“Nurul Hayat MANDIRI, Donasi Anda 100% untuk Layanan Sosial & Dakwah. Mohon Doa Agar NH Senantiasa Istiqomah Menjaga KEMANDIRIAN Ini"

Berita Nurul Hayat hari ini

Tahun 2010, “Sopir” Fokus Peningkatan Kualitas layanan

[19 Jan 2010 | No Comment | ]

Alhamdulillah, Tahun 2009/1430 Hijriyah telah kita lewati bersama. Tidak ada ungkapan yang paling layak kecuali bersyukur kepada Allah atas atas berlebihnya kemudahan, kekuatan, jalan keluar, dan pemberian tak disangka-sangka yang sudah Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita selama tahun 2009/ 1430 H lalu.
Atas nama manajemen Yayasan Nurul Hayat, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan para donatur. Mudah-mudahan Nurul Hayat benar-benar menjadi salah satu kendaraan untuk sampainya kita kepada ridha Allah.
Ibarat seorang “sopir”, kami hanya bertugas mengantarkan sang pemilik kendaraan yaitu para donatur, ke tempat tujuan yang dimaui, yaitu “mengabdi kepada Alloh dengan membangun ummat”. Maka terimakasih kami adalah terima kasih karena kami diberi “lahan bermain” berupa wadah pengabdian di Nurul Hayat.
Terbayang oleh saya, seandainya tak ada donatur Nurul Hayat, maka tidak akan ada aktivitas dakwah dan sosial di Nurul Hayat. Tidak akan bisa kami sholat berjamaah bersama anak-anak di Asrama Anak Sholeh. Tidak akan kami menikmati lembur sampai malam melayani Majlis selanjutnya;


Berita Nurul Hayat sebelumnya

Nurul Hayat konversi Biro Gresik menjadi Cabang

Nurul Hayat usahakan Pemberdayaan Matabaca dengan Program Transportasi Antar-Jemput

Rayakan Qurban, Klinik PRAKTIS Wonokromo Adakan Khitan Massal

Implementasikan CSR, Stikes Surabaya beri beasiswa 10 anak asuh NH

Tak Mampu Bayar Biaya Persalinan, Nurul Hayat bantu dhuafa yang keguguran

  • Hukum Memakai Cincin Kawin Bagi Laki-laki »
  • Wanita Membuat Tatoo Alis »
  • Penampilan Wanita Seperti Laki-laki »
  • Bagaimana Pembagian Harta Waris Ini? »
  • Zakat untuk orangtua dan saudara. Bolehkah? »
  • >>> Konsultasi Lainnya

