapkan) La Ilaha illalLah ketika menjelang mati.” Ibnul qayyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Al Maulud mengatakan, “Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat La Ilaha ilalLah Muhammad Rasulullah, dan hendaklah sesuatu yang pertama didengar oleh telinga mereka adalah La Ilaha ilalLah (mengenal Allah azza wa jalla) dan mentauhidkanNya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah ﷻ bersemayam di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataan mereka, senantiasa bersama dengan mereka dimana pun mereka berada.

 

Menanamkan Kecintaan Kepada Allah

Bagaimana menumbuhkan kecintaan ananda kepada Allah ﷻ. Tentu lebih mudah jika orang tua menumbuhkan mahabbatullah ini sejak anak masih bayi, bahkan sejak anak dalam kandungan. Yaitu dengan cara:

  1. Sering menyebut asma Allah ﷻ
  2. Selalu menyebut nama Allah ﷻ dalam setiap kejadian yang dialami. Bismillah ketika memulai sesuatu. Alhamdulillah ketika menyelesaikan suatu aktivitas atau ketika mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ. Astaghfirullah ketika terkejut atau merasa ingin marah. Masya Allah ketika kagum akan sesuatu hal, dst. Anak adalah peniru ulung. Jika orang tuanya terbiasa mengucapkan kalimat thayyibah, maka anak akan ikut terbiasa mengucapkannya.
  3. Ajari ananda untuk memahami sifat-sifat Allah ﷻ
  4. Ajari bersyukur
  5. Senantiasa menjaga interaksi dengan Allah ﷻ lewat shalat, doa, dan dzikir. Interaksi yang kuat dengan Allah ﷻ akan memudahkan orang tua dalam mendidik anak, karena ada campur tangan Allah ﷻ di dalamnya.
  6. Kaitkan semua kebaikan dengan Allah ﷻ

Setiap kali menemui kebesaran Allah ﷻ lewat ciptaanNya, selalu mengingatkan anak bahwa keajaiban itu terjadi karena kehebatan Allah ﷻ. Ketika melihat gunung yang kokoh, langit yang indah penuh bintang, binatang yang beraneka ragam, maka yang diingat anak adalah kebesaran Allah ﷻ.

Menanamkan Kecintaan Pada Nabi ﷺ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang menghendaki Allah dan hari akhir.” (QS. Al Ahzab: 21)

Inti dari rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah menjadikannya lebih kita cintai dari pada diri, harta, dan anak-anak kita sendiri. Mencintai Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pondasi keislaman kita. Bahkan keimanan kepada Allah ﷻ, tidak akan sempurna kecuali dengan mencintainya. Cinta Rasulullah ﷺ sebaiknya juga kita ajarkan kepada anak sedini mungkin. Semakin dini akan semakin tertanam dalam diri anak. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengajari anak agar mencintai Rasulullah ﷺ. berikut diantaranya:

  1. Bershalawat kepadanya
  2. Menceritakan kisah-kisahnya
  3. Menceritakan betapa mulia dirinya
  4. Menjalankan sunnahnya
  5. Banyak berdialog dengan ananda tentang Rasulullah ﷺ

Mengajarkan Al Quran Pada Anak

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut adalah penegasan bahwa orang tua mempunyai kewajiban untuk membina, membimbing, dan mendidik anaknya, bukan hanya sukses di dunia tapi yang lebih tinggi lagi adalah terjauh dari azab api neraka. Dengan cara mengajarkan Al Qur’an pada anak. Pendidikan Al Qur’an sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak sedini mungkin, karena pendidikan yang diberikan pada masa kecil pengaruhnya akan lebih kuat, tajam dan lebih membekas daripada pendidikan yang diberikan setelah dewasa.

Menanamkan Kecintaan Membaca Al Quran Pada Anak:

  1. Mengajak anak untuk mengerti keutamaan-keutamaan dari membaca Al-Qur’an. Sampaikanlah keutamaan terbesar dari membaca Al Qur’an kepada anak kita, “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
  2. Membangun budaya membaca Al-Qur’an di dalam rumah sendiri.
  3. Mengambil pelajaran dari keluarga yang menghafal Al Qur’an sebagai inspirasi dan motivasi.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

#Laznasnurulhayat #Zakatkita

Keutamaan Tawadhu’

Keutamaan Tawadhu’

Mendapat Kemuliaan dari Allah

Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang tawadhu’ kepada Allah, pasti dimuliakan Allah” (HR. Muslim). Inilah pesan Nabi yang benar-benar kita lihat secara nyata dalam kehidupan hari ini. Betapa, semakin tawaduk seseorang, ia semakin disukai. Allah ﷻ membuat hati setiap manusia menjadi suka terhadap pribadi-pribadi tawadhu’.

Sebaliknya juga demikian. Manakala terdapat sifat sombong pada diri seseorang, ia pasti tidak disukai orang lain dan kedudukannya jatuh di mata orang-orang.

Maka di hadapan kita ada dua pilihan. Merendahkan hati sehingga kita ditinggikan kedudukan, atau meninggikan hati sehingga kita direndahkan kedudukan.

