Home » Pendidikan

Pendidikan

1. Asrama Anak Sholeh (ASAH)

Asrama Anak Sholeh (ASAH) adalah program pemberdayaan anak-anak yatim dan fakir miskin dengan sistem Asrama (total education). Konsep asrama pada program ASAH ini memungkinkan anak-anak yatim dan fakir miskin yang menjadi santri ASAH memperoleh pembinaan kecerdasan terpadu (multiple intelegence). Yaitu dalam segi agama (SQ), pendidikan formal (IQ), dan sikap (EQ).

Setiap individu santri mendapatkan kontrol pengembangan diri yang berkesinambungan dari para pembina. Sehingga minat dan bakat Santri memperoleh respon yang tepat berupa fasilitas pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi mereka di masa yang akan datang.

Program Asrama Anak Sholeh adalah program pemberdayaan (empowering) nyata untuk anak-anak kurang mampu. Mereka akan terus mendapatkan pembinaan sejak usia dini (TK/SD) hingga menempuh pendidikan usia SMU dan akhirnya mampu bersaing dalam dunia kerja dengan skill yang dikuasainya.

2. Asrama Anak Sholeh Penghafal Al-Quran (ASAHPENA)

Asrama Anak Sholeh Pengafal Al-Qur’an adalah program pembibitan anak-anak yatim dan fakir miskin untuk menjadi Penghafal Al-Qur’an. Anak-anak yatim dan fakir miskin yang dibina dalam program ASAHPENA adalah mereka yang benar-benar memiliki cita-cita mulia menjadi penghafal Al-Qur’an.

Selain aktivitas menghafal Al-Qur’an yang tentu saja tidak mudah, mereka juga mendapatkan pendidikan formal serta program-program pengembangan diri yang lain seperti kursus bahasa inggris dan komputer. Hal ini dilakukan agar kelak mereka juga mampu menjadi pribadi yang mandiri.

Target jangka pendek dari program ASAHPENA adalah, dalam empat tahun para santri sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz. Sedangkan target jangka panjang, melalui pembinan terpadu (SQ, EQ, dan IQ) diharapkan lulusan Asrama Anak Sholeh Penghafal Al-Qur’an menjadi pribadi agamis dan professional dalam dunia kerja nantinya.

Kelak, santri ASAHPENA bukan hanya memiliki kemuliaan sebagai penghafal Al-Qur’an, tapi mereka juga harus memiliki kemuliaan karena kemandirian hidup mereka.

3. Sahabat Yatim Cemerlang (SAYANG)

Core program dari program SAYANG adalah pemberian beasiswa pendidikan kepada anak-anak yatim. Beasiswa diberikan setiap semester. Hingga September 2008, tercatat 1.450 anak yatim yang mendapatkan beasiswa pendidikan. Selain program pemberian beasiswa, diberikan pula program bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak yatim.

Database Anak Asuh yang terintegrasi, akurat dan lengkap dalam sistem komputer, memberi kesempatan masyarakat untuk menjadi orang tua Asuh dengan mengetahui biodata lengkap mereka. Setiap semester NH akan memberikan copy raport mereka kepada orang tua Asuh. Dalam kesempatan tertentu, NH juga dapat memfasilitasi pertemuan orang tua asuh dengan anak asuhnya.

4. Insentif Bulanan Guru Qur’an (IBUQU)

Walaupun jasa para pengajar Al-Qur’an begitu besar, namun kadang tak diimbangi dengan penghargaan dari masyarakat yang sesuai untuk mereka. Sebagian besar para guru Al-Qur’an di TPA dan TPQ, menyandang status ekonomi rendah. Penghasilan yang mereka peroleh dari mengajar ngaji sangat tidak cukup untuk kebutuhan hidupnya yaitu antara Rp 50.000 hingga tiga ratus ribu per bulan.

Padahal, pekerjaan mereka begitu mulia. Lebih mulia dari guru biasa. Membuat anak-anak bisa membaca Al-Qur’an, mengerti tata cara sholat, hafal doa, dan tahu ilmu agama adalah tugas yang amat mulai dan tak mudah bagi mereka. Para orang tua sangat terbantu akan kehadiran mereka dalam pendidikan agama putra-putrinya.

Bila kita mengaca pada apa yang dilakukan pemimpin-pemimpin Islam terdahulu, maka terlihat jelas bahwa pengajar Al-Qur’an adalah pribadi-pribadi yang begitu mendapatkan perhatian. Di Jaman khalifah Ali bin Abi Thalib, Segala kebutuhan hidup para pengajar Al-Qur’an mendapatkan jaminan dari baitul maal (kas Negara). Sehingga dengan pemenuhan ekonomi itu, mereka bisa fokus dan total dalam mendidik anak-anak muslim.

Realitas yang terjadi saat ini, para pengajar Al-Qur’an sedikit demi sedikit “menghilang”. Kebutuhan ekonomi yang mau tidak mau harus mereka penuhi, membuat mereka mencari pekerjaan formal yang lebih menjanjikan. Akhirnya walaupun dengan berat hati, aktifitas mengajar mengaji yang rata-rata pada sore hari terpaksa mereka tinggalkan.

Maka agar pengajar Qur’an tak semakin hari semakin menipis, mereka harus mendapatkan perhatian dan apresiasi yang layak atas jasa besarnya. Bersama Nurul Hayat, mari kita berbagi kepedulian pada kesejahteraan para pengajar Al-Qur’an.