Memberi Rasa

Memberi Rasa

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh yang menampilkan kefakirannya, memasuki sebuah pasar untuk membeli selimut. Ia membutuhkan lima lembar selimut untuk keluarganya di musin dingin tahun itu. Uang yang ia miliki hanya 100 ribu. Ia sudah berkeliling di pasar itu namun tidak ada toko yang menjual lima lembar selimut dengan harga 100 ribu.

Putus asa, ia memasuki toko terakhir di pasar itu. Ia sempat ragu karena toko itu adalah toko yang sangat besar dan megah dibanding toko-toko lainnya. Dengan suara ragu lelaki tua itu bertanya, “Saya membutuhkan lima lembar selimut, namun saya hanya punya uang 100 ribu. Apakah Anda menjualnya?” Pemilik toko berkata, “Ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki. Harganya 25 ribu per lembar. Kalau bapak beli empat lembar, akan mendapatkan bonus satu lembar.” Dengan wajah sumringah bapak tua miskin itu langsung mengulurkan uangnya dan segera setelah mendapatkan selimutnya, ia beranjak pergi.

Anak pedagang selimut itu memperhatikan ayahnya dan berkata, “Bukankah kata ayah, itu selimut termahal di toko ini? Dan bukankah harganya 250 ribu per lembar?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Benar sekali nak, harga selimut itu 250 ribu per lembar. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Sedang hari ini kita berdagang dengan Allah . Ayah berharap, laki-laki tua itu dan keluarganya dapat terhidar dari dinginnya musim dingin kali ini. Ayah juga berharap Allah akan menyelamatkan keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti. Sesungguhnya, kalaulah tidak karena menjaga harga diri laki-laki tua tadi, ayah tidak ingin menerima uangnya. Tapi ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah, sehingga merasa malu.”

Sesampainya di rumah, istri lelaki tua itu terheran melihat selimut bagus yang dibawa suaminya. Apalagi setelah mereka menemukan harga yang tertulis di banderol selimut itu adalah 250 ribu selembar. Mereka berpikir bahwa penjual selimut itu salah memberi harga. Lalu anak gadisnya berinisiatif untuk mengembalikan selimut itu ke toko dimana ayahnya membeli. Anak lelaki tua itu berkata kepada anak pemilik toko, “Tadi pagi ayahku membeli lima lembar selimut di toko ini. Dan ternyata Anda salah memberi harga. Harga selimut ini 250 ribu per lembar, namun Anda memberikan harga 25 ribu. Untuk itu saya mengembalikan selimut ini.”

Anak pemilik toko itu pura-pura melihat label harga lalu berkata, “Masya Allah! Anda benar, harga selimut ini 250 ribu. Betapa Anda sekeluarga sangat baik. Menyelamatkan kami dari kerugian yang sangat besar. Kalau Anda tidak memberitahu, betapa banyak kerugian kami dengan tumpukan selimut yang sangat banyak itu. Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda.”

Ada rasa di sana. Ada cinta di sana. Ada adab yang indah. Yang setiap diri pasti mampu menangkapnya.

Namun ternyata, ini bukan pekerjaan mudah. Karena banyak sekali orang yang sesungguhnya sedang berbuat baik sekaligus melakukan kedzaliman. Banyak orang baik yang tanpa sadar menjadi orang yang paling buruk. Siapa? Mungkin kita, anakku. Sangat mungkin, karena perilaku itu seringkali terjadi tanpa disadari pelakunya. Banyak pekerjaan baik yang menyebabkan kita merasa penting, lalu meremehkan orang lain. Banyak pekerjaan penting yang menjadikan kita merasa lebih, lalu merendahkan orang lain. Banyak urusan ummat yang memunculkan rasa paling. Kemudian kita mengecilkan orang lain.

Anakku, kalau kita lihat sekeliling, banyak orang yang tiba-tiba merasa penting karena amanah yang diberikan pada mereka. Tiba-tiba merasa menjadi berbeda karena program-program yang dibuat sangat bermanfaat. Sangat inspiratif. Sangat berguna. Dan sangat-sangat yang lain. Kemudian muncul rasa bangga. Takjub dengan diri sendiri. Sampai lupa memberi empati karena sudah merasa penting, merasa paling, merasa terganggu dengan orang-orang yang minta bantuan. Merasa tidak ada waktu untuk orang-orang yang diperkirakan merepotkan dengan banyak keluhan. Sampai lupa memberi rasa.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Kita tidak pernah lepas dari ancaman orang-orang yang memerangi iman. Namun kita jarang mau belajar, anakku. Orang-orang itu, membujuk iman kita dengan yang tampak baik. Menjerat iman kita dengan layanan dan cinta. Orang-orang itu lapang hatinya menerima keluh kesah, lebar telinganya mendengar susah dan resah. Terbuka tangannya mengulurkan bantuan dengan rasa. Sedang kita, lupa memberi rasa.

“Seorang Arab Badui berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat ingin mengusirnya. Tapi Nabi bersabda kepada mereka,  ‘Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air atau setimba besar air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan diutus untuk memberi kesususahan’.” (HR. Al Bukhari no. 323).

Anak-anakku, jangan-jangan selama ini amanah-amanah baik kita, menjadikan orang lain susah. Jangan-jangan pekerjaan kita yang tampak baik ini, menjadikan orang lain sempit jalannya. Hanya karena kita berdalih sesuai dengan prosedur dan profesionalisme. Sampai lupa memberi rasa. Lupa memberi cinta. Ya, banyak orang yang memberi bantuan namun tanpa rasa. Banyak orang yang menolong tapi tanpa cinta. Tidak sedikit yang berbuat baik namun terselip kesombongan. Juga tak kurang yang berjuang di jalan dakwah namun kikir rasa. Tersihir dengan kesibukannya dan takjub dengan amal solehnya. Alangkah sia-sianya.

Untuk itu anakku, berhati-hatilah kalian dengan tabiat ini. Karena setan bila tidak mampu membuat kita melakukan keburukan, ia akan menjadikan kita merasa baik. Dan rasa baik itulah yang menjadi pintu masuk semua keburukan. Jadilah orang baik yang dimaksud dalam agama ini. Yakni baik hubunganmu dengan Allah ﷻ, baik juga hubunganmu dengan sesama manusia. Sebagaimana anak penjual selimut itu berkata, “Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda…..” Wallahu’alam bishowab.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Tentu orangtua ingin anaknya menjadi seseorang yang memiliki kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di sekitarnya. Orangtua hendaknya mengajarkan kepada anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan teman-teman sebayanya, bahkan dengan orang dewasa.  Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan sosial anak.  Supaya anak tidak tumbuh menjadi anak yang egois. Selain itu insyaAllah anak juga akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Bukankah tujuan manusia diciptakan ke dunia ini adalah sebagai khalifah (pemakmur bumi).  Nah,  dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya insyaAllah kelak akan sangat bermanfaat ketika mereka menjalankan perannya sebagai pemakmur bumi,  apapun passion yang ditekuninya kelak.

Mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa

Untuk mengasah kemampuan bersosialisasi anak,  orangtua dapat mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa. Para sahabat di zaman Rasulullah ﷺ telah mengajak anak-anak mereka untuk menghadiri kumpulan orang dewasa. Sehingga dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak pada majelis-majelis yang mulia. Bahkan dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap ilmu, menumbuhkan keberanian bertanya ataupun berpendapat, yang tentunya dapat menambah wawasan anak.

Saya sendiri senang mengajak anak menghadiri majelis ilmu, entah itu di rumah, aula, ataupun masjid. Ketika orangtua menuntut ilmu, tanpa terasa anak ikut menyimak, bahkan turut menghafalkan ayat Alquran yang sedang saya pelajari. Terkadang disediakan pendamping untuk anak.  Sehingga selagi orangtua mengikuti seminar, anak-anak diberikan kegiatan yang menyenangkan dan terarah.

Mengajarkan tugas rumah pada ananda

Sewaktu kecil,  kita pasti terbiasa membantu pekerjaan domestik orangtua seperti menyapu, mencuci piring,  atau berbelanja ke warung. Meskipun pekerjaan yang kita lakukan mungkin tidak sempurna,  setidaknya kita telah berlatih untuk melakukannya.

Sekarang setelah kita menjadi orangtua, insyaAllah kita makin memahami betapa pentingnya mengajarkan tugas rumah pada anak. Biasanya orangtua cenderung merasa tidak tega pada anak, akhirnya malah mengerjakan semuanya sendiri. Padahal bisa jadi anak malah merasa senang diberikan tanggung jawab oleh orangtuanya.

Pada zaman Rasulullah ﷺ, anak-anak sangat suka membantu memenuhi kebutuhan orang dewasa khususnya Rasulullah ﷺ. Hal ini karena anak-anak telah dididik orangtuanya untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga atau membantu kedua orangtuanya. Sehingga muncul kepekaan dalam diri anak-anak untuk membantu keperluan orangtuanya, bahkan sebelum diminta. Dan kita perhatikan bagaimana Nabi ﷺ memberikan balasan kepada anak yang melayaninya dengan memberikan doa atas pelayanan yang ia berikan.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa mengajarkan kemandirian pada anak, khususnya dalam mengerjakan tugas rumah, amat banyak manfaatnya. Hal tersebut akan membantu anak menguasai life skill yang amat ia butuhkan untuk survive. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti merapikan tempat tidur, mandi, makan, berpakaian sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri dst. Yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepekaan anak untuk membantu kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya.  Dan seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ berikan apresiasi serta doa untuk anak yang sudah berusaha membantu kedua orangtuanya.

Membiasakan mengucap salam

Senyum,  salam, sapa,  sopan,  santun atau yang biasa disingkat 5 S oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memang terbukti menjadi modal bagi kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Jika kita mengajarkan tips ini pada anak,  insyaAllah akan memudahkan ananda dalam menjalin persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu bahwa memberikan senyuman ramah ketika bertemu orang lain adalah sedekah. Sedangkan ketika menyapa saudara kita sesama muslim,  kita telah diajarkan untuk senantiasa mengucapkan salam.  Anak-anak mesti dibiasakan untuk mengucapkan salam. Khususnya apabila bertemu saudara sesama muslim (khususnya orangtua dan orang dewasa) atau akan masuk ke dalam rumah.

Memperhatikan anak saat sakit

Nabi ﷺ telah mengajarkan kita untuk menjenguk anak-anak yang sakit. Ketika seorang anak yang masih fitrah (bersih) mendapati orang dewasa menjenguknya ketika ia sakit, maka kelak ia akan terbiasa menjenguk orang lain yang sedang sakit. Ketika menjenguk anak yang sedang sakit, hal ini juga merupakan momen untuk menyampaikan nasihat-nasihat agar anak menjadi lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Memilihkan teman yang baik

Rasulullah ﷺ ketika kecil juga bermain bersama teman-teman sebaya. Ketika beliau sudah menjadi seorang Rasul, beliau masih menghampiri anak-anak yang sedang bemain dan memberi salam pada mereka. Beliau tidak pernah bersikap kasar kepada mereka, beliau juga tidak pernah mengusir mereka, tetapi justru mendoakan mereka agar memperoleh curahan rahmat dari Allah ﷻ.

Demikianlah,  seorang Nabi saja selain mendidik anak-anak beliau sendiri, juga mendidik anak-anak lain dengan penuh kelembutan. Hal ini dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada anak tetangga yang bermain ke rumah kita, luangkanlah waktu menemani mereka bermain seraya menyelipkan nasihat kepada mereka. Keakraban dengan anak-anak akan memudahkan untuk mengarahkan mereka menjadi lebih baik.

Orangtua juga dapat mengarahkan anak untuk memilih teman-teman yang baik dan shalih, karena seperti sabda Nabi ﷺ, “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekadar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tak sedap (HR. Bukhari).

Menginap di rumah keluarga yang shalih

Pada zaman Nabi ﷺ ternyata telah dicontohkan bahwa keponakan beliau pernah bermalam di rumah beliau agar dapat meneladani langsung akhlak dan ibadah keseharian Nabi ﷺ. Saya pun paling senang manakala mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan keponakan-keponakan saya (anak dari kakak kandung). Terkadang saya mengajak mereka ke perpustakaan dan membacakan buku untuk mereka. Mereka juga kami arahkan untuk selalu menunaikan shalat lima waktu berjamaah.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

Fikih Zakat Lengkap

FIKIH ZAKAT

Fikih Zakat Lengkap (Free E-Book)

Fikih Zakat – Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Sedangkan dalam istilah fiqih, zakat memiliki arti sejumlah harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqin). Zakat dijadikan nama untuk harta yang diserahkan tersebut, sebab harta yang dizakati akan berkembang dan bertambah. Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni berkata : وَسُمِّيَتْ بِذاَلِكَ ِلأَنَّ المْاَلَ يَنْمُوْ بِبَرَكَةِ إِخْرَاجِهاَ وَدُعَاءِ الآخِذِ “Disebut zakat karena harta yang dizakati akan berkembang sebab berkah membayar zakat dan doa orang yang menerima.” (Syekh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Surabaya, al-Haramain, cetakan kedua, 2002, halaman 104)

Sahabat sejuk Nurul Hayat, kami akan share panduan lengkap tentang Fikih Zakat beserta e-booknya di bawah ini. Klik Setiap Bab dan Sub Bab nya untuk melihat detail pembahasannya.

Pengertian Zakat

Pengertian Zakat

Pada dasarnya jenis zakat dibagi menjadi dua yaitu, Zakat Nafs (Jiwa) disebut juga Zakat Fitrah dan Zakat Maal (Harta). Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang idul fitri pada bulan suci Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan seperti beras, gandum, dan sejenisnya. Apabila kita mau menggantinya dengan uang, kita harus membayar sesuai dengan harga dari makanan pokok tersebut dikalikan besaran zakatnya yaitu 3,5 liter atau 2,5 kilogram.

Sementara zakat maal (harta) adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan Nisab dan haulnya. Waktu pengeluaran zakat ini tidak dibatasi, jadi bisa dikeluarkan sepanjang tahun ketika syarat zakat terpenuhi. Zakat jenis ini akhirnya melahirkan banyak jenis zakat diantaranya : zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, hasil temuan, obligasi, tabungan, emas dan perak dan lainnya. Masing-masing jenis zakat memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Apabila seseorang muslim merdeka, berakal, balig, memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab (syarat jumlah minimum harta yang dapat dikategorikan sebagai harta wajib zakat) dan haulnya (masa kepemilikian harta sudah berlalu selama dua belas bulan Qamariah/ tahun Hijriyah) maka seseorang wajib mengeluarkan zakat harta. Orang yang mengeluarkan atau membayarkan zakat disebut Muzzaki.

Belajar Berbagi dari Lereng Rinjani

Belajar Berbagi dari Lereng Rinjani

Cahaya senja tampak meredup. Tertutup gagahnya perbukitan. Pantulannya menyebabkan warna perbukitan tidak lagi hijau, membuat puncak Rinjani tanpak menyala. Saya dan beberapa orang kawan masih duduk menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengan kami. Tak lama berselang, seorang lelaki dengan tubuh tegap dan kulit hitam manis mengucap salam dari kejauhan, sambil melempar senyum semeringah.

Dia adalah Ri’is, seorang pemuda yang memelopori berdirinya komunitas Bajang Kreatif Sembalun, kabupaten Lombok Timur, NTB. Sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan pemberdayaan pemuda. Sore itu ia datang agak terlambat dari waktu yang kita telah sepakati untuk bersua. “Mohon maaf bang, saya baru saja usai mendistribusikan sembako bersama kawan-kawan yang lain,” ucap  mantan guide pendakian gunung Rinjani itu.

Memang benar, sore itu (17/7) di Sekolah Alam Rinjani (SAR), nampak para relawan SAR yang sebagian besar merupakan anggota Komunitas Bajang Kreatif Sembalun sedang menyiapkan paket sembako yang rencananya akan dibagikan ke warga esok pagi. “Paket sembako ini ada beras, mie instan, minyak goreng dan gula,” jelas salah seorang relawan sambil membungkus paket itu.

Telah menjadi rutinitas setiap bulannya, sejak tujuh tahun yang lalu, para relawan membagikan paket sembako ke masyarakat kecamatan Sembalun yang meliputi beberapa Desa itu. Biasanya mereka membagikan paket sembako tersebut kepada masyarakat yang terkategori kurang mampu dan jompo. Namun, di tengah kondisi pandemi, pendistribusian paket sembako juga ditujukan kepada warga yang terdampak pandemi. Baik yang sedang menjalani isolasi mandiri atau yang terdampak secara ekonomi.

Menjelang hari raya Idul Adha, Ri’is dan kawan-kawan pun telah mempersiapkan dua ekor kambing untuk dijadikan sebagai hewan qurban. Kemudian dagingnya akan di bagikan ke warga, terutama kelompok rentan terinveksi virus (lansia, perempuan, penyandang disabilitas dan pekerja sektor informal) dengan harapan daging-daging itu bisa membantu menambah protein serta meningkatkan daya tahan tubuh mereka.

Padahal ia dan para relawan adalah salah satu yang terdampak pandemi ini. Pembatasan mobilitas manusia membuat aktivitas wisata mati total, salah satunya adalah wisata pendakian gunung Rinjani, selama pembatasan tersebut banyak dari mereka menganggur. Namun, kondisi itu tidak menjadi alasan untuk tidak berbagi, berbekal relasi yang ia bangun dengan pihak luar negeri seperti Australia dan Singapura. Ia mengumpulkan donasi untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi.

***

Setiap bulan, Riis dan kawan-kawan bergerilya menyusuri setiap sudut kampung untuk mendata keluarga yang terdampak dan mengalami kesulitan ekonomi. Bermodalkan kepercayaan yang telah ia tanam sejak dulu, Riis memberanikan diri untuk mengumpulkan donasi dari para sahabatnya di luar negeri itu. Selalu ada jalan untuk setiap niat baik, gayung bersambut, sahabat luar negerinya itu pun merespon dengan memberikan sejumlah donasi untuk Riis dan kawan-kawan donasikan ke masyarakat sekitar. Berkat kepedulian dan kedermawanan Riis, para relawan dan sahabat luar negerinya itu. Tidak sedikit keluarga yang merasa terbantu, tidak sedikit juga jembatan, rumah dan infrastruktur yang diperbaiki.

Hidup di bawah kaki gunung Rinjani, mungkin saja menjadi alasan para pemuda lereng Rinjani itu, tidak disibukkan dengan pertikaian dan saling tuding tak berujung di media sosial yang telah menyedot banyak energi itu. Ataukah mereka memang tidak ingin ambil pusing. Selama kami berdiskusi tak satu patah kata pun keluar dari pria pendiri SAR itu yang menyalahkan siapapun atas kondisi yang kita alami hari ini, karena menurutnya saling menyalahkan tak akan memperbaiki keadaan. “Kami akan membantu apa yang bisa kami bantu,”  kata pria lulusan Sekolah Teknik Mesin itu.

Ri’is tak pernah mengenyam bangku kuliahan. Begitupun dengan sebagian besar relawan-relawan lainnya. Namun pengalaman serta kenyataan hidup yang mereka alami menempa rasa kepedulian dan menggerakan mereka untuk berbuat dan memberi manfaat kepada sesama. Tak terhitung sudah berapa banyak warga yang terbantu oleh gerakan yang mereka lakukan. Walaupun tidak terliput media, namun mereka tetap tulus dan konsisten membantu meringankan kesulitan masyarakat.

Di tengah pandemi yang melanda negeri, sosok Riis dan kawan-kawan menjadi contoh yang patut kita tauladani. Kita mesti banyak belajar dari sosok Ri’is dan kawan-kawan relawannya. Kondisi sulit tak lantas membuatnya mencari kambing hitam dan enggan berbagi. Justru sebaliknya, kondisi sulit membuat mereka semakin terpanggil, walaupun sederhana namun memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Untuk mengubah dunia tak perlu melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal sederhana namun konsisten.

Sebagaimana Rinjani yang menyimpan dan mengalirkan air kehidupan. Riis dan kawan- kawan pun menumbuhkan asa dan harapan bagi kehidupan sekelilingnya. Dari kaki gunung Rinjani itu kita belajar makna berbagi kepada sesama. “Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan” kata pepatah Cina

 

Penulis: Ahmad Hadi Ramdhani – Juara 1 Lomba Menulis “Kebaikan di Tengah Pandemi”

Kepada Teman dengan COVID-19 dan Penyintas

Kepada Teman dengan COVID-19 dan Penyintas

“Terima kasih, ya Mas. Sudah banyak membantu. Perasaan saya menjadi lega. Alhamdulillah,” sambil tersenyum penuh dengan harap, laki-laki muda di seberang line video call mengakhiri percakapan.

“Iya, sama-sama. Semoga lekas membaik. Jangan lupa istri diberi tahu dan dituntun cara melakukan terapinya. Ikhlas dan pasrahkan semua sama Gusti Allah. Pasti segera disembuhkan. Aamiin. Assalamu’alaikum.”

Saya pun selalu terharu bercampur bahagia setiap mengakhiri sesi telekonseling. Bukan karena ucapan terima kasih dari teman-teman yang sedang berjuang melawan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Melainkan melihat energi positif yang diekpresikan setelah telekonseling berakhir. There must be hope for survival and  recovery.

Telekonseling COVID-19

Adalah sebuah program tak berbayar yang dilakukan sebuah entitas peduli jiwa. Berupa konseling jarak jauh untuk membantu menguatkan kondisi psikologis teman- teman yang terpapar oleh Covid-19. Program telekonseling dilakukan selama 30 menit dengan para praktisioner di bidang Emotional Freedom Techniques (EFT) yang bersertifikat  ICEP  (International Community EFT Practitioner).

EFT merupakan tools (alat bantu/aid) universal yang digunakan di seluruh dunia oleh praktisi dalam profesi therapeutic dan masyarakat umum. Merupakan gabungan pendekatan timur (akupuntur) dan barat dalam ilmu psikologi. Tools yang meyakini bahwa permasalahan emosi adalah akibat ketidakseimbangan sistem energi di  dalam tubuh manusia.

Mengapa Saya Bergabung dalam Program Ini?

Sedikit cerita, butuh perjalanan panjang bagi saya untuk menjadi seorang  praktisioner EFT bahkan untuk mengenal ilmu jiwa. Saya berjuang untuk sembuh dari depresi, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian histrionik sejak Agustus 2019. Berkaca dari apa yang saya alami, mental illness, menjadikan saya lebih peduli dengan kesehatan mental.

Terus melakukan konseling dengan psikolog, psikiater, dan konselor membuat saya pada akhirnya dipahamkan Tuhan agar mau untuk mengerti tentang ilmu jiwa, khususnya kejiwaan saya. Di bulan Juni 2020, salah satu teman saya yang juga seorang konselor jiwa, mengajak saya untuk mengambil sertifikasi Hypnotherapy dan Praktisi Terapi dan alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Tuhan pun berkehendak,  saya terlibat sebagai salah satu praktisi   di Telekonseling for COVID-19.

Kondisi Kejiwaan Pasien COVID-19

 “Mas, saya itu bingung, cemas, sedih, takut, karena istri saya yang lagi hamil delapan bulan juga lagi dirawat di sini, Mas?” Ujarnya sambil sesekali menahan sesak napas dan batuk.

Tercatat percakapan di atas, saya lakukan pada hari Jum’at, tanggal 9 Juli 2021, pukul 15.44 WIB. Bersama seorang pasien reinfeksi Covid-19, yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Cerita di atas hanya salah satu dari sekian banyak cerita dari teman-teman dengan Covid-19 selama saya menangani telekonseling. Lain halnya dengan salah satu teman dengan COVID-19 lainnya, berusia 22 tahun, mengalami saturasi yang terus menurun,  dan detak jantung yang tak tentu. Selain mengalami obesitas, teman dengan Covid-19 ini juga kehilangan nenek dan ibunya. Bahkan hanya berselang dalam hitungan hari. Dan masih banyak cerita lain yang menguras empati.

Dampak psikologis yang ditimbulkan oleh Coronavirus-19 memang luar biasa.  Berita tentang kematian, banyak saudara yang terpapar virus, hoax atau berita bohong yang berseliweran di media sosial dan lewat aplikasi pesan semakin membuat teman- teman dengan COVID-19 semakin memburuk kondisi kesehatannya. Stres dan kecemasan yang berlebihan. Dengan Telekonseling EFT, saya dan teman-teman praktisi dengan hati akan mendengar keluhan teman-teman dengan COVID-19 dan menjadi sahabat di tengah kecemasan dan perasaan negatif lainnya.

Setelah mereka curhat tentang apa yang mereka rasakan secara fisik dan jiwa, kami akan melakukan tapping EFT. Tapping EFT adalah sebuah ikhtiar untuk menyeimbangkan kembali energi yang tidak lancar di dalam tubuh kita sehingga menyebabkan emosi negatif. Terapi ini dilakukan dengan cara mengetuk beberapa titik pada bagian tubuh kita dengan dua jari kita sambil memberikan sugesti positif.

Di awal dan pada akhir sesi terapi, praktisi akan menanyakan tingkat kecemasan, kekhawatiran atau pikiran negatifnya dengan skala nilai. Jika nol maka keadaan pasien baik-baik saja. Jika skala semakin naik hingga di angka sepuluh maka dapat disimpulkan pasien dalam keadaan sangat tidak baik. Alhamdulillah, dari sekian banyak teman-teman dengan COVID-19 maupun para penyintas yang ikut terapi, semua dapat merasakan gangguan psikologis yang terus menurun.

Apakah cukup cukup dilakukan satu kali konseling? Tentu tidak. Kita akan tetap berkabar di lain hari. Kembali bercerita tentang apa yang dialami. Dan hal yang paling membuat kami bahagia adalah mendapat kabar jika mereka sudah negatif. Alhamdulillah ‘ala kulli hal …

Dalam keterbatasan saya, setidaknya masih bisa bermanfaat untuk teman-teman  yang lain. Belajar menyembuhkan diri sendiri dengan membantu kesembuhan orang lain adalah hal terindah dan salah satu wujud syukur kepada Allah SWT.

Dan ketika saya tuliskan essai ini … saya pun tengah berjuang untuk pulih dari COVID-19.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap sakit adalah terbukanya satu pintu penggugur dosa.

 

 

Penulis: Lilik Kurniawan – Juara 2 Lomba Menulis “Kebaikan di Tengah Pandemi”

Jadikan Dirimu Produktif dengan Aksi Kebaikan

Jadikan Dirimu Produktif dengan Aksi Kebaikan

Sudah satu tahun sejak Presiden Joko Widodo mengumukan kasus pertama Covid-19 pada Maret 2020. Sekaligus suatu momen untuk mengingat bahwa untuk pertama kali kita semua jadi kurang produktif karena harus membatasi segala aktivitas, mulai dari penutupan sekolah, pembelajaran online, kerja dari rumah, mengurangi mobilitas, dan yang paling identik adalah memakai masker setiap saat.

Satu hingga tiga bulan pertama, keadaan ini masih dianggap baik-baik saja bahkan tidak sedikit pelajar dan pekerja yang merasa diuntungkan dengan kondisi tersebut. Hitung-hitung menambah hari libur katanya  waktu itu. Karena sudah bosan atau lelah dengan tuntutan tugas atau pekerjaan yang serasa tiada habisnya. Namun, keadaan berputar 180 derajat tidak sesuai dengan yang dipikirkan.

Covid-19 tak kunjung usai hingga akhirnya kondisi kesehatan dan finansial yang harus dikorbankan. PHK atau pemutusan hubungan kerja banyak dilakukan dimana-mana karena perusahaan tidak mampu menutupi biaya operasionalnya. Sektor perniagaan gulung tikar karena kebijakan pemerintah untuk mengurangi keramaian, sektor pariwisata juga tujuan destinasi sepi pengunjung, sektor penerbangan, dan masih banyak lagi.

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk menekan kasus positif Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi babak awal penanganan Covid-19 di Indonesia untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus yang lebih luas. Mencegah aktivitas mudik pada perayaan hari-hari besar guna mengantisipasi risiko penularan.

Larangan mudik ini menuai pro kontra dari masyarakat pasalnya mudik sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu momen untuk berkumpul bersama keluarga besar di daerah asal. Hingga memasuki era New Normal yang mengatur mobilitas warga dengan protokol kesehatan. Namun, lagi-lagi, perlu disadari bahwa pandemi ini tidak hanya berkutat pada masalah penularan virus saja, tapi dampaknya mampu melumpuhkan sektor ekonomi negara dan mematikan usaha atau industri di masyarakat.

Salah satu  influencer tanah air, Fiersa Besari, yang merasa prihatin dengan kondisi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 sempat menuliskan keprihatinannya tersebut di Twitter. Apalagi dengan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak  awal tahun 2021 ini sudah cukup memutus rantai penghasilan masyarakat menegah ke bawah. Yang lebih mengejutkan adalah pandemi tidak menghalangi jalannya praktik korupsi di pemerintahan. Beberapa pejabat negara berhasil diamankan oleh aparat sebab menjadi tersangka korupsi terkait bantuan penanganan dan penanggulangan Covid-19. Hal tersebut sungguh amat disayangkan karena dalam kondisi seperti yang sekarang ini, segala bentuk bantuan dan dukungan sangat diperlukan bagi siapapun, terutama masyarakat terdampak pandemi.

Meskipun demikian, pemerintah telah bergerak untuk membantu masyarakat melalui program Bantuan Sosial Tunai (BST) yang bersumber dari APBN ataupun APBD dengan harapan dapat meringankan beban perekonomian masyarakat. Faktanya, bantuan selama pandemi Covid-19 tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari komunitas, selebgram atau influencer, dan para relawan. Mereka turut bahu-membahu mengirimkan bantuan untuk masyarakat kurang mampu yang terdampak pandemi. Lalu sebagai masyarakat ‘biasa’, kita bisa apa sih untuk berbagi ke sesama dengan harapan saling menguatkan satu sama lain di tengah pandemi?

  1. Langsung Salurkan Bantuanmu Kepada Mereka yang Membutuhkan

Apabila kamu adalah orang yang berkecukupan atau bahkan memiliki kelebihan harta, kamu bisa dengan mudah memberikan bantuan kepada mereka dengan menggunakan penghasilanmu. Seperti aksi yang dilakukan oleh pengguna TikTok, Farhan Mayor. Remaja asal Malang ini membagikan momen ketika dirinya menjadikan bagasi mobilnya penuh dengan bahan-bahan kebutuhan pokok dan mempersilahkan orang-orang di pinggir jalan yang ditemuinya untuk mengambil sesuai dengan kebutuhannya.Sumber: tiktok.com/farhanmayor

Farhan Mayor memang berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan, namun ia tetap ingat dengan hak orang lain apalagi di situasi pandemi sekarang ini. Video tersebut telah disaksikan sebanyak 7,6 juta views dan mendapat 1,2 juta likes. Berbagi tidak harus dalam jumlah yang besar, yang penting adalah nilai kebermanfaatannya bagi sesama. Ketika kamu memiliki penghasilan lebih, berbagi dengan yang lain tentu bukan hal yang rumit, kan?

  1. Tunjukkan Rasa Empatimu dengan Mendukung Aksi Positif Para Influencer

Rachel Vennya, seorang selebgram, berhasil mengumpulkan donasi mencapai Rp 9 miliar dari aksi galang dana yang dilakukannya melalui Kitabisa.com. Dana tersebut kemudian disalurkan untuk membantu fasilitas rumah sakit, tenaga kesehatan, dan masyarakat terdampak. Nah, bagi kita yang rasanya tidak memiliki pengaruh sebesar para artis dan selebgram, kita tetap bisa melakukan aksi dengan mendukung usaha influencer-influencer yang menebar kebaikan di luar sana loh. Mulai dari ikut menyumbang dan mengajak orang lain untuk ikut serta. Melihat mereka tersenyum atas bantuan kita, menyenangkan bukan?Pandemi yang melanda negeri telah menggerakan hati banyak orang, termasuk para influencer. Dengan memanfaatkan popularitasnya, tidak sedikit artis/selebgram/content creator yang menginisiasi aksi galang dana untuk turut bersama-sama mengumpulkan bantuan bagi para covid fighter seperti tenaga medis, korban PHK, masyarakat menegah ke bawah yang terdampak.

  1. Memeriahkan dan Ikut Serta dalam Campaign

Campaign menjadi salah satu media mengajak orang lain untuk ikut berbuat kebaikan loh. Campaign 10.000 Susu untuk Kebaikan, misalnya. BEM Keluarga Mahasiswa UGM beserta beberapa aliansi di UGM mengadakan digital campaign

dengan mengajak para mahasiswa memasang twibbon yang berisi ajakan untuk berbuat kebaikan di masa pandemi. Nah, nantinya setiap satu twibbon yang dipasang berarti menyumbang 2 kotak susu bagi yang membutuhkan. Bayangkan  saja, semakin banyak yang memasang twibbon, maka akan semakin banyak pula yang terbantu. Campaign seperti ini merupakan alternatif yang sangat mudah terutama bagi kalangan pelajar atau mahasiswa untuk mulai berbagi ke sesama. Cukup memposting twibbon beserta foto, kamu sudah menyebarkan kebaikan dengan mengajak orang lain bergabung sekaligus menyumbangkan bantuan kepada yang berhak.

  1. Tidak Ada Salahnya Mencoba untuk Jadi Relawan

Ingin menambah pengalaman sekaligus berbuat aksi kebaikan? Menjadi relawan bisa menjadi opsi pilihan. Banyak sekali gerakan yang mengajak para generasi muda untuk bertanggung jawab dan berkomitmen mengentaskan Covid-19. Kegiatan seperti ini sekaligus menjadi ajang untuk berjejaring dan bertukar pikir dengan orang-orang baru serta meggelorakan jiwa sosial. 

  1. Berbagi Informasi adalah Bentuk Bahwa Kamu Peduli

Memberikan bantuan tidak selamanya harus berupa materi loh. Kita bisa ikut berbagi dengan keahlian atau pengetahuan yang kita miliki. Apabila tergabung dengan komunitas atau organisasi mahasiswa, pencerdasan melalui poster atau infografis sudah banyak dijumpai. Mereka menyerukan aksinya melalui tulisan dengan harapan dapat mengedukasi masyarakat umum mengenai fenomena sosial yang terjadi melalui kajian-kajian ilmiah. Informasi yang dibagikan ke publik merupakan bukti bahwa mereka memberikan perhatian terhadap apa yang terjadi.

 

 

Penulis: Eka Amalya Ramadhani – Juara 3 Lomba Menulis “Kebaikan di Tengah Pandemi”

 

Stop Kebaikan di Era Pandemi

Stop Kebaikan di Era Pandemi

Bagaimana menurut Anda jika kita harus benar-benar menghentikan segala aktifitas kebaikan kita di masa pandemi ini karena terbatasnya akses mobilitas keseharian kita? Apakah Anda setuju? Saya rasa tidak! Sudah tentu jiwa-jiwa mulia itu akan meronta jika harus menutup diri dari berbagai kebaikan yang sudah rutin dilakukan, terutama saat bertatap wajah. Tapi apakah harus dengan menghentikannya di era pandemi yang dirasa mengerikan ini? Tentu saja tidak! Masih banyak cara untuk terus menjadikan diri ber-fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Sebagai manusia yang seringkali tak luput dari kesalahan tentu kita berusaha untuk terus melakukan kebaikan agar kita tetap bisa mendapat ridho Allah untuk menggapai surga-Nya. Pada hakikatnya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, salah satu caranya dengan melakukan kebaikan. Itulah mengapa walau di tengah pandemi seperti sekarang ini maka kita tidak boleh kehabisan ide untuk melakukan kebaikan apa yang bisa kita lakukan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 148 yang artinya:

Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya (pada hari kiamat). Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Lalu apa saja kebaikan yang bisa kita lakukan di tengah pandemi yang melanda seperti sekarang ini? Berikut adalah sebagian kecil hal-hal yang bisa kita lakukan di era pandemi seperti sekarang ini:

  1. Apresiasi Diri

Apa maksudnya apresiasi diri? Coba ingat kembali masa-masa sebelum pandemi. Apakah kita sudah rajin makan teratur? Apakah kita sudah rajin berolahraga? Apakah kita sudah rajin membaca? Apakah kita sudah rajin beribadah?

Bagi sebagian orang mungkin sudah berusaha menjalankan dengan baik. Namun, bagi sebagian orang lagi, ada juga yang masih merasa kesulitan untuk menjalankan hal- hal tersebut. Kemudian, di masa pandemi seperti sekarang inilah orang mulai berlomba- lomba untuk menjaga ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah-nya dengan baik. Orang mulai lebih berlomba untuk memperbanyak tilawah dan berdoa, makan teratur, minum multivitamin, atau sekadar berjemur di pagi hari. Orang mulai mengganti hobi nongkrongnya menjadi membaca, walaupun sekadar banyak membaca status di media sosial, namun semoga ada hikmah yang bisa diambil dari yang ia baca.

Banyak orang mulai sadar bahwa kesehatan itu sangatlah penting tatkala mereka sakit di tengah pandemi ini, padahal sebelumnya mereka rela berlelah hingga terlalu sering begadang tanpa memperhatikan kesehatannya. Banyak orang mulai sadar bahwa hidupnya selama ini kurang ibadah, karena sibuk dengan urusan dunia yang tak pernah ada habisnya. Banyak orang mulai sadar bahwa pentingnya berliterasi agar tak mudah mengambil informasi dengan serta merta, tanpa mencari kebenaran lagi.

Intinya, dengan adanya pandemi ini makin banyak orang yang semakin sadar diri bahwa diri sendiri butuh diapresiasi dengan pemenuhan hak diri. Tak perlu dengan hal- hal mewah seperti makan di restoran mahal atau dengan membeli barang bermerek, namun cukup dengan istirahat yang cukup, penuhi hak tubuh ketika lapar, apalagi hak hati untuk mendapatkan ketenangan dengan banyak menghadirkan diri pada Illahi.

  1. Bertegur Sapa

Kebaikan kecil yang kadang terabaikan adalah bertegur sapa. Saat bertemu ada kalanya kita terlalu sibuk dengan gadget masing-masing. Ketika pandemi seperti sekarang kita baru merasakan betapa bosannya ketika terlalu lama berada di rumah tanpa bertemu dengan orang lain atau rekan bahkan saudara kita. Sehingga, kita dipaksa bertegur sapa walau sekadar melalui video call untuk tahu kabar mereka dan mengubur kebosanan kita karena tak selamanya gadget menjadi hiburan yang betul-betul kita butuhkan dan bisa menggantikan posisi mereka.

Kita pun menjadi orang yang merindukan saat-saat bisa berkumpul dengan orang lain tanpa rasa takut dan curiga. Namun, dengan kemudahan teknologi Allah takdirkan kita untuk tetap bisa bertegur sapa walau jarak memisahkan, walau keadaan memaksa kita untuk tidak bertemu padahal kita bisa.

Tak perlu jauh kepada sanak saudara, teman, atau tetangga yang memang tak mesti tiap hari kita temui, bahkan dengan keluarga kita di rumah pun kadang kita susah untuk bertemu karena kesibukan aktifitas kerja kita. Pandemi ini menjadikan kita menjadi lebih dekat lagi untuk sering bertegur sapa dan menjaga keharmonisan dalam keluarga. Mengapa? Karena kita dipaksa untuk lebih banyak waktu di rumah dibanding di luar rumah.

Ayah yang jarang melihat anaknya bermain karena sibuk bekerja, kini bisa memiliki banyak waktu untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya bahkan bisa mendampingi anaknya untuk mengaji bersama. Ibu yang biasanya sibuk bekerja karena keputusannya membantu sang suami dalam perekonomian keluarga, kini bisa banyak waktu untuk sekadar memasak makanan kesukaan anaknya di pagi hari yang mungkin biasanya dikerjakan oleh pembantu rumah tangganya. Bahkan orangtua yang biasanya tidak tahu bagaimana proses belajar anaknya di sekolah, kini bisa mendampingi anaknya belajar di tengah kesibukan urusan rumah tangganya.

Pandemi ini memang memberi banyak dampak positif dan negatif. Tentunya kita tak boleh terlalu lama untuk terkungkung dalam dampak negatifnya. Sebagai seorang yang berjiwa sosial kita tetap bisa terus berbagi dengan mereka yang membutuhkan, misal anak yatim piatu, orang-orang yang kekurangan dan lain sebagainya walau kita tidak bisa bertemu langsung dengan mereka karena sudah banyak sekali wadah yang menjembatani kita untuk bisa memberikan bantuan kita pada mereka secara online.

Jika kita belum bisa membantu dengan uang atau benda, kita tetap bisa membantu mereka dengan membagikan informasi terkait bagaimana orang lain bisa ikut membantu mereka. Bahkan paling minimal jika kita belum bisa membantu dengan semua itu, maka kita bisa bantu dengan doa tulus yang kita tujukan untuk mereka.

Pandemi ini memang terlihat menyesakkan, tapi mungkin ini menjadi ladang rezeki untuk sebagian orang. Pandemi ini mungkin terasa menyesakkan, tapi mungkin ini jalan kemudahan untuk banyak orang. Pandemi ini mungkin terasa membosankan, tapi mungkin ini kemudahan bagi mereka yang belum paham akan teknologi agar menjadi lebih paham teknologi.

Pandemi ini mungkin terasa memberatkan, tapi mungkin ini jalan hidayah untuk setiap pribadi agar terus menerus memperbaiki diri dan memperbanyak berdoa. Misalnya, para mahasiswa yang biasanya berlelah menunggu dosen untuk bimbingan, kini cukup melalui dunia virtual dengan membuat kesepakatan temu, kemudian waktu lainnya bisa ia gunakan untuk menuntut ilmu agama secara online juga. Murid yang mungkin sekian kilometer harus menempuh jarak ke sekolahnya, cukup melalui gadget sudah bisa belajar dengan gurunya dan mendapat ilmu asal penuh kesungguhan. Sungguh Allah sudah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.

Semoga Allah senantiasa menguatkan kita, mengokohkan hati kita, memudahkan kita, untuk terus istiqomah dalam melakukan kebaikan dalam segala kondisi. Semoga kita juga menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan berpikir positif dengan segala yang diberikan Allah dengan hati yang ikhlas. Semoga kebaikan yang kita usahakan, Allah terima dan menjadi pemberat amal kebaikan untuk menggapai rahmat Allah, demi bisa menapaki surga-Nya. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin. Sungguh tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dan kekuasaan Allah. Wallahu a’lam bishowab.

 

Penulis: Ana Wahyu Nurrohmah – Juara Harapan 1, Lomba Menulis “Kebaikan di Tengah Pandemi”

Efek Domino Anak dan Lingkungan di Tengah Pandemi

Efek Domino Anak dan Lingkungan di Tengah Pandemi

“Udah pelajaran sekolah susah, anaknya susah dibilangin lagi.” Kalimat tersebut sering kali saya dengar selama pandemi covid 19. Kalimat yang merujuk pada  keluhan orang tua dalam proses pembelajaran online. Bukan lagi suatu hal yang tabu, pandemi covid 19 telah menjadi momok yang merugikan negara di berbagai bidang. Sejak kasus positif covid 19 pertama di Indonesia pada bulan Maret 2020, masyarakat berada dalam bayang-bayang ketakutan terpapar virus yang begitu mematikan. Pemerintah pun segera mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memutus rantai penyebaran covid 19, salah satunya dengan penerapan kegiatan online atau tatap muka.

Beberapa kegiatan yang dibatasi adalah pendidikan dan ekonomi yang berarti kedua pekerjaan tersebut dilakukan di rumah. Berakar dari kebijakan tersebut, Orang tua kini memiliki fungsi ganda yaitu sebagai pencari nafkah dan juga guru bagi anak mereka di rumah. Waktu, pikiran, dan tenaga adalah makanan sehari-hari orang tua di masa pandemi ini, belum lagi tambahan beban pikiran karena faktor lain seperti faktor sosial. Ketidaknyamanan yang terus-terusan menumpuk membuat kesehatan mental menurun, membuat tubuh bereaksi terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit yang lebih dikenal dengan istilah stress.

Stress berdampak buruk bagi kesehatan mental terutama dalam pengolahan emosi. Orang yang sedang terkena stress akan mudah marah karena emosinya yang tidak stabil. Bila ditarik benang merah dari persitiwa ini, maka dampak stress pada orang tua akan sangat berpengaruh pada mental anak dalam menghadapi pandemi ini. Anak cenderung meniru perilaku orang tua dan lingkungan sekitarnya saat usia 6 sampai 12 tahun. Langkah awal mendidik anak dari orang tua sangat berpengaruh di masa pandemi ini. Hal ini bisa digambarkan seperti domino, orang tua – anak – lingkungan merupakan sebuah kesatuan yang saling terhubung. Bila orang tua mengedepankan emosi negatif dalam mendidik anak mereka, maka kepribadian anak akan menjadi tidak baik. Ini disebabkan karena perlakuan anak di lingkungan dipengaruhi oleh bagaimana ia diperlakukan di rumah.

”Sejatinya tidak ada yang jahat dari awal.” Kalimat itu dikutip dari buku The Lord Of The Rings karya JRR Tolkien. Kalimat tersebut menginspirasi saya untuk menjadi domino awal yang memberikan dampak baik kepada lingkungan sekitar sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan mengurangi beban stress orang tua serta anak. Saya menyadari untuk menjadi pioner dalam berbagi kebaikan, saya haruslah terlebih dahulu paham apa makna berbuat baik yang sebenarnya. Dalam Islam, konsep berbuat baik banyak sekali contohnya, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Saya mengambil salah satu pengertian dari ihsan yang berarti mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya. Bertolak dari pengertian itulah timbul semangat untuk menebar kebaikan di tengah pandemi ini.

Sebelum saya membuat sebuah program, saya mencoba menahan diri dan berpikir secara kritis tentang peran apa yang dapat saya lakukan. Saya adalah mahasiswa Sastra Indonesia semester 3 di Universitas Negeri Yogykarta. Di mata kuliah yang saya tampu terdapat ilmu literasi dan juga pendidikan. Maka dari situlah saya bersama teman-teman, membuat sebuah komunitas bernama Negeri Literasi Yogykarta yang bertujuan membantu anak-anak dalam hal pembelajaran sekolah, terutama literasi.

Negeri Literasi yang saya gagas sebetulnya sudah ada sejak tahun 2019. Yaitu saat saya masih duduk di bangku SMA dan berlokasi di Kota Purwokerto sesuai tempat tinggal saya saat itu. Namun karena pandemi, kegiatan sempat dihentikan dan tidak aktif. Setelah berdiskusi kembali bersama teman-teman yang ada di Yogyakarta, saya memutuskan untuk kembali mendirikan negeri literasi yang berfokus pada kegiatan literasi anak yang belum mempunyai fasilitas membaca. Bentuk dari kegiatan ini adalah membagikan buku kepada sekolah atau desa yang masih belum mempunyai fasilitas membaca. Selain membagikan buku kita juga belajar bersama. Membaca dan menghitung yang dibungkus dengan suasana yang menyenangkan. Harapan dari kegaiatan ini adalah memberikan semangat positif bagi anak-anak dan lingkungan belajar yang menyenangkan supaya menimbulkan efek domino yang berkualitas.

Saya menyadari, peran saya sebagai mahasiswa sastra untuk berperan aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Saya berfokus kepada perkembangan anak yang kelak dari merekalah lahir generasi unggul yang mempunyai manfaat bagi bangsa dan negara. Selain mendirikan negeri literasi, saya juga aktif menyuarakan ide-ide saya lewat media dan juga berbagai perlombaan terutama tentang tulisan anak-anak. Dengan menyuarakan gagasan dan juga terjun langsung ke tengah masyarakat, membuat kita lebih mengerti dan paham apa makna dari ihsan sesungguhnya.

Tentunya banyak pihak yang juga tengah berjuang bersama memaknai ihsan sesuai dengan bidangnya. Nurul Hayat merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang memfasilitasi pemuda untuk menyuarakan gagasan dan pendapat mereka tentang kondisi yang tengah terjadi. Dengan mengambil tema “Berbagi Kebaikan di Tengah Pandemi” selaras dengan misi saya untuk mendalami makna ihsan dengan kegiatan bermasyarakat. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Nurul Hayat yang telah menjadi wadah untuk menyampaikan tulisan saya. Besar harapan tulisan ini dapat menginspirasi orang-orang di tengah pandemi untuk membuat efek domino yang positif.

 

Penulis: Zain Fauzan Naufal – Juara Harapan 2 Lomba Menulis “Kebaikan di Tengah Pandemi”

 

Peran Lembaga Sosial di Masyarakat

Peran Lembaga Sosial di Masyarakat

Peran Lembaga Sosial di Masyarakat-Lembaga yang anggotanya terdiri dari masyarakat yang berkumpul menjadi satu kesatuan karena adanya satu kesamaan visi dan misi. Lembaga Sosial sering disebut juga sebagai lembaga kemasyarakatan.

Selain visi dan misi, dalam Lembaga Sosial juga terdapat nilai-nilai, norma, adat dan unsur kemasyarakatan yang dianut oleh masyarakat yang sama. Dalam Lembaga Sosial tersebut nantinya juga terdapat aturan yang disepakati bersama sehingga ia dapat berjalan sesuai dengan keinginan bersama.

Setiap anggota yang masuk kedalam suatu lembaga sosal akan terikat dengan peraturan yang dibuat dan harus dipatuhi. Selain aturan, biasanya juga terdapat satu tradisi yang hanya diketahui oleh para anggota di dalamnya dan meski tradisi tersebut tidak tertulis, namun tetap dilaksanakan sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam Lembaga Sosial.

Lembaga sosial di masyarakat adalah memberikan pedoman bersikap atau bertingkah laku pada masyarakat, menjaga keutuhan masyarakat, dan memberikan pedoman kepada masyarakat untuk mengadakan sistem kontrol sosial. Fungsi lembaga sosial Mengutip Kemdikbud RI, lembaga sosial di masyarakat memiliki peran atau fungsi bagi masyarakat dalam rangka mencukup kebutuhan pokok atau dasar tiap-tiap anggota masyarakatnya. Berbagai lembaga sosial di masyarakat mempunyai fungsi sendiri-sendiri yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Terkait usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, peran lembaga sosial atau fungsi lembaga sosial secara umum adalah Lembaga Sosial Memberikan pedoman bagaimana harus bersikap atau bertingkah laku pada anggota-anggota masyarakat.

Lembaga sosial berfungsi untuk memberikan pedoman bersikap dan bertingkah laku dalam menghadapi masalah yang muncul atau berkembang di lingkungan masyarakat, termasuk menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan hidup.  Lembaga sosial memberikan arahan kepada setiap anggotanya bagaimana seharusnya berbuat, sehingga tidak menimbulkan penyimpangan yang dapat meresahkan masyarakat. Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan; Lembaga sosial bermaksud untuk menghimpun dan mempersatukan anggota-anggotanya agar tercipta integrasi dalam masyarakat. Apabila dalam suatu lembaga sosial sudah tidak ada lagi perilaku-perilaku warga masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada, maka dapat dikatakan telah terjadi disintegrasi.

Lembaga sosial mengatur berbagai aktivitas masyarakat sehingga terwujud kehidupan yang serasi atau harmonis. Memberikan pedoman kepada masyarakat untuk mengadakan sistem kontrol sosial. Lembaga sosial berfungsi memberikan pedoman untuk mengadakan pengendalian sosial atau kontrol sosial kepada masyarakat. Artinya lembaga sosial sebagai sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota masyarakatnya. Hubungan peran lembaga sosial dengan pemenuhan kebutuhan manusia Dalam masyarakat Indonesia yang heterogen terdapat berbagai jenis lembaga sosial yang saling berhubungan dan saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Lembaga sosial tumbuh karena kebutuhan masyarakat untuk tujuan mendapatkan keteraturan kehidupan bersama. Jika tidak ada lembaga sosial maka kehidupan di masyarakat akan mengalami kekacauan. Di dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam lembaga sosial, antara lain lembaga pendidikan, lembaga keluarga, lembaga politik, lembaga ekonomi dan lainnya.

Hubungan antara berbagai lembaga sosial dalam masyarakat tidak selalu sejalan atau serasi (harmonis). Ketidakcocokan antara berbagai lembaga sosial sering terjadi di masyarakat. Ketidakharmonisan antara lembaga sosial terjadi karena lembaga sosial bukan suatu hal yang tetap atau langgeng. Melainkan akan berubah sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat. Lembaga sosial diperlukan untuk mengatur pemenuhan berbagai jenis kebutuhan manusia. Jika tidak, maka kehidupan masyarakat akan sulit terkendali, timbul kekacauan, ketidakmerataan, dan lain-lain. Maka dari itu, berbagai lembaga sosial di masyarakat memiliki peran atau fungsi masing-masing dalam mengatur kehidupan masyarakat.

Lembaga yang anggotanya terdiri dari masyarakat yang berkumpul menjadi satu kesatuan karena adanya satu kesamaan visi dan misi. Lembaga Sosial sering disebut juga sebagai lembaga kemasyarakatan.

Selain visi dan misi, dalam Lembaga Sosial juga terdapat nilai-nilai, norma, adat dan unsur kemasyarakatan yang dianut oleh masyarakat yang sama. Dalam Lembaga Sosial tersebut nantinya juga terdapat aturan yang disepakati bersama sehingga ia dapat berjalan sesuai dengan keinginan bersama.

Setiap anggota yang masuk kedalam suatu lembaga sosal akan terikat dengan peraturan yang dibuat dan harus dipatuhi. Selain aturan, biasanya juga terdapat satu tradisi yang hanya diketahui oleh para anggota di dalamnya dan meski tradisi tersebut tidak tertulis, namun tetap dilaksanakan sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam Lembaga Sosial.

 

Contoh Lembaga Sosial

Ada banyak sekali Lembaga Sosial yang tersebar di masyarakat saat ini. Sebagai contoh adanya Lembaga Sosial Nurul Hayat  yang selalu memberikan kemanfaatan dalam berbagai bantuan sosial, keberadaan yayasan Nurul Hayat ini di harapkan mampu menangani berbagai kesenjangan sosial yang ada di Indonesia.

 

Memuliakan Sesama Saudara Muslim

Memuliakan Sesama Saudara Muslim

Memuliakan Sesama Saudara Muslim-Semua orang Islam berharap dirinya masuk dalam jajaran orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat atau hari akhir. Rasulullah dalam salah satu haditsnya memberikan gambaran tentang tanda-tanda atau ciri mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Rasulullah SAW bersabda:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري).

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda rasulullah SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diamlah.” (HR. al-Bukhari).

Dari hadits di atas setidaknya ada 3 tanda orang yang dianggap beriman kepada Allah dan kepada Hari Kiamat, pertama tidak menyakiti tetangganya, kedua memuliakan tamunya, dan ketiga berkata yang baik atau diam.

 

  1. Tidak Menyakiti Tetangga

 

Salah satu hal yang ditekankan dalam Islam adalah hidup rukun dalam bertetangga. Hal itu dilakukan adalah agar terciptanya ketenteraman, keamanan, dan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat.

 

Kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangat penting, hingga Allah dalam Alquran surat an-Nisa ayat 36 berfirman.

 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

 

Lantas siapakah yang dimaksud dengan tetangga itu, dalam Kitab Fathul Baari dijelaskan ada perbedaan terkait definisi tetangga. Sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi, yakni kanan, kiri, depan, belakang’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah disekitarmu’, ada yang mengatakan ’10 rumah daei tiap sisi’, dan beberapa pendapat lainnya (Fathul Baari, 10/367).

 

Namun demikian, pendapat mana yang hendak diambil terkait definisi tetangga tidak masalah, yang paling penting adalah tidak menyakiti mereka.

 

  1. Memuliakan Tamu

 

Terkait pentingnya hal ini, Islam memberikan rambu-rambu dan tuntunan bagaimana kita memuliakan tamu itu. Beberapa diantara adabnya adalah:

 

  1. Mengundang orang yang bertaqwa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ

 

“Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

 

  1. Tidak hanya mengundang orang kaya

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

 

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Disunnahkan mengucapkan selamat datang

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

 

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

 

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)

 

  1. Menyediakan hidangan sebaik mungkin

Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:

 

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

 

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

  1. Mendahulukan tamu yang lebih tua

Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

 

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari).

 

  1. Berkata yang Baik atau Diam

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengingatkan kita agar jangan sampai kita menjadi orang yang “muflis”. Sebagaimana sabdanya

 

عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْاالْمُفْلِسُ فِيْنَا يَا رَسُو لَ اللَّهِ مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ قَالَ رَسُو لَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّيِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَتِهِ وَصِيَامِهِ وِزَكَاتِهِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَاَكَلاَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَيَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُحِذَ مِنْ خَطَايَاهُم فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرحَ فِي النَّارِ

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

 

Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.”

 

Beliau menimpali, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, no. 2581).

 

Dari penjelasan di atas Nabi sangat mewanti-wanti terkait pentingnya menjaga lisan, hingga memberikan pilihan kepada kita “berkata yang baik” atau “diam”.

 

Semoga kita di jadikan hamba Allah yang senantiasa memuliakan tamu, tidak menyakiti tetangga, mampu menjaga lisan untuk senantiasa berkata baik atau diam.

 

Copyright © 2001-2023 Yayasan Yay. Nurul Hayat Surabaya