Cara Mengatasi Hati Gelisah Dalam Islam

Cara Mengatasi Hati Gelisah Dalam Islam

Cara Mengatasi Hati Gelisah Dalam Islam – Salah satu yang penting sekali dari semua kejadian adalah hati yang akan tentram dengan mengingat Allah SWT. Apapun pikiran yang didominani kepada dunia dan tidak dikaitkan dengan pemiliknya, Allah SWT pasti kita mendapat teguran berupa hati yang gelisah.

Cara Mengatasi Hati Gelisah Dalam Islam – Hati yang gelisah merupakan bukan suatu hal yang buruk. Allah SWT memberikan alarm dengan hati gelisah pasti ada alasannya. Alasan Allah SWT jika manusia mengalami gelisah hati itu tandanya Allah SWT sangat rindu dan ingin hamba-Nya bisa mengingat-Nya kembali.

Sebagai seorang manusia, sudah sewajarnya jika kita pernah merasakan hati dan pikiran yang gelisah. Bukan hanya kita yang manusia biasa, bahkan seorang rasul pun pasti pernah mengalami hal ini. Namun hati dan pikiran yang gelisah tidak boleh terlalu lama dibiarkan karena dapat mengikis keimanan.

Maka dari itu, berikut ini beberapa cara mengatasi hati dan pikiran yang gelisah sesuai dengan ajaran Islam:

  1. Sabar

Tidak ada cara terbaik dalam menyelesaikan sebuah masalah selain dengan kesabaran.

“Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak’

Allah juga berfirman,

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177]

  1. Shalat

Tidak ada hal terbaik yang bisa dilakukan ketika ada masalah selain dengan sholat.

“Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat” (QS.Al-Baqarah: 153).

  1. Meminta pertolongan lewat doa

Kekuatan terbesar seorang mukmin adalah doa. Maka dari itu, perbanyaklah doa agar mendapatkan kemudahan dari Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman:

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am: 17).

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia sujud. Maka perbanyaklah doa (saat sujud)” (HR. Muslim).

  1. Husnudzhon pada Allah

Cara menenangkan hati dan pikiran yang gelisah selanjutnya adalah dengan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa setiap keputusan yang diberikan Allah adalah hal yang paling baik untuk kita. Mungkin kita menginginkan sesuatu padahal buruk untuk kita, maka dengan Allah menjauhkan kita dari keinginan tersebut, kita akan selamat. Hanya Allah yang tahu jalan terbaik bagi hambaNya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku’.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Watsilah bin Asqa’ radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Silahkan dia bersangka keapdaku dengan apa yang ia inginkan.”

  1. Berwudhu

Jika hati dan pikiran tidak tenang, maka segeralah berwudhu. Wudhu akan membantu menenangkan hati dan pikiran yang gelisah.

Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu. ( Syaikh Bin Bâz rahimahullah menilai hadits ini sanadnya jayyid)

  1. Zikir

Zikir adalah mengingat Allah. Dengan memperbanyak zikir, maka kita akan lebih sering mengingat Allah. Hati dan pikiran pun akan jauh lebih tenang.

Allah berfirman,

“Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152).

  1. Membaca Al Quran

Selain dengan solat dan zikir, cara lain untuk menenangkan hati dan pikiran yang gelisah adalah dengan membaca Al Quran. Kalam Allah akan mampu menyejukkan hati kita yang sedang gelisah. Allah berfirman,

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [26]: 52)

  1. Selalu bersyukur

Tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan sebuah masalah. Namun hendaknya kita selalu bersyukur karena nikmat yang diberikan Allah jauh lebih banyak dibandingkan dengan kegelisahan yang kita rasakan. Bahkan mungkin orang di luar sana memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan dengan masalah kita.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”

Semoga kita selalu diberikan keimanan dan kedamaian agar lebih khusyu dalam beribadah. Aamiin

Kerja Bakti Pembangunan Griya Lansia Husnul Khatimah Tahap 2

Kerja Bakti Pembangunan Griya Lansia Husnul Khatimah Tahap 2

Pembangunan Griya Lansia Tahap 2 – Alhamdulillah, kehadiran Griya Lansia Husnul Khatimah, benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. Hal ini membuat Griya Lansia Husnul Khatimah terpacu untuk terus berbenah, baik dari segi pelayanan kepada para lansia, juga dari segi bangunan. Belum lama ini, Griya Lansia Husnul Khatimah membangun sebuah musala, agar para santri legend bisa melaksanakan ibadah berjamaah dengan nyaman dan aman. Tak berhenti di situ saja. Agar bisa memberikan pelayanan yang lebih maksimal, juga agar bisa lebih banyak menampung lansia terlantar, Griya Lansia Husnul Khatimah juga melakukan pembangunan tahap 2 (perluasan).

Proses pembangunan Griya Lansia Husnul Khatimah tahap 2 telah dimulai. Diawali dengan pembangunan pondasi yang dikerjakan secara gotong royong oleh ribuan relawan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tepatnya pada hari Minggu, 23 Januari 2022, para relawan yang berasal dari berbagai instansi maupun individu, bergotong royong membangun pondasi sepanjang 600 meter.

kerja bakti pembangunan griya lansia husnul khatimah tahap 2

Kegiatan kerja bakti pembangunan pondasi perluasan lahan Griya Lansia Husnul Khatimah ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya. Setelah itu para relawan langsung bersiap di posisi masing-masing. Sementara bapak-bapak bahu membahu mengangkat batu, mengaduk semen dan sebagainya,  para ibu bergotong-royong menyiapkan makanan dan minuman. Alhamdulillah, tak sampai sore hari, pengerjaan pondasi pun telah selesai.

Griya Lansia Husnul Khatimah tahap 2 ini dibangun di atas lahan seluas 2300 meter persegi. Luasnya hampir dua kali lipat dari bangunan tahap pertama. Jika di bangunan pertama dapat menampung maksimal 60 lansia, di bangunan tahap 2 ini, InsyaAllah akan dibangun 64 lokal  yang dapat menampung hingga 120 lansia.

Kerja Bakti Pembangunan Griya Lansia Husnul Khatimah Tahap 2

“Dengan adanya pembangunan tahap 2 ini, harapan kami, Griya Lansia Husnul Khatimah bisa menjadi wadah bagi publik untuk merawat orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Dan di sini, siapa saja boleh membantu,” ujar Arief Camra, ketua Yayasan Griya Lansia Husnul Khatimah.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kerja bakti pembangunan pondasi Griya Lansia Husnul Khatimah ini. Semoga ikhtiar kita untuk memuliakan para lansia terlantar ini, mendapatkan sebaik-baik balasan dari Allah ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Dunia ini Hanya Permainan

Dunia ini Hanya Permainan

Dunia ini Hanya Permainan – Sejak 14 abad lalu, Nabi Muhammad telah mengingatkan manusia bahwa dunia hanyalah tempat tinggal sementara. Banyak ayat dalam Al-Qur’an menyebut kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau belaka. Salah satunya diabadikan dalam Surah Al-An’am berikut: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Al-An’am Ayat 32) Ini Jawaban Alqur’an Di ayat lain, Allah berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan jika mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut Ayat 64)

Dunia ini Hanya Permainan – Allah dan Rasulnya selalu menggambarkan dunia itu sesuatu yang hina, bukan sesuatu yang sifatnya besar. Dunia itu bagaikan bangkai kambing. Diriwayatkan dari sahabat mulia Jabir radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Muhammad berjalan melewati pasar kemudian banyak orang berada di dekat Beliau. Lalu Nabi Muhammad melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya, Beliau Nabi Muhammad bersabda: “Siapa di antara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau bersabda: “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Kemudian Nabi Muhammad bersabda: “Demi Allah, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” “Jangan biarkan harta dan dunia menjadi ‘tuan’ dalam hidup kita. Biarkan ilmu menjadi tuannya. Harta hanya di bawah telapak kaki, paling mulia ada di genggaman tangan.

Dunia ini Hanya Permainan – Dari Zain bin Tsabit (seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa yang dunia menjadi keinginan terbesar dihatinya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya. Dan Allah jadikan kefakiran diantara kedua matanya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang dituliskan saja untuknya. Dan siapa yang akhirat itu menjadi niat utamanya (keinginan terbesar di hatinya akhirat), Allah akan kumpulkan urusannya untuknya, dan Allah akan jadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan dunia itu hina di matanya.” (HR. Ibnu Majah)