Mendapat Surga Tertinggi

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang tawadhu’ satu derajat kepada Allah ﷻ, Allah ﷻ angkat ia satu derajat hingga mencapai Surga yang tertinggi. Sebaliknya, siapa yang sombong satu derajat kepada Allah ﷻ, Allah ﷻ rendahkan ia satu derajat hingga mencapai Neraka terbawah.” (HR. Ahmad)

Betapa tinggi kedudukan mukmin yang tawadhu. Allah ﷻ menjaminkan untuknya Surga tertinggi disebabkan ketawadhu’annya. Sebaliknya, bertapa buruk kedudukan orang yang sombong. Mari kita tanyakan pada diri sendiri. Berada digolongan manakah kita? Apapun jawabannya, bukankah kita sangat menginginkan Surga? Dan Tawadhu dapat menghantarkan kita ke sana, sedang sombong akan menghalangi kita ke Surga bahkan jatuh ke Neraka.

Perintah Allah dan RasulNya

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ sehingga seseorang tidak boleh berlaku congkak atas orang lain dan tidak boleh berlaku aniaya.” (HR. Abu Dawud)

Peringatan Rasulullah ﷺ tersebut sudah sangat jelas. Tinggal pada diri kita, butuh kerelaan untuk melakukan muhasabah dan mengevaluasi cara kita bergaul dengan orang lain selama ini.

Tanah Adalah Jalan Terdekat Menuju Langit

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah berfirman, ‘siapa yang bersikap tawadhu kepadaKU seperti ini (Rasulullah menunjuk tanah dengan bagian dalam telapak tangannya dan menjatuhkannya ke tanah) maka Aku akan meninggikannya seperti ini (beliau membalikkan telapak tangannya tinggi-tinggi menuju langit)” (HR. Ahmad).

Ketika kita kian bersikap tawadhu kepada Allah ﷻ  dalam hidup bermasyarakat, pada saat itulah kita semakin dimuliakan Allah ﷻ. Perhatikan sekali lagi dua perumpamaan di atas. Makin diri ini menempel ke tanah kerendahan, makin naiklah kita ke langit kemuliaan.

Bukan sebuah kebetulan juga, bila Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang lain mengatakan, jarak terdekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat bersujud. Posisi sujud adalah posisi merendahkan diri. Kepala yang menjadi tempat berfikir dan sumber kecerdasan, direndahkan serendah-rendahnya menjadi sejajar dengan telapak kaki. Namun, disaat seperti inilah Allah ta’ala mendekat dengan sangat dekat kepada hambaNya.

Tidak Masuk Surga yang Hatinya ada Sombong

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak masuk Surga orang yang hatinya memendam kesombongan walau seberat atom” (HR, Muslim). Dalam riwayat lainnya, “Tidak masuk Surga orang yang dalam hatinya terbetik kesombongan meski seberat biji sawi.”

Maka tak perlu menjadi sombong seperti Namrudz, yang mengejek Ibrahim dengan berkata, “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan manusia,” lalu dia memanggil dua orang, yang satu ia bunuh, satu lagi ia biarkan hidup. Tak perlu juga menjadi Firaun, yang mengaku sebagai Tuhan. Untuk diharamkan dari Surga, tak perlu menjadi seperti keduanya. Karena Rasulullah hanya mensyaratkan sebiji sawi kesombongan, sudah menghalangi seseorang dari Surga.

Adakah kita mendustakan kebenaran? Adakah kita merendahkan orang lain?

Apakah Engkau Hendak Menyaingi Allah?

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah ﷻ berfirman, “Kesombongan adalah pakaianKu dan kemuliaan adalah jubahKu. Siapa yang mau menyaingiKu dalam keduanya, pasti Aku siksa.” (HR.Ahmad)

Bertawaduklah kepada Allah. Jangan menyaingi kebesaranNya. Tidakkah kita menginginkan Allah ﷻ memberikan karunia Surga?

Perhatikan Wasiat Luqman

Allah ﷻ berfirman dalam wasiat Luqman kepada anaknya, “Jangan engkau memalingkan muka (tushair) dari manusia dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh” (QS. Luqman : 18).

Apa makna Tusha’ir? Ia berasal dari kata shi’ir. Yaitu sejenis penyakit yang menimpa leher unta sehingga ia tidak bisa menggerakkan lehernya. Ia pun berjalan dengan leher mendongak ke atas.

Perhatikan perumpaan dari Al-Quran yang sangat menarik tersebut. Al-Quran menyamakan orang-orang yang sombong, dengan ciri gestur tubuhnya yang khas, dengan unta yang berpenyakit shi’ir. Mendangak kepala ke atas, sulit menunduk. Kalau unta, karena lehernya yang sakit, kalau manusia karena hatinya yang berpenyakit.

 

#LaznasNurulHayat  #Zakatkita

NH Gresik Bantu Biaya Pengobatan Pak Sholihin

NH Gresik Bantu Biaya Pengobatan Pak Sholihin

Bantu biaya pengobatan Pak Sholihin – Hampir sepuluh tahun Pak Sholihin mengalami sakit gagal ginjal. Hampir sepuluh tahun pula beliau rutin menjalani cuci darah karena sakit yang dideritanya tersebut. Dan sejak beliau sakit, beliau tidak mampu lagi untuk bekerja. Istrinya-lah yang kini jadi tulang punggung keluarga. Jatuh bangun dengan usaha kateringnya. Demi bisa memenuhi keberlangsungan hajat hidup sehari-hari keluarga tercinta.

