Divonis Kanker Rahim, Bantu Bu Sukini Sembuh

Divonis Kanker Rahim, Bantu Bu Sukini Sembuh

Bagai disambar petir di siang bolong. Mungkin seperti itulah yang dirasakan oleh Bu Sukini (42 tahun) warga Mranggen, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, saat ia divonis kanker rahim stadium 4.

Bu Sukini dan suaminya Pak Sriyono (40 tahun) tengah berikhtiar dengan berbagai cara agar diberi momongan. Ramadhan lalu, Bu Sukini merasakan mual dan lemas. Beliau pun merasakan perutnya semakin membesar. Atas tanda-tanda tersebut, Bu Sukini merasa dirinya sedang hamil. Untuk lebih memastikan, beliau pun memeriksakan diri ke bidan desa.

Hasil pemeriksaan di bidan desa mengharuskan Bu Sukini dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena ada suatu hal. Dan di rumah sakit, Bu Sukini mendapati kepastian bahwa dirinya tidak sedang hamil, melainkan sedang diuji Allah dengan kanker rahim.

Saat ini, Bu Sukini sedang menjalani pengobatan rutin. Setiap bulan, beliau harus kontrol dan menjalani kemoterapi di RS PKU Muhammadiyah Solo. Karena sakitnya tersebut, Bu Sukini saat ini terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya di sebuah pabrik. Sementara sang suami, sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan.

Sahabat sejuk Nurul Hayat mari bantu Bu Sukini berobat dengan klik tautan berikut ini. Juga mari kita doakan agar beliau segera sembuh dan bisa beraktivitas sebagaimana biasa. Aamiin ya Rabbal Alamiin…

Bantu Ilma Sembuh dari Kanker

Bantu Ilma Sembuh dari Kanker

Sosok wanita yang ada pada foto di atas bernama Ilma. Usianya 26 tahun. Beliau sedang diuji sakit kanker payudara. Sudah dua tahun beliau bersabar atas ketentuan Allah ﷻ. Ikhtiar berobat dengan menjalanai kemoterapi di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, setiap tiga pekan sekali.

Ketika tim Nurul Hayat berkunjung (25/07), Ilma menuturkan bahwa dirinya sudah menjalani kemoterapi yang ke-16. Kondisinya, meski dari awal sudah dilakukan operasi pengangkatan, tapi sel kankernya saat ini sudah menjalar ke tulang dan paru-paru. Satu yang sering beliau keluhkan adalah nafasnya sering sesak.

Dalam proses berobat yang beliau jalani, ada beberapa obat dan penunjang medis lain yang berbayar. Tidak tercover oleh BPJS. Sedang suami beliau, tidak bisa beraktivitas sebagaimana biasa, karena harus menjaga putri tunggalnya yang masih berusia 15 bulan.

Setelah kunjungan pada bulan Juli lalu, kami melanjutkan dengan kunjungan berikutnya. Di kunjungan kali ini, kami sempat terkejut. Kami mendengar teriakan histeris, isak tangis, dan rintih kesakitan. “Ya begitu mas, keadaannya sekarang. Sering lupa dengan peristiwa yang baru dialami. Sakitnya begitu hebat di bagian kepala dan dadanya. Jadi sering teriak-teriak. Setiap 10 menit. Malam pun seperti itu. Baru tenang saat tidur,” tutur suami beliau.

Saat ini Ilma sedang menjalani kemoterapi. Selain itu juga harus konsultasi ke dokter spesialis syaraf. Untuk menguatkan psikis beliau.  Mohon doa sahabat sejuk Nurul Hayat, semoga Ilma kuat menghadapi ujian sakitnya, segera diangkat sakitnya dan lekas sehat seperti sedia kala.

Kami sampaikan terima kasih atas bantuan yang telah sahabat sejuk berikan. Semoga menjadi wasilah keberkahan untuk Anda dan keluarga.

Bantuan Pengobatan Tumor Abdomen untuk Bu Lusi

Bantuan Pengobatan Tumor Abdomen untuk Bu Lusi

Pada mulanya Ibu Sulusiyah atau yang akrab disapa Bu Lusi didiagnosa dokter menderita kista yang ada di area kewanitaan beliau. Saat awal terdeteksi, ukuran kista tersebut masih kecil dan Bu Lusi disarankan untuk segera melakukan operasi pengangkatan kista.

Ibu Lusi dan suami setuju dengan saran dokter. Ibu yang berusia 41 tahun ini pun mempersiapkan segala administrasi untuk mendapat tindakan operasi. Namun di tengah perjalanan, beliau mulai merasakan keresahan dan ketakutan untuk menjalani operasi. Sehingga kista yang dulu ukurannya masih kecil, kini menjadi besar.

Warga Dusun Krajan, Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi ini, telah menderita tumor abdomen selama 9 tahun, atau sejak tahun 2013 lalu. Kini, Bu Lusi sedang menjalani pengobatan di RSUD Blambangan, Banyuwangi dan RSUD dr. Soetomo, Surabaya.

Kondisi saat ini, Bu Lusi mengaku mudah lelah dan sulit bergerak. Untuk itu, beliau harus segera menjalani operasi agar perut beliau tidak semakin membesar.

Beliau membutuhkan bantuan untuk proses pengobatan. Utamanya biaya tambahan untuk proses pengobatan yang harus pergi pulang Banyuwangi-Surabaya.

Laznas Nurul Hayat mengajak sahabat sejuk untuk membantu proses pengobatan Bu Lusi. Alhamdulillah, hingga saat ini bantuan terus mengalir.

Beberapa hari yang lalu, Bu Lusi sudah bisa kami rujuk ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Kami juga menitipkan donasi dari sahabat sejuk untuk bekal Ibu Lusi dan pendamping, selama menjalani pengobatan di Surabaya.

InsyaAllah kami juga terus memantau kondisi beliau. Kami juga terus menanti progres dari proses pengobatan tumor abdomen yang dijalani oleh Bu Lusi.

Terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada seluruh sahabat sejuk yang telah membantu proses pengobatan Bu Lusi. Semoga apa yang telah sahabat sejuk berikan, baik itu berupa donasi, doa, tenaga, maupun membagikan kisah ini kepada teman sejawat, bisa menjadi jariyah untuk sahabat sejuk semua. Aamiin ya Rabbal Alamiin…

Bantu Bu Mujiati Sembuh dari Kanker

Bantu Bu Mujiati Sembuh dari Kanker

Namanya Bu Mujiati. Kesabarannya sedang diuji. Dengan cobaan yang bertubi-tubi. Ujian ekonomi dan sakit kanker rahim yang sudah beliau alami setahun ini.

Awal pandemi, suami beliau terkena pengurangan tenaga kerja. Selain juga karena usianya yang sudah senja sehingga sudah berkurang tenaganya. Sedang pekerjaan produksi gypsum yang selama ini ditekuni, membutuhkan tenaga ekstra.

Bu Mujiati sendiri awalnya menjahit, untuk membantu ekonomi keluarga. Namun sejak sakit kanker rahim, beliau berhenti. Bahkan mesin jahitnya terjual untuk biaya berobat.

Bu Mujiati memiliki empat anak. Sudah berumah tangga semua. Dalam hal ekonomi mereka sama. Keadaannya pas-pasan. Sebagian dari mereka ada yang tinggal di kontrakan. Ada juga yang tinggal bersama mertua.

Tiga bulan ini, salah satu anak beliau tinggal satu kontrakan dengan Bu Mujiati. Sebabnya,  tidak mampu membayar kontrakan sendiri. Keadaan ini membuat hati Bu Mujiati semakin miris.

Meski keadaan serba sulit, pihak keluarga tetap berjuang untuk merawat dan membiayai pengobatan Bu Mujiati yang menelan biaya cukup besar karena masuk kategori pasien umum. Sembari menunggu BPJS mandiri bisa digunakan, mereka menjual apa saja yang mereka miliki untuk biaya pengobatan.

Saat ini Bu Mujiati akan menjalani kemoterapi keempat dari enam kali yang telah dijadwalkan dokter. Kemudian ada juga tindakan “penyinaran” guna memperkecil benjolan yang ada di rahim Bu Mujiati.

Untuk mendukung pengobatan, asupan makanan dan nutrisi harus terpenuhi. Daging, buah, sayur, dan karbohidrat harus tercukupi. Sayangnya kebutuhan nutrisi tersebut sering tak terbeli karena keadaan. Belum lagi  BPJS mandiri yang harus rutin terbayar setiap bulan.

Proses pengobatan masih panjang. Bu Mujiati butuh support untuk berjuang di tengah keadaan keluarganya.  Dan alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu Laznas Nurul Hayat telah menyampaikan amanah donasi dari sahabat sejuk untuk Bu Mujiati.

Sebagian dari donasi yang beliau terima, beliau gunakan untuk membayar iuran BPJS mandiri, karena beliau belum terdaftar di asuransi kesehatan KIS. Sementara sebagian lain, beliau gunakan untuk membeli suplemen penunjang tambahan.

Sahabat sejuk, terima kasih atas dukungan yang sahabat berikan kepada Bu Mujiati. Mohon doa agar Bu Mujiati dapat segera sehat kembali.

Kursi Roda untuk Mbah Sunarya

Kursi Roda untuk Mbah Sunarya

Mbah Sunarya adalah seorang janda yang telah berusia 71 tahun. Beliau tinggal sebatang kara di rumahnya yang berada di daerah Kaliwates, Jember. Di usianya yang sudah senja, kondisi kesehatan beliau menurun. Beliau kini tengah diuji dengan sakit stroke.

Semenjak sakit stroke, Mbah Sunarya tak lagi tinggal seorang diri. Beliau ikut tinggal di rumah anaknya. Anak Mbah Sunarnya bekerja di sebuah warung lesehan. Sedang suami anaknya bekerja sebagai sopir angkot. Penghasilan keduanya, sama-sama pas-pasan.

Anak dan menantu Mbah Sunarya tak jarang harus izin tidak masuk kerja demi merawat beliau. Kondisi beliau memang butuh perhatian khusus. Beliau hanya bisa berbaring. Sesekali beliau terapi di Rumah Sakit Kaliwates. Menggunakan kartu KIS dari pemerintah.

Saat ini Mbah Sunarya sangat membutuhkan kursi roda. Untuk mendukung proses terapi dan penyembuhannya.

Laznas Nurul Hayat mengajak sahabat sejuk untuk bersama-sama memberikan kursi roda untuk Mbah Sunarya. Ajakan ini disambut dengan cukup antusias. Saat tulisan ini dibuat, alhamdulillah penggalangan dana untuk membelikan kursi roda untuk  Mbah Sunarya, sudah tercapai.

Kami kabarkan juga bahwa kondisi beliau perlahan-lahan terus membaik. Meski demikian, beliau masih harus menjalani terapi rutin di Rumah Sakit Kaliwates. Enam kali dalam sebulan.

Terima kasih banyak kami ucapkan kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah membantu Mbah Sunarya. Semoga menjadi amalan yang membawa keberkahan untuk kita semua. Aamiin ya Rabbal Alamiinn…

Bantu Adik Yatim Pengidap Jantung Bocor

Bantu Adik Yatim Pengidap Jantung Bocor

Namanya Marshella Dzatil Izza. Usianya 7 tahun. Gadis kecil yang sejak usia 5 tahun sudah menjadi yatim ini, saat ini tengah diuji sakit jantung bocor. Sakit tersebut sudah ia derita selama 3 tahun.

Saat Ayahnya masih ada, upaya pengobatan telah dilakukan. Namun upaya tersebut belum bisa maksimal karena keterbatasan biaya. Apalagi saat ini sang Ayah telah wafat, upaya pengobatan pun menjadi semakin terhambat.

Ibu Yuyun, Ibunda Marshella, yang kini menjadi tulang punggung keluarga, sehari-hari bekerja sebagai penjaga warung di tempat wisata yang ada di sekitar desanya. Tak jarang ketika sedang bekerja, Ibu Yuyun, mengajak Marshella untuk ikut serta.

Dari pekerjaannya tersebut, penghasilan yang diraih oleh warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini, sangatlah minim. Sehingga ikhtiar pengobatan yang dijalani Marshella saat ini, hanya pengobatan alternatif yang digagas oleh beberapa relawan.

Ya, Ibu Yuyun memang memiliki penghasilan yang minim. Jangankan untuk memenuhi proses pengobatan putrinya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, terkadang masih kurang.

Beliau saat ini sangat membutuhkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.  Utamanya agar bisa memberikan makanan yang bergizi untuk Marshella yang sedang sakit jantung bocor. Beliau juga berharap ada dermawan yang berkenan untuk membantu pengobatan putrinya secara medis.

Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, Laznas Nurul Hayat Tuban telah menyalurkan bantuan dari Sahabat Sejuk Nurul Hayat untuk Marshella. Bantuan ini diterima langsung oleh pihak keluarga.

Proses pengobatan Marshella harus terus berlanjut dan tentunya masih memerlukan banyak biaya. Mari bersama membantu kebutuhan hidup dan biaya pengobatan Marshella. Sahabat Sejuk juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang ikut membantu Marshella, sehingga ia bisa segera sembuh dari sakit jantung bocor yang dideritanya.

Semoga sedekah yang kita keluarkan bisa memberikan kebaikan dan pahala yang berlimpah untuk kita serta memberikan kebahagiaan bagi penerima manfaat. Aamiin ya Rabbal Alamiin.

Serah Terima Bantuan Pengobatan untuk Adik Hasna

Serah Terima Bantuan Pengobatan untuk Adik Hasna

Sahabat sejuk Nurul Hayat masih ingat dengan kisah adik Hasna Soraya? Jika ada sahabat sejuk yang belum sempat membaca kisahnya, bisa dibaca di sini, ya.

Alhamdulillah, bantuan pengobatan tahap pertama dari Laznas Nurul Hayat Madiun untuk adik Hasna, telah diserahterimakan kepada keluarga.  Alhamdulillah juga, semakin hari perkembangan adik Hasna semakin membaik. Kabar terbaru, kini adik Hasna sudah mulai latihan berjalan. Meski masih bertahap dan belum bisa berjalan sempurna seperti sedia kala, namun adik Hasna sudah tampak begitu ceria. Ia kini sudah mulai bisa beraktivitas. Sudah mulai bisa bermain sendiri.

Sedikit kilas balik, Hasna Soraya merupakan anak  berusia 6 tahun yang tengah diuji sakit lumpuh. Sakit itu didapatnya setelah ia terjatuh saat sedang bermain. Setelah dibawa ke rumah sakit, oleh dokter, Hasna didiagnosa terkena penyakit miningitis. Ia pun dirawat di rumah sakit.

Biaya pengobatannya selama 8 hari di rumah sakit hampir mencapai 10 juta rupiah. Nominal itu tentu berat bagi Ayahnya yang bekerja sebagai penjual papeda keliling dan Ibunya yang seorang buruh cuci.  Apalagi Hasna juga belum punya BPJS. Sehingga kedua orangtuanya terpaksa berhutang kepada tetangga dan orang-orang yang dikenal demi memenuhi biaya pengobatan Hasna.

Terima kasih Sahabat Sejuk Nurul Hayat yang telah membantu biaya pengobatan adik Hasna. Semoga apa yang sahabat sejuk berikan mendapat sebaik-baik balasan dari Allah ta’ala.

Bantu  Hasna Sembuh dari Lumpuh

Bantu Hasna Sembuh dari Lumpuh

Hasna Soraya berusia 6 tahun. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Pak Hasan. Sehari-hari Pak Hasan mencari nafkah dengan menjadi seorang penjual papeda keliling. Ibunda Hasna bernama Bu Dewi. Beliau adalah seorang buruh cuci yang kehidupan sehari-harinya sangat minim pemasukan, apalagi semenjak pandemi.

Hasna kini tengah diuji sakit. Sakit yang dialaminya, berawal pada tahun 2021 lalu. Saat sedang bermain  Hasna terjatuh. Satu pekan setelah jatuh, ia mengalami lumpuh. Seiring berjalannya waktu, tepatnya delapan bulan kemudian, alhamdulillah Hasna sembuh, meskipun kondisinya belum 100 %. Namun empat bulan lalu, kejadian yang dialami  Hasna terjadi lagi. Saat sedang bermain, ia kembali terjatuh. Sakit lumpuh yang ia alami sebelumnya,  kambuh. Kali ini lebih parah dari yang sebelumnya.

Hasna kemudian dibawa ke rumah sakit. Hasil diagnosa dokter, ia terkena penyakit miningitis. Ia dirawat selama delapan hari di RS Umum Ngawi. Biaya pengobatan selama delapan hari mencapai hampir 10 juta rupiah. Hasna belum punya BPJS. Saat ini BPJS-nya masih dalam proses. Untuk memenuhi kebutuhan biaya berobat, kedua orangtua Hasna, berhutang kepada tetangga dan orang yang dikenal.

Melihat apa yang dialami oleh Hasna, Laznas Nurul Hayat Madiun bergerak menyalurkan bantuan. Alhamdulillah, bantuan biaya berobat tahap pertama untuk Hasna telah disalurkan. Saat ini Hasna masih dalam proses pengobatan secara intens dengan salah satu dokter di Ngawi. Mohon doanya semoga Hasna bisa segera berlanjut pengobatan syaraf ke Solo dan bisa segera sehat kembali.

Terima kasih Sahabat Sejuk Nurul Hayat.

Kaki Palsu untuk Ibu Sutik

Kaki Palsu untuk Ibu Sutik

Ibu Sutik. Begitulah beliau akrab dipanggil.  Sehari-hari beliau beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Beliau memiliki keterbatasan. Kaki kirinya harus diamputasi, karena luka diabetes yang semakin menjalar.

Pasca proses amputasi, seorang tetangga berbaik hati membantu beliau membuatkan kaki palsu. Kaki palsu dari tetangganya inilah yang menemani hari-hari beliau selama ini. Namun kini, setelah 3 tahun, kaki palsu itu sudah rusak. Telapaknya lepas. Hampir 6 bulan ini diikat dengan ban bekas, agar tetap bisa digunakan. Namun meski sudah diakali sedemikian rupa, tetap saja kaki palsu itu tak bisa sepeti sedia kala. Baru dipakai berjalan beberapa meter saja, telapaknya sudah lepas lagi.

Alhamdulillah, dengan bantuan dari Sahabat Sejuk Nurul Hayat, Bu Sutik kini telah memiliki kaki palsu baru, seperti yang beliau inginkan. Kaki palsu baru tersebut, insyaAllah lebih nyaman dan lebih ringan. Semoga kaki palsu baru ini, akan memudahkan Ibu Sutik dalam menjalani aktivitas keseharian beliau.

Kami mewakili Ibu Sutik dan keluarga, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada  Sahabat Sejuk Nurul Hayat atas apa yang telah disampaikan untuk Ibu Sutik. Semoga menjadi amal terbaik dan mendapat sebaik-baik balasan dari Allah ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Bantu Intan Persiapan Operasi

Bantu Intan Persiapan Operasi

Namanya Intan. Usianya 16 tahun. Di usianya yang masih sangat muda tersebut, Intan harus menerima kenyataan yang berat. Ia harus ikhlas rahimnya diangkat. Karena ada parasit yang tumbuh dan menyedot sel darah merah.

Awalnya, Intan tidak bisa haid/menstruasi. Berjalan hampir sampai satu tahun, tidak ada kecurigaan. Karena beberapa kali memang siklusnya tidak menentu. Tepat satu tahun tidak mengalami haid, Intan mengalami sakit perut yang luar biasa. Ia jadi tak nafsu makan. Wajahnya pucat dan berat badannya semakin turun.

Keluarga membawa Intan ke rumah sakit. Diagnosa awal, sakit perutnya karena bakteri di lambung.  Namun setelah beberapa waktu, tak kunjung sembuh. Akhirnya pindah rumah sakit. Meminta pemeriksaan lebih lanjut. Ternyata terdeteksi ada benjolan di rahim Intan. Sudah lumayan besar. Harus ada tindakan.

Satu-satunya jalan, harus dilakukan operasi pengangkatan rahimKeluarga mempertimbangkan betul hal ini. Karena menyangkut masa depan Intan. Pada akhirnya keluarga sepakat untuk mengikuti saran dokter. Demi kebaikan Intan.

Alhamdulillah, proses operasi berjalan lancar. Kini masih fase pemulihan. Pasca operasi 2 tahun lalu. Masih memakai kantong stoma. Untuk buang air besar.

Jika tidak ada halangan, sesuai yang dijadwalkan oleh dokter. InsyaAllah Intan akan segera menjalani operasi lagi. Untuk penutupan bedah perut. Keluarga harus menyiapkan biaya untuk kebutuhan operasi. Untuk transportasi, biaya hidup di rumah sakit, dan segala macam. Terkait persiapan biaya operasi, bukanlah hal mudah bagi keluarga Intan. Ayahnya seorang nelayan kecil dengan pendapatan satu juta rupiah per dua minggu. Itu pun jika tangkapan sedang banyak dan cuaca mendukung.

Informasi terkini yang disampaikan oleh kakak Intan, kondisi Intan saat ini semakin membaik. Intan juga telah selesai menjalani pembersihan salurusan usus. Saatnya kini ia mempersiapkan diri untuk operasi penyambungan usus dengan anus. Lalu penutupan kantong stoma. Agar ia bisa buang air secara normal.

Dokter memberi estimasi waktu dua minggu. Jika tidak ada kendala. Akan segera dihubungi untuk proses operasi. Pihak keluarga terus memberi support. Dukungan mental. Serta finansial untuk kebutuhan operasi dan pemulihan. Terima kasih kepada segenap sahabat sejuk Nurul Hayat. Yang telah menyisihkan rezeki untuk turut membantu pengobatan Intan. Semoga dicatat Allah menjadi amal baik.

Copyright © 2001-2023 Yayasan Yay. Nurul Hayat Surabaya