    Hikmah Muallaf

    Lebih Mantap Saat Teringat AL BAQOROH 214

    Saya lahir dan dibesarkan dari keluarga Katolik yang taat. Dari kecil hingga remaja saya termasuk aktif di kegiatan gereja, seperti Altar dan organisasi remaja Katolik. Dalam hal sakramen pun saya sudah melampaui 4 sakramen dari 7 sakramen yang ada yakni pembaptisan, ekaristi, penguatan dan komuni. Ayah saya pun di Tulungagung termasuk orang berada dan bagi kalangan katolik cukup terpandang dan disegani.
    Dalam hal beragama, saya mulai bandel sejak kelas 3 SMA. Ketika pelajaran agama Katolik di hari Jum’at saya lebih suka mbolos, dan bergaul dengan teman-teman muslim. Di OSIS saya jadi ketua teater dan mengurusi bidang kerohanian katolik.
    Nah, pada suatu sore, ketika sedang melakukan pembinaan kerohanian pada adik-adik kelas, tiba-tiba saya tercengang dan terdiam ketika ada lamat-lamat kumandang azan dari musholla sekolah. Spontan kegiatan pembinaan itu saya hentikan hingga azan itu selesai. Selama adzan saya hanya berdiam, bengong, seolah ada sesuatu yang merasuk dalam hati saya. Saya menikmati betul azan itu. Entah apa yang terjadi, saya sendiri tak tahu. Pada pembinaan-pembinaan kerohanian berikutnya juga seperti itu, saya diam hingga adzan Ashar selesai.
    Begitu juga ketika kuliah di FKG Unair, bila ada mata kuliah agama Katolik, saya sering menghindar. Saya lebih memilih bergaul dengan teman-teman yang juga kebanyakan muslimah. Entah kenapa saya merasa pas dengan mereka dibanding teman-teman yang Katolik yang borju dan banyak bersenang-senang saja. Terus terang, saya tak suka itu. Dalam pandangan saya, teman-teman yang muslim kesehariannya lebih realistis.
    Saya pun mulai ikut pengajian mereka. Pernah ketika saya hadir di sana, seorang ustadz heran melihat penampilan saya seorang diri yang tak memakai kerudung, hanya pakai kaos. Saya bilang saya hanya ingin tahu Islam itu bagaimana. Dan alhamdulillah proses itu berjalan terus hingga akhirnya saya merasa mantap dan pas. Lalu saya melakukan ikrar syahadat di Masjid Al Falah Surabaya setahun kemudian.
    Banyak teman kuliah saya yang kaget bahkan hingga menitikkan air mata ketika tahu saya masuk masjid kampus. Mereka menyatakan terharu akan dunia baru saya itu. Dunia baru itu dalam niatan saya akan saya simpan dan sembunyi-sembunyi hingga lulus kuliah, orang tua tak akan saya beri tahu.
    Rupanya suatu hari ayah saya tiba-tiba datang ke tempat kos saya, lalu membaca buku harian saya yang diantara lembar-lembarnya berisi bahwa saya telah ikrar masuk Islam. Tahu itu ayah langsung menyusul saya saat saya sedang kuliah. Beliau marah besar. Sayapun disuruh pulang. Begitu di rumah di Tulungagung, saya dimarahi habis-habisan.
    Malam itu juga, kebetulan malam takbiran Idul Adha, saya diberi dua pilihan, kembali ke agama ayah agar tetap dianggap sebagai anak dan segera ke gereja minta pengampunan dosa atau berpisah dengan ayah. Saya tak bisa memilih keduanya, saya tak bisa mengakui Katolik namun saya juga tak mau berpisah dengan ayah. Begitulah, saya lalu diusir. Keempat adik-adik saya juga menangis dan menyesali keputusan ayah itu.
    Pagi harinya ketika banyak orang sedang sholat Ied, saya pulang sendirian ke Surabaya sambil menangis sepanjang jalan. Kebetulan hari kurban, dalam hati saya berpikir, bagaimana pengorbanan nabi Ibrahim dulu ketika harus mengorbankan anaknya nabi Ismail, kali ini mana mungkin saya harus mengorbankan salah satu, agama atau ayah saya?
    Sayapun sempat merenung, inikah dampak dari ke-Islaman saya? Kenapa saya pas masih Katolik dulu tak pernah susah, mau happy-happy bisa, mau aktif dan populer di sekolah bisa, ini itu bisa. Kenapa pas saya masuk Islam, bahkan diusir segala dari rumah?
    Namun itu sungguh renungan yang datangnya dari setan. Untung saya jadi ingat akan ayat dalam Al Qur’an yang pernah saya tahu dan kemudian membangkitkan semangat ke-Islaman saya. Ayat itu adalah ayat ke-214 Surah Al Baqoroh,  ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” Rupanya ini adalah cobaan yang diberikan Alloh untuk menuju surgaNya kelak. Hati saya pun kembali tenang.
    Diusir dari rumah berarti terancam juga biaya kuliah. Untuk bisa melanjutkan kuliah, saya lalu berniat bekerja apa adanya. Sempat menawarkan diri untuk membantu dosen praktek, juga sempat mau jadi loper koran. Namun itu tak jadi karena ibu saya yang rupanya merasa kasihan telepon, saya harus tetap kuliah dan urusan biaya ibu yang menanggung. Saya pun alhamdulillah bisa kuliah dengan tenang hingga lulus.
    Sehabis mengusir saya dari rumah, ayah tak pernah bertegur sapa selama kurang lebih 2 tahun. Namun saya tetap menghargai mereka sebagai orang tua, saya setiap minggu pulang kampung.
    Hingga suatu saya dilamar oleh seorang anggota ABRI. Alhamdulillah ayah pun mulai menerima kehadiran saya kembali. Prosesi pernikahan secara Islam di rumah saya agaknya juga berlangsung aneh. Rasanya ayah agak malu atau semacam apalah, sebab di rumah banyak salib, apalagi yang hadir banyak para pemuka agama katolik di sana. Kelak ayah sudah mulai melunak. Bahkan ketika saya sudah punya anak 3, saat puasa ayah pulalah yang membangunkan dan menyiapkan sahur untuk kami.
    Ujian ke-Islaman saya belum juga selesai. Anak saya yang terakhir baru-baru ini terkena  radang paru paru, sempat bertaruh nyawa, lalu saya berdoa dalam tahajud, Ya Alloh saya ikhlaskan semua yang ada pada diri saya namun tolong selamatkan anak saya dan ijinkan saya mendidiknya hingga dewasa. Alhamdulillah Alloh mengabulkan.
    Dengan hidayah Alloh pula, adik saya yang nomer 3 menyusul masuk Islam. Dan saya berharap suatu saat kelak, semuanya menyusul jejak saya. Saya mengimpikan semua saudara-saudara saya bisa sholat jamaah bersama. (*).

    Wanita

    Muslimah Di Tengah Kerusakan Moral

    Sebut saja Bunga (bukan nama aslinya) siswa kelas dua SLTP di sebuah kota besar ini hampir setiap pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ia ganti baju seragamnya dengan pakaian yang telah ia persiapkan sebelumnya lalu nongkrong di sebuah Mall bersama ketiga orang kawannya. Berjam-jam mereka habiskan waktu sambil minum jus di sebuah cafe sampai suatu saat handphone-nya berdering.
    “Gimana?” ucap Bunga sedikit merayu, “Boleh tapi harganya biasa ya? Oya, tempatnya di hotel sebelah mall aja, biar mudah.” kata laki-laki yang akan mengencaninya. Lalu Bunga-pun pergi mendahului teman-temannya sambil mengatakan, “Aku duluan, dapat order nih..!”.
    Lain halnya dengan Mawar (bukan nama sebenarnya) yang juga merupakan teman sekelas Bunga dan memiliki hobby yang sama. Ia tidak suka diberi uang setelah melakukan hubungan layaknya suami istri itu. Malahan tak jarang Mawar justru yang marah, “Kamu pikir saya PSK, saya kan hanya ingin menikmati saja.” Anggapnya, jika diberi uang tak ada bedanya dia dengan PSK. Jikalau mau Mawar hanya ingin dibelikan baju, sepatu, tas atau hanya sekedar minta traktir makan dan minum saja di sebuah restoran.
    Yang menyedihkan, tidak sedikit remaja kita yang seperti mereka. Paling tidak hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), yang juga dikutip Media Indonesia, menyatakan bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan intim dengan pacar mereka. Tak jarang dari mereka mengaku merasa ketagihan untuk melakukannya lagi. Tayangan televisi, media-media berbau porno semakin mendekatkan para remaja itu melakukan hubungan intim di luar nikah.
    Memprihatinkannya, setidaknya dalam setahun terakhir ini 2000 video porno di internet ”dibintangi” pelajar Indonesia. Dan yang juga lebih membuat kita sedih adalah adalah ternyata pelaku sekaligus korban ini bukan saja dari kota-kota besar tapi juga telah merambah kota-kota kecil. Misalnya Nganjuk, Jombang, Pacitan, Gowa, Minahasa dan Lampung.
    Hal ini mengakibatkan suburnya praktek aborsi. Pada 2008, Voice of Human Rights melansir praktek aborsi di Indonesia menembus angka 2,5 juta kasus; 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja di bawah usia 20 tahun. Lebih lanjut, berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia(YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia per Maret 2009 mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 21-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.
    Mengenaskan, karena mereka adalah generasi masa depan, bahkan sebagian dari mereka adalah calon pencetak generasi masa depan (calon ibu). Astaghfirullah…

    Penyebab Maraknya
    Setidaknya ada 3 hal yang membuat bencana moral ini merebak menjadi makin tak terkendali, yaitu:
    1. Lemahnya Kontrol Diri. Kontrol diri seorang muslim adalah ihsan (merasakan Pengawasan Alloh). Karenanya ia selalu berkata dan berbuat seiring dan sejalan dengan segala perintah dan larangan-Nya. Baginya di seluruh penjuru bumi tak ada daerah yang bebas dari hukum Alloh. Tak ada satu aspek kehidupan pun yang tak terikat dengan hukum syara’, tak ada tempat baginya untuk melanggar hukum Alloh. Sayangnya kontrol diri ini menjadi barang yang langka.
    2. Lemahnya kontrol masyarakat. Apa yang akan kita lakukan bila melihat pasangan yang sedang ‘asyik’ di taman bermain atau taman masjid? Seringkali kita hanya beristighfar dan bergegas meninggalkan mereka. Jarang diantara kita yang mendatangi, mengajak mereka bicara dan menegur mereka. Kontrol yang lemah ini seakan menjadi ‘restu’ atas perilaku bebas.
    3. Pengaturan yang jauh dari Islam. Pengaturan dalam masyarakat tentu akan mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat. Saat ini kehidupan yang individualis, hedonis (mendewakan kesenangan dunia) dan permissive (serba boleh) begitu lekatnya dengan kita. Jelas semua itu bertentangan dengan Islam.
    Nabi saw pernah bersabda, ”Perumpamaan orang yang menetapi hukum-hukum Alloh dan menjaganya adalah laksana suatu kaum yang menumpang kapal, sebagian orang menempati bagian atas dan sebagiannya lagi menempati bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah, jika hendak mengambil air, akan melewati orang-orang di bagian atas. Diantara mereka kemudian ada yang berkata,”Seandainya saja kami melubangi kapal ini di bagian kami, tentu kami tidak akan merepotkan orang-orang di bagian atas.”Jika orang-orang di bagian atas membiarkan tindakan itu, niscaya semua orang yang ada di kapal akan tenggelam. Sebaliknya, jika mereka berusaha mencegahnya, mereka semuanya akan selamat.” (THR al-Bukhari).

    Yang Harus Dilakukan
    Melindungi diri dan keluarga dari bencana moral ini sulit dilakukan tanpa upaya menghindarkan masyarakat sekitar kita dari kemaksiyatan. Bukankah keluarga kita merupakan bagian dari masyarakat. Tak dapat dibayangkan betapa hancurnya hati kita sebagai seorang ibu, kala anak yang kita lahirkan dan didik dengan hati-hati secara Islami menjadi rusak akibat pengaruh pergaulan dengan teman-temannya. Padahal melarang anak bergaul dengan teman-teman di sekitarnya juga tak baik bagi tumbuh kembangnya. Karenanya kepedulian terhadap masyarakat sekitar kita sangatlah penting. Alloh SWT Berfirman dalam QS. Al-Anfal : 25, yang artinya : ”Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya”
    Beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menumbuh-suburkan kepedulian, diantaranya :
    1. Ngaji rutin intensif. Dari kajian rutin, kita akan memperoleh banyak hal, baik tsaqafah, dorongan untuk amal dan teman-teman yang sholih. Semua itu akan memperkokoh kepribadian kita.
    2. Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif di tengah masyarakat, seperti takziyah, kerja-bakti, dsb.
    3. Menyelenggarakan kajian keislaman di lingkungan kita.
    Semuanya ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi ingatlah janji Alloh: Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad : 7) Dengan ber-amar makruf nahi munkar, insya Alloh putra-putri kita akan terjaga. Karena pertolongan-Nya.

    Sakinah

    Memimpin Keluarga Dengan Integritas

    Seorang bapak terbelalak. Ia kaget tak terkira melihat reaksi anaknya yang di luar dugaan. Padahal biasanya sang anak selalu menuruti permintaannya. Tapi kali ini lain. Ada apa gerangan?
    “Koq Bapak sendiri tidak berjamaah shalat?” begitulah pertanyaan kritis sang anak ketika mendapat perintah yang kesekian kali untuk shalat berjamaah di masjid.
    Memang, sang bapak selalu berusaha agar anak-anaknya menjadi orang baik, di antaranya terbiasa menjalankan shalat fardhu berjamaah di masjid. Dan biasaanya, tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut sang anak, baik berupa pertanyaan kritis, apalagi bantahan. Karena sang anak juga diajari sebuah nilai luhur untuk tidak pernah membantah orang tua dalam hal kebajikan.
    Tapi kali ini lain. Rupanya sang anak mulai kritis. Mungkin selama ini terpendam pertanyaan dalam hatinya, “Jika shalat berjamaah di masjid itu perbuatan baik, mengapa bapak sendiri tidak melakukannya?”

    ***
    Penggalan cerita di atas bisa diperkaya dengan kisah-kisah lain yang memiliki kesamaan masalah. Mungkin ada seorang bapak yang tidak berkenan jika anaknya merokok, tetapi ia sendiri merokok; seorang ibu yang meminta putrinya memakai jilbab, tetapi ia sendiri tidak memakainya; seorang bapak meminta anaknya jujur tapi ia sendiri korupsi, orang tua yang menyuruh anaknya belajar sementara mereka justru menonton sinetron televisi, dan seterusnya.
    Tidak ada yang salah dari perintah atau larangan orang tua di atas. Apalagi perintah atau larangan itu berlandaskan nilai-nilai luhur. Bukankah shalat berjamaah di masjid, tidak merokok, memakai jilbab, jujur, atau belajar adalah perbuatan-perbuatan mulia?! Lalu di mana masalahnya?
    Masalahnya adalah tidak adanya ajakan, apalagi penyelaman atau penghayatan. Yang ada hanyalah perintah dan larangan. Ajakan, penyelaman, atau penghayatan bermakna: bersama-sama mengerjakan suatu pekerjaan dengan penuh kesadaran. Sementara perintah atau larangan seringkali hanya berlaku pada objek yang diperintah atau yang dilarang.
    Lebih parah lagi jika perintah atau larangan itu bertolak belakang dengan keadaan pemberi perintah atau larangan. Seperti melarang anak merokok tapi dirinya sendiri merokok. Tapi inilah problem kita: minimnya ‘untuk tidak mengatakan nihilnya’ integritas pada diri orang tua.
    Maka, ketika kita melihat kenakalan remaja yang meluas, jangan mudah menyalahkan pihak ketiga yaitu sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Salah satu tempat terdekat untuk diintrospeksi adalah lembaga keluarga. Bagaimana orang tua menjalankan fungsinya?

    Integritas Syarat Kepemimpinan
    “Wahai orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak menjalankannya? Sungguh besar dosanya di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak melakukannya.” (ash-Shaff/61:2-3)
    Ayat di atas adalah peringatan keras bagi mereka yang tidak memiliki integritas yaitu satunya pemikiran, hati, dan perbuatan. Dalam bahasa lain, integritas dimaknai sebagai kesetiaan pada kebenaran.
    Integritas ini menjadi syarat penting seorang pemimpin, termasuk pemimpin keluarga. Sebab bagaimana seorang pemimpin akan berpengaruh dan menggerakkan jika ia sendiri adalah sebuah problem nilai, yaitu seseorang yang tak berwibawa karena integritasnya dipertanyakan!
    Sedangkan memimpin keluarga ke arah kebenaran termasuk perintah penting dalam Islam, seperti yang tersurat dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (at-Tahrim/66:6).
    Maka memimpin keluarga, harus dimulai dari anfusakum, diri sendiri. Orang tua harus menjadi pilar pertama dalam membangun kesetiaan pada kebenaran. Orang tua adalah guru yang sebenarnya, dalam pengertian ia harus digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani). Atau dalam khasanah Jawa lainnya diajarkan ing ngarsa sung tulada, bahwa yang di depan (pemimpin atau orang tua) harus menjadi teladan. Nah, untuk bisa digugu dan ditiru atau diteladani, maka orang tua harus selalu hidup dalam nilai-nilai kebenaran.
    Dengan memberi teladan, mungkin orang tua tak perlu banyak bicara. Sebab satu teladan perbuatan lebih efektif dibanding seribu perintah. Karena itu ada ungkapan Arab lisanul hali afshahu min lisanil maqali (bahasa perbuatan lebih “berbicara” daripada bahasa lisan).

    Perilaku Jiwa
    Pertanyaannya, apakah integritas hanya berkaitan dengan keteladanan fisikal, dalam pengertian sesuatu yang bisa dilihat? Misalnya, karena seorang bapak tidak suka anaknya merokok maka tidak saja dia melarangnya, tetapi ia juga memberi contoh tidak merokok. Hanya saja hal itu dilakukan ketika berada di rumah atau di depan anak-anaknya. Di ruang-ruang tersembunyi, ia ternyata tetap merokok! Atas pertanyaan ini tentu jawabannya si bapak ini tidak memiliki integritas. Karena integritas adalah pribadi yang menyeluruh dan menyatu. Ia tak tersekat-sekat oleh tempat dan waktu. Di mana pun, tanpa ada anak atau di depan anak, ia akan berbuat sama baiknya.
    Sebab, jangan lupa, antara orang tua dengan anak terjalin hubungan hereditas (orang menyebut hubungan darah) yang diikat kuat oleh perjanjian agung pernikahan. Sehingga hubungan itu juga menciptakan hubungan spiritual-psikologis orang tua-anak.
    Jadi, apa yang dilakukan orang tua, secara langsung atau tidak langsung, akan berperan membentuk perilaku anak. Maka dalam ungkapan Jawa disebutkan, kacang ora ninggal lanjarane, yang berarti perangai anak tidak jauh beda dengan orangtuanya. Baik-buruknya perilaku seseorang bisa dilihat dari perilaku anak-anaknya.
    Termasuk dalam konteks ini adalah perilaku-perilaku jiwa. Integritas tidak hanya menyangkut fisik atau penampakan luar, melainkan berkaitan dengan kondisi jiwa orang tua. Tindak tanduk orang tua yang menyangkut pemikiran, sikap, dan respon batin sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Doa orang tua misalnya sangat berpengaruh kepada anak-anaknya.
    Oleh karena itu jika para orang tua tidak berharap memiliki anak yang berkepribadian kikir, dengki, pemarah, dan sikap-sikap jiwa buruk lainnya, maka jadilah orang tua yang pemurah, pemaaf, sabar, dan sikap-sikap jiwa terpuji lainnya.
    Maka kembali pada cerita pada paragraf paling atas, sudah semestinya orang tua yang tidak memiliki integritas tidak akan efektif dalam memimpin keluarga. lalu bagaimana dengan kita? [*]