Keluarga Pak Sholihin bahkan sempat terjerat pinjaman online. Tidak ada pilihan lain.  Saat Pak Sholihin harus menjalani rawat inap dan membutuhkan beberapa kantong  darah untuk transfusi, namun kebutuhan darah untuk transfursi tersebut di luar kebutuhan yang di-cover oleh asuransi kesehatan.

Alhamdulillah, persoalan tersebut kini sudah selesai. Alhamdulillah juga Laznas Nurul Hayat Gresik bisa hadir memberi bantuan biaya pengobatan untuk Pak Sholihin. Kini, secara perlahan, Pak Sholihin sekeluarga berusaha bangkit memperbaiki ekonomi keluarga mereka. Ketika Laznas Nurul Hayat Gresik berkunjung ke kediaman beliau, istri Pak Sholihin bercerita, bahwa dirinya dipromosikan untuk menjadi penyedia makan karyawan di salah satu perusahaan milik sahabatnya. Saat ini, istri Pak Sholihin sedang berusaha mengumpulkan modal dan terus berusaha memberikan masakan dengan citarasa yang terbaik, agar promosinya mendapatkan hasil yang maksimal. Sahabat sejuk, mari kita doakan, agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala  meridhoi dan memudahkan ikhtiarnya. Aamiin ya Rabbal Alaminn..

Tak lupa kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah berpartisipasi dalam program bantuan biaya pengobatan untuk Pak Sholihin ini. Semoga apa yang telah sahabat sejuk berikan, mendapat balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Baitul mal sudah dikenal sejak tahun ke-2 hijriah pemerintahan Islam di Madinah. Berdirinya lembaga ini diawali dengan cekcok para sahabat Nabi SAW dalam pembagian harta rampasan Perang Badar. Maka, turunlah surat al-Anfal[8]ayat41 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Setelah turunnya ayat itu, Rasulullah mendirikan baitul mal yang mengatur setiap harta benda kaum Muslimin, baik itu harta yang keluar maupun yang masuk. Bahkan, Nabi SAW sendiri menyerahkan segala urusan keuangan negara kepada lembaga keuangan ini.

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Sistem pengelolaan baitul mal kala itu masih sangat sederhana. Belum ada kantor resmi, surat menyurat, dokumentasi, dan lain-lain layaknya sebuah lembaga keuangan resmi negara.Harta benda yang masuk langsung habis dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang berhak mendapatkannya. Atau, dibelanjakan untuk keperluan umum. Oleh karena itu, tidak ditemukan catatan-catatan resmi tentang laporan pemasukan dan pengeluaran baitul mal.

Perbaikan pengelolaan baitul mal terjadi di masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq RA. Khalifah pertama itu menekankan pentingnya fungsi baitul mal. Sumber-sumbernya berasal dari zakat, zakat fitrah, wakaf, jizyah (pembayaran dari non-Muslim untuk menjamin perlindungan keamanan), kharraj (pajak atas tanah atau hasil tanah), dan lain sebagainya.

Dalam buku Pajak Menurut Syariah, Gusfahmi mengatakan, di tahun kedua kepemimpinannya, Abu Bakar menjalankan fungsi baitul mal secara lebih luas. Baitul mal tidak semata difungsikan untuk menyalurkan harta, tetapi untuk menyimpan kekayaan negara.

Pada masa itu pula ditetapkan gaji untuk khalifah yang diambil dari uang kas negara. Terdapat kisah menarik tentang awal mula penetapan gaji itu. Suatu ketika, Abu Bakar memanggul barang-barang dagangannya ke pasar. Di tengah jalan, sang khalifah bertemu Umar bin Khattab RA.

Umar pun bertanya, “Anda mau ke mana, wahai Khalifah?” “Ke pasar,” jawab Abu Bakar. Kata Umar, “Bagaimana mungkin Anda melakukannya, padahal Anda seorang pemimpin umat Muslim?” Abu Bakar menjawab, “Lalu, dari mana aku akan memberi nafkah keluargaku?” Umar kemudian berkata, “Mari kita pergi kepada Abu Ubaidah (pengelola baitul mal) agar dia menetapkan sesuatu untukmu.”

Sejak saat itu, seorang khalifah mendapatkan gaji yang hanya cukup untuk hidup sederhana, layaknya rakyat biasa. Tetapi, sebelum Abu Bakar meninggal dunia, ia justru berpesan kepada keluarganya untuk mengembalikan uang gaji itu kepada negara sebesar 6.000 dirharn. Umar pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah membuat orang setelahnya kepayahan.” Maksud Umar, kearifan Abu Bakar telah membuat khalifah setelahnya akan merasa berat mengikuti sikapnya.

Dl zaman tiga khalifah

Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, kekayaan negara di baitul mal meningkat tajam. Ia berhasil menaklukkan Kisra (Persia) dan Qaishar (Romawi). Harta kekayaan pun mengalir deras ke Kota Madinah. Pada tahun 16 H, Umar mendirikan kantor baitul mal di Madinah. Ia mengangkat Abdullah bin Irqam sebagai bendahara negara dan Abdurrahman bin Ubaid al-Qari sebagai wakilnya. Ia juga mengangkat juru tulis, menetapkan gaji pegawai pemerintah, dan menganggarkan dana angkatan perang.

Umar sangat hati-hati dalam mengelola uang negara ini. Ibnu Katsir dalam buku al-Bidayah wa an-Nihayah menukil pidato Umar, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini selain dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang Quraisy biasa. Dan aku adalah orang biasa seperti kebanyakan kaum Muslimin.”

Kekayaan negara makin melimpah ketika pemerintahan dipegang oleh Usman bin Affan RA. Selama 12 tahun memimpin umat Islam, Usman berhasil melakukan ekspansi ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, Transoxania, dan Tabaristan.

Ia juga sukses membangun armada laut yang kuat di bawah komando Muawiyah. Inilah angkatan laut Islam yang menguasai laut Mediterania. Baitul mal yang dikelola Ustman mampu membiayai angkatan laut tersebut.

Kantor pusat baitul mal kemudian dipindahkan oleh khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib RA, dari Madinah ke Kufah. Ali menganggarkan dana bantuan kepada kaum Muslimin yang membutuhkan. Disebutkan oleh Ibnu Katsir, Ali juga mendapatkan jatah dari baitul mal berupa kain yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separuh kakinya. Dan konon, kain itu banyak tambalan di beberapa bagiannya.

Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, orang-orang dekat Ali menyarankan agar ia mengambil uang dari baitul mal sebagai hadiah bagi orang-orang yang membantunya. Mendengar ini, Ali sangat marah dan berkata, “Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan melalui kezaliman?”

Khalifah keempat awal Islam itu menunjukkan bagaimana menangani lembaga keuangan negara dengan penuh amanah. Kekayaan negara yang berasal dari rakyat benar-benar disalurkan untuk kepentingan rakyat. Sikap Ali yang menolak usulan para sahabatnya menunjukkan, kezaliman hanya akan membawa kebangkrutan meskipun secara kasat mata seolah menjadi kemenangan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Diciptakannya manusia tidak ada hal lain kecuali hanya untuk beribadah. Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas ditakdirkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”. Ayat ini berlaku umum  menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Setiap manusia di dunia memiliki jalan takdir hidupnya masing-masing. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah saw. menerangkan bahwa nasib manusia pada hakikatnya sudah ditentukan, termasuk rezeki, ajal, amal, kesedihan, dan kebahagiaannya. Hal ini seharusnya meniscayakan adanya iman kepada Allah bahwa Dia lah satu-satunya yang berkuasa dan tiadalah manusia melakukan sesuatu apapun kecuali ditujukan untuk menggapai ridha-Nya.

Manusia memang diciptakan dengan berbagai macam watak dan karakter. Berdasarkan tingkat kesadarannya, aktivitas yang dilakukan tentu juga akan berbeda-beda. Seseorang dengan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, akan bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan akhiratnya. Sementara seseorang dengan tingkat kesadaran tidak berimbang, akan lebih condong memprioritaskan salah satu dari keduanya.

Terlalu memperhatikan dunia hingga melupakan akhirat tentu tidak baik. Manusia memang diciptakan dengan akal dan dihiasi dengan keinginan (syahwat) pada keindahan-keindahan duniawi. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya adalah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa wanita, anak, harta, kendaraan, termasuk sawah ladang adalah keindahan dunia yang wajar jika manusia condong kepadanya. Kecintaan terhadap beberapa hal tersebut pada dasarnya adalah sah karena fitrah manusia memang diciptakan demikian. Namun kemudian menjadi tidak wajar jika kecintaan yang timbul menjadi berlebihan, apalagi menjadikan kesemuanya itu hanya sebagai tujuan hidup tanpa memperhatikan urusan akhirat.

Sejatinya, dunia memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya berbunyi, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” Dipahami dari ayat ini adalah bahwa bumi dijadikan untuk manusia, artinya manusia memiliki hak untuk memanfaatkan segala apa yang ada di dalamnya. Pemanfaatan itu tentu harus dipahami pada hal-hal yang mengandung maslahat saja, termasuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, dalam ukuran yang diizinkan oleh syariat.

Tentu kita semua pernah mendengar atau membaca kisah seseorang yang memiliki kekayaan tiada bandingannya di muka bumi ini, Qarun. Dikisahkan bahwa pada awalnya Qarun adalah seseorang yang miskin. Lalu dia meminta Nabi Musa as. untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan kepadanya. Doa itu akhirnya dikabulkan dan Qarun lantas menjadi orang yang kaya. Al-Quran menggambarkan betapa kekayaan tersebut sangat melimpah. Saking kayanya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya sangat berat dan harus diangkat oleh beberapa orang kuat. Namun, kecintaannya yang berlebihan terhadap harta kekayaannya memunculkan perasaan sombong yang pada akhirnya mengantarkannya pada kebinasaan.

Imam Bukhari meriwayatkan satu hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata, “Celaka budak dinar, dirham, dan kain (qathifah). Jika diberi dia ridha, jika tak diberi dia tak rela.” Melalui hadis tersebut, Rasulullah saw. menekankan bahwa sungguh tak elok manusia yang hatinya terpaku pada keberadaan harta. Menjadi kaya memang tidak salah, tapi menempatkan kekayaan pada hati tidaklah dianjurkan. Tercatat dalam sejarah, tidak sedikit para alim ulama yang mempunyai kekayaan yang banyak, namun kekayaan tersebut tidak menggoyahkan hati mereka dalam menyikapi kehidupan di akhirat.

Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah swt. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa akhirat memang telah disediakan sebagai tempat kembali, namun sebelumnya manusia juga ditakdirkan hidup di dunia. Dengan begitu, sebagaimana akhirat harus dipersiapkan, dunia juga harus dijadikan tempat mempersiapkan hidup di akhirat kelak.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah). Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat. Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik. Sebaliknya jika yang kita tanam berasal dari bibit yang baik, maka kita akan bergembira dengan hasil yang baik pula di akhirat kelak. Allah berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Persatuan dan kesatuan antar-sesama manusia tidak mungkin dapat terwujud kalau tidak ada semangat persaudaraan. Dalam konteks ke-Indonesaan persaudaraan harus dilakukan bukan hanya terhadap non-Muslim, namun juga terhadap sesama Muslim. Untuk itulah persaudaraan sesama Muslim, akan menumbuhkan ikatan kebersamaan yang kokoh walau banyak terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat dalam kehidupan bermasyarakat.

Persaudaraan antar-sesama Muslim

Di antara ayat yang secara tegas menyatakan bahwa sesama orang mukmin adalah bersaudara seperti dalam Surah al- Hujurat/49: 10.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (al-Hujurat/49:10)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Curahan rahmat kepada suatu umat, khususnya umat Muslim akan diberikan oleh Allah Swt sepanjang sesama memelihara persaudaraan di antara mereka. Ayat-ayat yang terdapat dalam Surah al-Hujurat ini secara umum berisi tentang petunjuk kepada umat islam khususnya, dan masyarakat manusia pada umumnya. Dalam ayat selanjutnya; 11 dan 12 berisi tentang peringatan kepada umat islam, di antaranya adalah bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan dan menghina, karena boleh jadi yang dilecehkan itu lebih baik dari yang melecehkan. Sesama orang yang beriman juga tidak boleh saling berprasangka buruk dan meng-ghibah.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa orang-orang yang berhijrah (al-Muhajirun) serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum Ansar), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Anfal yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. (al-Anfal/8: 72).

Kaum Muhajirin dan Anshar yang ber­saudara itu kemudian disifati oleh Al- Qur’an sebagai orang yang beriman dengan sebenarnya, firman Allah:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (al-Anfal: 74)

Salah satu alasan mengapa kaum Mus­limin harus meneguhkan tali persaudaraan adalah agar tidak terjadi fitnah dan ke­kacauan dalam masyarakat yang mereka bangun. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar, (al-Anfal: 73)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Fitnah atau kekacauan dan juga ke­rusakan yang dimaksud dalam ayat tersebut dapat dijelaskan dengan melihat latar belakang historis masyarakat pada saat ayat tersebut diturunkan. Kaum musyrik Mekah pada waktu itu sangat kejam terhadap kaum Muslimin, di sisi lain sebagian yang memeluk Islam masih memiliki keluarga dekat yang menentang ajaran Islam. Ada juga yang kendati berbeda agama tetapi masih terjalin antar-mereka persahabatan yang kental. Itu semua dapat melahirkan bahaya terhadap akidah kaum Muslimin, lebih-lebih mereka yang belum mantap imannya. Pergaulan dapat mempengaruhi mereka, akhlak buruk kaum musyrik dapat juga mengotori jiwa dan perilaku kaum Muslimin, belum lagi jika perasaan kasih sayang dan persahabatan itu mengantar kepada kemusyrikan atau kekufuran, atau mengakibatkan bocornya rahasia kaum Muslimin. Sedangkan bagi yang tidak menjalin persahabatan dengan kaum musyrik dapat melahirkan bahaya lain yaitu ancaman dan penyiksaan akibat keberadaan di tangan musuh dan ini bagi yang tidak kuat mentalnya dapat merupakan sebab kemurtadan. Karena itu, ayat di atas mengecam mereka yang tidak berhijrah apalagi kaum Muslimin yang telah berhijrah sangat mendambakan dukungan saudara-saudara seiman menghadapi aneka tantangan kaum musyrik serta orang-orang Yahudi dan munafik. Untuk itulah Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk meneguhkan persatuan dan menghindari perpecahan Tolong menolong dalam persaudaraan harus menjadi sifat seorang mukmin dalam hidup bermasyarakat.

Persaudaraan dengan non-Muslim

Persaudaraan yang diperintahkan Al-Qur’an tidak hanya tertuju kepada sesama Muslim, namun juga kepada sesama warga masyarakat termasuk yang non-Muslim. Salah satu alasan yang dijelaskan Al-Qur’an adalah bahwa manusia itu satu sama lain bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang satu, Surah al-Hujurat: 13 menegaskan hal ini:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah mencipta- kan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu ber­bangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (al-Hujurat:13)

Persamaan seluruh umat manusia ini juga ditegaskan oleh Allah dalam Surah an- Nisa’: 1.

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasang­annya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari kedua­nya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluarga­an. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (an-Nisa’: 1)

Ayat-ayat dan juga beberapa hadits di atas menjelaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan, manusia tidak ada perbedaan. Mereka semuanya sama, dari asal kejadian yang sama yaitu tanah, dari diri yang satu yakni Adam yang diciptakan dari tanah dan dari padanya diciptakan istrinya.

Oleh karenanya, tidak ada kelebihan seorang individu dari individu yang lain, satu golongan atas golongan yang lain, suatu ras atas ras yang lain, warna kulit atas warna kulit yang lain, seorang tuan atas pembantunya, dan pemerintah atas rakyatnya. Atas dasar asal-usul kejadian manusia seluruhnya adalah sama, maka tidak layak seseorang atau satu golongan membanggakan diri terhadap yang lain atau menghinanya.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa misi utama Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat adalah untuk menegakkan prinsip persaudaraan dan mengikis habis segala bentuk fanatisme golongan maupun kelompok. Dengan persaudaraan tersebut sesama anggota masyarakat dapat melakukan kerja sama sekalipun di antara warganya terdapat perbedaan prinsip yaitu perbedaan akidah. Perbedaan-perbedaan yang ada bukan dimaksudkan untuk menunjukkan superioritas masing-masing terhadap yang lain, melainkan untuk saling mengenal dan menegakkan prinsip persatuan, persaudaraan, persamaan dan kebebasan.

Tim SIGAB Nurul Hayat Respon Erupsi Gunung Semeru

Tim SIGAB Nurul Hayat Respon Erupsi Gunung Semeru

Erupsi Gunung Semeru – Sabtu, 4 Desember 2021, sekira pukul 15.00 WIB, gunung Semeru mengalami erupsi. Update hingga hari Minggu 5 Desember 2021 pukul 22.00 WIB, sebanyak 3 kecamatan terdampak, 14 korban jiwa meninggal, dan 57 korban mengalami luka bakar. Tak hanya itu, sejumlah perkampungan juga mengalami kerusakan berat akibat erupsi ini. Salah satunya adalah Dusun  Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Dikabarkan, setidaknya 48 rumah hancur karena tertimbun pasir panas. Bahkan akibat erupsi ini, jembatan Gladak Perak Pronojiwo yang menjadi jalur penghubung Malang-Lumajang juga terputus sehingga akses dari Malang ke Lumajang dan sebaliknya, diarahkan melalui jalur lain.

Tim SIGAB Nurul Hayat Respon Erupsi Gunung Semeru

 

Merespon peristiwa ini, Tim SIGAB Nurul Hayat, bergegas menuju lokasi terdampak untuk memberikan kemanfaatan kepada para penyintas. Tiga tim yaitu tim assesment, tim rescue, dan tim ambulans dengan dua armada diterjunkan dalam giat kali ini. Tim pertama berangkat dari Malang pada hari Sabtu (4/12). Setibanya di Kecamatan Pronojiwo, tim pertama ini langsung berkoordinasi dengan perangkat Desa Oro-Oro Ombo dan menyalurkan bantuan untuk para penyintas berupa masker, air mineral, oxycan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Tak hanya itu tim SIGAB Nurul Hayat juga mendirikan posko kemanusiaan di Desa Oro-Oro Ombo. Dari pengamatan tim SIGAB, warga terdampak erupsi yang mengungsi,  tersebar di empat titik lokasi pengungsian yaitu SDN 04 Supiturang, Masjid Nurul Jadid Supiturang, Kantor Desa Oro-Oro Ombo, dan sebagian di rumah-rumah warga.

Tim SIGAB Nurul Hayat Respon Erupsi Gunung Semeru

Keesokan paginya (5/12), tim kedua relawan SIGAB Nurul Hayat meluncur ke Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang dengan membawa bantuan logistik dari Surabaya. “Pagi ini, kami tim SIGAB Nurul Hayat meluncur ke Kabupaten Lumajang untuk merespon erupsi gunung Semeru. InsyaAllah kami akan menuju kecamatan Pronojiwo karena di sana adalah lokasi terparah yang terdampak abu vulkanik. Hampir seluruh rumah warga di sana sudah tertimbun pasir, sehingga tidak bisa ditempati. Sejak tadi malam warga terdampak sudah mengungsi di beberapa titik pengungsian. InsyaAllah akan kami singgahi dan kita cari di pengungsian-pengungsian di sana. Mohon doanya mudah-mudahan perjalanan kami diberikan kemudahan dan kelancaran sehingga bisa memberi kemanfaatan kepada warga terdampak,” tutur Sholihul Amin, salah satu relawan SIGAB Nurul Hayat, dalam perjalanan menuju lokasi terdampak.

Saat ini, warga terdampak sangat membutuhkan uluran tangan kita. Beberapa kebutuhun mendesak yang sangat diperlukan adalah kasur, hygiene kit, baby kit, selimut, dan air bersih. Laznas Nurul Hayat membuka pintu bagi sahabat sejuk yang ingin meringankan beban warga di sana melalui http://zakatkita.org/erupsisemeru. Mari bahu membahu meringakan beban saudara kita yang terdampak erupsi gunung Semeru. Dan mari kita doakan semoga keadaan di sana bisa segera pulih dan warga yang terdampak bisa segera bangkit seperti sedia kala. Aamiin ya rabbal alamiin..

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain, itulah akhlak yang penting di era sekarang. Karena biasanya, orang yang meremehkan orang lain. Hanya bisa mengintip aktivitas orang lain. Jadi, dia sendiri tetap jalan di tempat. Sementara si orang lain terus melangkah dan berkarya.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain – Islam adalah agama yang kaaffah. Islam mengatur segala sesuatunya dalam kehidupan  dan tidak ada yang terlewatkan. Salah satu hal yang diatur dalam agama islam adalah sikap tidak meremehkan orang lain. Bahkan sekalipun terhadap orang yang dibawah kita baik dari segi umur, status sosial, ekonomi, jabatan dan lainnya. Tetapi terkadang hal ini masih banyak orang yang meremehkan orang lain dan sikap meremehkan ini bisa dilihat dari ucapan,tingkah laku, gerak tubuh dan lainnya.

Rasulullah Saw pernah suatu ketika tidak memperdulikan atau bermuka kurang menyenangkan dihadapan abdullah bin ummi maktum ketika kedatangan para pembesar Quraysi hal ini disebutkan dalam tafsir ibnu katsir “ pada sautu hari Rasulullah Saw berbicara dengan beberapa pembesar Quraisy yang sangat beliau harapkan keislamannya.

Saat itu datanglah ummu maktum yang telah masuk islam terlebih dahulu, dia bertanya kepada Rasulullah Saw tetapi beliau hanya menoleh karena tidak ingin waktunya tersita demi mengajak para pembesar Quraisy. Sehingga beliau bermuka masam dan berpaling dari ummu maktum. Maka turunlah ayat “

عبس و تولى   ان جاءه الأعمي     وما يدريك لعله يزكي

dia Muhammad bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadany, tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa. Yakni berkenaan dengan penyucian dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya, atau mengenai nasihat atau nasihat atau mencegah diri dari yang diharamkan.

“adapun orang yang dirinya merasa serba cukup kamua melayaninya” yaitu pembesar-pembesar Quraysi yang sedang dihadapi Rasulullah Saw yang diharapkannya dapat masuk islam. Mereka kamu layani dan berpaling dari ummu maktum.

Abu ya’la meriwayatkan dari Anas ra. Tentang surat abasa’ ibnu ummu maktum menghadap Rasulullah Saw sedangkan beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf, Rasulullah berpaling dari ibnu ummu maktum maka turunlah surat ‘abasa’ setelah itu Rasulullah memuliakan ibnu ummu maktum.(HR. Abu ya’la)

Maka dari kisah ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak meremehkan orang lain. Karena ketika kita suka meremehkan orang lain pada dasarnya kita juga meremehkan diri sendiri ketika kita merendahkan orang lain pada hakikatnya kita juga meremehkan diri sendiri.: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan walau sedikitpun, mungkin kebaikan tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam surga dan kekal di dalamnya.

عنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

Artinya: “Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu sekali-kali meremehkan dari kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” HR. Muslim.

Dan jangan pernah meremehkan dosa walau sedikitpun, mungkin dosa tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia adalah lebih tipis dibandingkan rambut dalam penglihatan kalian, sungguh kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya termasuk dari dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” HR. Ahmad dan Bukhari.

Maka jangan meremehkan siapapun. Karena sama sekali tidak ada orang hebat dengan cara meremehkan orang lain. Dan belum tentu orang yang diremehkan lebih buruk dari yang meremehkan. Mari kita perbaiki diri jangan sampai amalan-amalan kita hangus karena kita sering meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain. Kita gunakan amanah nikmat kesehatan ini untuk memperbanyak kebaikan-kebaikan amal kita.  Wallohu a’lam bi alshawab.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Salah satu sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim adalah sikap menghormati dan menghargai orang lain. Menghormati dan menghargai orang lain merupakan salah satu upaya untuk menghormati dan menghargai diri sendiri. Bagaimana orang lain mau menghormati dan menghargai diri kita, jika kita tidak mau menghormati dan menghargainya. Cara mengormati dan menghargai orang lain pun berbeda tergantung dalam keberagaman masing-masing.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Penghormatan kepada orang lain yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menimbulkan pengaruh besar dan membawa seseorang menjadi Muslim. Menghormati orang lain, dapat pula diungkapkan dalam hal yang mungkin dianggap sepele, di antaranya dengan bersikap ramah.

Lewat sikap ramah ini, melahirkan persatuan yang kuat di dalam tubuh umat. Rasul pun menyatakan agar Muslim tak menganggap remeh kebaikan walaupun hanya dengan menampakkan wajah ramah. Bisa kita ambil contoh dan teladan dari kesan Jarir bin Abdullah selama bergaul dengan Rasul.

“Sejak masuk Islam, saya melihat wajah Rasul selalu tersenyum ramah. Demikian terungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Shaleh Ahmad Asy-Syaami, menyampaikan penjelasan lain mengenai sikap menghormati orang. Jika diberi hadiah, Rasul akan menerimanya dan membalasnya dengan yang lebih baik.

Sebaliknya, saat menolak sebuah pemberian, dia akan menyampaikan permintaan maaf kepada orang yang ingin memberinya hadiah tersebut. Seperti yang ia katakan kepada sahabatnya Sha’b bin Jatstsamah. Waktu itu, Sha’b mau agar Rasul menerima pemberian daging hasil buruannya, namun ditolaknya.

Rasul menjelaskan, ia tak bersedia menerima bukan karena tidak suka Sha’b, tetapi karena sedang berihram. Selain itu, utusan Allah ini selalu mendoakan orang yang berbuat baik kepadanya sesuai dengan kondisi orang bersangkutan. Dikisahkan, Ibnu Abbas membantunya dengan memberikan air wudhu.

Kemudian, Rasul mendoakan agar Ibnu Abbas menjadi orang yang ahli dalam agama dan menguasai tafsir Alquran. Pada waktu lain, Abu Qatadah pernah menjaga tubuh Rasul yang sedikit miring dari tunggangannya pada malam hari agar tak jatuh. Rasul mendoakan agar Allah menjaga Abu Qatadah seperti Dia menjaga nabi-Nya.

Terhadap orang lain sesama Muslim, kita harus membina tali silaturahmi dan memenuhi hak-haknya seperti yang dijelasakan dalam hadist Nabi Muhamad SAW. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ditegaskan, Nabi SAW bersabda:

“Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima, yaitu 1) apabila bertemu, berilah salam kepadanya, 2) mengunjunginya, apabila ia (Muslim lain) sedang sakit, 3) mengantarkan jenazahnya, apabila ia meninggal dunia, 4) memenuhi undangannya, apabila ia mengundang, dan 5) mendoakannya, apabila ia bersin,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Kita harus membina dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim, karena persaudaraan sesama Muslim diibaratkan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan (H.R. al-Bukhari dan Muslim), atau bagaikan suatau badan yang jika anggotanya sakit akan terasa pada bagian lainnya (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Selebihnya, di antara sesama Muslim tidak boleh saling menghina dan mengkhianati, sebaliknya diantara mereka harus saling mencintai seperti mencintai dirinya sendiri.

Dengan demikian, janganlah perbedaan pendapat menjadikan tali persaudaraan terputus. Sebab tidak ada kemuliaan pada sikap diri merendahkan sesama, apalagi merasa diri yang paling benar untuk selanjutnya memaki-maki bahkan melucuti kehormatan sesama Muslim.

Sebaiknya berupaya agar tetap bisa saling merendahkan diri. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang merendahkan diri di hadapan Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Hanya dengan sikap demikian, perintah Allah yang bersifat strategis dalam upaya membangun kekuatan umat bisa dilaksanakan dengan baik dan tersistem.

‌ۘوَتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡبِرِّوَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖوَلَاتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡإِثۡمِوَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚوَٱتَّقُواْٱللَّهَ‌ۖإِنَّٱللَّهَشَدِيدُٱلۡعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Jadi, mari tetap menjadi pribadi yang benar dengan tidak membiarkan sesama terjerumus pada ketidakbenaran. Andai pun harus bereaksi dengan sikap keras, tetaplah itu diorientasikan pada terwujudnya semangat ukhuwah, bukan permusuhan.

Semoga Allah senantiasa membimbing diri kita untuk senantiasa menghormati, menghargai sesama Muslim, sehingga dengan demikian barisan umat Islam semakin kuat dalam segala sisi kehidupan. Wallahu a’lam.

NH Madiun Berikan Modal untuk Koperasi Berani Jujur

NH Madiun Berikan Modal untuk Koperasi Berani Jujur

Koperasi Berani Jujur – Alhamdulillah, Nurul Hayat Madiun terus menebar kemanfaatan. Kali ini, Nurul Hayat (NH) Madiun memberikan suntikan modal untuk kelompok Koperasi Berani Jujur (KBJ) Balerejo, sebesar sepuluh juta rupiah.

Dana hibah sebesar sepuluh juta rupiah yang telah dikucurkan empat tahun yang lalu, dengan konsep syariah (pinjam tanpa bunga, permodalan bagi hasil, jual beli, tabungan dan infak ), kini telah berkembang menjadi aset Koperasi Berani Jujur sebesar dua puluh juta rupiah.

Alhamdulillah, adanya Koperasi Berani Jujur Nurul Hayat di Balerejo ini betul-betul sangat membantu para anggotanya yang mayoritas petani. Para anggota yang memiliki kebutuhan  mendesak, seperti ketika harus membayar iuran sekolah anaknya tapi mereka belum panen, mereka bisa mendapatkan pinjaman tanpa bunga untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.  Tidak hanya itu saja, adanya Koperasi Berani Jujur ini juga sangat membantu pada saat anggota membutuhkan pupuk untuk sawahnya namun belum memiliki dana.

Karena perkembangan KBJ Balerejo ini sangat bagus, antusias, dan semangat juga luar biasa, KBJ Balerejo mendapat suntikan modal sebesar sepuluh juta rupiah. Dari suntikan modal tersebut, akhir tahun 2021, dengan memaksimalkan program menabung, target omset KBJ mencapai empat puluh juta rupiah.

Serah terima bantuan ini, langsung diberikan oleh BM Nurul Hayat Madiun, Khoirur Rohman, pada Rabu, 24 November 2021. “Kita harapkan KBJ ini menjadi KBJ percontohan sehingga bisa bermunculan KBJ-KBJ lain. Yaitu KBJ yang mandiri, artinya permodalan  bisa dari tabungan atau dari urunan anggota,” tutur Khoirul dalam sambutannya.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah mendukung program-program kemanfaatan Laznas Nurul Hayat. Termasuk salah satunya adalah program Koperasi Berani Jujur ini. Semoga apa yang telah sahabat sejuk berikan, mendapat balasan terbaik dari Allah ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

#KBJ #KoperasiBeraniJujur #Laznas #LaznasNH #NurulHayat #NHZakatKita #Madiun #Sosial #SosialKemanusiaan #DanaSosial #ZakatKita

.

www.zakatkita.org I #TempatBerinfak

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya