Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat merupakan sistem ekonomi tertua di muka bumi. Zakat yang dikeluarkan oleh muzaki (pemberi zakat), sejatinya bukanlah berhenti pada soal memenuhi kewajiban. Tentu ada fadhilah di setiap syariat yang ditetapkan dalam Islam. Zakat ini bisa berdampak luas pada perekonomian umat. Utamanya untuk para mustahik.

Zakat meniadakan keakuan seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dari zakat, kita belajar bahwa dalam harta seseorang ada hak orang lain, ada hak mustahik yang harus dikeluarkan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibanding rezeki yang diterima pemberi zakat tersebut. Namun bukan lagi menjadi hal sepele jika telah sampai ke mustahik (penerima zakat).

Jika dapat dikelola dengan baik, zakat bisa memiliki potensi yang tidak biasa. Zakat yang diberikan muzaki secara individu dan langsung kepada mustahik mungkin saja bersifat jangka pendek, hanya dalam bentuk santunan. Namun lain cerita jika zakat dikumpulkan dan disalurkan melalui sebuah lembaga amil yang memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih baik.

Lembaga ini akan merealisasikan  dalam bentuk program-program yang bersifat jangka panjang baik bidang sosial, ekonomi, kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, dengan harapan program tersebut memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

Zakat yang disalurkan melalui lembaga akan terhimpun lebih banyak sehingga berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar. Dari segi ekonomi, zakat yang tersalur menjadi lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini bertujuan agar umat Islam terbebas dari kemiskinan sehingga bebas pula dari kekufuran dan mampu menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik.

Cara memberdayakan umat melalui dana zakat antara lain dengan memberikan bekal kepada mustahik berupa pemberian keterampilan atau ilmu usaha (wirausaha). Bekal keterampilan ini bisa diberikan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan.

Di sisi lain jika mustahik telah memiliki kemampuan wirausaha namun terbatas pada modal, maka pemberdayaan bisa diberikan melalui akses modal untuk bekal usaha. Pemberian modal ini akan disertai pendampingan sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan juga diberikan dari sisi marketing. Membuka jalan agar produk bisa terjual di pasaran.

Pun yang tidak kalah penting adalah sektor pendidikan. Terutama untuk anak yatim dan dhuafa. Dari sini, mustahik yang belum sampai pada usia kerja bisa diberdayakan melalui pemberian beasiswa pendidikan yang cukup. Atau dalam bentuk lain demi terpenuhinya pendidikan bagi yatim dhuafa. Program ini bertujuan menyiapkan anak yatim menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki bekal untuk memasuki usia produktif. Sehingga bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Melalui upaya-upaya optimalisasi dana zakat yang ada, umat akan diberdayakan secara jangka panjang terutama dari sisi ekonomi. Dari yang tadinya kurang menjadi cukup, dari yang tadinya penerima menjadi pemberi. Sehingga zakat dapat memperkecil jarak antara pemberi dan penerima.

Yuk berzakat! Karena zakat kita memberdayakan umat.

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Masih teringat jelas, bagaimana dahsyatnya gempa yang terjadi di Kabupaten Malang pada 10 April 2021 silam. Gempa dengan kekuatan 6,1 SR itu menimbulkan korban luka-luka bahkan korban jiwa. Juga mengakibatkan rusaknya fasiltas umum dan bangunan rumah warga.

Laznas Nurul Hayat, hadir menemani warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini. Selain memberikan berbagai macam bantuan pada fase tanggap darurat, Laznas Nurul Hayat juga terus mendampingi dalam masa recovery. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan huntara (hunian sementara) yang layak, yang disebut Griya Cahaya Hidup (GCH).

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Seperti yang kita ketahui bersama, warga yang rumahnya terdampak gempa Malang Selatan, terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal. Tenda-tenda ini tentu kurang aman dan nyaman bagi mereka. Ketika siang hari, di dalam tenda tentu akan terasa panas. Sementara ketika malam hari, udara dingin akan terasa lebih menusuk. Belum lagi jika hujan turun, tenda yang bocor, menyebabkan air hujan langsung masuk dan membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi tidak tenang. Dari sinilah Laznas Nurul Hayat berniat untuk membantu menyediakan hunian yang layak untuk warga terdampak. Dan hunian-hunian tersebut, kini telah diserah-terimakan dan telah ditempati oleh warga.

 

Alhamdulillah, pada 28 Agustus 2021 lalu, Laznas Nurul Hayat melaksanakan peresmian serah terima Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Hadir dalam acara peresmian ini, Direktur Eksekutif Laznas Nurul Hayat Bapak Heri Latief,  Kepala Cabang Nurul Hayat Malang Bapak Indra Hermawan, Kepala Dusun, Kepala Desa, Babinsa, Babinkamtibmas, dan warga penerima bantuan. Pada kesempatan tersebut, sebanyak 26 unit Griya Cahaya Hidup diserah-terimakan kepada warga  Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

 