Hadist ini mengetuk pintu-pintu orang yang dunia itu menjadi sesuatu yang besar di hatinya. Karena sudah kita ketahui, Allah dan Rasulnya selalu menggambarkan dunia itu sesuatu yang hina, bahkan lebih hina daripada bangkai kambing. Dalam hadits yang lain Rasulullah mengumpamakan dunia itu bagaikan kotoran manusia. Bahkan, Rasulullah menyebutkan bahwa sayap nyamuk lebih berharga daripada dunia.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencela orang yang keinginan terbesar di hatinya itu ada dunia. Keinginan terbesar dia adalah dunia, dunia, dan dunia. Apa yang terjadi dengan orang seperti ini? Allah akan cerai-beraikan urusannya. Apa maksudnya Allah cerai-beraikan urusannya? Artinya Allah cerai-beraikan kekuatan dia. Orang yang dunia adalah yang terbesar di hatinya, pasti akan menjadi orang yang mudah putus asa ketika ditimpa musibah.

Orang yang menjadikan dunia sebagai urusannya, hatinya akan penuh dengan penyakit-penyakit hati seperti cinta dunia yang berlebihan, penyakit dengki, demikian pula rakus, bahkan sampai tingkat menghalalkan yang haram demi untuk mendapatkan dunia.

Orang yang terbesar di hatinya adalah dunia, sulit sekali dia untuk ikhlas. Dia akan ikhlas jika ternyata ada kepentingan dunia, itupun juga ikhlasnya bukan karena Allah, tapi ada niat yang kedua. Ketika dia shalat, niat terbesar dia dari perbuatan shalat supaya dapat dunia. Bukan tidak boleh kita meminta dunia, karena meminta dunia dalam berdoa diperbolehkan. Bedakan antara niat beribadah dengan berdoa.

Kalau kita berdoa meminta kepada Allah dunia, silahkan. Tapi kalau kita berniat ibadah motivasi terbesar kita dari shalat kita, dari shalat kita adalah dunia, maka ini yang tercela. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang yang menginginkan dunia dari amal shalihnya. Allah berfiirman dalam surat Hud ayat 15-16:

“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan berikan apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi. (Tapi apa alasan buat dia di akhirat?) Mereka itu orang-orang yang tidak mendapatkan apapun dalam kehidupan akhirat kecuali api neraka. Dan batal apa yang mereka lakukan dan sia-sia perbuatan mereka.” (QS. Hud [11]: 15-16)

orang yang beramal shalih tujuannya karena berharap dunia, keinginan terbesar di hatinya adalah dunia, Allah menyebutkan di akhirat dia tidak mendapatkan apapun kecuali api neraka. Sia-sia perbuatannya.

Bukan berarti kita tidak boleh berdoa minta dunia, doa bedakan dengan niat dari beribadah. Berdoa memang tempatnya meminta. Itupun Allah mencela orang-orang yang berdoa yang isinya 100% hanya dunia. Allah berfirman:

“Diantara manusia adayang berdoa, ‘Wahai Rabb kami, berikan kepada kami dunia’, sementara akhirat tidak ada bagian dalam doanya tersebut.” (QS. Al-Baqarah [2]: 200)

Kata Ibnu Jarir Ath-Thabari, ayat ini mencela orang-orang Musyrikin Quraisy yang mereka setelah haji berdoa kepada Allah hanya meminta dunia saja. Lalu Allah menyebutkan doanya kaum mukminin:

Itulah doa yang dipuji oleh Allah.

Sementara banyak diantara kita ternyata isi doanya dunia 100%. Sudah begitu menjadikan niat ibadahnya pun juga mendapatkan dunia. Saking dunia itu betul-betul telah berakar dihatinya. Saking dunia itu menjadi yang terbesar dihatinya. Maka Rasulullah mengatakan, “Siapa yang menjadikan dunia keinginannya yang terbesar, Allah akan cerai-beraikan urusannya.”

Dia tidak akan merasa qana’ah, tidak akan merasa puas dengan yang Allah berikan kepada dia. Tidak ada dihatinya qana’ah. Dia selalu merasa kurang, sudah diberikan oleh Allah uang yang banyak, kekayaan yang banyak, tapi dia tidak pernah merasa puas dengan apa yang Allah berikan.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa yang akhirat itu menjadi niat utamanya.” Artinya seseorang keinginan terbesarnya adalah akhirat. Dia memandang dunia itu hina, dia memandang dunia itu sesuatu yang rendah. Dihatinya akhirat segala-galanya, dia mengharapkan surga Allah, dia takut dari neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dia sadar di dunia tidak akan lama, pasti kembali kepada Allah dan kembali kepada kehidupan akhirat.

Gandeng Radar Bojonegoro, NH Gelar Pelatihan Fotografi untuk Anggota IBUQU

Gandeng Radar Bojonegoro, NH Gelar Pelatihan Fotografi untuk Anggota IBUQU

IBUQU – Lembaga Amil Zakat Nurul Hayat Bojonegoro menggelar acara Pelatihan Fotografi bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro pada Ahad (16/01). Acara bertajuk “Meningkatkan Kreatifitas Guru Al-Qur’an Lewat Media Sosial” ini digelar di Aula Masjid al-Biru, Pertiwi, Bojonegoro dan diikuti oleh 215 Guru-guru Al-Qur’an se-Bojonegoro yang terhimpun pada program  IBUQU (insentif bulanan Guru Al-Qur’an) binaan Nurul Hayat Bojonegoro.

Dalam sambutannya, kepala cabang NH Bojonegoro, Suluh Adi Gunawan, mengatakan program pelatihan fotografi ini bertujuan untuk memberikan bekal kemampun guru Al-Qur’an dalam bidang fotografi sehingga membantu meningkatkan  kreatifitasnya. Skill ini, lanjutnya, dibutuhkan para guru Al-Qur’an untuk mengupdate kegiatan-kegiatan pembelajaran dan kreatifitas di tengah era media sosial.  “Pelatihan ini diharapkan bisa membantu para guru Al-Qur’an, meningkatkan tren positif dan mengurangi konten-konten negatif melalui kreatifitas fotografi,” ujarnya.

Sementara Nur Kholis, Wartawan Radar Bojonegoro memaparkan, bahwa fotografi membutuhkan kepekaan melihat fakta di sekeliling dengan sudut pandang jurnalis. Di samping itu, lanjutnya, perlu ada tanggung jawab sosial ketika seseorang menyajikan foto sehingga punya nilai informasi dan edukasi. Ketua Jurnalis Foto Nusantara ini memaparkan beberapa materi mulai teknik fotografi, cara menggunakan kamera, pencahayaan, mengambil angel dan foto human interest.

Pria yang merupakan anggota Aliansi Jurnalis Independen ini juga memberikan beberapa contoh foto human interest, sekaligus praktik langsung dengan objek acara pelatihan. Pada sesi akhir, peserta langsung mendapatkan evaluasi hasil pengambilan fotografi agar terasa peningkatannya. “Jadi, untuk mendapatkan hasil fotografi yang bagus, harus sering-sering berlatih dengan berbagai teknik,” terangnya.

Selain pelatihan fotografi, dalam kesempatan tersebut juga disaluran insentif guru Al-Qur’an sebesar 375 juta rupiah, selama setahun untuk seluruh anggota IBUQU se-Bojonegoro.

Indra, salah satu peserta pelatihan merasakan langsung peningkatan kemampuan fotografinya setelah mengikuti pelatihan ini. Peserta dari Trucuk ini mengikuti materi dari awal hingga praktik langsung, lalu mendapat evaluasi hasil pengambilan fotografinya. “Alhamdulillah pelatihan ini sangat dirasakan kemanfaatannya, saya bisa mengambil beberapa foto dengan teknik yang disampaikan narasumber,” paparnya.

Dari Rumah Siap Kerja untuk Anak Yatim NH

Dari Rumah Siap Kerja untuk Anak Yatim NH

Alhamdulillah, semakin hari, semakin banyak pihak-pihak yang menunjukkan kepedulian kepada sesama dan bersinergi menebar kemanfaatan. Salah satunya adalah Rumah Siap Kerja – PT. Samala Serasi Unggul. Ya, beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 5 Januari 2022, Rumah Siap Kerja – PT. Samala Serasi Unggul mengamanahkan donasi untuk anak yatim kepada Laznas Nurul Hayat.

Penyerahan donasi sebesar Rp. 200.000.000,- dilakukan di kantor Laznas Nurul Hayat Tangerang Selatan yang beralamatkan di Jl. Ir. H. Juanda No. 55, Rempoa, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.  InsyaAllah pada hari Rabu tanggal 26 Januari  2022 juga akan diadakan acara serah terima donasi di kantor Laznas Nurul Hayat Tangerang Selatan.

Donasi untuk anak yatim ini merupakan sesuatu yang spesial dan memiliki banyak keutamaan. Karena anak yatim menempati posisi yang istimewa dalam Islam. Salah satu keutamaan menyantuni anak yatim adalah, siapa saja yang menyantuni dan membahagiakan anak yatim, maka ia sedang memudahkan jalannya menjadi ahli surga. Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu akan masuk surga seperti ini (Nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggang keduanya).” (HR. Bukhari)

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Rumah Siap Kerja – PT. Samala Serasi Unggul, atas donasi yang telah diamanahkan kepada kami. Semoga Rumah Siap Kerja – PT. Samala Serasi Unggul, semakin sukses dan dimudahkan Allah ta’ala dalam segala urusan. Aamiin ya Rabbal Alaminn..

Mengendalikan Marah Dalam Islam

Mengendalikan Marah Dalam Islam

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi di dalam dirinya. Ada banyak jenis emosi yang bisa mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani hidupnya dan berinteraksi dengan orang lain. Tak jarang, manusia seringkali dikuasai oleh emosinya sendiri, padahal seharusnya manusialah yang mengontrol emosi-emosi tersebut. Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia, mulai dari pilihan yang kita buat, tindakan yang kita ambil dan semua persepsi yang kita miliki terhadap sesuatu.

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah dengan marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat cerai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

Menyadari hal ini, Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah SWT agar manusia tidak mudah terpancing emosi. “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Emosi marah memang tidak dapat dihilangkan dalam diri manusia. Hal ini adalah sebuah naluriah manusia. Menurut Al-Ghazali, ada dua cara mengendalikan amarah. Yang pertama adalah tidak menuruti amarah, kecuali hanya pada persoalan yang tidak dilarang dalam agama dan tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Latihan ini bisa dilakukan dengan memaksakan diri sendiri dan melakukannya terus menerus sampai seseorang itu mengampuni dirinya sendiri. Dengan begitu manusia harus melatih atau melemahkan potensi amarah dalam dirinya sehingga, ketika emosi marah itu muncul, tidak akan terlalu berlebihan dan tidak sampai menyakiti orang lain.

Yang kedua adalah latihan dengan merenungkan bahwa manusia semuanya akan berakhir di dalam kubur. Dengan selalu merenungkan hal itu, manusia akan menjadi lebih zuhud di dunia. Ada baiknya kita selalu menyibukan pikiran dan hati kita dengan hal-hal yang positif, sehingga emosi marah sudah tidak punya tempat lagi di hati kita. Di dalam Al-Quran juga dijelaskan bahwa menahan amarah lebih baik dibandingkan membalasnya. Hal ini terdapat dalam surat An-nahl ayat 126-127 yang berbunyi:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Yakni:

  1. Segera memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz: A‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Diam dan menjaga lisan.

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah SWT. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan Anda ke dasar neraka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

  1. Mengambil posisi lebih rendah. Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi, dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Karena itulah, Rasulullah SAW memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan, “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad)
  2. Ingatlah hadis ini ketika marah. Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Subhanallah, siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah SWT di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah SWT. Pahala ini Allah SWT berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

Satu lagi hadis yang bisa Anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi Anda: Dari Ibnu Umar, “Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah SWT berikan bagi orang yang bisa menahan emosi. Yang penting, Anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah SWT, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga Anda minta bantuan orang di sekitar Anda, Agar mereka segera mengingatkan Anda dengan janji-janji di atas, ketika Anda sedang marah.

  1. Selain meredam emosi, ada baiknya untuk coba mengambil air wudhu. Air wudhu selain berfungsi untuk membersihkan diri juga memiliki manfaat untuk membersihkan hati. Ketika mengambil air wudhu, bisa saja kita lupa dengan hal-hal buruk yang ingin kita lakukan ketika sedang marah. Emosi marah merupakan sifat setan, setan berasal dari api. Untuk meredakan api hendaknya basuh dengan air, yaitu air wudhu. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Aulialovers untuk Masyarakat Terdampak Erupsi Semeru

Dari Aulialovers untuk Masyarakat Terdampak Erupsi Semeru

Aulialovers berbagi – Bantuan untuk warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru terus mengalir. Berbagai lapisan masyarakat, dari seluruh Indonesia bergerak serentak. Mulai dari siswa sekolah, komunitas, hingga perusahaan-perusahaan besar, berbondong-bondong berbagi untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana erupsi Gunung Semeru.

Salah satu yang ikut tergerak untuk meringankan beban warga terdampak erupsi Gunung Semeru adalah Aulialovers Indonesia. Ya, alhamdulillah beberapa waktu yang lalu, Aulialovers Indonesia menyerahkan donasi kemanusiaan untuk warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Nurul Hayat. Donasi kemanusiaan senilai Rp 136.613.660,- yang terkumpul dari para mitra Aulia Fashion dan Aulialovers tersebut, diserahkan langsung oleh  Bapak Suseno selaku CEO Aulia Fashion, kepada Bapak Ahmad Rifai Hatala selaku Direktur ZIS Lembaga Amil Zakat Nasional Nurul Hayat.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Aulia Fashion dan Aulialovers di seluruh Indonesia atas kepercayaan menyalurkan bantuan untuk warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru, melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Nurul Hayat. Semoga apa yang telah diberikan mendapat sebaik-baik balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tak lupa juga mari bersama-sama kita doakan agar warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru bisa segera pulih dan kembali dapat beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah – Dalam tatanan masyarakat, ibadah sosial seperti zakat dan sedekah memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan ibadah individual, karena kemanfaatannya dapat dirasakan oleh orang lain. Maka dari itu ibadah sosial memiliki banyak pahala dari pada ibadah yang bersifat individual. Sedekah termasuk ibadah sosial. Terdapat ayat dalam Al Quran yang menjelaskan tentang keutamaan sedekah. Al Quran memberikan porsi yang lebih terhadap sedekah, karena sedekah adalah sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun dalam keagamaan.

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah – Bersedekah akan sangat mungkin terjadi suatu keseimbangan antara orang yang kaya dan orang yang miskin. Allah berfirman dalam Surat Ali-Imron (3:92) “Kamu sekali-kali tidak sampai kebajikan (yang semupurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan. Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita sebagai umat muslim hendaknya menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain. Akan tetapi perlu diketahui bahwa sedekah tidak mesti soal harta saja, namun bisa juga dengan berbuat baik kepada sesama, itu sudah termasuk sedekah. Mengingat bahwa sedekah merupakan ibadah yang bersifat sosial, Senyum itu pun adalah sedekah.

Sedekah itu merupakan pemberian seorang muslim secara sukarela dan ikhlas. Dengan itu seorang muslim yang sadar akan tanggung jawab agama dan tanggung jawab sosial, selayaknya kita dituntut untuk melaksanakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Antara ibadah individual dan ibadah sosial harus seimbang. Dengan bersedekah dapat mengimbangi ibadah sholat kita.

Di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614). Sedekah juga dapat menciptakan ketenangan hati, sebab hati akan terasa lebih tenang dan lapang karena beban-beban terangkat dan digantikan rasa senang karena telah membantu sesama dengan niat mendapat keridhaan Allah SWT.

Selain membantu sesama, ternyata terdapat banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh orang-orang yang bersedekah, diantaranya adalah keberkahan umur dan rizki sebab dengan ke-ikhlasan sedekah yang kita berikan Allah SWT sudah menjanjikan balasan rezeki yang berlipat ganda baik dalam bentuk uang atau rezeki lainnya yang tidak bisa dinilai dengan materi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 245 : “Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”

Sedekah merupakan aktivitas yang sangat mulia, selain merupakan tanda syukur kita kepada Alloh SWT, sedekah juga merupakan wujud eksistensi kita sebagai makhluk sosial di muka bumi ini. Sedekah bukan hanya berupa harta benda namun juga bisa berupa materi, ilmu pengetahuan, informasi dan lainnya dalam hal apapun selama masih dalam koridor agama dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Berbagi dalam Pandangan Islam.

Bagi umat Islam sedekah adalah salah satu cara untuk meraih rahmat dan ridho Allah SWT. “Ketika kita bersedekah, selain mendapatkan rahmat dan ridho-Nya maka Allah SWT juga memberikan ganjaran pahala minimal 10 kali lipat atau 700 kali lipat atau bahkan tidak terhingga tergantung keikhlasan dan kewenangan Allah SWT

”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (bersedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran).” (Al-Baqarah [2] : 261)

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikitpun tidak dirugikan (dizalimi).” (QS. Al-An’am [6]:160)

“Siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah suatu pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 245)

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya