Mengendalikan Marah Dalam Islam

Mengendalikan Marah Dalam Islam

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi di dalam dirinya. Ada banyak jenis emosi yang bisa mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani hidupnya dan berinteraksi dengan orang lain. Tak jarang, manusia seringkali dikuasai oleh emosinya sendiri, padahal seharusnya manusialah yang mengontrol emosi-emosi tersebut. Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia, mulai dari pilihan yang kita buat, tindakan yang kita ambil dan semua persepsi yang kita miliki terhadap sesuatu.

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah dengan marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat cerai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

Menyadari hal ini, Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah SWT agar manusia tidak mudah terpancing emosi. “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Mengendalikan Marah Dalam Islam – Emosi marah memang tidak dapat dihilangkan dalam diri manusia. Hal ini adalah sebuah naluriah manusia. Menurut Al-Ghazali, ada dua cara mengendalikan amarah. Yang pertama adalah tidak menuruti amarah, kecuali hanya pada persoalan yang tidak dilarang dalam agama dan tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Latihan ini bisa dilakukan dengan memaksakan diri sendiri dan melakukannya terus menerus sampai seseorang itu mengampuni dirinya sendiri. Dengan begitu manusia harus melatih atau melemahkan potensi amarah dalam dirinya sehingga, ketika emosi marah itu muncul, tidak akan terlalu berlebihan dan tidak sampai menyakiti orang lain.

Yang kedua adalah latihan dengan merenungkan bahwa manusia semuanya akan berakhir di dalam kubur. Dengan selalu merenungkan hal itu, manusia akan menjadi lebih zuhud di dunia. Ada baiknya kita selalu menyibukan pikiran dan hati kita dengan hal-hal yang positif, sehingga emosi marah sudah tidak punya tempat lagi di hati kita. Di dalam Al-Quran juga dijelaskan bahwa menahan amarah lebih baik dibandingkan membalasnya. Hal ini terdapat dalam surat An-nahl ayat 126-127 yang berbunyi:

وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Yakni:

  1. Segera memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz: A‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Diam dan menjaga lisan.

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah SWT. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan Anda ke dasar neraka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

  1. Mengambil posisi lebih rendah. Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi, dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Karena itulah, Rasulullah SAW memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan, “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad)
  2. Ingatlah hadis ini ketika marah. Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Subhanallah, siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah SWT di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah SWT. Pahala ini Allah SWT berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

Satu lagi hadis yang bisa Anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi Anda: Dari Ibnu Umar, “Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah SWT berikan bagi orang yang bisa menahan emosi. Yang penting, Anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah SWT, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga Anda minta bantuan orang di sekitar Anda, Agar mereka segera mengingatkan Anda dengan janji-janji di atas, ketika Anda sedang marah.

  1. Selain meredam emosi, ada baiknya untuk coba mengambil air wudhu. Air wudhu selain berfungsi untuk membersihkan diri juga memiliki manfaat untuk membersihkan hati. Ketika mengambil air wudhu, bisa saja kita lupa dengan hal-hal buruk yang ingin kita lakukan ketika sedang marah. Emosi marah merupakan sifat setan, setan berasal dari api. Untuk meredakan api hendaknya basuh dengan air, yaitu air wudhu. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah – Dalam tatanan masyarakat, ibadah sosial seperti zakat dan sedekah memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan ibadah individual, karena kemanfaatannya dapat dirasakan oleh orang lain. Maka dari itu ibadah sosial memiliki banyak pahala dari pada ibadah yang bersifat individual. Sedekah termasuk ibadah sosial. Terdapat ayat dalam Al Quran yang menjelaskan tentang keutamaan sedekah. Al Quran memberikan porsi yang lebih terhadap sedekah, karena sedekah adalah sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun dalam keagamaan.

Meraih Kebahagiaan Dengan Sedekah – Bersedekah akan sangat mungkin terjadi suatu keseimbangan antara orang yang kaya dan orang yang miskin. Allah berfirman dalam Surat Ali-Imron (3:92) “Kamu sekali-kali tidak sampai kebajikan (yang semupurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan. Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita sebagai umat muslim hendaknya menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain. Akan tetapi perlu diketahui bahwa sedekah tidak mesti soal harta saja, namun bisa juga dengan berbuat baik kepada sesama, itu sudah termasuk sedekah. Mengingat bahwa sedekah merupakan ibadah yang bersifat sosial, Senyum itu pun adalah sedekah.

Sedekah itu merupakan pemberian seorang muslim secara sukarela dan ikhlas. Dengan itu seorang muslim yang sadar akan tanggung jawab agama dan tanggung jawab sosial, selayaknya kita dituntut untuk melaksanakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Antara ibadah individual dan ibadah sosial harus seimbang. Dengan bersedekah dapat mengimbangi ibadah sholat kita.

Di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614). Sedekah juga dapat menciptakan ketenangan hati, sebab hati akan terasa lebih tenang dan lapang karena beban-beban terangkat dan digantikan rasa senang karena telah membantu sesama dengan niat mendapat keridhaan Allah SWT.

Selain membantu sesama, ternyata terdapat banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh orang-orang yang bersedekah, diantaranya adalah keberkahan umur dan rizki sebab dengan ke-ikhlasan sedekah yang kita berikan Allah SWT sudah menjanjikan balasan rezeki yang berlipat ganda baik dalam bentuk uang atau rezeki lainnya yang tidak bisa dinilai dengan materi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 245 : “Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”

Sedekah merupakan aktivitas yang sangat mulia, selain merupakan tanda syukur kita kepada Alloh SWT, sedekah juga merupakan wujud eksistensi kita sebagai makhluk sosial di muka bumi ini. Sedekah bukan hanya berupa harta benda namun juga bisa berupa materi, ilmu pengetahuan, informasi dan lainnya dalam hal apapun selama masih dalam koridor agama dan tidak melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Berbagi dalam Pandangan Islam.

Bagi umat Islam sedekah adalah salah satu cara untuk meraih rahmat dan ridho Allah SWT. “Ketika kita bersedekah, selain mendapatkan rahmat dan ridho-Nya maka Allah SWT juga memberikan ganjaran pahala minimal 10 kali lipat atau 700 kali lipat atau bahkan tidak terhingga tergantung keikhlasan dan kewenangan Allah SWT

”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (bersedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran).” (Al-Baqarah [2] : 261)

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikitpun tidak dirugikan (dizalimi).” (QS. Al-An’am [6]:160)

“Siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah suatu pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 245)

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya – Meskipun manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan penuh kesalahan, namun Islam mengategorikan manusia sebagai makhluk paling mulia di muka bumi, serta lebih tinggi derajatnya dibandingkan makhluk-makhluk Allah SWT lainnya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra (17) : 70

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya – Kemuliaan derajat manusia ini karena ia dibekali keistimewaan ilmu pengetahuan, kepandaian bahasa (al-bayan), rasio (akal), serta tamyiz, kemampuan membedakan hal baik dan buruk,

Makhluk-makhluk lainnya, seperti binatang tidak memiliki kemampuan kompleks di atas, bahkan malaikat pun dianggap lebih rendah posisinya dibandingkan manusia. Sebab, malaikat tidak bersifat tamyiz. Malaikat hanya patuh pada Allah SWT dan tidak memiliki pilihan untuk melakukan maksiat.

Pilihan dan kesadaran terhadap yang benar (hak) dan yang salah (batil) inilah yang merupakan keistimewaan terbesar pada diri manusia. Namun, jika manusia tidak bisa memanfaatkan keistimewaan ini, maka derajatnya akan direndahkan serendah-rendahnya, bahkan lebih dari binatang. Sementara itu, jika ia berhasil mengendalikan hawa nafsu dan kesadarannya, maka manusia akan memperoleh ganjaran derajat paling tinggi di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa bukti kemuliaan manusia yang diajarkan Islam beserta dalilnya dalam Al-Quran.

  1. Manusia dikaruniai pengetahuan

Sebagaimana dijabarkan dalam surah Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan gagasannya kepada para malaikat bahwasanya ia akan menciptakan manusia. Lantas, para malaikat bertanya kepada Allah SWT, untuk apa ia menciptakan manusia yang akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

Allah kemudian menyatakan bahwa manusia dikaruniai pengetahuan. Dengan demikian, mereka tidak selamanya akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, melainkan punya pilihan untuk melakukan kebaikan (memakmurkan bumi) atau menghancurkannya.

Pengetahuan yang dikaruniakan Allah SWT ini dijelaskan dalam ayat berikutnya, terutama ketika Allah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada Adam AS. Hal ini merupakan kemuliaan pertama yang membuat manusia lebih unggul dari malaikat.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama [benda-benda] seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’,” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

  1. Manusia dikaruniai akal dan pilihan untuk mempertimbangkan perkara baik dan buruk

Sebagaimana disebutkan di atas, malaikat tidak memiliki pilihan sebagaimana manusia. Demikian juga binatang hanya dikendalikan oleh insting sehingga tidak bisa memperhitungkan yang hak dan batil. Sementara, manusia dikaruniai akal untuk mempertimbangkan baik dan buruk atas suatu tindakan atau peristiwa di muka bumi ini.

Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: “Barang siapa menghendaki [untuk menjadi orang beriman] maka berimanlah, dan barang siapa menghendaki [untuk menjadi orang kafir] maka kafirlah,” (QS. Al-Kahfi [18]: 29).

  1. Manusia memiliki fisik yang sangat baik

Allah menciptakan manusia dengan fisik dan anggota tubuh terbaik sesuai fungsi dan kegunaannya. Dengan fisik yang sempurna, manusia dapat melakukan banyak hal yang tak bisa dicapai makhluk-makhluk lain di muka bumi ini. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk [fisik] yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin [95]: 4).

  1. Manusia adalah khalifah di muka bumi

Berdasarkan kemuliaan manusia yang disebutkan di atas, Allah mengangkat derajat manusia di muka bumi ini sebagai khalifah, sebagai pemimpin yang bertugas untuk memakmurkan semesta. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

  1. Takwa sebagai indikator kemuliaan

Meskipun manusia adalah makhluk yang mulia di muka bumi ini, namun yang derajat tertinggi di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa di antara manusia itu sendiri. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al Hujurat [49]: 13).

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan – Sedekah bisa kita lakukan dengan beragam cara. Sesuai dengan kondisi, potensi, dan kemampuan yang kita miliki. Bagi siapa saja yang diberi kelebihan harta, maka ia bisa bersedekah dengan materi ataupun non materi. Bagi siapa saja yang diuji dengan kekurangan harta, maka pintu sedekah tidak tertutup baginya. Ia bisa bersedekah dengan beragam cara dan meraih pahala sedekah sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang berharta. Sedekah dengan kebaikan dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya.

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan – Kata sedekah berasal dari bahasa Arab, yaitu shadaqah yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridha Allah dan pahala semata. Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan. Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain.

Berikut ini beberapa cara bersedekah dengan kebaikan yang dapat kita lakukan.

  1. Sedekah dengan hati

Seorang hamba bisa mendapatkan pahala sedekah hanya dengan niatnya yang tulus. Sebagian salaf berkata “Alangkah banyaknya amalan kecil menjadi besar karena niat, dan alangkah banyaknya pula amalan besar menjadi kecil karena niat.” Ya, niat seseorang yang tulus untuk menggunakan harta dalam kebaikan seandainya Allah memberinya, dapat mengantarkan dirinya untuk mendapatkan pahala yang sama dengan orang kaya.

  1. Sedekah dengan lisan

Lisan berpotensi menjadi bagian tubuh terbaik atau terburuk bagi seseorang. Ia akan menjadi anggota tubuh terbaik jika ia berbicara baik. Pun sebaliknya, lisan akan menjadi anggota tubuh terjelek jika ia berbicara buruk. Di antara hal-hal yang dapat menyebabkan lisan seseorang menjadi bengkok ialah menggunjing, mencaci maki, melaknat, mencela, mengadu domba, berdusta, dan menghina.

Adapun cara sedekah dengan lisan antara lain:

Berzikir

Berzikir dapat dilakukan di antaranya dengan membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu akbar), dan tahlil.

Berkata yang baik

Dengan berkata baik berarti seseorang telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain, seperti kebahagiaan saat menerima pemberian. Di antara perkataan yang baik yang termasuk sedekah antara lain:

Amar makruf nahi mungkar. Mengajak yang baik dan mencegah kemungkaran. Meminta anak untuk mengantarkan makanan kepada tetangga adalah amar makruf. Meminta jamaah di masjid agar merapikan barisan adalah amar makruf. Melarang adik-adik kita dari mengganggu orang lain adalah nahi mungkar. Mencegah teman kita dari berduaan dengan seseorang yang bukan mahramnya adalah nahi mungkar.

Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh) ketika bertemu dengan sesama muslim.

  1. Sedekah dengan perbuatan

Senyum adalah sedekah

Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR At-Tirmidzi)

Shalat dan puasa

Sedekah jenis ini termasuk sedekah kepada diri kita sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Begitu pagi tiba, seluruh persendian salah seorang dari kalian hendaknya bersedekah, dan setiap shalat dan puasa yang dilakukan adalah sedekah baginya…” (HR. Abu Dawud)

Mendamaikan orang dan membantu sesama

Mendamaikan dua orang yang berselisih dan berlaku adil terhadap keduanya adalah sedekah.

Membantu seseorang untuk menaiki kendaraannya adalah sedekah. Mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya juga adalah sedekah.

Menunjukkan alamat kepada orang yang bertanya adalah sedekah. Menunjukkan jalan orang yang pikun atau kurang baik penglihatannya adalah sedekah. Begitu pula menyingkirkan halangan dari jalan adalah sedekah.

Memberikan minum kepada manusia yang kehausan adalah sedekah. Memberikan bantuan air ke daerah-daerah yang kekeringan adalah sedekah, begitu juga memberikan air minum kepada binatang adalah sedekah.

Memberikan pinjaman uang kepada orang yang membutuhkan adalah sedekah. Demikian pula, menangguhkan utang kepada orang yang belum mampu melunasinya adalah sedekah.

Menahan diri dari berbuat jahat

Orang Islam yang baik adalah orang yang tidak mengganggu kaum muslimin lainnya dengan lidah dan tangannya. Disebutkan dalam sebuah hadits:

“Siapakah muslimin yang baik? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Yaitu orang Islam yang kaum muslimin merasa aman dari lidah dan tangannya’.” (HR. Muslim)

Menafkahi keluarga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, jika seorang Muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka yang demikian itu dihitung sebagai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Menanam tanaman

Sedekah dengan menanam tanaman memang ajaib, karena yang dicuri pun akan bernilai sedekah bagi sang penanamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiada seorang Muslim yang menanam tanaman kecuali yang ia makan itu bernilai sedekah, yang dicuri bernilai sedekah, yang dimakan binatang buas bernilai sedekah, dan yang dimakan burung juga bernilai sedekah. Begitu pula yang berkurang karena diminta seseorang juga bernilai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Mengajarkan ilmu

Mengajarkan ilmu yang bermanfaat adalah sedekah, baik dengan menuliskannya dalam sebuah buku maupun menjelaskannya kepada orang lain. Maka dari itu hendaknya setiap muslim senantiasa mau belajar dan juga mengajarkan ilmu yang dipelajarinya kepada orang lain, sebab mengajarkan ilmu yang kita kuasai kepada orang lain termasuk sedekah bagi kita yang pahalanya akan terus mengalir sesudah meninggal nanti.

Semoga beragam cara bersedekah yang dipaparkan di sini dapat memudahkan kita untuk meraih pahala sedekah. Setiap muslim bebas memilih cara bersedekahnya, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan. Semoga Allah selalu menggerakkan hati dan memudahkan langkah kita untuk bersedekah, baik dengan materi maupun non materi.

Menanamkan Aqidah pada Anak

Menanamkan Aqidah pada Anak

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orang tua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ﷻ semata. Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orang tua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya aqidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah ﷻ semata. Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan aqidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?

Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah ﷻ. Kedua, ajak anak mengaktualisasikan aqidah dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir Islami pada anak.

Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan (rukun iman) merupakan perkara yang ghaib.  Orang tua mungkin bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada ananda.  Muhammad Suwaid dalam bukunya “Mendidik Anak Bersama Nabi” memaparkan bahwa ada lima pilar mendasar dalam menanamkan aqidah, yaitu:

  1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
  2. Mencintai Allah ﷻ dan merasa diawasi olehNya, memohon pertolongan kepadaNya serta beriman kepada Qadha’ dan Qadar
  3. Mencintai Nabi ﷺ dan keluarga beliau
  4. Mengajarkan Al Quran kepada Anak
  5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya

 

Mendikte Anak dengan Kalimat Tauhid

Hakim meriwayatkan dari ibnu Abbas r.a bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ajarkanlah kalimat La Ilaha ilallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama,  dan tuntunkanlah mereka (mengucapkan) La Ilaha illalLah ketika menjelang mati.” Ibnul qayyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Al Maulud mengatakan, “Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat La Ilaha ilalLah Muhammad Rasulullah, dan hendaklah sesuatu yang pertama didengar oleh telinga mereka adalah La Ilaha ilalLah (mengenal Allah azza wa jalla) dan mentauhidkanNya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah ﷻ bersemayam di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataan mereka, senantiasa bersama dengan mereka dimana pun mereka berada.

 

Menanamkan Kecintaan Kepada Allah

Bagaimana menumbuhkan kecintaan ananda kepada Allah ﷻ. Tentu lebih mudah jika orang tua menumbuhkan mahabbatullah ini sejak anak masih bayi, bahkan sejak anak dalam kandungan. Yaitu dengan cara:

  1. Sering menyebut asma Allah ﷻ
  2. Selalu menyebut nama Allah ﷻ dalam setiap kejadian yang dialami. Bismillah ketika memulai sesuatu. Alhamdulillah ketika menyelesaikan suatu aktivitas atau ketika mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ. Astaghfirullah ketika terkejut atau merasa ingin marah. Masya Allah ketika kagum akan sesuatu hal, dst. Anak adalah peniru ulung. Jika orang tuanya terbiasa mengucapkan kalimat thayyibah, maka anak akan ikut terbiasa mengucapkannya.
  3. Ajari ananda untuk memahami sifat-sifat Allah ﷻ
  4. Ajari bersyukur
  5. Senantiasa menjaga interaksi dengan Allah ﷻ lewat shalat, doa, dan dzikir. Interaksi yang kuat dengan Allah ﷻ akan memudahkan orang tua dalam mendidik anak, karena ada campur tangan Allah ﷻ di dalamnya.
  6. Kaitkan semua kebaikan dengan Allah ﷻ

Setiap kali menemui kebesaran Allah ﷻ lewat ciptaanNya, selalu mengingatkan anak bahwa keajaiban itu terjadi karena kehebatan Allah ﷻ. Ketika melihat gunung yang kokoh, langit yang indah penuh bintang, binatang yang beraneka ragam, maka yang diingat anak adalah kebesaran Allah ﷻ.

Menanamkan Kecintaan Pada Nabi ﷺ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang menghendaki Allah dan hari akhir.” (QS. Al Ahzab: 21)

Inti dari rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah menjadikannya lebih kita cintai dari pada diri, harta, dan anak-anak kita sendiri. Mencintai Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pondasi keislaman kita. Bahkan keimanan kepada Allah ﷻ, tidak akan sempurna kecuali dengan mencintainya. Cinta Rasulullah ﷺ sebaiknya juga kita ajarkan kepada anak sedini mungkin. Semakin dini akan semakin tertanam dalam diri anak. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengajari anak agar mencintai Rasulullah ﷺ. berikut diantaranya:

  1. Bershalawat kepadanya
  2. Menceritakan kisah-kisahnya
  3. Menceritakan betapa mulia dirinya
  4. Menjalankan sunnahnya
  5. Banyak berdialog dengan ananda tentang Rasulullah ﷺ

Mengajarkan Al Quran Pada Anak

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut adalah penegasan bahwa orang tua mempunyai kewajiban untuk membina, membimbing, dan mendidik anaknya, bukan hanya sukses di dunia tapi yang lebih tinggi lagi adalah terjauh dari azab api neraka. Dengan cara mengajarkan Al Qur’an pada anak. Pendidikan Al Qur’an sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak sedini mungkin, karena pendidikan yang diberikan pada masa kecil pengaruhnya akan lebih kuat, tajam dan lebih membekas daripada pendidikan yang diberikan setelah dewasa.

Menanamkan Kecintaan Membaca Al Quran Pada Anak:

  1. Mengajak anak untuk mengerti keutamaan-keutamaan dari membaca Al-Qur’an. Sampaikanlah keutamaan terbesar dari membaca Al Qur’an kepada anak kita, “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
  2. Membangun budaya membaca Al-Qur’an di dalam rumah sendiri.
  3. Mengambil pelajaran dari keluarga yang menghafal Al Qur’an sebagai inspirasi dan motivasi.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

#Laznasnurulhayat #Zakatkita

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Baitul mal sudah dikenal sejak tahun ke-2 hijriah pemerintahan Islam di Madinah. Berdirinya lembaga ini diawali dengan cekcok para sahabat Nabi SAW dalam pembagian harta rampasan Perang Badar. Maka, turunlah surat al-Anfal[8]ayat41 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Setelah turunnya ayat itu, Rasulullah mendirikan baitul mal yang mengatur setiap harta benda kaum Muslimin, baik itu harta yang keluar maupun yang masuk. Bahkan, Nabi SAW sendiri menyerahkan segala urusan keuangan negara kepada lembaga keuangan ini.

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Sistem pengelolaan baitul mal kala itu masih sangat sederhana. Belum ada kantor resmi, surat menyurat, dokumentasi, dan lain-lain layaknya sebuah lembaga keuangan resmi negara.Harta benda yang masuk langsung habis dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang berhak mendapatkannya. Atau, dibelanjakan untuk keperluan umum. Oleh karena itu, tidak ditemukan catatan-catatan resmi tentang laporan pemasukan dan pengeluaran baitul mal.

Perbaikan pengelolaan baitul mal terjadi di masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq RA. Khalifah pertama itu menekankan pentingnya fungsi baitul mal. Sumber-sumbernya berasal dari zakat, zakat fitrah, wakaf, jizyah (pembayaran dari non-Muslim untuk menjamin perlindungan keamanan), kharraj (pajak atas tanah atau hasil tanah), dan lain sebagainya.

Dalam buku Pajak Menurut Syariah, Gusfahmi mengatakan, di tahun kedua kepemimpinannya, Abu Bakar menjalankan fungsi baitul mal secara lebih luas. Baitul mal tidak semata difungsikan untuk menyalurkan harta, tetapi untuk menyimpan kekayaan negara.

Pada masa itu pula ditetapkan gaji untuk khalifah yang diambil dari uang kas negara. Terdapat kisah menarik tentang awal mula penetapan gaji itu. Suatu ketika, Abu Bakar memanggul barang-barang dagangannya ke pasar. Di tengah jalan, sang khalifah bertemu Umar bin Khattab RA.

Umar pun bertanya, “Anda mau ke mana, wahai Khalifah?” “Ke pasar,” jawab Abu Bakar. Kata Umar, “Bagaimana mungkin Anda melakukannya, padahal Anda seorang pemimpin umat Muslim?” Abu Bakar menjawab, “Lalu, dari mana aku akan memberi nafkah keluargaku?” Umar kemudian berkata, “Mari kita pergi kepada Abu Ubaidah (pengelola baitul mal) agar dia menetapkan sesuatu untukmu.”

Sejak saat itu, seorang khalifah mendapatkan gaji yang hanya cukup untuk hidup sederhana, layaknya rakyat biasa. Tetapi, sebelum Abu Bakar meninggal dunia, ia justru berpesan kepada keluarganya untuk mengembalikan uang gaji itu kepada negara sebesar 6.000 dirharn. Umar pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah membuat orang setelahnya kepayahan.” Maksud Umar, kearifan Abu Bakar telah membuat khalifah setelahnya akan merasa berat mengikuti sikapnya.

Dl zaman tiga khalifah

Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, kekayaan negara di baitul mal meningkat tajam. Ia berhasil menaklukkan Kisra (Persia) dan Qaishar (Romawi). Harta kekayaan pun mengalir deras ke Kota Madinah. Pada tahun 16 H, Umar mendirikan kantor baitul mal di Madinah. Ia mengangkat Abdullah bin Irqam sebagai bendahara negara dan Abdurrahman bin Ubaid al-Qari sebagai wakilnya. Ia juga mengangkat juru tulis, menetapkan gaji pegawai pemerintah, dan menganggarkan dana angkatan perang.

Umar sangat hati-hati dalam mengelola uang negara ini. Ibnu Katsir dalam buku al-Bidayah wa an-Nihayah menukil pidato Umar, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini selain dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang Quraisy biasa. Dan aku adalah orang biasa seperti kebanyakan kaum Muslimin.”

Kekayaan negara makin melimpah ketika pemerintahan dipegang oleh Usman bin Affan RA. Selama 12 tahun memimpin umat Islam, Usman berhasil melakukan ekspansi ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, Transoxania, dan Tabaristan.

Ia juga sukses membangun armada laut yang kuat di bawah komando Muawiyah. Inilah angkatan laut Islam yang menguasai laut Mediterania. Baitul mal yang dikelola Ustman mampu membiayai angkatan laut tersebut.

Kantor pusat baitul mal kemudian dipindahkan oleh khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib RA, dari Madinah ke Kufah. Ali menganggarkan dana bantuan kepada kaum Muslimin yang membutuhkan. Disebutkan oleh Ibnu Katsir, Ali juga mendapatkan jatah dari baitul mal berupa kain yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separuh kakinya. Dan konon, kain itu banyak tambalan di beberapa bagiannya.

Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, orang-orang dekat Ali menyarankan agar ia mengambil uang dari baitul mal sebagai hadiah bagi orang-orang yang membantunya. Mendengar ini, Ali sangat marah dan berkata, “Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan melalui kezaliman?”

Khalifah keempat awal Islam itu menunjukkan bagaimana menangani lembaga keuangan negara dengan penuh amanah. Kekayaan negara yang berasal dari rakyat benar-benar disalurkan untuk kepentingan rakyat. Sikap Ali yang menolak usulan para sahabatnya menunjukkan, kezaliman hanya akan membawa kebangkrutan meskipun secara kasat mata seolah menjadi kemenangan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Diciptakannya manusia tidak ada hal lain kecuali hanya untuk beribadah. Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas ditakdirkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”. Ayat ini berlaku umum  menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Setiap manusia di dunia memiliki jalan takdir hidupnya masing-masing. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah saw. menerangkan bahwa nasib manusia pada hakikatnya sudah ditentukan, termasuk rezeki, ajal, amal, kesedihan, dan kebahagiaannya. Hal ini seharusnya meniscayakan adanya iman kepada Allah bahwa Dia lah satu-satunya yang berkuasa dan tiadalah manusia melakukan sesuatu apapun kecuali ditujukan untuk menggapai ridha-Nya.

Manusia memang diciptakan dengan berbagai macam watak dan karakter. Berdasarkan tingkat kesadarannya, aktivitas yang dilakukan tentu juga akan berbeda-beda. Seseorang dengan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, akan bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan akhiratnya. Sementara seseorang dengan tingkat kesadaran tidak berimbang, akan lebih condong memprioritaskan salah satu dari keduanya.

Terlalu memperhatikan dunia hingga melupakan akhirat tentu tidak baik. Manusia memang diciptakan dengan akal dan dihiasi dengan keinginan (syahwat) pada keindahan-keindahan duniawi. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya adalah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa wanita, anak, harta, kendaraan, termasuk sawah ladang adalah keindahan dunia yang wajar jika manusia condong kepadanya. Kecintaan terhadap beberapa hal tersebut pada dasarnya adalah sah karena fitrah manusia memang diciptakan demikian. Namun kemudian menjadi tidak wajar jika kecintaan yang timbul menjadi berlebihan, apalagi menjadikan kesemuanya itu hanya sebagai tujuan hidup tanpa memperhatikan urusan akhirat.

Sejatinya, dunia memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya berbunyi, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” Dipahami dari ayat ini adalah bahwa bumi dijadikan untuk manusia, artinya manusia memiliki hak untuk memanfaatkan segala apa yang ada di dalamnya. Pemanfaatan itu tentu harus dipahami pada hal-hal yang mengandung maslahat saja, termasuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, dalam ukuran yang diizinkan oleh syariat.

Tentu kita semua pernah mendengar atau membaca kisah seseorang yang memiliki kekayaan tiada bandingannya di muka bumi ini, Qarun. Dikisahkan bahwa pada awalnya Qarun adalah seseorang yang miskin. Lalu dia meminta Nabi Musa as. untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan kepadanya. Doa itu akhirnya dikabulkan dan Qarun lantas menjadi orang yang kaya. Al-Quran menggambarkan betapa kekayaan tersebut sangat melimpah. Saking kayanya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya sangat berat dan harus diangkat oleh beberapa orang kuat. Namun, kecintaannya yang berlebihan terhadap harta kekayaannya memunculkan perasaan sombong yang pada akhirnya mengantarkannya pada kebinasaan.

Imam Bukhari meriwayatkan satu hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata, “Celaka budak dinar, dirham, dan kain (qathifah). Jika diberi dia ridha, jika tak diberi dia tak rela.” Melalui hadis tersebut, Rasulullah saw. menekankan bahwa sungguh tak elok manusia yang hatinya terpaku pada keberadaan harta. Menjadi kaya memang tidak salah, tapi menempatkan kekayaan pada hati tidaklah dianjurkan. Tercatat dalam sejarah, tidak sedikit para alim ulama yang mempunyai kekayaan yang banyak, namun kekayaan tersebut tidak menggoyahkan hati mereka dalam menyikapi kehidupan di akhirat.

Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah swt. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa akhirat memang telah disediakan sebagai tempat kembali, namun sebelumnya manusia juga ditakdirkan hidup di dunia. Dengan begitu, sebagaimana akhirat harus dipersiapkan, dunia juga harus dijadikan tempat mempersiapkan hidup di akhirat kelak.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah). Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat. Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik. Sebaliknya jika yang kita tanam berasal dari bibit yang baik, maka kita akan bergembira dengan hasil yang baik pula di akhirat kelak. Allah berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Persatuan dan kesatuan antar-sesama manusia tidak mungkin dapat terwujud kalau tidak ada semangat persaudaraan. Dalam konteks ke-Indonesaan persaudaraan harus dilakukan bukan hanya terhadap non-Muslim, namun juga terhadap sesama Muslim. Untuk itulah persaudaraan sesama Muslim, akan menumbuhkan ikatan kebersamaan yang kokoh walau banyak terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat dalam kehidupan bermasyarakat.

Persaudaraan antar-sesama Muslim

Di antara ayat yang secara tegas menyatakan bahwa sesama orang mukmin adalah bersaudara seperti dalam Surah al- Hujurat/49: 10.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (al-Hujurat/49:10)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Curahan rahmat kepada suatu umat, khususnya umat Muslim akan diberikan oleh Allah Swt sepanjang sesama memelihara persaudaraan di antara mereka. Ayat-ayat yang terdapat dalam Surah al-Hujurat ini secara umum berisi tentang petunjuk kepada umat islam khususnya, dan masyarakat manusia pada umumnya. Dalam ayat selanjutnya; 11 dan 12 berisi tentang peringatan kepada umat islam, di antaranya adalah bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan dan menghina, karena boleh jadi yang dilecehkan itu lebih baik dari yang melecehkan. Sesama orang yang beriman juga tidak boleh saling berprasangka buruk dan meng-ghibah.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa orang-orang yang berhijrah (al-Muhajirun) serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum Ansar), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Anfal yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. (al-Anfal/8: 72).

Kaum Muhajirin dan Anshar yang ber­saudara itu kemudian disifati oleh Al- Qur’an sebagai orang yang beriman dengan sebenarnya, firman Allah:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (al-Anfal: 74)

Salah satu alasan mengapa kaum Mus­limin harus meneguhkan tali persaudaraan adalah agar tidak terjadi fitnah dan ke­kacauan dalam masyarakat yang mereka bangun. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar, (al-Anfal: 73)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Fitnah atau kekacauan dan juga ke­rusakan yang dimaksud dalam ayat tersebut dapat dijelaskan dengan melihat latar belakang historis masyarakat pada saat ayat tersebut diturunkan. Kaum musyrik Mekah pada waktu itu sangat kejam terhadap kaum Muslimin, di sisi lain sebagian yang memeluk Islam masih memiliki keluarga dekat yang menentang ajaran Islam. Ada juga yang kendati berbeda agama tetapi masih terjalin antar-mereka persahabatan yang kental. Itu semua dapat melahirkan bahaya terhadap akidah kaum Muslimin, lebih-lebih mereka yang belum mantap imannya. Pergaulan dapat mempengaruhi mereka, akhlak buruk kaum musyrik dapat juga mengotori jiwa dan perilaku kaum Muslimin, belum lagi jika perasaan kasih sayang dan persahabatan itu mengantar kepada kemusyrikan atau kekufuran, atau mengakibatkan bocornya rahasia kaum Muslimin. Sedangkan bagi yang tidak menjalin persahabatan dengan kaum musyrik dapat melahirkan bahaya lain yaitu ancaman dan penyiksaan akibat keberadaan di tangan musuh dan ini bagi yang tidak kuat mentalnya dapat merupakan sebab kemurtadan. Karena itu, ayat di atas mengecam mereka yang tidak berhijrah apalagi kaum Muslimin yang telah berhijrah sangat mendambakan dukungan saudara-saudara seiman menghadapi aneka tantangan kaum musyrik serta orang-orang Yahudi dan munafik. Untuk itulah Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk meneguhkan persatuan dan menghindari perpecahan Tolong menolong dalam persaudaraan harus menjadi sifat seorang mukmin dalam hidup bermasyarakat.

Persaudaraan dengan non-Muslim

Persaudaraan yang diperintahkan Al-Qur’an tidak hanya tertuju kepada sesama Muslim, namun juga kepada sesama warga masyarakat termasuk yang non-Muslim. Salah satu alasan yang dijelaskan Al-Qur’an adalah bahwa manusia itu satu sama lain bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang satu, Surah al-Hujurat: 13 menegaskan hal ini:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah mencipta- kan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu ber­bangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (al-Hujurat:13)

Persamaan seluruh umat manusia ini juga ditegaskan oleh Allah dalam Surah an- Nisa’: 1.

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasang­annya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari kedua­nya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluarga­an. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (an-Nisa’: 1)

Ayat-ayat dan juga beberapa hadits di atas menjelaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan, manusia tidak ada perbedaan. Mereka semuanya sama, dari asal kejadian yang sama yaitu tanah, dari diri yang satu yakni Adam yang diciptakan dari tanah dan dari padanya diciptakan istrinya.

Oleh karenanya, tidak ada kelebihan seorang individu dari individu yang lain, satu golongan atas golongan yang lain, suatu ras atas ras yang lain, warna kulit atas warna kulit yang lain, seorang tuan atas pembantunya, dan pemerintah atas rakyatnya. Atas dasar asal-usul kejadian manusia seluruhnya adalah sama, maka tidak layak seseorang atau satu golongan membanggakan diri terhadap yang lain atau menghinanya.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa misi utama Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat adalah untuk menegakkan prinsip persaudaraan dan mengikis habis segala bentuk fanatisme golongan maupun kelompok. Dengan persaudaraan tersebut sesama anggota masyarakat dapat melakukan kerja sama sekalipun di antara warganya terdapat perbedaan prinsip yaitu perbedaan akidah. Perbedaan-perbedaan yang ada bukan dimaksudkan untuk menunjukkan superioritas masing-masing terhadap yang lain, melainkan untuk saling mengenal dan menegakkan prinsip persatuan, persaudaraan, persamaan dan kebebasan.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain, itulah akhlak yang penting di era sekarang. Karena biasanya, orang yang meremehkan orang lain. Hanya bisa mengintip aktivitas orang lain. Jadi, dia sendiri tetap jalan di tempat. Sementara si orang lain terus melangkah dan berkarya.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain – Islam adalah agama yang kaaffah. Islam mengatur segala sesuatunya dalam kehidupan  dan tidak ada yang terlewatkan. Salah satu hal yang diatur dalam agama islam adalah sikap tidak meremehkan orang lain. Bahkan sekalipun terhadap orang yang dibawah kita baik dari segi umur, status sosial, ekonomi, jabatan dan lainnya. Tetapi terkadang hal ini masih banyak orang yang meremehkan orang lain dan sikap meremehkan ini bisa dilihat dari ucapan,tingkah laku, gerak tubuh dan lainnya.

Rasulullah Saw pernah suatu ketika tidak memperdulikan atau bermuka kurang menyenangkan dihadapan abdullah bin ummi maktum ketika kedatangan para pembesar Quraysi hal ini disebutkan dalam tafsir ibnu katsir “ pada sautu hari Rasulullah Saw berbicara dengan beberapa pembesar Quraisy yang sangat beliau harapkan keislamannya.

Saat itu datanglah ummu maktum yang telah masuk islam terlebih dahulu, dia bertanya kepada Rasulullah Saw tetapi beliau hanya menoleh karena tidak ingin waktunya tersita demi mengajak para pembesar Quraisy. Sehingga beliau bermuka masam dan berpaling dari ummu maktum. Maka turunlah ayat “

عبس و تولى   ان جاءه الأعمي     وما يدريك لعله يزكي

dia Muhammad bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadany, tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa. Yakni berkenaan dengan penyucian dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya, atau mengenai nasihat atau nasihat atau mencegah diri dari yang diharamkan.

“adapun orang yang dirinya merasa serba cukup kamua melayaninya” yaitu pembesar-pembesar Quraysi yang sedang dihadapi Rasulullah Saw yang diharapkannya dapat masuk islam. Mereka kamu layani dan berpaling dari ummu maktum.

Abu ya’la meriwayatkan dari Anas ra. Tentang surat abasa’ ibnu ummu maktum menghadap Rasulullah Saw sedangkan beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf, Rasulullah berpaling dari ibnu ummu maktum maka turunlah surat ‘abasa’ setelah itu Rasulullah memuliakan ibnu ummu maktum.(HR. Abu ya’la)

Maka dari kisah ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak meremehkan orang lain. Karena ketika kita suka meremehkan orang lain pada dasarnya kita juga meremehkan diri sendiri ketika kita merendahkan orang lain pada hakikatnya kita juga meremehkan diri sendiri.: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan walau sedikitpun, mungkin kebaikan tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam surga dan kekal di dalamnya.

عنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

Artinya: “Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu sekali-kali meremehkan dari kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” HR. Muslim.

Dan jangan pernah meremehkan dosa walau sedikitpun, mungkin dosa tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia adalah lebih tipis dibandingkan rambut dalam penglihatan kalian, sungguh kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya termasuk dari dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” HR. Ahmad dan Bukhari.

Maka jangan meremehkan siapapun. Karena sama sekali tidak ada orang hebat dengan cara meremehkan orang lain. Dan belum tentu orang yang diremehkan lebih buruk dari yang meremehkan. Mari kita perbaiki diri jangan sampai amalan-amalan kita hangus karena kita sering meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain. Kita gunakan amanah nikmat kesehatan ini untuk memperbanyak kebaikan-kebaikan amal kita.  Wallohu a’lam bi alshawab.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Salah satu sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim adalah sikap menghormati dan menghargai orang lain. Menghormati dan menghargai orang lain merupakan salah satu upaya untuk menghormati dan menghargai diri sendiri. Bagaimana orang lain mau menghormati dan menghargai diri kita, jika kita tidak mau menghormati dan menghargainya. Cara mengormati dan menghargai orang lain pun berbeda tergantung dalam keberagaman masing-masing.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Penghormatan kepada orang lain yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menimbulkan pengaruh besar dan membawa seseorang menjadi Muslim. Menghormati orang lain, dapat pula diungkapkan dalam hal yang mungkin dianggap sepele, di antaranya dengan bersikap ramah.

Lewat sikap ramah ini, melahirkan persatuan yang kuat di dalam tubuh umat. Rasul pun menyatakan agar Muslim tak menganggap remeh kebaikan walaupun hanya dengan menampakkan wajah ramah. Bisa kita ambil contoh dan teladan dari kesan Jarir bin Abdullah selama bergaul dengan Rasul.

“Sejak masuk Islam, saya melihat wajah Rasul selalu tersenyum ramah. Demikian terungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Shaleh Ahmad Asy-Syaami, menyampaikan penjelasan lain mengenai sikap menghormati orang. Jika diberi hadiah, Rasul akan menerimanya dan membalasnya dengan yang lebih baik.

Sebaliknya, saat menolak sebuah pemberian, dia akan menyampaikan permintaan maaf kepada orang yang ingin memberinya hadiah tersebut. Seperti yang ia katakan kepada sahabatnya Sha’b bin Jatstsamah. Waktu itu, Sha’b mau agar Rasul menerima pemberian daging hasil buruannya, namun ditolaknya.

Rasul menjelaskan, ia tak bersedia menerima bukan karena tidak suka Sha’b, tetapi karena sedang berihram. Selain itu, utusan Allah ini selalu mendoakan orang yang berbuat baik kepadanya sesuai dengan kondisi orang bersangkutan. Dikisahkan, Ibnu Abbas membantunya dengan memberikan air wudhu.

Kemudian, Rasul mendoakan agar Ibnu Abbas menjadi orang yang ahli dalam agama dan menguasai tafsir Alquran. Pada waktu lain, Abu Qatadah pernah menjaga tubuh Rasul yang sedikit miring dari tunggangannya pada malam hari agar tak jatuh. Rasul mendoakan agar Allah menjaga Abu Qatadah seperti Dia menjaga nabi-Nya.

Terhadap orang lain sesama Muslim, kita harus membina tali silaturahmi dan memenuhi hak-haknya seperti yang dijelasakan dalam hadist Nabi Muhamad SAW. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ditegaskan, Nabi SAW bersabda:

“Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima, yaitu 1) apabila bertemu, berilah salam kepadanya, 2) mengunjunginya, apabila ia (Muslim lain) sedang sakit, 3) mengantarkan jenazahnya, apabila ia meninggal dunia, 4) memenuhi undangannya, apabila ia mengundang, dan 5) mendoakannya, apabila ia bersin,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Kita harus membina dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim, karena persaudaraan sesama Muslim diibaratkan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan (H.R. al-Bukhari dan Muslim), atau bagaikan suatau badan yang jika anggotanya sakit akan terasa pada bagian lainnya (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Selebihnya, di antara sesama Muslim tidak boleh saling menghina dan mengkhianati, sebaliknya diantara mereka harus saling mencintai seperti mencintai dirinya sendiri.

Dengan demikian, janganlah perbedaan pendapat menjadikan tali persaudaraan terputus. Sebab tidak ada kemuliaan pada sikap diri merendahkan sesama, apalagi merasa diri yang paling benar untuk selanjutnya memaki-maki bahkan melucuti kehormatan sesama Muslim.

Sebaiknya berupaya agar tetap bisa saling merendahkan diri. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang merendahkan diri di hadapan Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Hanya dengan sikap demikian, perintah Allah yang bersifat strategis dalam upaya membangun kekuatan umat bisa dilaksanakan dengan baik dan tersistem.

‌ۘوَتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡبِرِّوَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖوَلَاتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡإِثۡمِوَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚوَٱتَّقُواْٱللَّهَ‌ۖإِنَّٱللَّهَشَدِيدُٱلۡعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Jadi, mari tetap menjadi pribadi yang benar dengan tidak membiarkan sesama terjerumus pada ketidakbenaran. Andai pun harus bereaksi dengan sikap keras, tetaplah itu diorientasikan pada terwujudnya semangat ukhuwah, bukan permusuhan.

Semoga Allah senantiasa membimbing diri kita untuk senantiasa menghormati, menghargai sesama Muslim, sehingga dengan demikian barisan umat Islam semakin kuat dalam segala sisi kehidupan. Wallahu a’lam.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • +62-822-3077-3077
  • cs@nurulhayat.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita
Majalah

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