Pada kesempatan serah terima ini, warga yang mendapatkan bantuan Griya Cahaya Hidup mendapatkan satu foto mereka yang tengah berpose di depan rumah, sebagai bentuk simbolis serah terima Griya Cahaya Hidup. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut, Laznas Nurul Hayat juga menyerahkan bantuan berupa alat-alat pertukangan. “Alhamdulillah, pada acara peresmian Griya Cahaya Hidup beberapa waktu lalu, kami juga menyalurkan bantuan berupa alat pertukangan untuk pengerjaan galvalum seperti bor, alat potong dan sebagainya. Pembangunan huntara kali ini tidak hanya untuk memberikan bantuan hunian layak bagi warga terdampak gempa. Tapi juga menjadi balai latihan kerja bagi warga. Ya, di sini warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini, mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana proses pengerjaan galvalum. Jadi, selain mendapat bantuan Griya Cahaya Hidup mereka juga mendapatkan tambahan skill yang akan bermanfaat untuk mereka ke depannya. Setelah ini, warga akan membuat kelompok kerja di bidang pengerjaan galvalum. Tentunya ini menjadi nilai tambah manfaat tersendiri bagi warga,” tutur Indra Hermawan, Kepala Cabang Nurul Hayat Malang.

Alhamdulillah, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah para warga yang menjadi penerima bantuan Griya Cahaya Hidup. Bahkan saking bahagianya karena mendapat bantuan tempat tinggal, dengan inisiatif sendiri, mereka menggambar logo Laznas Nurul Hayat di tembok-tembok Griya Cahaya Hidup yang mereka tinggali. “Ya, warga bahagia dan menyambut positif bantuan ini. Semoga bantuan ini bisa membuat warga menjadi lebih tenang di rumah. Sehingga kepala keluarga bisa fokus untuk mencari nafkah tanpa kebingungan memikirkan tempat tinggal untuk keluarga,” tutur Kholaf Hibatulloh, Direktur Program Laznas Nurul Hayat yang juga turut hadir dalam acara tersebut.

Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur dan semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam pembangunan Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Semoga apa yang telah kita upayakan bersama, mendapat sebaik-baiknya balasan dari Allah ﷻ. Tak lupa juga mari kita doakan, agar warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini dapat segera bangkit dan kembali seperti sedia kala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Bedah Rumah Mbah Sarpiyah

Bedah Rumah Mbah Sarpiyah

Mbah Sarpiyah, usia 70-an tahun. Tinggal di Desa Taji, Kec. Jabung, Kab. Malang. Desa yang terletak di lereng Gunung Bromo. Dengan ketinggian 1200 Mdpl.  Mbah Sarpiyah tinggal sendirian di rumah tidak permanen. Yang pembangunannya hasil dari urunan warga. Tanahnya numpang di tetangga. Tepat di depannya ada kandang sapi.  Pekerjaannya buruh di ladang. Karena faktor usia, jarang ada yangg membutuhkan tenaganya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Mbah Sarpiyah dibantu oleh warga sekitar. Sempat ditawari masuk Griya Lansia (tempat para lansia terlantar). Tapi beliau belum berkenan. Beliau memiliki 2 anak, tapi kondisi ekonominya juga sama.  Nurul Hayat Malang bekerjasama dengan NH Construction yang dikomandoi oleh Kapten Budi. Siap untuk membantu bedah rumah Mbah Sarpiyah.

Tepat pada tanggal 15 September 2021, rumah Mbah Sarpiyah dibongkar dan dibangunkan rumah layak huni. Dengan proses pengerjaan selama 4 hari 3 malam, alhamdulillah rumah Mbah Sarpiyah telah terselesaikan.  Saat ini Mbah Sarpiyah sudah menempati rumah barunya yang sangat layak. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan dengan rumah baru ini menjadikan Mbah Sarpiyah lebih rajin ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aaamiin ya Rabbal Alamiin…

Tak lupa kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah mendukung gerak kemanfaatan Laznas Nurul Hayat. Semoga apa yang sahabat sejuk berikan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, mendapat balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Kekeringan

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Kekeringan

Awal bulan, blusukan ke pelosok desa untuk menyambangi rumah seorang guru ngaji di wilayah barat Bumi Mliwis Putih. Guru ngaji ini adalah sosok yang luar biasa. Beliau merelakan rumah sederhananya sebagai tempat mengaji Al-Quran bagi 80-100-an santri.  Ruang tamunya disulap jadi kelas. Perabotan seperti meja dan kursi tamu, diganti meja dampar kayu triplek, untuk ngaji santri. Dinding rumah yang lumrah diisi foto keluarga atau lukisan, diganti papan belajar, bertuliskan pelajaran-pelajaran harian. Para santri yang merupakan tetangga dan bahkan dari kampung desa sebelah, ngaji secara sukarela, tanpa dipungut biaya.

Pak guru mengaku apa yang ia tekuni itu, bukanlah sesuatu yang ia rencanakan sejak awal. Beliau mengaku “terdampar” di desa itu. Setelah menikah beliau ikut sang istri hidup di sebuah desa yang terbilang pelosok. Yang tempat mengajinya masih sedikit. Keadaan tersebut membuatnya merasa tertantang. Jiwa santrinya berkobar. Ingin menyalakan pelita ilmu untuk warga desanya. Mengaji, mengajar bahkan juga keliling ke beberapa majelis di luar desanya.

Dalam menjalankan aktivitasnya tersebut, Pak Guru, tak jarang harus menghadapi beberapa tantangan. Di samping tantangan alam, yaitu jalan bebatuan khas pedesaan, sulitnya sumber air bersih juga menjadi tantangan terberat. Bertahun-tahun dipikirkan cara untuk mengatasi persoalan ini. Namun belum ditemukan solusi bagaimana memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga, sanitasi masjid dan musholla, karena hampir satu lokasi desa krisis air terutama di musim kemarau ini.

Kami ditunjukkan fakta, mulai di pekarangan rumahnya, dan rata-rata di pemukiman warga, paralon putih semrawut menuju sumber air di luar desa. Benar saja, kami telusuri jalanan, lewat jembatan geladak kayu, tadinya sempat berpikir di situ pasti sumber airnya. Dekat sungai. Namun ternyata salah.

Yang kami lihat justru paralon putih itu semakin semrawut bergelantungan di sisi kiri dan kanan jembatan. Terus saja kami ikuti arah paralon putih itu. Kemudian mulai terlihat sumur-sumur kecil yang menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar. Sumur-sumur itu, kalau dihitung jumlahnya puluhan. “Kenapa tidak jadi satu titik saja?” Tanya kami penasaran. Jawabnya, tidak bisa karena sumbernya kecil sekali. Hanya cukup untuk kebutuhan satu keluarga. Jika satu kampung membuat sumur sendiri-sendiri, bisa dibayangkan berapa banyak jumlahnya. Bisa semakin semrawut jalan desa ini dipenuhi paralon-paralon putih.

Kebetulan, ketika kami  melanjutkan blusukan, kami bertemu warga yang sedang menyiapkan peresmian jembatan desa dalam momentum peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76. Ketika kami ngobrol-ngobrol soal kekeringan desa, ia nyeletuk, “Zaman saya masuk pertama kali di desa ini, malam pengantin baru, bukannya bersama istri tapi malah berada di belik kali. Terbayang bukan, betapa repotnya pengantin baru di desa ini. Hehe…”

Demikianlah cerita dan fakta dari guru ngaji yang mengajak blusukan siang itu. Beliau ingin sekali punya sumur bor  yang bisa mencukupi kebutuhan air di desanya. Apalagi Pak Guru juga punya kepentingan untuk kebutuhan santrinya. Terlebih jika jumlah santrinya semakin banyak. Dan kini sudah ada santri yang mulai mukim di rumahnya. Yaitu anak yatim mondok dari kampung sebelah. Untuk tiga santri mukimnya itu, Pak Guru merelakan teras rumahnya dijadikan kamar.

Mari bantu Pak Guru dan warga desanya mendapatkan sumber air bersih dengan membuat sumur bor. Agar warga desanya dapat memenuhi kebutuhan air bersih. Juga agar para santri di rumah Pak Guru bisa belajar dan beribadah dengan nyaman.

Doa Zakat Mal, Niat dan Ketentuannya

Doa Zakat Mal, Niat dan Ketentuannya

Doa Zakat Mal – Zakat Mal berbeda dengan zakat fitrah. Kata mal berasal dari bahasa arab yang berarti harta, dalam bentuk jamaknya al-amwal الامول.

Secara istilah harta adalah ma malaktahu min kulli syai atau dalam bahasa Indonesia segala sesuatu yang engaku miliki.

Zakat mal atau zakat harta merupakan salah satu jenis zakat yang harus kita lakukan jika harta-harta yang kita miliki sudah mencapai nisabnya. Zakat mal sendiri bertujuan untuk membersihkan atau mensuxikan harta-harta yang kita miliki, karena disetiap harta kita sebenarnya ada hak orang lain yang harus kita berikan. Untuk jumlah zakat mal yang harus kita keluarkan adalah sebesar 2,5% dengan catatan harta yang kita miliki sudah mencapai satu nisab.

Harta juga bisa berupa hasil intelektual, seperti harta profesi yang kita dapat dari pekerjaan yang kita lakukan. Ingatlah bahwa semua harta yang kita miliki adalah milik Allah karena itu merupakan rezeki atau titipan dari-Nya.

Sebagian dari harta yang kita miliki ada milik orang lain, untuk itu kita diwajibkan untuk berzakat. Allah sudah menyerukan kita untuk menyisihkan atau menafkahkan sebagian harta kita dijalan Allah.

Zakat mal

Syarat Ketentuan Zakat Mal

Sebelum menunaikan zakat mal diawali dengan niat. Jika zakatnya berupa emas dan perak maka emas dan perak tersebut asli tidak ada campuran dengan zat lain, lalu diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat, baik berupa emas yang sudah dilebuh maupun dalam bentuk batangan. Orang yang berzakat mal harus memperhatikan syarat-syarat berikut ini :

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Memiliki harta berupa emas, perak, dan uang kertas
  4. Sudah mencapai jumlah yang ditentukan (nisab)
  5. Disimpan selama satu tahun (haul)

Doa Zakat Mal

نويت ان احرج زكاة مالي فرضا لله تعلي

“Nawaitu an ukhriza zakata maali fardhan lillahi ta’aala.”

Aku niat mengeluarkan zakat hartaku fardhu karena Allah Ta’ala.

Doa Menerima ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah)

اجرك الله فيما اعطيت وبارك فيم ابقيت وجعله لك طهورا

“Ajrakallahumma fiimaa a’thyta wa baaroka fiimaa abqayta wa ja’alahu thahuuran.”

Semoga Allah memberikan ganjaran (pahala) terhadap engkau (atas apa yang telah diberikan). Dan semoga Allah memberikan keberkahan terhadap harta yang engkau sisakan, dan menjadikannya sebagai pensuci bagi engkau.

Cara Menghitung Zakat Mal

Berikut kami berikan contohnya cara menghitung zakat mal berdasarkan studi kasus:

Contoh: semisal harga emas murni sekarang 1 gram nya Rp 960.000. berarti 85 x 600.000 = 81,6 juta, jadi nishab zakat mal adalah 81,6 juta.

Maka apabila seseorang memiliki kekayaan senilai 100 juta wajib dizakatkan hartanya.

Perhitungan atau cara membeyar zakatnya adalah 81,6 juta diambil 10 persennya kemudian dibagi 4.

Maka hasilnya dari perhitungan tersebut yang dikeluarkan zakatnya. Misal, 10% dari 100 juta adalah Rp 10.000.000 lalu dibagi 4, yakni Rp 2.500.000.

Perhitungan diatas digunakan untuk menzakatkan harta yang berupa emas, uang, kendaraan, maupun harta lainnya di luar ternak dan hasil kebun.

Ternak dan hasil kebun memiliki hitungan tersendiri sesuai dengan banyaknya hasil yang dimiliki.

Cara Bayar Zakat Mal

Cara bayar zakat mal sekarang makin mudah bisa dari rumah. Cukup sedian HP atau laptop kemudian klik saja zakatkita.org. Anda bisa langsung bayar zakat via online tanpa ribet.

klik zakatkitaorg

 

Fikih Zakat Lengkap

FIKIH ZAKAT

Fikih Zakat Lengkap (Free E-Book)

Fikih Zakat – Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Sedangkan dalam istilah fiqih, zakat memiliki arti sejumlah harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqin). Zakat dijadikan nama untuk harta yang diserahkan tersebut, sebab harta yang dizakati akan berkembang dan bertambah. Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni berkata :وَسُمِّيَتْ بِذاَلِكَ ِلأَنَّ المْاَلَ يَنْمُوْ بِبَرَكَةِ إِخْرَاجِهاَ وَدُعَاءِ الآخِذِ“Disebut zakat karena harta yang dizakati akan berkembang sebab berkah membayar zakat dan doa orang yang menerima.” (Syekh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Surabaya, al-Haramain, cetakan kedua, 2002, halaman 104)

Sahabat sejuk Nurul Hayat, kami akan share panduan lengkap tentang Fikih Zakat beserta e-booknya di bawah ini. Klik Setiap Bab dan Sub Bab nya untuk melihat detail pembahasannya.

Pengertian Zakat

Pengertian Zakat

Pada dasarnya jenis zakat dibagi menjadi dua yaitu, Zakat Nafs (Jiwa) disebut juga Zakat Fitrah dan Zakat Maal (Harta). Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang idul fitri pada bulan suci Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan seperti beras, gandum, dan sejenisnya. Apabila kita mau menggantinya dengan uang, kita harus membayar sesuai dengan harga dari makanan pokok tersebut dikalikan besaran zakatnya yaitu 3,5 liter atau 2,5 kilogram.

Sementara zakat maal (harta) adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan Nisab dan haulnya. Waktu pengeluaran zakat ini tidak dibatasi, jadi bisa dikeluarkan sepanjang tahun ketika syarat zakat terpenuhi. Zakat jenis ini akhirnya melahirkan banyak jenis zakat diantaranya : zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, hasil temuan, obligasi, tabungan, emas dan perak dan lainnya. Masing-masing jenis zakat memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Apabila seseorang muslim merdeka, berakal, balig, memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab (syarat jumlah minimum harta yang dapat dikategorikan sebagai harta wajib zakat) dan haulnya (masa kepemilikian harta sudah berlalu selama dua belas bulan Qamariah/ tahun Hijriyah) maka seseorang wajib mengeluarkan zakat harta. Orang yang mengeluarkan atau membayarkan zakat disebut Muzzaki.

NH Yogyakarta Bantu Biaya Pendidikan Badriyah Diana

NH Yogyakarta Bantu Biaya Pendidikan Badriyah Diana

Jum’at 24 September 2021, tim Laznas Nurul Hayat Yogyakarta melakukan perjalanan menuju bagian timur Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya Kepanewon, Kecamatan Semin. Tujuannya adalah SMK Muhammadiyah Semin.  Di sana tim Laznas Nurul Hayat Yogyakarta menyalurkan amanah Sahabat Sejuk untuk membantu salah satu siswi yang mengalami kesulitan dalam pembayaran biaya pendidikan.

Siswi tersebut bernama Badriyah Diana, kelas X Program Keahlian Bisnis Daring dan Pemasaran. Karena kondisi ekonomi yang sulit, ditambah dampak pandemi yang belum usai hingga hari ini, orang tua Mbak Badriyah kesulitan untuk melunasi kewajiban awal pendidikan. Pihak sekolah sebetulnya telah memberi keringanan berupa pembebasan biaya pendidikan selama beberapa bulan, namun tetap ada kewajiban biaya yang harus ditunaikan peserta didik.

Salah seorang kerabat Mbak Badriyah melihat kesulitan tersebut. Beliau lantas mencarikan bantuan agar dapat meringankan biaya pendidikan yang tertunggak. Dalam pencarian tersebut, kerabat Mbak Badriyah tersebut sampai di kantor Laznas Nurul Hayat Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah melalui proses pendaftaran, pada Jum’at 24 September 2021 tim Laznas Nurul Hayat Yogyakarta langsung menuju SMK Muhammadiyah Semin untuk menyerahkan bantuan pelunasan biaya pendidikan ke sekolah.

Bantuan ini, diterima oleh Kepala Sekolah dan beberapa jajaran guru. Alhamdulillah, amanah Sahabat Sejuk untuk membantu biaya pendidikan Mbak Badriyah telah tersampaikan. Terima kasih Sahabat Sejuk atas bantuan yang diamanahkan kepada kami, semoga menjadi amal jariyah yang berbuah pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan untuk Mbak Badriyah semoga proses pendidikannya berjalan lancar dan ilmunya menjadi manfaat. Aamiin ya Rabbal Alamiin…

Hukum Barang Temuan (Luqathah) Dalam Islam

Hukum Barang Temuan (Luqathah) Dalam Islam

Hukum Barang Temuan atau Al-Luqathah adalah semua barang yang terjaga, yang tersia-sia, dan tidak diketahui pemiliknya. Umumnya berlaku untuk barang yang bukan hewan. Adapun hewan disebut ad-dhallah (tersesat).

Bagi yang kehilangan barang maupun yang penemu, keduanya mempunyai kewajiban yang sama untuk mengetahui bagaimana seharusnya islam menangani masalah ini manusia beranggapan bahwa barang yang sudah jatuh itu milik mereka.mereka menganggap bahwa barang tersebut adalah rezeki mereka. Mereka cenderung tidak peduli dengan hal semacam ini bahkan hampir melupakan bagaimana dan seperti apa cara untuk menangani barang temuan.

Mengutip dari UNIDA GONTOR, Hukum pengambilan barang temuan, oleh ulama dibagi ke dalam beberapa tingkatan dan di antaranya sebagai berikut :

Hukum barang temuan

Hukum Barang Temuan

  1. Apabila barang temuan ditemukan oleh orang yang memiliki kepercayaan tinggi dan ia mampu mengurus benda-benda temuan itu sebagaimana mestinya dan terdapat sangkaan berat bila benda-benda itu tidak diambil akan hilang sia-sia atau diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka atasnya berhak mengambil barang temuan tersebut
  2. Apabila orang tersebut percaya kepada dirinya bahwa ia mampu mengurus benda-benda temuan itu dengan sebagaimana mestinya, tetapi bila tidak diambil pun barang barang tersebut tidak dikhawatirkan akan hilang sia-sia.
  3. Apabila harta itu ditemukan, kemudian yang bersangkutan ragu -ragu antara mampu memelihara dengan mengesampingjkan harta yang ditemukan.
  4. Penetapan hukum terhadap barang temuan oleh kebanyakan ulama fiqh adalah “boleh”. Tentunya penetapan tersebut didasari oleh penalaran dalil-dalil yang ada, dan hukum tersebut berlaku bagi orang yang meyakini dirinya mampu memelihara dan mengumumkannya, dasar hukum tentang kewajiban bagi penemu untuk mengumumkan barang temuan adalah hadits Nabi SAW:
  5. “Dari Zaid bin Khalid r.a. berkata; Seorang datang kepada Rasulullah SAW, menanyakan tentang luqathah, Rasulullah SAW bersabda: Kenalilah wadah dan tali pengikatnya, kemudian umumkan selama satu tahun, maka jika dating pemiliknya (kembalikan padanya), jika tidak maka sesukamu. Ditanya: Jika menemukan kambing? Rasulullah SAW menjawab: Kambing itu untukmu atau saudaramu atau bagi srigala. Jika mendapatkan unta? Rasulullah SAW bersabda: Apa urusanmu dengan unta? Dia sanggup cukup dengan minumnya dan kakinya, dia dapat mencari minum dan makanannya sehingga bertemu dengan pemiliknya.” (HR Bukhari-Muslim)
  6. Abu Daud juga merawikan hadits tentang larangan Rasulullah SAW mengambil barang temuan pada saat orang-orang sedang mengerjakan ibadah haji, hadits tersebut ialah
  7. Artinya: “Diceritakan Yazid ibn Khalid Mauhab dan Ahmad ibn Shalih berkata diceritakan ibn Wahab dikabarkan ‘Umar dari Bakir dari Yahya ibn Abdurrahman ibn Hathib dari Abdurrahman ibn ‘Ustman al-Taymi sesungguhnya Rasulullah Saw., melarang mengambil barang yang hilang kepunyaan orang-orang yang sedang mengerjakan ibadah haji, kemudian berkata Ahmad berkata ibnu Wahab yakni tinggalkanlah barang temuan di waktu haji sampai ada orang yang mempunyai mengambilnya berkata seperti itulah ibnu Mauhab dari ‘Umar”. (H.R. Abu Dawud)
  8. Apabila orang yang menemukan suatu benda, kemudian dia mengetahui bahwa dirinya sering terkena penyakit tamak dan yakin betul bahwa dirinya tidak akan mampu memelihara barang tersebut.

Kewajiban dari orang yang menemukan barang temuan tersebut adalah mengumumkan barang yang ditemukan tersebut selama satu tahun, apapun jenis barangnya dan di mana pun ditemukannya.

Apabila belum ditemukan pemiliknya, maka barang tersebut boleh dikelola sebagai barang titipan hingga pemiliknya datang untuk mengambil kembali barangnya. Anjuran ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang dinukil dari Zaid bin Khalid Al-Juhanny RA, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ اللُّقَطَةِ فَقَالَ اعْرِفْ وِكَاءَهَا أَوْ قَالَ وِعَاءَهَا وَعِفَاصَهَا ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً ثُمَّ اسْتَمْتِعْ بِهَا فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيْهِ

Artinya: “Rasulullah SAW ditanya mengenai luqathah emas dan perak. Beliau lalu menjawab, “Kenalilah pengikat dan kemasannya, kemudian umumkan selama setahun. Jika kamu tidak mengetahui (pemiliknya), gunakanlah dan hendaklah menjadi barang titipan padamu. Jika suatu hari nanti orang yang mencarinya datang, berikan kepadanya,” (HR. Bukhari Muslim).

Antara Luqhotho dengan Rikaz terdapat perbedaan. Rikaz adalah temuan yang tak ada pemiliknya atau sudah punah (harta karun, bonus, dan hadiah non judi dll) dan boleh langsung dijual kemudian wajib zakat 20 persen bilamana rikaz tersebut mencapai nisab 85 gram emas. Imam Al-Mawardiy berkata: Adalah merupakan ijma (kesepakatan ulama ummat) bahwa zakat rikaz tidak mensyaratkan haul. (kitab Kifayatul Akhyar fii Hilli Ghayatil Ikhtishaar).

Di kisahkan bahwa ada seorang laki-laki pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW., mengenai Luqhatah . Beliau menjawab : “ perhatikanlah bejana tempatnya dan tali pengikatnya, lalu umumkanlah (barang Itu) selama setahun. Jika pemiliknya datang maka serahkanlah kepada mereka dan jika tidak maka manfaatkanlah . Lelaki itu bertanya lagi, “ bagaimana barang temuan tersebut berupa kambing yang tersesat? Beliau menjawab: “Ambillah, itu milikmu, atau milik saudaramu, atau akan di makan serigala . Lelaki itu masih bertanya “bagaimana bila itu berupa unta yang tersesat?” Beliau menjawab “ Apa urusannya denganmu?! Ia masih memakai terompah dan memiliki cadangan airnya sendiri sampai nanti pemiliknya datang menemukannya .”(H.R Al-Bukhari)

Pada tingkat yang pertama, ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) sepakat mengenai barang temuan untuk mengumumkan setidaknya satu tahun dari batas waktu barang itu ditemukan. Namun demikian, yang perlu diperhatikan bahwa barang tersebut harus tahan lama (seperti emas, perak dan barang yang sejenis dengannya). Meskipun begitu, di kalangan ulama masih tampak berbeda pendapat sehubungan dengan barang temuan itu perlu diambil atau dibiarkan saja.

Para ulama fikih berbeda pendapat terkait dengan barang temuan di tanah haram. Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah dalam salah satu riwayatnya dan haram. Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah dalam salah satu riwayatnya dan dari Syafi’i mengatakan,”Bahwa ia seperti barang temuan di tanah halal. dari Syafi’I mengatakan,”Bahwa ia seperti barang temuan di tanah halal. Sementara perkataan Ahmad dan ini termasuk salah satu riwayat dari Syafi’i Sementara perkataan Ahmad dan ini termasuk salah satu riwayat dari Syafi’I mengatakan, “Bahwa barang temuan di haram hendaknya diumumkan untuk mengatakan, “Bahwa barang temuan di haram hendaknya diumumkan untuk selamanya sampai datang pemiliknya. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi selamanya sampai datang pemiliknya.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum pengambilan barang temuan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi tempat dan kemampuan penemunya Dikarenakan status hukum barang temuan itu dibolehkan untuk diambil, maka anjuran atasnya juga dituntut untuk memeliharanya dengan baik.

Nishab Zakat Barang Temuan

Nishab Barang Temuan (rikaz) sama dengan nishab emas dan perak, dan kewajiban zakatnya pun tidak dipersyaratkan berulang tahun, tetapi yang wajib dikeluarkan 1/5 atau 20% dari hasil galian.

Cara menghitung zakat mal lebih praktis dan mudah sesuai syariat islam bisa cek langsung di artikel berikut:

Baca Juga: Cara Menghitung Zakat Mal

Bayar zakat sekarang makin mudah bisa via online cukup dari rumah. Klik saja zakatkita.org. Atau klik button di bawah ini:

klik zakatkitaorg

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit – Menjenguk orang yang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim atas muslim lainnya yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, jika kamu menunaikan hak orang yang sedang sakit, maka sudah pasti ada keutamaan dan pahala di dalamnya.

Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shahihnya, bahwasanya Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Orang yang menjenguk orang sakit berada dalam taman buah di surga hingga dia pulang”.

Sungguh besar pahala orang yang menjenguk saudara sesama muslimnya yang tengah sakit.

Tetapi, hendaknya sejak awal kita sudah melandasi hal ini dengan niat yang tulus karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Ada pula hadits lain yang juga menjelaskan tentang besarnya keutamaan menjenguk orang sakit.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, dimana Ahmad Syakir menyatakannya sebagai hadits yang shahih.

Adapun hadits yang dimaksud yakni sebagai berikut:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang berkunjung pada saudara muslimnya (yang sedang sakit), maka seolah-olah dia berjalan-jalan di surga hingga duduk. Apabila telah duduk, maka akan dituruni rahmat dengan deras. Apabila dia berkunjung saat pagi hari, maka sebanyak tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya supaya diberi rahmat sampai sore hari. Apabila dia berkunjung saat sore hari, maka sebanyak tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya supaya diberi rahmat sampai pagi hari.’

Dari kedua hadits tersebut dan dengan hadits-hadits lain yang akan disebutkan kemudian, keutamaan-keutamaan menjenguk orang yang sedang sakit adalah sebagai berikut:

  • Orang yang sedang menjenguk orang sakit seperti ada di dalam kebun buah di surga

Maksudnya adalah orang yang sedang menjenguk orang sakit ini akan memperoleh banyak pahala sebagaimana dia memanen buah-buahan di dalam surga.

  • Memperoleh doa kebaikan dari malaikat 

Dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya, malaikat akan mendoakan kebaikan bagi orang yang menjenguk orang sakit.

Kemudian dalam riwayat dari Ibnu Majah juga disebutkan bahwasanya malaikat juga akan memohonkan ampunan kepada Allah bagi siapapun yang menjenguk orang sakit.

  • Ada dalam rahmat Allah SWT

Hal ini sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya:

“Barang siapa yang menjenguk orang sakit, maka dia akan masuk ke dalam rahmat Allah, sehingga jika dia duduk, dia akan ada di dalam rahmat tersebut.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan telah dishahihkan oleh Al Albani.

Dalam redaksi lain, disebutkan juga bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Barang siapa yang menjenguk orang sakit, maka dia masuk ke dalam rahmat (Allah), jika dia duduk di sisinya, dia merasa puas dalam rahmat tersebut. Jika dia keluar darinya, dia senantiasa ada dalam rahmat itu sampai dia pulang ke rumahnya.”

  • Memperoleh banyak pahala dari Allah

Ada hadits qudsi yang menjelaskan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Sesungguhnya Alla azza wa jalla berfirman di hari kiamat: ‘Hai anak Adam, Aku sakit tapi Engkau tidak menjenguk-Ku.’

Ia berkata: ‘Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta?’

Allah berfirman: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku sakit, tapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu, bila menjenguknya niscaya engkau akan mendapati-Ku di sisinya?’

Hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ulama menjelaskan bahwasanya kalimat Allah sakit di atas tidak bermakna bahwa Dia benar-benar sakit, tetapi ini lebih menunjukkan betapa besarnya kemuliaan yang akan diterima oleh hamba yang menjenguk saudaranya yang tengah sakit.

  • Mendapatkan tempat di surga

Selanjutnya dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya:

“Siapa saja yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka malaikat berseru: ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik dan engkau telah memperoleh satu posisi di surga.’

Bahkan Allah juga menjanjikan surga bagi orang yang meluangkan waktunya untuk menjenguk saudaranya yang tengah sakit

Adab Menjenguk Orang Sakit

Adab Menjenguk Orang Sakit

Saat menjenguk orang sakit kita juga harus memperhatikan adab-adab menjenguk orang sakit, karena bagaimanapun juga, yang namanya menjenguk orang sakit itu berbeda dengan ketika kamu hanya sekedar bertamu saja.

Berikut adalah adab-adab menjenguk orang sakit, yang perlu diketahui, antara lain:

  • Waktu menjenguk

Mengenai waktu untuk menjenguk ini sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, asalkan tidak merepotkan orang yang tengah sakit tersebut serta keluarganya.

Di dalam hadis sendiri, tidak ditemukan adanya keterangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai waktu menjenguk ini.

Jadi, kapanpun kita memiliki waktu, sebaiknya segera menjenguk orang yang sedang sakit tersebut, tetapi perhatikan waktunya.

Maksudnya adalah hindari berkunjung di waktu istirahat, di waktu repot atau sedang banyak tamu.

  • Lama waktu kunjungan

Saat menjenguk orang sakit, kamu juga harus memperhatikan lama waktu menjenguknya.

Lebih baik, dipersingkat saja dan jangan berlama-lama, supaya tidak membebani orang yang tengah sakit dan juga tidak merepotkan keluarganya.

Kecuali jika memang diminta oleh keluarga ataupun orang yang sakit karena sebenarnya kehadiran kita mampu memberikan kegembiraan baginya.

  • Posisi orang yang menjenguk

Adapun posisi tempat duduk orang yang menjenguk adalah di sisi kepala orang sakit yang bagian kanan.

Ini adalah posisi yang dianjurkan dan ternyata juga mampu membuat suasana menjadi lebih akrab dengan orang yang sakit.

Berdasarkan pada hadits yang diriayatkan oleh Imam Bukhori dalam Adabul Mufrad, bahwasanya Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam akan duduk di sisi kepala orang yang sakit ketika beliau menjenguknya.

  • Bertanya tentang kondisi orang yang sakit

Nah, ketika kita sudah duduk di posisi yang dianjurkan di atas, sebaiknya kita juga bertanya tentang bagaimana kondisinya.

Adab ini secara tidak langsung bisa memberi dukungan moral sekaligus juga menunjukkan bahwa kita pun berharap supaya dia lekas sembuh.

  • Tidak mengajak orang yang sakit untuk berbicara panjang lebar 

Sesungguhnya orang yang tengah sakit membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat, karenanya sangat dianjurkan untuk tidak memberi dia pertanyaan yang menyebabkannya bercerita terlalu banyak.

Cukuplah bertanya seperlunya saja karena ada kemungkinan memberikan pertanyaan yang jawabannya terlalu banyak seperti itu bisa membebani si sakit bahkan termasuk keluarganya.

Ingatlah bahwa tujuan kita menjenguk orang sakit itu adalah untuk meringankan penderitaannya walau hanya sedikit, jadi jangan sampai kita menambah beban orang yang sakit ataupun keluarganya dengan pertanyaan ataupun pembicaraan yang seperti itu.

  • Hibur dan berikan keyakinan untuk sembuh

Adab menjenguk orang yang sakit selanjutnya adalah hiburlah dia dan keluarganya.

Cara menghibur ini bisa dilakukan menyampaikan pahala apa yang akan mereka peroleh sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasanya:

“Setiap orang Islam yang tertimpa musibah penyakit ataupun yang lainnya, maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, layaknya sebuah pohon yang menggugurkan daun-daunnya.”

Selain menghibur, kita juga hendaknya memberikan dia keyakinan atau harapan bahwa dia bisa sembuh.

  • Selalu mengucapkan perkataan yang baik-baik

Saat menjenguk orang yang sedang sakit, lebih baik sampaikanlah kalimat-kalimat baik yang mengandung motivasi di dalamnya sehingga penderitaan orang yang sakit bisa sedikit lebih ringan.

Jaga lisanmu supaya tidak justru mengeluarkan ucapan yang menimbulkan rasa cemas ataupun takut dalam hati orang yang sakit serta keluarganya.

  • Pahami kondisi orang yang sedang sakit 

Jika orang yang sakit mengucapkan keluhan yang didalamnya berisi kejengkelan dan kekesalan, maka sebaiknya kita mengingatkan dia bahwa keluhan seperti itu adalah keluhan yang dilarang oleh Allah.

Nasehatilah dia dengan cara yang baik.

Tetapi jika keluhan tersebut hanya keluhan yang biasa, dengarkan saja lalu berilah dia motivasi dan sampaikan keutamaan apa yang akan dia dapatkan dari sakit tersebut sesuai dengan makna hadits yang telah disebutkan sebelumnya.

  • Menampakkan kesedihan atau menangis di tempat orang yang sedang sakit 

Terkadang kita bertanya-tanya, bolehkah kita menampakkan kesedihan atau bahkan mencucurkan air mata tatkala berada di tempat orang yang sedang sakit?

Ternyata jawabannya adalah boleh, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melakukannya.

Ada hadits yang menceritakan hal ini, bahwasanya:

“Saad bin Ubadah radliyallahu ‘anhu pernah mengeluh tentang sakit yang dideritanya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguk bersama dengan sahabat Abdurrahman bi ‘Auf, Saad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud.

Ketika beliau menemuinya, beliau melihat Saad bin Ubadah ini tengah dikerumunioleh keluarganya, kemudian beliau bertanya: ‘Apakah dia sudah meninggal?’

Mereka menjawab: ‘Tidak ya Rasulullah’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis dan tatkala orang-orang di sana melihat tangisan beliau, maka mereka juga menangis.

Setelah itu beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian mendengar, bahwa sesungguhnya Allah tidak mengadzab karena air mata ataupun kesedihan hati, tetapi mengadzab karena ini (lalu beliau menunjuk pada lidahnya) atau Dia berbelas kasih. Dan sesungguhnya mayit itu akan disiksa karena tangisan keluarganya yang meratapi (kepergian)nya.’

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

  • Mendoakan orang yang sedang sakit

Mengucapkan doa bagi orang yang sedang sakit ternyata juga termasuk dalam adab menjenguk.

Kita dianjurkan untuk berdoa supaya orang yang tengah sakit ini diberikan rahmat oleh Allah, ampunan, keselamatan serta kebebasan dari penyakit yang dideritanya.

Kemudian ada perkara yang juga sering ditanyakan, apakah kita boleh menjenguk orang yang sakit sekalipun dia berbeda jenis dengan kita?

Jawabannya adalah boleh, seorang laki-laki boleh menjenguk perempuan yang sedang sakit sekalipun bukan mahram, begitu pula sebaliknya.

Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yakni jangan tampakkan aurat, jangan hanya berdua dengan orang yang sakit saja dalam ruang serta aman dari fitnah.

Tidak ada batasan mengenai kondisi sakit, maksudnya adalah sebaiknya kita tetap menjenguk orang sakit tersebut sekalipun sakitnya hanya sakit yang ringan.

 

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya