|
Kisah penyiksaan fisik dan mental demi mempertahankan aqidah yang berujung dengan meninggalnya Mutmainah, sepupu perempuan saya, kadang masih melintas di bayangan. Sedih hati ini jika mengingatnya, namun saya hanya mampu berkhusnudzon bahwa dibalik tragedi itu ada hikmah di belakangnya, yaitu beberapa keluarga kami di Kaiwani, Distrik Ossu, Viqueque Timorleste akhirnya memeluk Islam.
22 tahun sebelum kejadian itu, paman saya pergi mengikuti TNI ke Makassar. Sekembalinya dari sana ia telah menganut Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Miol. Keislaman paman saya ini lalu diikuti paman saya yang lainnya yaitu Umar Azis. Saya yang saat itu masih menginjak kelas 3 SD Katholik seringkali terheran-heran melihat ritual yang dilakukan Umar Azis yang di kemudian hari saya tahu itu adalah gerakan sholat.
selanjutnya;
|
|
Kita tentu pernah mendengar kisah Malin Kundang. Seorang anak yang durhaka terhadap ibunya dan hidupnya berakhir menjadi batu, karena lisan ibunya. Kisah ini bagaimanapun memang hanya sebuah legenda yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, namun satu hal yang perlu dicermati adalah luar biasanya pengaruh lisan ibu terhadap anak.
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita jumpai seorang ibu yang jengkel atas kenakalan dan kesalahan anak-anaknya hingga ia mencela dan mencaci mereka. Kata-kata yang kotor (tidak pantas) pun keluar dari bibirnya. Seringnya hal ini terjadi, tak pelak menjadi kebiasaan. Sang ibu-pun tidak lagi merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut.
T selanjutnya;
|
|
Dua orang ibu-ibu sedang bergunjing ria. Topik yang dirasankan hari itu adalah tetangga sebelah yang punya banyak anak. “gitu mbok ya tahu diri, kan kasihan anaknya”, kata yang satu, sinis.
“lha iya, banyak anak dalam kondisi susah begini malah bikin repot”, kata satunya.
Dari ngomongnya, jelas dua ibu-ibu ini harus belajar banyak tentang akhlak sesama muslim. Bukan hanya karena seenaknya “makan daging saudaranya” sebab bergunjing, tapi juga tanpa sadar merendahkan pesan-pesan Allah dan Rosul-Nya dalam persoalan keturunan.
Setidaknya begitulah yang muncul dimasyarakat kita hari ini. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang beranggapan demikian. Sebab yang harus kita takuti adalah, tanpa sadar kita merendahkan orang yang sedang menjalankan syariat Allah dan sunnah Rasul-Nya.
selanjutnya;
|
|