Cara Menghitung zakat tambak ikan yang benar

Cara Menghitung zakat tambak ikan yang benar

Cara Menghitung zakat tambak – Tambak ikan adalah kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan. Hewan yang dibudidayakan biasanya adalah ikan, udang, kepiting, penyu dll. Penyebutan “tambak” ini biasanya dihubungkan dengan air payau atau air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau empang.

Menurut Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jatim praktik yang dilakukan di masyarakat antara lain:

  • Para petambak kadang memperoleh bibit ikan dari hasil pembenihan sendiri.
  • Para petambak kadang memperoleh bibit ikan dari hasil membeli kepada petani bibit.

Sehingga mencermati uraian mengenai asal bibit ikan itu diperoleh, maka status urudl al-tijarah (harta niaga) dari petambak di atas dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Untuk petambak dengan model bibit yang diperoleh dari hasil pembenihan sendiri, maka haul (masa satu tahun) urudl al-tijarah dihitung sejak mulai panen pertama, yang kemudian sebagian hasil panen itu disisihkan untuk diputar sebagai modal usaha lagi.
  2. Untuk model bibit yang kedua, maka haul urudl al-tijarah dihitung sejak mulai diterimanya (qabdlu) bibit yang dibeli dan hendak dibudiidayakan.

Ustadz Syamsudin melanjutkan bahwa, dengan mencermati 6 syarat mengenai urudl al-tijarah atau aset dagang, maka hal-hal yang bisa dimasukkan sebagai urudl al-tijarah, antara lain:

  1. Biaya pembelian benih ikan
  2. Aktiva lancar berupa tagihan ke pembeli hasil produk dan bisa diharapkan penunaiannya di dalam haul itu
  3. Utang produksi sebagai faktor pengurang besaran urudl al-tijarah

Ketiga biaya ini merupakan bagian dari modal disebabkan karena sudah disiapkan sejak awal oleh petambak dan diperoleh dengan jalan dibeli (mu’awadlah). Adapun biaya penyediaan tambak/kolam, mencakup biaya sewa tambak atau kolam, tidak masuk dalam bagian urudl al-tijarah dengan alasan merupakan tempat.

hukum zakat tambak ikan

Hukum Zakat Tambak Ikan

Jika kita menelaah referensi fikih zakat kontemporer dan peraturan perundang-undangan, akan ditemukan beragam pandangan antara lain sebagai berikut.

Pertama, wajib zakat dengan merujuk kepada nisab dan tarif zakat mustaghallat dan zakat pertanian. Zakat nelayan itu berlaku ketentuan zakat mustaghallat. Keduanya adalah hasil dari pengembangan alat produksi (ushul ats-tsabitah).

Oleh karena itu, nisabnya merujuk kepada zakat pertanian dengan tarif 5 hingga 10 persen. Dengan pandangan ini, hasil budi daya ikan atau hasil nelayan itu wajib zakat jika misalnya nilainya mencapai Rp 6.530.000 setelah dikurangi biaya dan dikeluarkan 5 persen sebagai tarif zakat. Hal ini seperti ditegaskan oleh sebagian para ahli di antaranya Profesor Husein Syahatah.

Kedua, wajib zakat dengan nisab minimal senilai 85 gram emas dengan tarif 2,5 persen. Seperti ditegaskan dalam perundang-undangan: “Hasil perikanan yang dikenakan zakat mencakup hasil budi daya dan hasil tangkapan ikan. Nisab zakat atas hasil perikanan senilai 85 gram emas. Kadar zakat atas hasil perikanan sebesar 2,5 persen. Zakat hasil perikanan ditunaikan pada saat panen dan dibayarkan melalui amil zakat resmi.” (Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif).

Bagi para ahli fikih yang menyimpulkan zakat yang berlaku dalam hasil nelayan adalah zakat pertanian itu didasarkan pada kesimpulan bahwa dari daftar proses dan hal-hal yang melekat dalam zakat pertanian dan zakat nelayan, ada satu kesamaan yang menyatukannya, yakni ada masa-masa panen.

Dalam pertanian, petani memetik hasilnya saat panen. Begitu pula seorang nelayan itu mencari ikan juga ada momentumnya (ada panennya) dan begitu pula saat dilakukannya dalam budi daya ikan.

Kemudian, dalam zakat pertanian objeknya tidak diperjualbelikan, begitu pula dengan zakat nelayan. Sebab, saat diperjualbelikan, hal tersebut tidak lagi mengikuti zakat pertanian, tetapi zakat perdagangan.

Cara Menghitung Zakat Tambak Ikan

Lantas cara menghtiung zakat tambak bagaimana?

Baca Juga :

Studi kasus pak Malik memiliki tambak ikan dengan biaya sewa tambak per tahun Rp 50 juta dan biaya operasional dalam satu tahun Rp 20 juta, sedangkan penghasilan kotor dalam satu tahun 200 juta. Berapa zakatnya pak Malik?

Jika dihitung nisabnya, volume usaha sudah mencapai kadar wajib untuk berzakat sama dengan 85 gr emas (Nisab 85 gram emas x Rp@900.000/gram = Rp 76.500.000). Nah, bilamana penghasilan usaha Pak Malik dalam setahun – modal tambah keuntungan = atau lebih dengan nilai 85 gram emas maka berarti pak Mulyono telah wajib mengeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 persen.

Dari contoh kasus diatas, dianggap bahwa biaya modal awal pak Malik senilai 50juta +20juta = Rp 70juta. Sedangkan penghasilan tambak bruto Rp 200 juta. Maka 200 juta dikurangi 70juta menghasilkan bersih dari modal dan keuntungan pak Malik di akhir tahun sebesar Rp 130 juta alias sudah memenuhi nisab yang mewajibkan untuk berzakat (Nisab 85 gram emas x Rp@900.000/gram =Rp 76.500.000).

HITUNGAN ZAKATNYA: 2,5 persen x 130.000.000 = Rp3.250.000. Jadi zakat yang dikeluarkan pak Mulyono dari hasil tambak tahun ini sebesar Rp.3.250.000.

Cara Bayar Zakat Tambak Via Online

Setelah mengetahui cara menghitung zakat tambak ikan, kini bayar zakat makin mudah cukup dari rumah bisa via online dari HP saja. Klik aja zakatkita.org

klik zakatkitaorg

Cermin

Cermin

Dikisahkan, di sebuah rumah pertanian seorang kakek bersama cucunya sedang duduk di beranda. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti dan seseorang menanyakan arah menuju ke kota terdekat. Setelah berbasa-basi, lelaki asing itu bertanya,  “Katakan tuan, orang macam apakah yang tinggal di sekitar sini?” “Mengapa engkau bertanya demikian?” Jawab orang tua itu. Setelah mendekat beberapa langkah, orang asing itu berkata, “Saya baru saja meninggalkan kota yang masyarakatnya adalah sekelompok orang sombong. Saya belum pernah bertemu dengan orang-orang yang kurang bersahabat seperti itu dalam hidup saya.” Orang asing itu melanjutkan, “Saya tinggal di kota itu lebih dari setahun tapi tidak pernah sekalipun saya merasa menjadi bagian dari masyarakat itu.” “Saya kira seperti itu pula keadaan yang akan engkau temui pada masyarakat di sini,” jawab lelaki tua itu. Dan orang asing itu mengucapkan selamat tinggal sambil berlalu. Cucunya terheran-heran atas apa yang baru didengarnya.

Tak berapa lama, mobil lain berhenti di depan rumah pertanian itu. Turunlah seseorang yang lagi-lagi menanyakan arah kota yang sama. Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, orang asing itu juga bertanya, “Bolehkah saya tahu, bagaimana keadaan  orang-orang di daerah ini?” Sekali lagi orang sepuh itu pun bertanya balik, “Mengapa engkau bertanya demikian?” Kemudian orang asing itu berkata, “Tahukah Anda,  saya tinggal di sebuah kota kecil yang sangat indah. Masyarakatnya membuat saya sangat betah tinggal di sana. Orang-orangnya sangat baik dan sangat penolong. Saya merasa berat untuk meninggalkan kota itu karena saya harus bertugas di daerah baru ini.”

Laki-laki tua itu tersenyum sembari berkata, “Di sini, engkau akan menemukan orang-orang yang sama baiknya dengan orang-orang di tempat yang kau tinggali dulu.” Orang asing itu pun berlalu. Tinggal sang cucu terheran atas apa yang baru saja didengarnya. Dan ia pun bertanya, “Kakek, mengapa memberi jawaban berbeda kepada dua orang asing itu untuk pertanyaan yang sama?” Sambil menepuk-nepuk bahu cucunya, sang kakek menjawab, “Sikap orang terhadap masyarakatlah yang menentukan bagaimana masyarakat bersikap terhadap mereka. Karena sesungguhnya orang-orang di seluruh dunia ini sama baiknya, sebab masyarakat adalah cermin yang memantulkan sikap kita pada mereka.”

Cermin itu adalah kita anakku. Apa yang kalian lihat pada orang lain, adalah cermin dirimu.  Apa yang engkau rasa adalah pantulan dirimu. Karena apa yang pernah engkau alami terhadap perilaku seseorang, pernah terjadi pada orang yang engkau temui. Baik dan buruk seseorang adalah baik dan burukmu. Itulah hakekat manusia. Namun seberapa baik dan buruk itu tergantung masing-masing, bagaimana ia mau belajar. Agar kebaikan lebih dominan atas keburukannya. Agar keburukannya tidak melebihi kebaikannya. Di situlah yang membedakan satu dengan yang lainnya. Seperti yang pernah Rasulullah ﷺ sampaikan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya, hingga orang lain merasa aman.” (HR. Tirmidzi).

Pada hakekatnya, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari sisi keburukannya. Sampai orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain, orang terbaik adalah orang yang dalam satu sisi dapat memberikan manfaat pada orang lain dan di sisi lain mampu mengendalikan keburukannya sehingga menghasilkan ketenangan bagi  yang berada di dekatnya. Untuk itu, raba diri kalian anakku. Jangan-jangan keberadaan kita tidak begitu baik di mata orang-orang sekeliling karena keburukan yang kita timbulkan. Keburukan-keburukan yang kita lempar kepada orang lain yang sejatinya berasal dari keburukan kita.  Karena kita adalah cermin itu sendiri. Seberapa kita menjadi manfaat dan seberapa kita menjadi mudhorot bagi orang lain, adalah tergantung seberapa besar kebaikan kita mendominasi keburukan yang ada. Rasulullah ﷺ menggambarkan tentang cermin diri yang sangat mewakili dari zaman ke zaman: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”

Namun tidak jarang anakku, beberapa orang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia baik. Berhati-hatilah engkau akan urusan penting ini.  Karena baik saja tidak cukup. Karena masih ada rentetan dan tantangan agar baik itu berbuah pahala. Agar cermin dirimu bersih dari coretan yang sengaja dan tidak sengaja engkau lakukan. Agar cermin dirimu betul-betul manfaat untuk orang lain sebagaimana Rasulullah ﷺ tauladankan.

Suatu hari Umar bin Khatab mengawasi Abu Bakar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Setiap selesai sholat subuh, Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah untuk mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota Madinah itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin mengetahui dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan sahabatnya di situ. Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapati seorang nenek yang lemah dan buta. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ia pun bertanya kepada nenek itu, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui siapa dia. Setiap hari dia datang, membersihkan rumahku dan menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.” Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimat yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah dan berat khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Cukuplah kebaikan agama ini yang menjadi cermin dirimu anakku. Sehingga engkau menjadi cermin bagi yang lain. Banyak orang tidak membaca Quran dan Hadist. Namun ia bisa membaca dari cermin dirimu.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Memberi Rasa

Memberi Rasa

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh yang menampilkan kefakirannya, memasuki sebuah pasar untuk membeli selimut. Ia membutuhkan lima lembar selimut untuk keluarganya di musin dingin tahun itu. Uang yang ia miliki hanya 100 ribu. Ia sudah berkeliling di pasar itu namun tidak ada toko yang menjual lima lembar selimut dengan harga 100 ribu.

Putus asa, ia memasuki toko terakhir di pasar itu. Ia sempat ragu karena toko itu adalah toko yang sangat besar dan megah dibanding toko-toko lainnya. Dengan suara ragu lelaki tua itu bertanya, “Saya membutuhkan lima lembar selimut, namun saya hanya punya uang 100 ribu. Apakah Anda menjualnya?” Pemilik toko berkata, “Ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki. Harganya 25 ribu per lembar. Kalau bapak beli empat lembar, akan mendapatkan bonus satu lembar.” Dengan wajah sumringah bapak tua miskin itu langsung mengulurkan uangnya dan segera setelah mendapatkan selimutnya, ia beranjak pergi.

Anak pedagang selimut itu memperhatikan ayahnya dan berkata, “Bukankah kata ayah, itu selimut termahal di toko ini? Dan bukankah harganya 250 ribu per lembar?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Benar sekali nak, harga selimut itu 250 ribu per lembar. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Sedang hari ini kita berdagang dengan Allah . Ayah berharap, laki-laki tua itu dan keluarganya dapat terhidar dari dinginnya musim dingin kali ini. Ayah juga berharap Allah akan menyelamatkan keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti. Sesungguhnya, kalaulah tidak karena menjaga harga diri laki-laki tua tadi, ayah tidak ingin menerima uangnya. Tapi ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah, sehingga merasa malu.”

Sesampainya di rumah, istri lelaki tua itu terheran melihat selimut bagus yang dibawa suaminya. Apalagi setelah mereka menemukan harga yang tertulis di banderol selimut itu adalah 250 ribu selembar. Mereka berpikir bahwa penjual selimut itu salah memberi harga. Lalu anak gadisnya berinisiatif untuk mengembalikan selimut itu ke toko dimana ayahnya membeli. Anak lelaki tua itu berkata kepada anak pemilik toko, “Tadi pagi ayahku membeli lima lembar selimut di toko ini. Dan ternyata Anda salah memberi harga. Harga selimut ini 250 ribu per lembar, namun Anda memberikan harga 25 ribu. Untuk itu saya mengembalikan selimut ini.”

Anak pemilik toko itu pura-pura melihat label harga lalu berkata, “Masya Allah! Anda benar, harga selimut ini 250 ribu. Betapa Anda sekeluarga sangat baik. Menyelamatkan kami dari kerugian yang sangat besar. Kalau Anda tidak memberitahu, betapa banyak kerugian kami dengan tumpukan selimut yang sangat banyak itu. Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda.”

Ada rasa di sana. Ada cinta di sana. Ada adab yang indah. Yang setiap diri pasti mampu menangkapnya.

Namun ternyata, ini bukan pekerjaan mudah. Karena banyak sekali orang yang sesungguhnya sedang berbuat baik sekaligus melakukan kedzaliman. Banyak orang baik yang tanpa sadar menjadi orang yang paling buruk. Siapa? Mungkin kita, anakku. Sangat mungkin, karena perilaku itu seringkali terjadi tanpa disadari pelakunya. Banyak pekerjaan baik yang menyebabkan kita merasa penting, lalu meremehkan orang lain. Banyak pekerjaan penting yang menjadikan kita merasa lebih, lalu merendahkan orang lain. Banyak urusan ummat yang memunculkan rasa paling. Kemudian kita mengecilkan orang lain.

Anakku, kalau kita lihat sekeliling, banyak orang yang tiba-tiba merasa penting karena amanah yang diberikan pada mereka. Tiba-tiba merasa menjadi berbeda karena program-program yang dibuat sangat bermanfaat. Sangat inspiratif. Sangat berguna. Dan sangat-sangat yang lain. Kemudian muncul rasa bangga. Takjub dengan diri sendiri. Sampai lupa memberi empati karena sudah merasa penting, merasa paling, merasa terganggu dengan orang-orang yang minta bantuan. Merasa tidak ada waktu untuk orang-orang yang diperkirakan merepotkan dengan banyak keluhan. Sampai lupa memberi rasa.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Kita tidak pernah lepas dari ancaman orang-orang yang memerangi iman. Namun kita jarang mau belajar, anakku. Orang-orang itu, membujuk iman kita dengan yang tampak baik. Menjerat iman kita dengan layanan dan cinta. Orang-orang itu lapang hatinya menerima keluh kesah, lebar telinganya mendengar susah dan resah. Terbuka tangannya mengulurkan bantuan dengan rasa. Sedang kita, lupa memberi rasa.

“Seorang Arab Badui berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat ingin mengusirnya. Tapi Nabi bersabda kepada mereka,  ‘Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air atau setimba besar air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan diutus untuk memberi kesususahan’.” (HR. Al Bukhari no. 323).

Anak-anakku, jangan-jangan selama ini amanah-amanah baik kita, menjadikan orang lain susah. Jangan-jangan pekerjaan kita yang tampak baik ini, menjadikan orang lain sempit jalannya. Hanya karena kita berdalih sesuai dengan prosedur dan profesionalisme. Sampai lupa memberi rasa. Lupa memberi cinta. Ya, banyak orang yang memberi bantuan namun tanpa rasa. Banyak orang yang menolong tapi tanpa cinta. Tidak sedikit yang berbuat baik namun terselip kesombongan. Juga tak kurang yang berjuang di jalan dakwah namun kikir rasa. Tersihir dengan kesibukannya dan takjub dengan amal solehnya. Alangkah sia-sianya.

Untuk itu anakku, berhati-hatilah kalian dengan tabiat ini. Karena setan bila tidak mampu membuat kita melakukan keburukan, ia akan menjadikan kita merasa baik. Dan rasa baik itulah yang menjadi pintu masuk semua keburukan. Jadilah orang baik yang dimaksud dalam agama ini. Yakni baik hubunganmu dengan Allah ﷻ, baik juga hubunganmu dengan sesama manusia. Sebagaimana anak penjual selimut itu berkata, “Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda…..” Wallahu’alam bishowab.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Tentu orangtua ingin anaknya menjadi seseorang yang memiliki kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di sekitarnya. Orangtua hendaknya mengajarkan kepada anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan teman-teman sebayanya, bahkan dengan orang dewasa.  Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan sosial anak.  Supaya anak tidak tumbuh menjadi anak yang egois. Selain itu insyaAllah anak juga akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Bukankah tujuan manusia diciptakan ke dunia ini adalah sebagai khalifah (pemakmur bumi).  Nah,  dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya insyaAllah kelak akan sangat bermanfaat ketika mereka menjalankan perannya sebagai pemakmur bumi,  apapun passion yang ditekuninya kelak.

Mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa

Untuk mengasah kemampuan bersosialisasi anak,  orangtua dapat mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa. Para sahabat di zaman Rasulullah ﷺ telah mengajak anak-anak mereka untuk menghadiri kumpulan orang dewasa. Sehingga dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak pada majelis-majelis yang mulia. Bahkan dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap ilmu, menumbuhkan keberanian bertanya ataupun berpendapat, yang tentunya dapat menambah wawasan anak.

Saya sendiri senang mengajak anak menghadiri majelis ilmu, entah itu di rumah, aula, ataupun masjid. Ketika orangtua menuntut ilmu, tanpa terasa anak ikut menyimak, bahkan turut menghafalkan ayat Alquran yang sedang saya pelajari. Terkadang disediakan pendamping untuk anak.  Sehingga selagi orangtua mengikuti seminar, anak-anak diberikan kegiatan yang menyenangkan dan terarah.

Mengajarkan tugas rumah pada ananda

Sewaktu kecil,  kita pasti terbiasa membantu pekerjaan domestik orangtua seperti menyapu, mencuci piring,  atau berbelanja ke warung. Meskipun pekerjaan yang kita lakukan mungkin tidak sempurna,  setidaknya kita telah berlatih untuk melakukannya.

Sekarang setelah kita menjadi orangtua, insyaAllah kita makin memahami betapa pentingnya mengajarkan tugas rumah pada anak. Biasanya orangtua cenderung merasa tidak tega pada anak, akhirnya malah mengerjakan semuanya sendiri. Padahal bisa jadi anak malah merasa senang diberikan tanggung jawab oleh orangtuanya.

Pada zaman Rasulullah ﷺ, anak-anak sangat suka membantu memenuhi kebutuhan orang dewasa khususnya Rasulullah ﷺ. Hal ini karena anak-anak telah dididik orangtuanya untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga atau membantu kedua orangtuanya. Sehingga muncul kepekaan dalam diri anak-anak untuk membantu keperluan orangtuanya, bahkan sebelum diminta. Dan kita perhatikan bagaimana Nabi ﷺ memberikan balasan kepada anak yang melayaninya dengan memberikan doa atas pelayanan yang ia berikan.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa mengajarkan kemandirian pada anak, khususnya dalam mengerjakan tugas rumah, amat banyak manfaatnya. Hal tersebut akan membantu anak menguasai life skill yang amat ia butuhkan untuk survive. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti merapikan tempat tidur, mandi, makan, berpakaian sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri dst. Yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepekaan anak untuk membantu kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya.  Dan seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ berikan apresiasi serta doa untuk anak yang sudah berusaha membantu kedua orangtuanya.

Membiasakan mengucap salam

Senyum,  salam, sapa,  sopan,  santun atau yang biasa disingkat 5 S oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memang terbukti menjadi modal bagi kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Jika kita mengajarkan tips ini pada anak,  insyaAllah akan memudahkan ananda dalam menjalin persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu bahwa memberikan senyuman ramah ketika bertemu orang lain adalah sedekah. Sedangkan ketika menyapa saudara kita sesama muslim,  kita telah diajarkan untuk senantiasa mengucapkan salam.  Anak-anak mesti dibiasakan untuk mengucapkan salam. Khususnya apabila bertemu saudara sesama muslim (khususnya orangtua dan orang dewasa) atau akan masuk ke dalam rumah.

Memperhatikan anak saat sakit

Nabi ﷺ telah mengajarkan kita untuk menjenguk anak-anak yang sakit. Ketika seorang anak yang masih fitrah (bersih) mendapati orang dewasa menjenguknya ketika ia sakit, maka kelak ia akan terbiasa menjenguk orang lain yang sedang sakit. Ketika menjenguk anak yang sedang sakit, hal ini juga merupakan momen untuk menyampaikan nasihat-nasihat agar anak menjadi lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Memilihkan teman yang baik

Rasulullah ﷺ ketika kecil juga bermain bersama teman-teman sebaya. Ketika beliau sudah menjadi seorang Rasul, beliau masih menghampiri anak-anak yang sedang bemain dan memberi salam pada mereka. Beliau tidak pernah bersikap kasar kepada mereka, beliau juga tidak pernah mengusir mereka, tetapi justru mendoakan mereka agar memperoleh curahan rahmat dari Allah ﷻ.

Demikianlah,  seorang Nabi saja selain mendidik anak-anak beliau sendiri, juga mendidik anak-anak lain dengan penuh kelembutan. Hal ini dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada anak tetangga yang bermain ke rumah kita, luangkanlah waktu menemani mereka bermain seraya menyelipkan nasihat kepada mereka. Keakraban dengan anak-anak akan memudahkan untuk mengarahkan mereka menjadi lebih baik.

Orangtua juga dapat mengarahkan anak untuk memilih teman-teman yang baik dan shalih, karena seperti sabda Nabi ﷺ, “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekadar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tak sedap (HR. Bukhari).

Menginap di rumah keluarga yang shalih

Pada zaman Nabi ﷺ ternyata telah dicontohkan bahwa keponakan beliau pernah bermalam di rumah beliau agar dapat meneladani langsung akhlak dan ibadah keseharian Nabi ﷺ. Saya pun paling senang manakala mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan keponakan-keponakan saya (anak dari kakak kandung). Terkadang saya mengajak mereka ke perpustakaan dan membacakan buku untuk mereka. Mereka juga kami arahkan untuk selalu menunaikan shalat lima waktu berjamaah.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat merupakan sistem ekonomi tertua di muka bumi. Zakat yang dikeluarkan oleh muzaki (pemberi zakat), sejatinya bukanlah berhenti pada soal memenuhi kewajiban. Tentu ada fadhilah di setiap syariat yang ditetapkan dalam Islam. Zakat ini bisa berdampak luas pada perekonomian umat. Utamanya untuk para mustahik.

Zakat meniadakan keakuan seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dari zakat, kita belajar bahwa dalam harta seseorang ada hak orang lain, ada hak mustahik yang harus dikeluarkan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibanding rezeki yang diterima pemberi zakat tersebut. Namun bukan lagi menjadi hal sepele jika telah sampai ke mustahik (penerima zakat).

Jika dapat dikelola dengan baik, zakat bisa memiliki potensi yang tidak biasa. Zakat yang diberikan muzaki secara individu dan langsung kepada mustahik mungkin saja bersifat jangka pendek, hanya dalam bentuk santunan. Namun lain cerita jika zakat dikumpulkan dan disalurkan melalui sebuah lembaga amil yang memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih baik.

Lembaga ini akan merealisasikan  dalam bentuk program-program yang bersifat jangka panjang baik bidang sosial, ekonomi, kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, dengan harapan program tersebut memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

Zakat yang disalurkan melalui lembaga akan terhimpun lebih banyak sehingga berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar. Dari segi ekonomi, zakat yang tersalur menjadi lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini bertujuan agar umat Islam terbebas dari kemiskinan sehingga bebas pula dari kekufuran dan mampu menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik.

Cara memberdayakan umat melalui dana zakat antara lain dengan memberikan bekal kepada mustahik berupa pemberian keterampilan atau ilmu usaha (wirausaha). Bekal keterampilan ini bisa diberikan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan.

Di sisi lain jika mustahik telah memiliki kemampuan wirausaha namun terbatas pada modal, maka pemberdayaan bisa diberikan melalui akses modal untuk bekal usaha. Pemberian modal ini akan disertai pendampingan sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan juga diberikan dari sisi marketing. Membuka jalan agar produk bisa terjual di pasaran.

Pun yang tidak kalah penting adalah sektor pendidikan. Terutama untuk anak yatim dan dhuafa. Dari sini, mustahik yang belum sampai pada usia kerja bisa diberdayakan melalui pemberian beasiswa pendidikan yang cukup. Atau dalam bentuk lain demi terpenuhinya pendidikan bagi yatim dhuafa. Program ini bertujuan menyiapkan anak yatim menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki bekal untuk memasuki usia produktif. Sehingga bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Melalui upaya-upaya optimalisasi dana zakat yang ada, umat akan diberdayakan secara jangka panjang terutama dari sisi ekonomi. Dari yang tadinya kurang menjadi cukup, dari yang tadinya penerima menjadi pemberi. Sehingga zakat dapat memperkecil jarak antara pemberi dan penerima.

Yuk berzakat! Karena zakat kita memberdayakan umat.

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Masih teringat jelas, bagaimana dahsyatnya gempa yang terjadi di Kabupaten Malang pada 10 April 2021 silam. Gempa dengan kekuatan 6,1 SR itu menimbulkan korban luka-luka bahkan korban jiwa. Juga mengakibatkan rusaknya fasiltas umum dan bangunan rumah warga.

Laznas Nurul Hayat, hadir menemani warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini. Selain memberikan berbagai macam bantuan pada fase tanggap darurat, Laznas Nurul Hayat juga terus mendampingi dalam masa recovery. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan huntara (hunian sementara) yang layak, yang disebut Griya Cahaya Hidup (GCH).

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Seperti yang kita ketahui bersama, warga yang rumahnya terdampak gempa Malang Selatan, terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal. Tenda-tenda ini tentu kurang aman dan nyaman bagi mereka. Ketika siang hari, di dalam tenda tentu akan terasa panas. Sementara ketika malam hari, udara dingin akan terasa lebih menusuk. Belum lagi jika hujan turun, tenda yang bocor, menyebabkan air hujan langsung masuk dan membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi tidak tenang. Dari sinilah Laznas Nurul Hayat berniat untuk membantu menyediakan hunian yang layak untuk warga terdampak. Dan hunian-hunian tersebut, kini telah diserah-terimakan dan telah ditempati oleh warga.

 

Alhamdulillah, pada 28 Agustus 2021 lalu, Laznas Nurul Hayat melaksanakan peresmian serah terima Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Hadir dalam acara peresmian ini, Direktur Eksekutif Laznas Nurul Hayat Bapak Heri Latief,  Kepala Cabang Nurul Hayat Malang Bapak Indra Hermawan, Kepala Dusun, Kepala Desa, Babinsa, Babinkamtibmas, dan warga penerima bantuan. Pada kesempatan tersebut, sebanyak 26 unit Griya Cahaya Hidup diserah-terimakan kepada warga  Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

 

Pada kesempatan serah terima ini, warga yang mendapatkan bantuan Griya Cahaya Hidup mendapatkan satu foto mereka yang tengah berpose di depan rumah, sebagai bentuk simbolis serah terima Griya Cahaya Hidup. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut, Laznas Nurul Hayat juga menyerahkan bantuan berupa alat-alat pertukangan. “Alhamdulillah, pada acara peresmian Griya Cahaya Hidup beberapa waktu lalu, kami juga menyalurkan bantuan berupa alat pertukangan untuk pengerjaan galvalum seperti bor, alat potong dan sebagainya. Pembangunan huntara kali ini tidak hanya untuk memberikan bantuan hunian layak bagi warga terdampak gempa. Tapi juga menjadi balai latihan kerja bagi warga. Ya, di sini warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini, mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana proses pengerjaan galvalum. Jadi, selain mendapat bantuan Griya Cahaya Hidup mereka juga mendapatkan tambahan skill yang akan bermanfaat untuk mereka ke depannya. Setelah ini, warga akan membuat kelompok kerja di bidang pengerjaan galvalum. Tentunya ini menjadi nilai tambah manfaat tersendiri bagi warga,” tutur Indra Hermawan, Kepala Cabang Nurul Hayat Malang.

Alhamdulillah, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah para warga yang menjadi penerima bantuan Griya Cahaya Hidup. Bahkan saking bahagianya karena mendapat bantuan tempat tinggal, dengan inisiatif sendiri, mereka menggambar logo Laznas Nurul Hayat di tembok-tembok Griya Cahaya Hidup yang mereka tinggali. “Ya, warga bahagia dan menyambut positif bantuan ini. Semoga bantuan ini bisa membuat warga menjadi lebih tenang di rumah. Sehingga kepala keluarga bisa fokus untuk mencari nafkah tanpa kebingungan memikirkan tempat tinggal untuk keluarga,” tutur Kholaf Hibatulloh, Direktur Program Laznas Nurul Hayat yang juga turut hadir dalam acara tersebut.

Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur dan semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam pembangunan Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Semoga apa yang telah kita upayakan bersama, mendapat sebaik-baiknya balasan dari Allah ﷻ. Tak lupa juga mari kita doakan, agar warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini dapat segera bangkit dan kembali seperti sedia kala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Bedah Rumah Mbah Sarpiyah

Bedah Rumah Mbah Sarpiyah

Mbah Sarpiyah, usia 70-an tahun. Tinggal di Desa Taji, Kec. Jabung, Kab. Malang. Desa yang terletak di lereng Gunung Bromo. Dengan ketinggian 1200 Mdpl.  Mbah Sarpiyah tinggal sendirian di rumah tidak permanen. Yang pembangunannya hasil dari urunan warga. Tanahnya numpang di tetangga. Tepat di depannya ada kandang sapi.  Pekerjaannya buruh di ladang. Karena faktor usia, jarang ada yangg membutuhkan tenaganya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Mbah Sarpiyah dibantu oleh warga sekitar. Sempat ditawari masuk Griya Lansia (tempat para lansia terlantar). Tapi beliau belum berkenan. Beliau memiliki 2 anak, tapi kondisi ekonominya juga sama.  Nurul Hayat Malang bekerjasama dengan NH Construction yang dikomandoi oleh Kapten Budi. Siap untuk membantu bedah rumah Mbah Sarpiyah.

Tepat pada tanggal 15 September 2021, rumah Mbah Sarpiyah dibongkar dan dibangunkan rumah layak huni. Dengan proses pengerjaan selama 4 hari 3 malam, alhamdulillah rumah Mbah Sarpiyah telah terselesaikan.  Saat ini Mbah Sarpiyah sudah menempati rumah barunya yang sangat layak. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan dengan rumah baru ini menjadikan Mbah Sarpiyah lebih rajin ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aaamiin ya Rabbal Alamiin…

Tak lupa kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah mendukung gerak kemanfaatan Laznas Nurul Hayat. Semoga apa yang sahabat sejuk berikan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, mendapat balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Kekeringan

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Kekeringan

Awal bulan, blusukan ke pelosok desa untuk menyambangi rumah seorang guru ngaji di wilayah barat Bumi Mliwis Putih. Guru ngaji ini adalah sosok yang luar biasa. Beliau merelakan rumah sederhananya sebagai tempat mengaji Al-Quran bagi 80-100-an santri.  Ruang tamunya disulap jadi kelas. Perabotan seperti meja dan kursi tamu, diganti meja dampar kayu triplek, untuk ngaji santri. Dinding rumah yang lumrah diisi foto keluarga atau lukisan, diganti papan belajar, bertuliskan pelajaran-pelajaran harian. Para santri yang merupakan tetangga dan bahkan dari kampung desa sebelah, ngaji secara sukarela, tanpa dipungut biaya.

Pak guru mengaku apa yang ia tekuni itu, bukanlah sesuatu yang ia rencanakan sejak awal. Beliau mengaku “terdampar” di desa itu. Setelah menikah beliau ikut sang istri hidup di sebuah desa yang terbilang pelosok. Yang tempat mengajinya masih sedikit. Keadaan tersebut membuatnya merasa tertantang. Jiwa santrinya berkobar. Ingin menyalakan pelita ilmu untuk warga desanya. Mengaji, mengajar bahkan juga keliling ke beberapa majelis di luar desanya.

Dalam menjalankan aktivitasnya tersebut, Pak Guru, tak jarang harus menghadapi beberapa tantangan. Di samping tantangan alam, yaitu jalan bebatuan khas pedesaan, sulitnya sumber air bersih juga menjadi tantangan terberat. Bertahun-tahun dipikirkan cara untuk mengatasi persoalan ini. Namun belum ditemukan solusi bagaimana memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga, sanitasi masjid dan musholla, karena hampir satu lokasi desa krisis air terutama di musim kemarau ini.

Kami ditunjukkan fakta, mulai di pekarangan rumahnya, dan rata-rata di pemukiman warga, paralon putih semrawut menuju sumber air di luar desa. Benar saja, kami telusuri jalanan, lewat jembatan geladak kayu, tadinya sempat berpikir di situ pasti sumber airnya. Dekat sungai. Namun ternyata salah.

Yang kami lihat justru paralon putih itu semakin semrawut bergelantungan di sisi kiri dan kanan jembatan. Terus saja kami ikuti arah paralon putih itu. Kemudian mulai terlihat sumur-sumur kecil yang menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar. Sumur-sumur itu, kalau dihitung jumlahnya puluhan. “Kenapa tidak jadi satu titik saja?” Tanya kami penasaran. Jawabnya, tidak bisa karena sumbernya kecil sekali. Hanya cukup untuk kebutuhan satu keluarga. Jika satu kampung membuat sumur sendiri-sendiri, bisa dibayangkan berapa banyak jumlahnya. Bisa semakin semrawut jalan desa ini dipenuhi paralon-paralon putih.

Kebetulan, ketika kami  melanjutkan blusukan, kami bertemu warga yang sedang menyiapkan peresmian jembatan desa dalam momentum peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76. Ketika kami ngobrol-ngobrol soal kekeringan desa, ia nyeletuk, “Zaman saya masuk pertama kali di desa ini, malam pengantin baru, bukannya bersama istri tapi malah berada di belik kali. Terbayang bukan, betapa repotnya pengantin baru di desa ini. Hehe…”

Demikianlah cerita dan fakta dari guru ngaji yang mengajak blusukan siang itu. Beliau ingin sekali punya sumur bor  yang bisa mencukupi kebutuhan air di desanya. Apalagi Pak Guru juga punya kepentingan untuk kebutuhan santrinya. Terlebih jika jumlah santrinya semakin banyak. Dan kini sudah ada santri yang mulai mukim di rumahnya. Yaitu anak yatim mondok dari kampung sebelah. Untuk tiga santri mukimnya itu, Pak Guru merelakan teras rumahnya dijadikan kamar.

Mari bantu Pak Guru dan warga desanya mendapatkan sumber air bersih dengan membuat sumur bor. Agar warga desanya dapat memenuhi kebutuhan air bersih. Juga agar para santri di rumah Pak Guru bisa belajar dan beribadah dengan nyaman.

Doa Zakat Mal, Niat dan Ketentuannya

Doa Zakat Mal, Niat dan Ketentuannya

Doa Zakat Mal – Zakat Mal berbeda dengan zakat fitrah. Kata mal berasal dari bahasa arab yang berarti harta, dalam bentuk jamaknya al-amwal الامول.

Secara istilah harta adalah ma malaktahu min kulli syai atau dalam bahasa Indonesia segala sesuatu yang engaku miliki.

Zakat mal atau zakat harta merupakan salah satu jenis zakat yang harus kita lakukan jika harta-harta yang kita miliki sudah mencapai nisabnya. Zakat mal sendiri bertujuan untuk membersihkan atau mensuxikan harta-harta yang kita miliki, karena disetiap harta kita sebenarnya ada hak orang lain yang harus kita berikan. Untuk jumlah zakat mal yang harus kita keluarkan adalah sebesar 2,5% dengan catatan harta yang kita miliki sudah mencapai satu nisab.

Harta juga bisa berupa hasil intelektual, seperti harta profesi yang kita dapat dari pekerjaan yang kita lakukan. Ingatlah bahwa semua harta yang kita miliki adalah milik Allah karena itu merupakan rezeki atau titipan dari-Nya.

Sebagian dari harta yang kita miliki ada milik orang lain, untuk itu kita diwajibkan untuk berzakat. Allah sudah menyerukan kita untuk menyisihkan atau menafkahkan sebagian harta kita dijalan Allah.

Zakat mal

Syarat Ketentuan Zakat Mal

Sebelum menunaikan zakat mal diawali dengan niat. Jika zakatnya berupa emas dan perak maka emas dan perak tersebut asli tidak ada campuran dengan zat lain, lalu diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat, baik berupa emas yang sudah dilebuh maupun dalam bentuk batangan. Orang yang berzakat mal harus memperhatikan syarat-syarat berikut ini :

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Memiliki harta berupa emas, perak, dan uang kertas
  4. Sudah mencapai jumlah yang ditentukan (nisab)
  5. Disimpan selama satu tahun (haul)

Doa Zakat Mal

نويت ان احرج زكاة مالي فرضا لله تعلي

“Nawaitu an ukhriza zakata maali fardhan lillahi ta’aala.”

Aku niat mengeluarkan zakat hartaku fardhu karena Allah Ta’ala.

Doa Menerima ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah)

اجرك الله فيما اعطيت وبارك فيم ابقيت وجعله لك طهورا

“Ajrakallahumma fiimaa a’thyta wa baaroka fiimaa abqayta wa ja’alahu thahuuran.”

Semoga Allah memberikan ganjaran (pahala) terhadap engkau (atas apa yang telah diberikan). Dan semoga Allah memberikan keberkahan terhadap harta yang engkau sisakan, dan menjadikannya sebagai pensuci bagi engkau.

Cara Menghitung Zakat Mal

Berikut kami berikan contohnya cara menghitung zakat mal berdasarkan studi kasus:

Contoh: semisal harga emas murni sekarang 1 gram nya Rp 960.000. berarti 85 x 600.000 = 81,6 juta, jadi nishab zakat mal adalah 81,6 juta.

Maka apabila seseorang memiliki kekayaan senilai 100 juta wajib dizakatkan hartanya.

Perhitungan atau cara membeyar zakatnya adalah 81,6 juta diambil 10 persennya kemudian dibagi 4.

Maka hasilnya dari perhitungan tersebut yang dikeluarkan zakatnya. Misal, 10% dari 100 juta adalah Rp 10.000.000 lalu dibagi 4, yakni Rp 2.500.000.

Perhitungan diatas digunakan untuk menzakatkan harta yang berupa emas, uang, kendaraan, maupun harta lainnya di luar ternak dan hasil kebun.

Ternak dan hasil kebun memiliki hitungan tersendiri sesuai dengan banyaknya hasil yang dimiliki.

Cara Bayar Zakat Mal

Cara bayar zakat mal sekarang makin mudah bisa dari rumah. Cukup sedian HP atau laptop kemudian klik saja zakatkita.org. Anda bisa langsung bayar zakat via online tanpa ribet.

klik zakatkitaorg

 

Fikih Zakat Lengkap

FIKIH ZAKAT

Fikih Zakat Lengkap (Free E-Book)

Fikih Zakat – Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Sedangkan dalam istilah fiqih, zakat memiliki arti sejumlah harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqin). Zakat dijadikan nama untuk harta yang diserahkan tersebut, sebab harta yang dizakati akan berkembang dan bertambah. Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni berkata : وَسُمِّيَتْ بِذاَلِكَ ِلأَنَّ المْاَلَ يَنْمُوْ بِبَرَكَةِ إِخْرَاجِهاَ وَدُعَاءِ الآخِذِ “Disebut zakat karena harta yang dizakati akan berkembang sebab berkah membayar zakat dan doa orang yang menerima.” (Syekh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Surabaya, al-Haramain, cetakan kedua, 2002, halaman 104)

Sahabat sejuk Nurul Hayat, kami akan share panduan lengkap tentang Fikih Zakat beserta e-booknya di bawah ini. Klik Setiap Bab dan Sub Bab nya untuk melihat detail pembahasannya.

Pengertian Zakat

Pengertian Zakat

Pada dasarnya jenis zakat dibagi menjadi dua yaitu, Zakat Nafs (Jiwa) disebut juga Zakat Fitrah dan Zakat Maal (Harta). Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang idul fitri pada bulan suci Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan seperti beras, gandum, dan sejenisnya. Apabila kita mau menggantinya dengan uang, kita harus membayar sesuai dengan harga dari makanan pokok tersebut dikalikan besaran zakatnya yaitu 3,5 liter atau 2,5 kilogram.

Sementara zakat maal (harta) adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan Nisab dan haulnya. Waktu pengeluaran zakat ini tidak dibatasi, jadi bisa dikeluarkan sepanjang tahun ketika syarat zakat terpenuhi. Zakat jenis ini akhirnya melahirkan banyak jenis zakat diantaranya : zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, hasil temuan, obligasi, tabungan, emas dan perak dan lainnya. Masing-masing jenis zakat memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Apabila seseorang muslim merdeka, berakal, balig, memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab (syarat jumlah minimum harta yang dapat dikategorikan sebagai harta wajib zakat) dan haulnya (masa kepemilikian harta sudah berlalu selama dua belas bulan Qamariah/ tahun Hijriyah) maka seseorang wajib mengeluarkan zakat harta. Orang yang mengeluarkan atau membayarkan zakat disebut Muzzaki.

Copyright © 2001-2023 Yayasan Yay. Nurul Hayat Surabaya