|
Saya anak kedua dari 3 bersaudara dari keluarga Hindu. Ibu saya dulu muslim, namun setelah menikah dengan bapak ia pindah ke agama bapak, Hindu. Terbilang Hindu kolot juga tidak, biasa-biasa saja. Masa kecil saya lalui di Surabaya hingga kelas 6 SD, berikutnya hingga SMA tinggal di keluarga besar bapak di Bali. Kuliah balik lagi ke Surabaya.
Ketika kuliah itulah benih-benih untuk pindah agama mulai tumbuh, apalagi kemudian saya kenal dengan seseorang yang kelak menjadi pendamping hidup saya. Dari dia pulalah saya belajar sedikit demi sedikit tentang Islam, termasuk belajar tentang bagaimana cara sholat. Bersyukur tak lama setelah lulus kuliah, saya langsung dapat kerja, juga masih di Surabaya.
Seperti air mengalir, saya jalani hidup ini apa adanya, hingga suatu ketika saya merasa pas untuk pindah jadi muslim. Sebelumnya saya mengutarakan hal itu ke orang tua saya yang masih ada di Bali. Bersyukur pula, mereka cukup demokratis. Bapak bilang, kalau itu mau saya silahkan, asal kemudian dijalankan dengan benar. Sebagaimana kebanyakan umat Hindu, setiap rumah mempunyai rumah ibadah (pura kecil), dan di sanalah upacara ritual melepas agama Hindu itu pun dilakukan dengan aneka sesajen dan mengundang tokoh Hindu. Kakak dan adik saya juga tak ada yang menentang, semuanya berjalan lancar. selanjutnya;
|
|
Cantik, memiliki tubuh yang indah, jadi pusat perhatian banyak orang dan punya peluang luas untuk memperoleh uang, adalah impian banyak remaja putri saat ini (termasuk juga impian ibu-ibu yang memiliki putri remaja). Hal ini terlihat dari antusiasnya remaja putri mengikuti kontes kecantikan yang kian marak. Meski terjadi pro kontra, kontes-kontes itu terus berlangsung dan makin membius mereka untuk mengikutinya. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan kontes tersebut dalam pandangan Islam? Dan prestasi seperti apa yang mestinya harus diraih para muslimah? Tulisan ini akan mencoba sedikit memberi gambaran terkait hal itu. Insya Alloh.
Hakikatnya
Coba sesekali bercerminlah. Lihat betapa sempurnanya wajah kita. Lalu pejamkan mata kita, bayangkan milyaran sel saraf sedang bekerja dalam tubuh kita. Bayangkan pula sel-sel darah yang setiap milidetiknya dipompa oleh jantung mengalir ke seluruh tubuh. Bayangkan pula betapa rumitnya sistem kerja otak kita. Ketika makanan masuk ke dalam perut, bayangkan betapa rapinya kerja organ-organ pencernaan kita yang membuat makanan sekeras apapun menjadi hancur lebur. Subhanalloh, begitu banyak kenikmatan yang telah Alloh karuniakan kepada kita, umat manusia. Sudah semestinya manusia bersyukur kepada Alloh SWT dengan tidak melanggar aturan hidup dari-Nya, apalagi hanya untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan manusia yang mengabaikan aturan Alloh. selanjutnya;
|
|
Sungguh aneh! Bukan hanya sederhana, tapi sangat… sangat… sederhana. Rumah itu benar-benar dari sesek (bambu) dan alasnya benar-benar tanah yang hanya dilapisi plastik. Itulah gambaran rumah kawan saya dan saudara-saudaranya yang berada di lingkungan salah satu pesantren di daerah Turi, Lamongan.
Orang di sekitarnya pada terheran-heran, malah ada yang mengumpat, “Gendeng be’e (gila mungkin).” Bagaimana tidak? Di tengah “perlombaan” penduduk desa untuk mewujudkan mimpi membangun rumah tembok sebagai simbol kemajuan, justru dia membangun rumah gedhek.
Bukan hanya penduduk sekitar yang heran, saya-pun dibuat terkejut saat berkesempatan berkunjung ke sana. Ya mengapa, padahal dana juga ada. Tapi keheranan itu mulai sirna ketika kami menerima penjelasan.
“Bukankah rumah ini hanya sementara. Dan tidak akan kita bawa mati!”
“Lalu untuk apa kita bermewah-mewah dengan sesuatu yang akan kita tinggalkan. Bukankah justru itu yang gila sungguhan?”
“Karena itu, prinsip kami ‘rumah akherat’ harus lebih baik dari ‘rumah dunia’. Demikianlah yang dipesankan Bapak Guru.” Bapak Guru adalah panggilan almarhum ayah mereka. Rupanya pesan almarhum sang ayah benar-benar mereka praktikkan dalam kehidupan nyata. Sebab sang ayah tidak hanya pandai berbicara, melainkan dia sendiri yang memberi contoh hidup dengan rumah yang sangat sederhana. Rumah induk almarhum ayah mereka, kurang lebih sama kondisinya.
Satu-satunya bangunan “mewah” di kompleks pesantren itu hanyalah masjid. Tentu, yang dimaksud mewah bukan karena struktur dan ornamen yang megah dan mahal, melainkan hanya sebuah bangunan tembok.
“Masjid adalah simbol spiritual; simbol kehidupan akherat. Oleh karena itu kami membangunnya dengan istimewa,” jelasnya.
Banyak versus Bersih
Pada hari ketika tidak ada gunanya harta dan keturunan. Kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih.” (asy-Syu’ara/26:88-89)
Mungkin di antara kita banyak yang tidak siap memiliki rumah gedhek seperti itu. Tetapi penting untuk diambil filosofi yang dipraktikkan kawan saya itu: bahwa “rumah akherat” lebih penting dari “rumah dunia”.
Apa maknanya? Bahwa dalam membangun keluarga, tujuan penting kita adalah akherat. Maka segala daya kehidupan dunia ini seharusnya diarahkan untuk kesuksesan kehidupan akherat. Dan seperti diperingatkan Allah dalam firman di atas, harta dan keturunan (pengikut) tidak lagi berguna saat kita menghadap-Nya, karena semuanya akan ditinggal. Yang mengiringi kita hanyalah amal kebajikan yang telah kita torehkan di dunia. Hal itu menuntut kita berhati-hati dalam membangun keluarga, terutama yang berkaitan dengan harta: bagaimana wujudnya, dari mana sumbernya, dan bagaimana cara mendapatkannya?
Berkaitan dengan harta ini penting diresapi beberapa hal. Pertama, dalam Islam diajarkan untuk mencari harta sebersih-bersihnya, dan bukan sebanyak-banyaknya.
Maka kisah rumah gedhek di atas menjadi penting untuk direnungi, bahwa kita bisa hidup (bahagia) meskipun dengan kondisi sangat sederhana. Lebih penting lagi karena kesederhanaan itu adalah jalan hidup keselamatan yang dipilih untuk tidak tergelincir pada cara-cara mencari harta yang syubhat, apalagi haram. Sementara Rasulullah saw mengingatkan, “Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka nerakalah yang lebih tepat menjadi tempatnya.” (riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dan dishahihkan oleh al-Albani).
Bukan hanya rugi di akherat, di dunia pun kesengsaraan sudah menghadang. Terlalu banyak contoh bagaimana orang-orang yang terobsesi memperkaya diri tetapi dengan cara mengabaikan etika dan moral. Maka, bukan kebahagiaan, kesejahteraan, atau kesuksesan yang digapai, melainkan hilangnya martabat diri dan keluarga. Banyaknya orang-orang yang semula terhormat dan akhirnya masuk bui akibat tindak kejahatan korupsi adalah contoh yang tak terbantahkan.
Tapi harap diingat bahwa korupsi bukan monopoli dilakukan para pejabat (tinggi). Kita semua: pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, salesman, sampai tukang parkir, berpotensi melakukan korupsi dalam beragam variasinya.
Kedua, jika dengan cara sebersih-bersihnya kita mampu menjadi kaya, maka dalam Islam diajarkan pula bahwa dalam kekayaan itu terdapat hak orang lain. Artinya Islam sangat mendorong umatnya untuk berbagi dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah (baca misalnya ancaman Allah bagi yang tidak menafkahkan hartanya di jalan Allah dalam at-Taubah/9:34-35).
Maka kisah rumah gedhek di atas sangat bermakna karena harta yang sebenarnya bisa dipakai untuk membangun rumah tembok justru dialokasikan untuk membantu sesama, seperti yang juga dicontohkan oleh pesantren tersebut. Inilah makna “rumah akherat” lebih penting dari “rumah dunia”.
Ketiga, dengan harta yang sebersih-bersihnya dan telah ditunaikan hak-haknya itu, tentu akan diliputi barakah Allah. Sebaliknya jika tidak mengindahkan dua hal itu, maka akan mendapat bencana seperti yang diingatkan Rasulullah SAW, “Tidaklah mereka berbuat curang dalam hal takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, biaya hidup mahal, dan perilaku jahat para penguasa. Dan tidaklah mereka enggan untuk membayar zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi dari mendapatkan air hujan dari langit, andailah bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.” (riwayat Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh al-Albani)
Sementara harta barakah akan mengantarkan kita pada keluarga barakah. Inilah yang dijanjikan Allah dalam surat al-A’raf/7:96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi…”
Mencari harta sebersih-bersihnya dan mengeluarkan hak orang lain dari harta kita adalah sebagian implikasi keimanan dan ketakwaan. Maka janji Allah bagi keluarga yang beriman dan bertakwa (sebagai lingkaran terkecil sebuah negara), akan diberikan barakah dari segala penjuru.
Keluarga yang barakah ini sangat penting perannya dalam membentuk komunitas masyarakat barakah yang lebih luas lingkupnya: desa, negara, dan dunia. Maka jangan remehkan peran keluarga barakah. Semoga keluarga kita mampu berproses menuju ke sana! [*]
|