Kisah Nabi Muhammad dan Satu Butir Gandum

Kisah Nabi SAW dan satu butir Gandum – Ibnu Abi Hatim meriwayatkan suatu kisah dari Ibnu Abi Thalihah dan Ibnu abbas. Diceritakan Rasulullah SAW suatu hari pernah mengalami kesulitan. Sebab, kaum muslimin sangat sering bertanya kepada beliau.

Untuk meringankan beban itu, maka Allah SWT menurunkan watju-Nya. yakni dalam surat Al-Mujadalah [22] ayat 12. Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman ! apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang yang tidak mampu) sebelum kalian melakukan pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Tetapi jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang.” 

Baca Juga : 5 Keutamaan Silahturahmi dalam Islam

Sejak saat itu, kaum muslimin musti terlebih dahulu mengeluarkan sedekah kepada orang yang tidak mampu sebelum berkesempatan menjumpai Nabi SAW dan mengajukan pertanyaan. Bagaimanapun nabi Muhammad SAW tidak ingin memberatkan umatnya . Maka beliau, meminta pendapat Ali Bin Abi Thalib tentang berapakah besaran sedekah itu yang kiranya tidak memberatkan kaum muslimin.

“Bagaimana pendapat mu tentang sedekah 1 dinar?”

Ali pun menjawab, “Mereka (para sahabat nabi) tidak akan sanggup memenuhinya.

“Bagaimana dengan setengah dinar?” tanya Nabi Muhammad SAW lagi.

“Mereka juga tidak akan sanggup” jawab keponakan beliau itu.

Baca Juga : Bangku untuk Santri Penghafal Al Qur’an

“Kalau begitu, berapa seharusnya?”

“Satu butir Gandum”

“Engkau sungguh seorang yang tidak punya apa-apa” ujar nabi.

Maka turunlah ayat berikut ini, yakni surat Al-Mujadalah [22] ayat 13, yang artinya :

” Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan dengan rasul? tetapi jika kamu tidak melakukannya dan allah telah memberikan ampun kepadamu, maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya ! Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan !”.

jadilah satu butir gandum itu menjadi ukuran sedekah yang diusulkan oleh Ali kepada Nabi Muhammad.

Qadirun ‘alal Kasbi

Qadiran 'alal kasbi

Qadirun ‘alal Kasbi – salah satu dari sepuluh muwashofat tarbiyah yang wajib dimiliki oleh seorang muslim. Muwashofat merupakan sifat-sifat khusus yang semestinya ada pada diri seseorang muslim, sehingga dengan diterapkannya Muswashofat akan menguatkan pilar pilar pondasi karakter seorang muslim dalam berbagai hal. Sebagaimana yang akan dijelaskan oleh Ustad Syatori Abdurrauf, mengenai urgensi qadirun ‘alal kasbi dalam diri seorang muslim.

Ustadz Syatori menjelaskan, makna dari Qadirun ‘alal Kasbi , Qadir artinya mampu sedangkan ‘alal kasbi artinya melakukan kasab. sehingga dapat diartikan bahwa Qadirun ‘alal Kasbi adalah kemampuan dalam melakukan kasab. Kasab memiliki pengertian, usaha mendapatkan uang , yakni usaha yang boleh dilakukan (halal) dan usaha yang tidak boleh dilakukan (haram).

Setiap muslim mempunyai urgensi mengenai Qadirun ‘alal kasbi  untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang sesuai ditunjukan kepada kita sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah. Sesungguhnya menjadi’abdun adalah keniscayaan yang bernilai mutlak bagi manusia . Sehingga apapun yang kita lakukan didunia sesuai dengan apa yang kita lakukan sebagai hamba nya. Yang sudah tercantum dalam ayat berikut ini didalam surat Adz-dzariyaat ayat 56 yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”.

Maka jika kita menyalahi aturan Allah maka kita tidak mengikuti tuntunan sebagai ‘abdun (hamba Allah). Lantas, bagaimana tugas kita sebagai khalifah dibumi, Maka ustadz Syatori menjawab Hendaknya kita meniscayakan sebagai khalifah Allah dibumi. Kata khalifah artinya sebagai pengganti Allah dibumi. Sehingga apapun yang kita lakukan dibumi itu hanya sebagai perwakilan Allah saja.

Seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Yang artinya : Dan ingatlah tuhan mu berfirman kepada para malaikat; “Sesungguhnya aku ingin menjadikan serang khalifah dimuka bumi”. Lalu mereka berkata; “Mengapa engkau menjadikan khalifah dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan mensucikan engkau”. Lalu Allah berfirman “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”  (Al- Baqarah ayat 30)

Baca Juga : Kaki Palsu untuk Ibu Sutik

Peran kita sebagai khalifah dibumi hendaknya menabung kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dijadikan bekal kita kelak diakhirat. Tugas tersebut bisa kita lakukan dengan optimal untuk meningkatkan hubungan dan kedekatan dengan Allah, dan juga kepada manusia. Karena sebagai khalifah pasti juga membutuhkan suatu usaha atau sesuatu untuk berikhtiar secara mandiri dalam rangka menebarkan manfaat bagi sesama atas hasil jerih payah yang diusahakannya sendiri. Mutlak bagi seorang khalifah untuk mampu melakukan hal tersebut, sehingga sifat dari qadirun ‘alal kasbi ini sangat penting dimiliki oleh seorang muslim.

Ustad Syatori menyarankan, untuk menguatkan karakter qadirun ‘alal kasbi dalam diri seorang muslim hendaknya harus diawali dengan kemauan yang kuat dan berasal dari sumber yang halal pastinya. Pasalnya, kemampuan adalah kemauan pada diri seseorang yang membuat dirinya menjadi mampu. Sehingga, kemauan itu lebih dari sekedar kemampuan yang dimiliki oleh orang yang tidak memiliki kemauan. Semoga Allah senantiasa menuntun hati-hati kita.

Meningkatkan Empati Melalui Kegiatan Zakat

Meningkatkan Empati

Meningkatkan Empati melalui kegiatan Zakat – Menjelang akhir ramadhan ada satu ibadah yang harus dijalankan oleh umat muslim yaitu membayar zakat. Ada dua macam zakat yang harus dibayarkan oleh umat islam yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah diberikn berupa bahan pokok makanan sedangkan zakat maal berupa harta benda.

Menurut bahasa, zakat berarti membersihkan atau mensucikan diri. Sedangkan menurut syariah, zakat artinya sebagian harta yang wajib diserahkan pada orang-orang tertentu.

Sebagaimana firman Allah dalam surah At Taubah 103 :
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Adapun golongan penerima zakat ini ada 8 sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 60 yakni fakir, miskin, mualaf, orang yang terlilit hutang, fii sabilillah, memerdekakan budah, orang dalam perjalanan, dan amil zakat.

Tidak hanya zakat, di bulan Ramadan umat Islam juga banyak yang memberikan infaq dan shodaqoh.

Adapun perbedaan antara zakat,  infaq dan shodaqoh adalah pada hukum dan waktunya.  Jika zakat hukumnya wajib,   infaq dan shodaqoh sunnah.
Zakat dilaksanakan sebelum Idul Fitri sedangkan infaq dan shodaqoh bisa kapan saja.

Ada banyak hikmah dari memberikan zakat, infaq dan shadaqoh diantara nya adalah :

  1. Mengurangi kesenjangan sosial
  2. Membersihkan dan mengikis akhlaq yang buruk.
  3. Mengembankan potensi umat
  4. Sebagai sarana untuk membersihkan harta
  5. Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah SWT
  6. Sebagai dukungan moral kepada mualaf.
  7. Memberikan ketentraman hati
  8. Meningkatkan empati

Baca Juga : Bangku untuk Santri Penghafal Al Qur’an

Penyaluran zakat,  infaq dan shodaqoh bisa dilakukan disekolah maupun disekitar dilaksanakan pada hari dan tanggal yang sudah ditentukan .
Penyaluran dilaksanakan oleh Bapak Ibu guru yang bertugas dengan dibantu sekitar 15 anggota BDP. Semua begitu bersemangat. Tentu saja,   kegiatan keagamaan kembali dilaksanakan setelah selama dua tahun terhenti karena pandemi.

Dalam pelaksanaannya panitia zakat ini telah menerima sumbangan zakat dari masyarakat sejak awal Ramadhan. Jadi pada hakekatnya zakat  berasal dari masyarakat dan akan disalurkan kembali pada warga sekitar yang berhak menerima zakat. Pemandangan yang indah saat masyarakat memberikan zakat kepada orang disekitar yang lebih membutuhkan. Salah satunya adalah meninggkatkan rasa empati kepada sesama.

Harapan ledepannya melalui zakat ini kepekaan dan kepedulian masyarakat kepada sesama semakin terasah. sehingga pada akhirnya masyarakat disekitar bisa menjadi manusia yang cerdas tidak hanya ccerdas secara spiritual tapi juga hanya cerdas secara sosial.

Baca Juga : Renovasi Aula Pesantren Sabilul Muttaqien

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa

Zakat fitrah

Zakat Fitri atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi, sudah banyak pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun, tidak ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya.

Telah menjadi kewajiban atas kaum Muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan agar mereka menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya, akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.

Hikmah Zakat Fitrah

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang orang miskin” (Hasan, HR. Abu Dawud, “Kitabul Zakat”, “Bab Zakatul Fitr”, [17] no. 1609; Ibnu Majah [2/395] “Kitabuz Zakat”, “Bab Shadaqah Fitri” [21] no. 1827; dinilai hasan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Mengapa disebut Zakat Fitrah?

Sebutan yang populer di kalangan masyarakat kita adalah zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa. (Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu, Ahmad bin Muhammad al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. (al-Mishbahul Munir, 476)

Namun, yang lebih populer di kalangan para ulama—wallahu a’lam—disebut zakat fithri زكاة الفطر atau shadaqah fithri صدقة الفطر. Kata “fithri” di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan. Sebab, kewajiban zakat tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama, seperti Ibnu Hajar al-’Asqalani, menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367)

Baca Juga : Bantu Intan Persiapan Operasi 

Hukum Zakat Fitrah 

Pendapat yang terkuat, zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Di antara mereka adalah Abul Aliyah, Atha, dan Ibnu Sirin, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari. Bahkan, Ibnul Mundzir telah menukil ijmak atas wajibnya zakat fitrah. Walaupun tidak benar jika dikatakan ijmak, penukilan ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan wajibnya zakat fitrah.

Dasar mereka adalah hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memfardukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, kecil maupun besar, dari kaum muslimin. Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. al-Bukhari, “Kitabuz Zakat”, “Bab Fardhu Shadaqatul Fithri” [3/367, no. 1503] dan ini lafaznya. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim)

Siapa yang wajib berzakat fitrah?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang, besar ataupun kecil, laki-laki ataupun perempuan, dan orang merdeka ataupun budak hamba sahaya. Akan tetapi, untuk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat.

Ibnu Hajar mengatakan, “Yang tampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat dikenakan atas anak kecil. Namun, perintah tersebut tertuju kepada walinya. Dengan demikian, kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut. Jika tidak punya, zakat anak kecil menjadi kewajiban yang memberinya nafkah. Ini merupakan pendapat jumhur ulama.” (al-Fath, 3/369; lihat at-Tamhid, 14/326—328, 335—336)

Apakah selain muslim juga terkena Kewajiban Zakat?

Sebagai contoh, seorang anak yang kafir; apakah ayahnya (yang muslim) berkewajiban mengeluarkan zakatnya?Jawabnya, tidak. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan catatan di akhir hadits bahwa kewajiban itu berlaku bagi من المسلمين “dari kalangan muslimin”. Ada pula yang berpendapat tetap dikeluarkan zakatnya. Namun, pendapat tersebut tidak kuat karena tidak sesuai dengan lahiriah hadits Nabi di atas.

 

Akhlaq Rasulullah Implementasi Al-qur’an

Implementasi Al-Qur’an Akhlak Rasullulah – “Orang non-islam tidak membaca al-Qur’an dan hadits, yang mereka baca dalah tingkah laku kita, maka jadilah cerminan islam yang baik.” Sebuah quotes atau statement dari Khabib Nurmagomedov, seorang fighter UFC yang pernah bertarung dan menanag melawan cannor Mc Gregor yang sebelumnya sempat mengejek agama islam yang dianutnya.

Menyikapi fanatisme berlebihan dalam beragama dengan cara menyerang, menhina, mengejek, menyalahkam agama laina dalah sesuatu yang tak bisa di benarkan dengan alasan apapun, menyadari bahwa nama lain dari Agama adalah Kepercayaan atau Keyakinan yang tak bisa di paksakan dimana kita seharusnya saling menghargai pilihan orang lain. Beragama dengan baik, sudah sepatutnya kita belajar untuk mencontoh Tauladan kita, Nabi Muhammad SAW, bahwasanya dalam mengajarkan dan menyebarkan ajaran Agama Islam tidak dengan kekerasan juga tidak dengan membenci orang laiin,

Dalam suatu riwayat di kisahkan sebuah cerita tentang Rasulullah SAW dengan seorang pengemis Yahudi buta, di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis buta yang selalu berbicara menghina dan menghujat Muhammad SAW, menyerukan agar orang-orang tidak percaya dan menjauhi Muhammad SAW dengan dalih karena ia adalah seorang pembohong, dan penyihir yang akan mempengaruhi orang-orang.

Namun demikian, ketika Rasulullah mengetahui tentang pengemis buta itu, bukan nya marah tapi sebalik nya, Rasulullah justru senantiasa mendatangi pengemis buta yang selalu menghina dan mencaci nya itu, membawakan makanan bahkan sampai menyuapi si pengemis buta Yahudi itu dengan penuh kasih sayang, tanpa sepatah kata pun Rasulullah dengan begitu sabar nya terus menyuapi pengemis meskipun si pengemis itu tak henti-henti nya menjelek-jelek kan Nama Muhammad SAW tepat di hadapan orang nya.

Baca Juga : Bedah Rumah Pak Darmanto Sekeluarga

Ketika Rasulullah SAW wafat, Khalifah Abu Bakar mencoba untuk melakukan apa yang sering di lakukan oleh Rasulullah SAW kepada pengemis buta itu, namun ketika Abu Bakar mendatangi dan hendak memberikan makanan, tak lama pengemis buta itu menyadari bahwa yang datang berbeda dengan orang yang selalu menyuapi nya itu, lantas pengemis buta itu pun sontak berkata ” Siapa kau ini ?” orang yang selalu membawakan makanan untuk ku tangan nya lebih lembut dan selalu menyuapi ku”

Tak kuat menahan air mata nya, Abu Bakar pun larut dalam tangisan nya seraya berkata “Orang mulia yang anda maksud itu telah wafat, beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW”, betapa terkejutnya pengemis buta itu mendengar apa yang di katakan oleh Sayidina Abu Bakar, orang yang selama ini ia hujat, ia hina, dan ia jelek-jelek an nama nya adalah orang yang telah memperlakukan nya dengan sangat baik, menyuapi nya dengan penuh kasih sayang tanpa rasa benci dan marah sedikit pun atas hinaan dan cacian pengemis buta Yahudi itu kepada beliau.

Menangis sejadi-jadi nya, sebuah tangisan rasa bersalah yang begitu dalam, hingga hati nya pun tersentuh oleh betapa mulia nya Akhlak Rasulullah SAW bersamaan dengan pintu hidayah yang terbuka akhir nya pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimat Syahadat dan memeluk Agama Islam.

Baca Juga : Pipanisasi Air Bersih untuk Warga Flores

Begitu banyak kisah kemuliaan Rasulullah SAW yang sudah sepatut nya di jadikan tauladan bagi kita sebagai umat nya, menjadi sebuah bukti bahwa ajaran Agama Islam bisa di terima adalah karena kemuliaan Akhlak Rasulullah SAW yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang merasakan kebaikan nya, seperti itu lah adanya tatkala Akhlak dan suri tauladan baginda Rasulullah sebagai Implementasi dari Al-Qur’an.

Melihat realita saat ini tah hanya sedikit orang-orang yang belajar dari media sosial,

tanpa ada nya standar atau filter dalam menangkap sebuah informasi, sangat mudah sekali mem framing masyarakat ke dalam hal yang justru kurang baik, seperti menumbuhkan sikap fanatisme, saling membenci, tidak menghargai pilihan orang lain, yang seakan semakin jauh dari tenggang rasa atau toleransi yang selalu di contoh kan oleh Rasulullah SAW.

Dengan tulisan ini, mari kita sama-sama merenungkan kembali sikap kita terhadap kehidupan beragama, bahwa Rasulullah SAW di utus untuk menyempurnakan Akhlak manusia, pun juga sebaik-baik nya manusia adalah yang bermanfa’at bagi orang lain. Esensi dari berAgama adalah menjadikan penganutnya menjadi manusia yang baik, hargai keyakinan orang lain, perkuat sikap toleransi, jauhkan diri kita dari sikap saling membenci, saling mengasihi antar sesama, ingatlah selalu bahwa “Bukan apa Agama mu ? tapi Apa yang kau lakukan dengan Agama mu ?”, maka hasil dari berAgama adalah dengan menjadi manusia yang baik.

 

Percaya Pada Allah akan Masa Depan

 

Setiap harinya, dalam pikiran manusia kerap dipenuhi dengan bayangan-bayangan dimasa depan. Namun terlalau memikirkan masa depan, sama seperti membeli furnitur rumah yang bahkan belum dibangun. Ketika furnitur itu sudah berada ditangan, kita sudah tidak punya tempat untuk mewadahinya. Akibatnya, barang-barang itu akan memadati hidup dimasa sekarang.

Dengan kata lain, terlalu sering memikirkan masa depan sama artinya mengisi hari-hari dalam pikiran, perhatian, antisipasi, dan keccemasan yang mungkin tidak akan terjadi. Dalam sebuah artikel yang diunggah di About Islam, manusia kerap terburu-buru menuju masa depan demi sesuatu yang disebut sebagai kebaikan. Saat masih anak-anak, tidak sedikit yang ingin cepat besar sehingga bisa bermain dengan teman-teman lain yang lebih tua.

Pun saat remaja, kita tidak bisa menunggu untuk menjadi dewasa dan bebas dari batasan orang tua. Nantinya saat dewasa, manusia sudah bermimpi tentang masa pensiun ketika akhirnya dapat menikmati semua waktu luang yang ada.

Manusia kerap memiliki kecenderungan bergegas ke masa depan demi kebaikan yang dirasa ada di sana.  Tetapi tidak ada yang bisa menjamin hari esok. Tidak ada jaminan apa pun darinya. Ketika kita menaruh terlalu banyak harapan di hari esok, hal ini berisiko membawa hasil yang berbahaya. Manusia akan mulai merasa berhak atas masa depan tertentu yang mungkin tidak pernah datang.

Ketika masa depan yang diharapkan itu tidak terjadi, manusia bisa menjadi sangat emosional dan sengit. Lebih parah, manusia bisa kehilangan momen menikmati berkah yang didapat di momen saat ini.

Allah SWT telah memberi tahu tentang itu dalam Alquran dengan sangat jelas. Dalam QS An-Nahl ayat 1, Allah SWT berfirman, “Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.

Ayat ini mengingatkan tentang hari akhir yang tidak diketahui dan bisa diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang akan telah diatur akan datang pada saatnya. Manusia diminta untuk sabar hingga saatnya tiba.

Jika harus menjalani hidup dengan berpikir dan berharap untuk masa depan, hal ini dapat dilakukan dengan mengingat kita akan menerima yang baik di kehidupan selanjutnya, untuk kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Namun, kita hanya bisa bertemu dengan kesenangan di akhirat dengan mengambil tindakan di masa sekarang.  Jadi mari berharap untuk rahmat Allah dan menyerahkan masa depan kehidupan ini kepada kehendak Allah.

Alasan lain seorang manusia memikirkan masa depan karena memikirkan kemungkinan kejahatan yang bisa saja terjadi. Sebagai manusia, kita sering menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi di depan.

Saat masih anak-anak, kita khawatir tentang waktu tidur dan monster yang mungkin menunggu kita dalam gelap. Sebagai remaja, muncul kekhawatiran akan pekerjaan dan pernikahan. Setelah dewasa, terpikirkan hal-hal seperti kemiskinan, penyakit, dan yang lain.

Khawatir tentang masa depan adalah sesuatu yang hampir semua orang lakukan. Namun tidak peduli berapa banyak asuransi yang dibeli dengan tujuan melindungi diri dari apa yang akan datang, manusia tidak dapat mengubah kehendak Allah SWT untuk masa depan.

Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa mengetahui masa depannya atau mengubahnya. Allah SWT berfirman dalam Alquran QS Al-A’raf ayat 188, “Katakanlah (hai Muhammad), “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Dibalik ke khawatiran itu seharusnya manusia paham bahwa setan-setan memanfaatkannya seperti Nabi Muhammad umat-Nya tidak memiliki kuasa atas apa yang terjadi dimasa depan. Allah SWT pun memberi tahu dalam alqur’an surat Al-baqarah ayat 268 “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. 

Baca Juga : Report Jaring Ramdhan

Baca Juga : Amal Jariyah

Seringkali, cara ini adalah trik yang efektif. Berapa banyak yang telah melakukan perbuatan haram karena takut akan kemiskinan, sementara ketakutan itu sama artinya dengan kehilangan kesempatan untuk percaya kepada Allah SWT?

Berapa banyak manusia yang menjadi kikir karena mereka takut akan malapetaka, sementara pikiran itu menghilangkan kesempatan untuk Allah SWT ganti berkali-kali karena telah berbagi dalam amal? Berapa banyak yang menjadi frustrasi dan kecewa dengan mencoba memaksakan hasil di masa depan yang tidak tertulis, sementara kehilangan berkat saat ini?

Kekhawatiran yang ada pada[ manusia sama saja dengan meremehkan kebijaksanaan dan kemampuan Allah SWT untuk menyediakan masa depan. Jika umat Muslim harus khawatir tentang masa depan, Hari Penghakiman adalah satu-satunya masa depan yang kita tahu pasti dan layak untuk dicemaskan.

Manusia bisa berusaha mencegah hasil yang buruk dengan mengambil tindakan saat ini. Takutlah akan hukuman Allah dan tinggalkan urusan masa depan kehidupan sesuai atas kehendak Allah SWT. Yang bisa manusia lakukan saat ini hanyalah bersiap dan biarkan mengalir seperti yang telah ditetapkan. Namun, bukan berarti pula menusia berpasrah tanpa berusaha.

Berusaha mencari cara adalah bagian dari kehidupan. Seperti yang kita lihat dalam hadits riwayat Tirmidzi berikut : “Suatu hari Nabi Muhammad melihat seorang Badui meninggalkan untanya tanpa mengikatnya. Nabi lantas bertanya kepada orang Badui itu: ‘Mengapa kamu tidak mengikat unta kamu?‘ Orang Badui itu menjawab: ‘Saya menaruh kepercayaan pada Allah’. Nabi kemudian berkata: Ikatkan unta Anda terlebih dahulu, kemudian taruh kepercayaan Anda kepada Allah”.

Dalam hidup, manusia harus mencari cara memudahkan kehidupan. Meninggalkan masa depan bukan berarti tidak melindungi diri sendiri dari bahaya kehilangan milik kita.

Ketika manusia menyibukkan pikiran dengan masa depan, terkadang membuat kita melupakan kebijaksanaan dan kemampuan tertinggi Allah SWT. Manusia jadi merindukan berkah masa kini; membuang-buang waktu, dan kehilangan kesempatan mempersiapkan akhirat.

Baca Juga : Bersedekah dengan Sebutir Kurma

Pentingnya Menuntut Ilmu

pentingnya menuntut ilmu

Pentingnya Menuntut Ilmu – Dalam bahasa, Ilmu berasal dari aksara arab yang memiliki makna mengetahui. Dilansir dari buku berjudul “Agar Menuntut Ilmu jadi Mudah” oleh Abdul Hamid M Djamil, Lc. Menurut muslim A kadit, “Ilmu merupakan kumpulan sistematos sejumlah pengentahuan tenatng alam semesta yang diperoleh memalui kegiatan berpikir.” 

Sedangkan itu, Zainudin Sardar mendefinisikan ilmu dengan,“Cara mempelajari alam secara objektif dan sistematis serta ilmu merupakan suatu aktivitas manusia.”

Ilmu pengetahuan itu baik secara khusus ilmu agama maupun i;lmu pengetahuan secara umum merupakan bahian dari ciri khas manusia.

Dari Abu Hurairah R.A berkata rasulullah SAW bersabda : “apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakan kepadanya (HR. Muslim)

Ilmu bermanfaat yang dimaksud dalam hadits di atas adalah seseorang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, lalu mengamalkan atau diajarkan lagi kepada orang lain sehingga ia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya meskipun yang mengajarkan telah meninggal dunia.

Mengutip dalam buku “Hadis Tarbawi, Hadis-hadis Pendidikan” oleh Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, ilmu pengetahuan yang bermanfaat adalah segala ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain dan dapat menambah ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Hukum Mencari Ilmu

Ilmu memiliki kedudukan, Abdul Qadir’isa alam bukunya “Haqaaiqu At-tasawur” menyebutkan hukum mencari ilmu dapat dibagikan dalam tiga kategori yakni wajib, sunnah, dan haram.

Wajib

Para ulama mengklasifikasikan ilmu yang wajib dan dibagi dalam dua bagian yaitu wajib’ain dan wajib kifayah

  1. Wajib ‘ain

Menuntut ilmu disebut wajib ‘Ain adalah sebuah perintah wajib yang ditunjukan kepada setiap individu. Ilmu yang diperintahkan dengan perintah wajib ‘ain adalah ilmu-ilmu yang harus dipelajari oleh setiap orang Islam, yang jika tidak dipelajari, hukumnya berdosa.

Salah satu ilmu yang wajib dipelajari adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang eksistensi ketuhanan, kenabian dan alam gaib. Imu Fiqih yaitu ilmu yang mengupas tata cara beribadah. Sedangkan ilmu Tasawuf yaitu ilmu yang menjelaskan cara menjaga amal ibadah agar tidak sirna.

2. Wajib kifayah

Wajib Kifayah adalah sebuah peintah wajib yang ditunjukan kepada sebuah kelompok. Ilmu kfayah dipelajari adalah ilmu yang berfungsi untuk kesejahteraan manusia. Seperti meneladani Ilmu Fikih agar bisa mengajari orang lain, mempelajari Ilmu Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Fiqih, Ilmu Hitung, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kontraktor, Ilmu Biologi hingga Ilmu Pertanian yang semuanya berfungsi untuk kepentingan masyarakat luas.

Baca Juga : Sedekah Alas Surga

Jaring Ramadhan

Sunnah

sunnah merupakan sebuah perintah yang ditunjukkan kepada seluruh umat islam. Diantara ilmu yang hukumnya sunnah untuk dipelajari antara lain untuk mengetahui fadhailul ‘amal (tingkatan amal), ilmu untuk mengetahui ibadah sunnah dan ilmu untuk mengetahui perkarra-perkara yang makruh dalam agama.

Haram

Haram adalah perintah untuk meninggalkan sesuatu. Ilmu yang dilarang dengan tegas (haram) untuk dipelajari adalah ilmu-ilmu yang merusak atau mengganggu kehidupan orang lain seperti ilmu sihir, ilmu mantra dan ilmu-ilmu yang bertujuan untuk merusak agama islam.

Dilansir dalam Universitas Islam Indonesia, Dosen FTI UII, Ustaz Kholid Haryono, M.Kom menyampaikan bahwa segala urusan yang ada di dunia harus diniatkan untuk ibadah. “Tidak ada urusan dunia semuanya adalah urusan akhirat, apapun amal kita pilihannya adalah ibadah,” jelas Ustaz Kholid.

Salah satu bentuk ibadah adalah menuntut ilmu. Islam akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

“Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia wajiblah memiliki ilmunya, dan barang siapa ingin selamat dan berbahagia di akhirat wajiblah ia memiliki ilmunya pula dan barang siapa ingin keduanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula,” jelas Ustaz Kholid dalam laman Universitas Islam Indonesia.

5 Keutamaan Silahturahmi dalam Islam

keutamaan silaturahmi

Keutamaan Silaturahmi – Salah satu amalan umat muslim untuk menyambung tali persaudaraan. Silaturahmi dapat kita lakukan kapan saja agenda utama saat momen hari raya Idul Fitri atau lebaran.

Umumnya saat lebaran tiba, umat muslim selalu berbondong-bondong untuk mudik atau pulang kampung halaman. seolah mudik telah menjadi salah satu tradisi bagi umat muslim. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyambung silahturahmi dengan keluarga dan sanak saudara

Silahturahmi adalah amalan utama karena mampu menyambungkan apa-apa yang putus. Oleh karena itu, silahturahmi memiliki keutamaan atau manfaat yang luar biasa. Lantas apa saja sih keutamaan dari Silahturahmi untuk kehidupan sehari-hari? simak ulasannya yang dilansir sebagai berikut :

BACA JUGA : Cara Menghitung zakat maal

  • Memperluas Persaudaraan

Salah satu keutamaan silahturahmi adalah memperluas persaudaraan, Setiap orang menjalankan silahturahmi akan lebih banyak mengenal sahabat atau saudara yang lainnya. Seseorang yang jarang bersilahturahmi tentu tidak akan saling mengenal keluarga, sahabat yang lainnya, padahal diketahui bahwa semua umat islam adalah saudara. Inilah yang menjadi salah satu fungsi dari silahturahmi.

  • Menjadi Makhluk Yang Mulia

Keutamaan silahturahmi selanjutnya, yaitu dapat menjadikan kita sebagai makhluk yang mulia. Pasalnya menyambung silahturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silahturahmi merupakan akhlak yang terpuji dan akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak yang termulia didunia dan diakhirat? Maafkan orang yang telah menganiayaimu, sambung silahturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Sedangkan, seseorang yang suka memutus tali silahturahmi maka dianggap sebagai perusak kehidupan. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam salah satu Al-Qurab  berikut ini, Allah SWT berfirman: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan tali silahturahmi (kekeluargaan)? mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulika telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad:22-23)

Baca jugaa : Bantu biaya pendidikan Santri Yatim

  • Memperpanjang Umur

Tak hanya menjadi makhluk yang mulia, keutamaan silahturahmi yang dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Mengunjungi anggota keluarga dan sanak saudara merupakan salah satu cara untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan. Selain itu silahturahmi juga merupakan amalan yang memiliki nilai pahala besar.

Seseorang yang senantiasa menjaga tali silahturahmi maka allah akan melapangkan rezeki dan memperpanjang umurnya. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah Hadits berikut, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dI perpanjangkan umurnya maka sambunglah tali silahturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Menjaga dan memperkuat silaturahmi sangat penting dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini bukan hanya bermanfaat didunia saja, akan tetapi untuk kebaikan diakhirat juga kelak nanti.

  • Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Menjalin silaturahmi dengan sesama juga menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pasalnya saat kita mau menyambung silahturahmi dan memperlakukan manusia dengan baik, berarti kita telah menjalankan perintah Allah SWT. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Makhluk, hingga apabila dia selesai dari (menciptakan)mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “benar, apakah engkau ridha jika aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? ia menjawab: iyaa. dia berfirman: “itulah Untukmu.”

  • Dijauhkan dari Neraka

Keutamaan silatuhrahmi berikutnya ialah dijauhkan dari Neraka, seseorang Muslim yang menjalin kembali tali silahturahmi maka akan dijauhkan dari api neraka, Sebagaimana salah satu Hadits berikut ini, yang artinya:  “Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan Zakat dan menyambung tali silahturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ke-lima hadits tentang silahturahmi kita dapat menyimpulkan bahwa keutamaan dalam menjalankan silahturahmi justru membuat kita merasakan hal-hal yang positif. Maka dari itu jagalah silaturahmi dengan keluarga dan orang-orang terdekat kamu. niscaya Allah SWT akan mempermudah segala urusaan kita.

Zakat infaq sedekah makin mudah tinggal klik: zakatakita.org

 

Jalan kebenaran hanya satu

Jalan Kebenaran – yang menyampaikan kepada allah subhanahu wa ta’ala hakikatnya hanya satu Allah berfirman dalam QS.al-anam ayat 153 yang artinya :

Dan bahwa (yang kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain., karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. demikian itu diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

ibnu katsir rahimaullah berkata : “Allah menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal, karena kebenaran adalah satu. Oleh karena itu, Allah menyebut “jalan lain” dengan jamak, karena bercabang dan berpencar, seperti firman allah dalam surat Al-Baqarah ayat 257

“Allah pelindung orang-orang beriman. dia mengeluarkan merka dari kegelapan-kegelapan (kafir) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan  yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. mereka itu adalah penghuni neraka. mereka kekal didalamnya”

semakna dengan penjelasan Ibnu Katsir ini diucapkan oleh Ibnul Qayyim

Ibnu mas’ud radhiallahu’anhu berkata,“rasulullah SAW membuat garis dihadapan kami sebuah garis lalu beliau SAW berkata ‘ini adalah jalan allah’ lalu beliau SAW membuat garis kanan-kirinya  kemudian berkata ‘ini adalah jalan -jalan lain dimana disetiap jalan ada syaitan yang menyeru kepadanya.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata ” hal ini karena jalan yang menyampaikan kepada Allah SWT hanya satu, yaitu sebab Allah SWT mengutus rasulnya dan allah turunkan kitab-kitab nya  tidaklah seorang pun akan sampai kepadanya kecuali  melalui jalan ini. seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan semua pintunya, maka semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuai melalui jalan ini. sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan allah dan akan menyampaikan kepadanya.”

Asy-syatibi rahimahullah juga berkata,”ayat diatas adalah nash yang tegas pada permasalahan kita. sesungguhnya jalan kebenaran itu hanya satu, tidak menghendaki adanya keberagaman, berbeda dengan jalan yang bermacam-macam.”

Beliau rahimahullah juga berkata ,“Allah swt menerangkan bahwa jalan al-haq hanyalah satu yang bersifat umum didalam syariat, baik secara global maupun rinci. Sementara itu, ayat-ayat yang mencela perbedaan serta memerintahkan untuk kembali kepada syariat demikian banyak. Semuanya, secara pasti menunjukan bahwa tidak ada pertentangan di dalam syariat ini bahkan sumbernya hanya satu dan sepakat.”

Jadi adanya ayat-ayat yang mencela berpecah-belah itu untuk memperkuat bahwa al-haq itu kebenaran hanyalah satu. dengan demikian prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengikutnya. Sebab konsekuensi dari pendapat mereka itu adalah al-haq tidak hanya satu dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, justru benar dan terpuji. Jika demikian, gugurlah prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh, ini merupakan pendapat yang menyelisihi kesepakatan orang berakal, terlebih lagi orang yang berilmu. selain itu, juga menyelisihi dalil al qur’an dan al- hadits.

Harta Hanya Titipan

Harta Hanya Titipan

Harta Hanya TitipanSejatinya, kita tidak pernah kehilangan sesuatu. Karena pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Coba lihat kembali siapa yang memiliki diri kita? Allah. Jangan pernah merasa memiliki. Kalau ternyata kita hanya dititipi. -Harun Tsaqif-

Kita tidak memiliki apa apa selain yang Allah ridhoi untuk kita. Termasuk harta kita. Maka, tugas kita hanyalah menjaga titipan tersebut sebaik mungkin. Dan harta terbaik adalah harta yang disedekahkan. Sebagai manusia apalagi hamba Allah, harus bijak dan mampu memanfaatkan dengan baik titipan Allah yang luar biasa cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Dalam sebuah hadist :

 

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).

 

Pada hari kiamat, setiap dari kita akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Termasuk tentang harta. Apakah dengan cara halal kita mendapatkannya? dan untuk hal-hal apa saja harta tersebut dibelanjakan? Sebagaimana Allah memerintahkan untuk makan makanan yang halal, cara mendapatkan makanan tersebut pun dengan cara yang halal juga. Halalnya makanan dan cara mencarinya sangat ditekankan, sehingga kita wajib makan harta yang halal, maka jika sewaktu di dunia kita selalu memperhatikan makanan yang kita makan dan cara mencarinya, tentu akan menyelamatkan kita dari pertanyaan pada hari kiamat.

Tanda sayang Allah terhadap hamba-NYA yaitu melalui ujian. Bisa jadi harta yang berlimpah itu merupakan ujian dari Allah. Allah ingin tahu, jika diberi harta yang banyak apakah dia ini tetap mau beribadah kepada Allah dan tidak sombong? atau mungkin Allah ingin tahu apakah harta tersebut dimanfaatkan dengan baik atau tidak? 

Sama halnya dengan harta yang sedikit. Allah ingin menguji apakah Hamba-NYA ini mau bersyukur atas apa yang Allah kehendaki atau tidak? lalu dengan yang sedikit itu apakah dia akan memanfaatkannya dengan baik atau tidak? Allah pun maha adil. Allah tahu batas kemampuan hamba-NYA.Tidak akan Allah menguji diluar kemampuan hamba-NYA. Dan tidak mungkin Allah memberi masalah tanpa solusi. Oleh karena itu seberapa banyak harta yang kita miliki, baiknya disyukuri. Seperti dalam firman Allah berikut :

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrahim:7)

 

Baca Juga : Dunia ini Hanya Permainan

Sedekah adalah harta yang sesungguhnya. Sedekah juga merupakan cara kita untuk mesyukuri nikmat Allah melalui harta. Namun sayangnya, ada sebagian orang malah gara-gara sibuk mencari harta hingga lupa kepada Pemberi harta. Mereka lupa kepada yang empunya rezeki yaitu Allah Swt. Gara-gara mencari harta lupa salat, tinggal puasa, yang lebih parah lagi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah. Padahal dalam hartanya memiliki hak-hak fakir miskin yang harus ia tunaikan. Sebagai pengingat kembali, dalam pandangan Islam, harta yang kita miliki bukanlah harta kita, melainkan semua titipan dari Allah Swt. Kita tidak tahu kapan harta itu diambil oleh Allah Swt secara tiba-tiba. Kita tak bisa mengklaim itu harta kita seutuhnya ketika nyawa sudah terpisah dari badan.

Namun, hanya satu cara agar harta tersebut benar-benar menjadi abadi milik kita yaitu dengan cara bersedekah. Harta hanya titipan ini kita belanjakan di jalan Allah. Kita sisihkan harta kita untuk membayar zakat dan menolong orang-orang yang lemah. Ketika harta yang kita keluarkan di jalan Allah, sesungguhnya kita sudah menabung untuk akhirat kelak. Yuk, sedekah!

 

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya