Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri – Jaga kehormatan dan harga diri dalam islam Kehormatan merupakan hal penting dalam Islam. Menjaga kehormatan merupakan hal penting dalam Islam. Saking pentingnya, setiap muslim tidak hanya diwajibkan menjaga kehormatan diri sendiri, tapi juga harus menjaga kehormatan orang lain.

Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:⁣ “Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.”⁣ (Shahih al-Bukhary, no. 1427⁣)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata “Orang yang menjaga kehormatannya adalah yang tidak meminta dengan ucapannya, sedangkan orang yang merasa cukup adalah yang tidak mengharap-harapkan dengan hatinya, karena sesungguhnya merasa cukup lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan menjaga kehormatan, dan kekayaan yang paling mulia adalah kekayaan jiwa.”⁣

Menjaga kehormatan adalah sikap yang dapat menjaga seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, baik yang dilakukan oleh tangan, lisan atau kemaluannya.

Termasuk di dalamnya, meninggalkan hal-hal yang mungkar,  untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak pantas, atau berlebih-lebihan.

Salah satu sikap menjaga kehormatan ialah menikah dan menutup aurat bagi seorang wanita agar mendapatkan kemuliaan.

“Dan hendaklah menjaga kesuciannya, yaitu orang – orang yang tidak (belum) mampu menikah, hingga Allah memberikan kecukupan (memampukan) mereka dari karunia-Nya.” (Quran Surat An-Nur Ayat 33)

Selain itu, upaya menjaga kehormatan diri sendiri dan orang lain adalah menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang untuk dilihat.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: hendaknya mereka menjaga pandanganya dan memelihara kemaluanya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaknya mereka menahan pandanganya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang biasa tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasanya kecuali kepada suami mereka.” (Q.S An-Nur 30-31).

Dari ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada hambanya agar selalu menjaga pandangan dari apa yang diharamkan, tujuanya adalah untuk menjaga hati, sebagaimana salah satu ungkapan yang berbunyi “Pandangan adalah Panah Beracun menuju hati (Ismail bin Umar bin Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir). Dan pada ayat di atas pada huruf “mim” dalam lafadz “min absharihinna” adalah bermakna sebagian. Sedangkan untuk lafadz “furuj” tidak terdapat huruf “min” dikarenakan dalam urusan pandang memandang lebih luas dibandingkan urusan menjaga kemaluan.

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri – Ketika tidak sengaja memandang perkara yang haram, maka hukum bagi pandangan yang pertama masih bisa dimaafkan dan harus memalingkan pandangan ke arah lain, sebagaimana di dalam riwayat Jarir bin Abdullah al-bajali, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tidak sengaja dan beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandangan”. (Shihabuddin Mahmud al – Alusi ,Ruhul-Ma’ani). Sedangkan untuk urusan menjaga kemaluan tidak ada rukhsah sama sekali. Sementara itu wanita sebagai maskot dari keindahan dunia menjadikan dirinya sebagai objek nomor satu yang melahirkan bahayanya pandangan.

Dalam Agama Islam memberikan ketetapan-ketetapan kepada ummatnya seperti larangan adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan (ikhtilath), saling berpandangan (nazhar), berpegangan (lamsu), ke luar rumah tanpa ada mahram yang menemaninya dan berbicara antara lawan jenis tanpa adanya hajat. Hal ini sesekali bukan dalam rangka mengekang gerak-gerik wanita Muslimah, akan tetapi lebih karena menjaga kesuciannya dari hal-hal yang dapat merusak agamanya.

Sehingga tidak heran jika Islam memberikan aturan untuk menjaga kehormatan orang lain (hifzhil-Irdhi) seperti larangan melontarkan tuduhan zina (qadzaf). Begitu juga aturan untuk menjaga nasab (hifzun-nasl) seperti aturan pernikahan. Hifzun-nasl tidak hanya di implementasikan dalam bentuk perintah saja, tetapi juga dalam bentuk penjagaan seperti larangan zina dan had-nya. Lalu apa kaitan menjaga pandangan dengan menjaga kehormatan? coba perhatikan dan renungkan dengan seksama perbedaan antara seorang muslimah yang suka jelalatan matanya dengan seorang muslimah yang selalu menundukkan pandanganya, tentu saja terlihat beda penilaiannya.

Seorang muslimah yang suka jelalatan akan mendapatkan citra negatif dibandingkan dengan seorang muslimah yang senantiasa menundukkan pandanganya, seorang muslimah akan mempunyai nilai positif di mata orang lain, muslimah tersebut akan dinilai lebih sopan dan lebih dihargai lagi kehormatannya. Maka dari itu pentingnya menjaga kehormatan seharusnya dimulai dari hal terkecil terlebih dahulu seperti menjaga pandangan, karena mata adalah jendela hati. Jika yang masuk ke mata adalah perkara-perkara kotor, maka hati kita akan kotor pula. Maka dari itu pentingnya menjaga kehormatan seharusnya dimulai dari hal terkecil terlebih dahulu seperti menjaga pandangan dan menjaga hati dari sifat dengki.

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain – Orang yang pertamakali dapat merasakan kebahagiaan adalah orang yang mampu menghayati saat dirinya membahagiakan orang lain. Buah perbuatan baik akan tumbuh subur dalam jiwa mereka, moral mereka, dan nurani mereka. Mereka akan memperoleh kelapangan dan kegembiraan, ketenangan dan kedamaian.

Bila suatu saat kesedihan mengitari Anda, kedukaan menyakiti Anda, cobalah untuk berbuat baik kepada seseorang dan persembahkanlah keindahan kepadanya. Tentu Anda akan merasakan kegembiraan dan ketentraman.

Berilah orang yang kekurangan; tolonglah orang yang teraniaya, selamatkanlah orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, kunjungilah orang yang sakit dan tolonglah orang yang terkena bencana, niscaya kebahagiaan akan bertaburan dari setiap sudut memenuhi ruang hati Anda.

Kita bisa membuat diri kita bahagia dengan membahagiakan orang lain. Karena sesungguhnya banyak hal yang Allah perintahkan di dunia ini berkenaan dengan membahagiakan orang lain. Kita tidak hanya diperintahkan melakukan ibadah yang berhubungan dengan Allah langsung. Tapi Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong satu sama lain dalam kebaikan. Sungguh Allah Maha Baik dan menyukai kebaikan.

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain – Bahagia atau kebahagiaan menjadi elemen terpenting yang patut untuk diraih dan dipertahankan. Ada banyak tuntunan yang bisa dilakukan agar kebahagiaan senantiasa berpihak pada kita, salah satunya adalah dengan berpikir positif. Namun, tentu saja hal itu berlaku untuk diri sendiri saja.

Sementara dalam Islam, salah satu cara meningkatkan iman dan takwa adalah kita juga dianjurkan untuk senantiasa berbagi kebahagiaan pada orang lain.

Berikut ini ganjaran yang akan didapatkan ketika membahagiakan orang lain :

  1. Mendapat Pengampunan dari Allah SWT

Sama halnya dengan keutamaan dzikir pagi, keutamaan membuat orang lain bahagia dalam islam yang lain adalah mendapatkan pengampunan dosa dari Allah swt. Hal ini tertulis dalam kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah yang berbunyi.

“Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta’ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.”

  1. Diberi Kemudahan Hidup

Keutamaan orang membuat orang lain bahagia dan mengangkat kesulitan orang lain akan diberi kemudahan hidup dan senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT. Hal itu disebutkan dalam hadits Abu Hurairah :

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).”

  1. Dikarunia Umur yang Panjang

Orang yang senantiasa membuat orang di sekitarnya bahagia tentunya memiliki tali silaturahmi yang erat pada sesamanya. Menjaga tali silaturahmi termasuk hal terpuji yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Bahkan dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi akan dikaruniai baginya umur yang panjang.

  1. Mendapatkan Pahala yang Berlimpah

Selain keempat manfaat yang utama di atas, membahagiakan orang lain juga jelas akan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa membuat orang lain bahagia merupakan akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah SWT.

  1. Diringankan Beban Pikirannya

Memberikan kebahagiaan kepada orang lain bisa meringankan beban yang ada di pikiran. Hal itu dikarenakan oleh energi positif yang lahir dari hati saat menyenangkan orang lain akan ikut mempengaruhi pikiran anda sehingga beban yang ada di dalam pikiran akan menjadi lebih ringan dari sebelumnya.

Sahabat yang Membawamu ke Surga

Sahabat yang Membawamu ke Surga

Sahabat yang Membawamu ke Surga – Memiliki sahabat yang baik, sahabat yang senantiasa menunjukkan ke jalan Allah SWT, sahabat yang senantiasa mengingatkan kepada kebaikan dan manfaat adalah sebuah keharusan. Sahabat yang baik tidak hanya memberikan manfaat di dunia tetapi memberi manfaat di akhirat.

Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sabahat-sahabat yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka bertanyalah mereka tentang sahabat-sahabat itu kepada Allah SWT.

”Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama dengan kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.”  Maka Allah berfirman, ”Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah.” (HR Ibnul Mubarak, dalam kitab Az Zuhd).

Sahabat yang Membawamu ke Surga – Mencari sahabat janganlah berdasarkan kepentingan semata yang sesaat, tetapi demi kemaslahatan bersama yang abadi, maslahat di dunia, terlebih maslahat dan manfaat di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, dari Abu Musa ra berkata, ”Perumpamaan kawan yang baik dan yang jelek bagaikan pembawa misik (minyak wangi) dengan peniup api tukang besi, maka yang membawa misik adakalanya memberimu atau engkau membeli padanya, atau mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api tukang besi, jika tidak membakar bajumu atau engkau mendapat bau yang busuk dari padanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sementara  Imam Syafi’i berkata, “Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” Sementara Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, ”Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, ‘Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu.”

untuk itu, dalam bersahabat, pilihlah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya ikatan di dunia tetapi juga hingga akhirat.

Carilah sahabat-sahabat yang senantiasa berbuat amal soleh yang salat berjamaah, berpuasa dan senantiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam. Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Memang banyak teman yang kita punya, seperti teman urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola. Ada juga teman memancing, teman bershopping, teman Facebook untuk bercerita hal politik, teman WhatsApp untuk menceritakan hal dunia. Namun itu semunya akan berpisah pada garis kematian dan masing-masing hanya akan membawa diri sendiri.

Akan berbeda dengan teman yang bertakwa dan rajin beribadah, akan mencari kita untuk bersama ke surga. Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita? Ayo… berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia.

Carilah teman yang membawa kita bersama ke surga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk surganya Allah. Perbanyaklah ikhtiar, semoga satu darinya akan tersangkut dan membawa kita ke pintu surga. Al-Hasan Al-Bashri berkata:”Perbanyak lah sahabat-sahabat mukminmu karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat.” Jika tidak, mulai lah hari ini mencari teman ke surga sebagai suatu misi pribadi.

Saling Menasehati Sesama Muslim

Saling Menasehati Sesama Muslim

Saling Menasehati Sesama Muslim – Menasihati seorang Muslim adalah wujud dari kecintaan dan rasa peduli. Nasihat ditujukan untuk menjauhkan sahabat Muslim yang bersangkutan agar dapat keluar dari kebuntuan dan tidak keluar dari batas-batas syariat agama. Saling menasihati antarsesama Muslim juga merupakan anjuran baik yang termasuk dalam ibadah. Dakwah dengan nasihat itu dimaksudkan semata-mata karena rasa peduli dan dilandasi dengan niat karena Allah SWT.

Saling Menasehati Sesama Muslim – Orang-orang yang tidak merugi sebagaimana disebutkan dalam surat Al ‘Ashr adalah orang yang beriman, beramal shaleh serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. Dalam Al Qur’an, selain menasehati digunakan juga istilah memberi peringatan. Disebutkan dalam surat Adz Dzariyat ayat 55 yang artinya, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

Memberi nasehat atau mengingatkan bukanlah suatu hal yang mudah. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, surat Adz Dzariyat ayat 55 merupakan hiburan dari Allah Swt untuk Nabi Muhammad Saw agar tetap memberi peringatan. Pada ayat sebelumnya, ayat 52, Allah Swt menyampaikan bahwa tidak ada Rasul yang bebas dari tanggapan negatif kaum yang didatanginya, antara lain disebut sebagai tukang sihir atau orang gila. Namun tanggapan tersebut tak boleh menyurutkan semangat untuk memberi peringatan, karena bagi orang yang beriman, peringatan itu pasti memberi manfaat.

Zaman sekarang tak jauh beda, ketika ada orang menasehati atau mengingatkan, respon orang juga bisa negatif, bahkan kadang terasa menyakitkan. Sekadar contoh, ketika ada yang mengingatkan, “Jangan korupsi!” ada saja yang malah menanggapi, “Tidak usah munafik lah, memang kamu sendiri tidak perlu uang?”

Sindiran-sindiran sok alim, atau ungkapan  (bisa ngajar ora bisa nglakoni, bisa mengajari tidak bisa menjalani) tak jarang harus diterima oleh orang yang mengingatkan atau menasehati. Sehingga akhirnya semakin sedikit orang yang mau menasehati dan mengingatkan. “Dinasehati juga percuma, tidak akan berubah, nanti malah jadi ribut!” atau, “Mau mengingatkan tidak enak, nanti dikira kita iri.” Begitu beberapa dalih orang yang enggan mengingatkan saat orang di lingkungannya berbuat kesalahan.

Harus diingat bahwa Nabi Muhammad Saw saja, yang semula mendapat julukan Al Amin, ganti disebut tukang sihir dan orang gila saat mengingatkan, apalagi kita yang hanya manusia biasa.

Selain surat Adz Dzariyat ayat 55 untuk menjadi pendorong semangat dalam mengingatkan dan menasehati, banyak hadits yang juga bisa menambah motivasi. Antara lain yang berasal dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya,  “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim no. 4831 disahihkan oleh ijma’ Ulama).

Ketahuilah bahwa orang yang memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar termasuk mujahid di jalan Allah. Jika dirinya disakiti atau hartanya dizholimi, hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah. Sebagaimana hal inilah yang harus dilakukan seorang mujahid pada jiwa dan hartanya. Hendaklah ia melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam rangka ibadah dan taat kepada Allah serta mengharap keselamatan dari siksa Allah, juga ingin menjadikan orang lain baik.

Manusia hanya diwajibkan untuk berusaha, termasuk menasehati dan mengingatkan orang lain. Manusia tidak diwajibkan untuk berhasil, bagaimanapun hidayah tetap merupakan rahadia Allah. Wallahu a’lam

Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi

Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi

Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi – Hal yang paling mudah dilakukan manusia untuk mendapatkan pahala adalah dengan bersedekah. Bahkan, memberi senyum kepada orang lain secara ikhlas merupakan sedekah yang membawa berkah tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun. Allah SWT tentu tidak suka dengan orang yang riya atau pamer. Makanya, bersedekah dapat dilakukan secara diam-diam atau bersifat rahasia

Rahasiakanlah sedekah kita. Menyembunyikan sedekah lebih utama daripada terang-terangan kecuali sedekah yang wajib. Menyembunyikan ini lebih dekat pada keikhlasan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 271).

Baca Juga: Sedekah subuh online cepat dan mudah

Keutamaan Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi – Syaikh As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Jika sedekah tersebut ditampakkan dengan tetap niatan untuk meraih wajah Allah, maka itu baik. Dan seperti itu sudah mencapai maksud bersedekah. Namun jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka itu lebih baik. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama daripada dilakukan secara terang-terangan. Namun jika tidak sampai bersedekah karena ia maksud sembunyikan, maka tetap menyampaikan sedekah tadi secara terang-terangan itu lebih baik. Jadi semuanya dilakukan dengan kembali melihat maslahat.”

Kata Ibnu Katsir berkata bahwa tetap bersedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih afdhol karena berdasarkan hadits,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata,

1- Imam (pemimpin) yang adil.

2- Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.

3- Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.

4- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah.

5- Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan, “Sungguh aku takut kepada Allah.”

6- Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

7- Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).

Baca Juga: Cara menghitung zakat mal yang praktis

Hadits di atas menunjukkan bahwa keutamaan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Para ulama mengatakan bahwa inilah yang berlaku pada sedekah sunnah, secara sembunyi-sembunyi itu lebih utama. Cara seperti itu lebih dekat pada ikhlas dan jauh dari riya’. Adapun zakat wajib, dilakukan secara terang-terangan itu lebih afdhol. Demikian pula shalat, shalat wajib dilakukan terang-terangan, sedangkan shalat sunnah lebih afdhol sembunyi-sembunyi karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.”

Para ulama katakan bahwa penyebutan tangan dan kiri di sini hanyalah ibarat yang menggambarkan sedekahnya benar-benar dilakukan secara diam-diam. Tangan kanan dan kiri, kita tahu begitu dekat dan selalu bersama. Ini ibarat bahwa sedekah tersebut dilakuan secara sembunyi-sembunyi. Demikian kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Sedekah Online

sedekah makin mudah bisa via online dari rumah. Klik saja zakatkita.org.

klik zakatkitaorg

Membiasakan Diri Untuk Bersedekah

Membiasakan Diri Untuk Bersedekah

Membiasakan Diri Untuk Bersedekah – Sahabat,Pernah gak sih kita mengalami hal berikut ini, berniat untuk bersedekah akan tetapi akhirya gak jadi karena uangnya terpakai untuk kebutuhan yang lain atau berniat sedekah namun karena tertunda akhirnya kita lupa. Mungkin kita semua sering mengalaminya, sekali, dua kali bahkan berkali-kali. Mengapa hal demikian terjadi? Jangan-jangan motivasi kita untuk bersedekah kurang.

Membiasakan diri bersedekah merupakan sikap terpuji. Tidak semua orang mampu melakukannya. Diperlukan latihan agar menjadi perilaku keseharian dan membentuk sikap mental dermawan. Ketika sudah terbangun sikap dermawan dalam diri seseorang, ia akan senantiasa berupaya memberikan apa yang bisa diberi setiap harinya. Hidupnya selalu optimistis. Yakin bahwa apa yang diberikan, hakikatnya bukan berkurang, justru bertambah.

Membiasakan Diri Untuk Bersedekah – Kita semua mungkin mengetahui bahwa ketika seorang mukmin meniatkan sesuatu yang baik, akan tetapi tidak mampu melaksanakannya maka hal tersebut akan dicatat sebagai kebaikan baginya. Akan tetapi, sebaiknya ketika kita meniatkan sesuatu maka harus segera dilaksanakan, agar tidak lupa dan sesuatu yang dapat menghalangi pekerjaan atau amalan tersebut datang.

Sedekah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk disegerakan, ketika kita berniat maka saat itu juga kita harus segera menunaikannya. Rasulullah saw. mencontohkan demikian, disebutkan bahwa ketika rasulullah memiliki emas maka beliau tidak pernah membiarkan sebatang emasnya bermalam di rumah. Ketika Rasulullah memiliki emas, maka rasul akan segera membagikannya kepada yang membutuhkan.

Ketika kita berniat untuk bersedekah, maka segeralah untuk menunaikannya. Sebab ketika kita menundanya bisa jadi motivasi untuk bersedekahpun menghilang. Selain itu, alasan kita agar menyegerakan sedekah karena kelak akan ada suatu masa dimana orang akan kesulitan mendapatkan orang yang mau sedekah.

Membiasakan Diri Untuk Bersedekah – Sungguh mulia orang yang menjadikan kebiasaan bersedekah sebagai jalan hidupnya. Bahkan Allah memelihara pahala orang yang bersedekah, Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014).

Sedekah merupakan salah satu amalan yang perlu dilatih agar kita mampu konsisten dalam menunaikannya, berikut adalah tiga cara untuk melatih diri agar rajin sedekah.

  1. Menjadikan sedekah sebagai rutinitas

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk melatih diri agar rajin bersedekah adalah dengan merutinkannya, dalam melatih diri sahabat bisa mencobanya dalam tiga minggu berturut-turut.

Berdasarkan penelitian, sebuah kebiasaan atau habit akan terbentuk setelah proses pengulangan sepanjang 21 hari. Nah disini sahabat bisa memulainya dengan cara mencoba menyisihkan uang sebanyak 5000 selama 21 hari, kemudian uang tersebut dihimpan dan diberikan kepada orang yang membutuhkan atau lembaga sosial.

  1. Berbagilah tanpa harus menunggu banyak rezeki

Konsep banyak rezeki sebenarnya adalah konsep yang sangat bias. Kita tidak pernah tahu, kapan dan apa standartnya seseorang dikatakan banyak memiliki rezeki. Orang-orang yang dianggap oleh dunia sebagai orang terkaya pun kadang masih merasa dirinya belum begitu kaya. Ini menunjukkan bahwa manusia sampai kapanpun tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah berada pada titik pencapaian.

Cobalah untuk berbagi saat sahabat memiliki rezeki. Ada banyak sekali manfaat dari berbagi. Sedikit atau banyak, tidak perlu sahabat khawatirkan. Allah tidak pernah menilai sedekah atau sikap berbagi seseorang dari banyak atau sedikitnya. Terkadang yang sedikit di mata kita sangat berarti di mata orang lain. Tentu balasannya dari Allah pun akan berkali lipat.

Misalnya, kalau sahabat memiliki gaji bulanan, maka sisihkan sedikitnya untuk berbagi pada orang lain yang membutuhkan. Atau jika sahabat seorang freelancer dan mendapat fee yang cair dari seorang klien, jangan lupa sisihkan juga sebagiannya untuk bersedekah.

Ingat, bukan besar atau kecilnya, tapi kebiasaan kita berbagi dengan ikhlas dan tulus. Semakin banyak rezeki yang kita terima, akan semakin sulit kita untuk berbagi jika kebiasaan tersebut tidak pernah kita pupuk sejak dini.

  1. Berbagi dengan apa yang kamu miliki saat ini

Apakah berbagi harus dengan uang? Tentu saja jawabannya tidak. Ada banyak cara berbagi yang bisa sahabat lakukan lewat apa yang dimiliki saat ini. Misalnya jika sahabat memiliki banyak baju layak pakai, mainan anak yang masih berguna, buku-buku bacaan yang layak untuk dibagikan, atau mungkin makanan persediaan di rumah yang masih enak untuk dinikmati, maka coba berbagilah dengan hal tersebut.

Jika sahabat memiliki waktu luang dan energi yang lebih, sesekali coba luangkan waktu juga untuk menjadi relawan sosial atau membantu berbagai program kemanusiaan. Misalnya menjadi pengajar untuk anak-anak yang kurang beruntung, menjadi relawan di dapur umum tempat terjadinya bencana, dsb.

Rasakan bahwa ada kebermaknaan dan kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apapun karena aktivitas tersebut. Ya, karena berbagi bukan saja membahagiakan orang lain tapi juga diri kita sendiri.

  1. Sedekah bareng teman

Bagaimana cara melatih diri agar rajin bersedekah? salah satu caranya adalah dengan mengajak teman-teman agar kita lebih semangat bersedekah. Sahabat, bisa menjadikan teman sebagai salah salah satu tempat untuk  berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kita semua tentunya mengetahui tentang kisah dua sahabat nabi yakni Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khattab, keduanya selalu berlomba-lomba dalam menunaikan kebaikan. Keduanya selalu bersaing untuk memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki.

Sedekah bersama teman juga bisa dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan penggalangan donasi untuk saudara kita yang kurang beruntung atau sedang terkena musibah bencana alam. Awalnya mungkin kita akan termotivasi untuk bersedekah bersama teman-teman, sehingga lama kelamaan kita terbiasa untuk melakukannya sendiri.

  1. Menyadari bahwa harta adalah titipan Allah

Harta yang kita miliki tak lain hanyalah titipan dari Allah swt. yang suatu saat nanti akan dimintai pertanggung jawabannya. Dengan demikian, tentunya kita harus mengambil manfaat dan pahala sebanyak-banyaknya dari harta tersebut agar kelak menjadi penyelamat kita di akhirat.

Bersedekah adalah salah satu cara agar harta yang kita miliki memiliki manfaat yang tiada henti. Bahkan ketika harta yang kita miliki diwakafkan maka pahalanyapun akan terus mengalir meskipun kita telah meninggal selama harta tersebut masih diambil manfaatnya.

Yuk belajar membiasakan sedekah bersama Yayasan Nurul Hayat, harta yang sahabat keluarkan akan digunakan untuk pemberdayaan anak yatim dan dhuafa, beasiswa tahfidz dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Berapapun jumlah yang dikeluarkan, kemanfaatannya sangat membantu saudara-sudara kita yang membutuhkan.

Ketahuilah apa itu Microsleep

Ketahuilah apa itu Microsleep

Ketahuilah apa itu Microsleep – Microsleep atau tidur sekejap adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba tertidur selama beberapa detik. Ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, misalnya saat belajar di kelas atau bekerja di kantor, bahkan saat berkendara. Seseorang yang mengalami microsleep tidak menyadari jika dirinya tertidur atau akan memasuki kondisi tidur, kondisi ini juga dapat terjadi dengan mata terbuka dengan pandangan kosong.

Salah satu dampak dari kekurangan waktu tidur adalah rasa lelah dan mengantuk saat berativitas. Hal ini terjadi karena otak yang merasa kelelahan namun tetap bertahan agar kita tetap terjaga.

Akibatnya, Anda dapat mengalami microsleep atau tertidur secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat. Microsleep merupakan tidur ringan yang hanya terjadi selama lima sampai sepuluh detik.

Sebagai contoh, ketika ada pengendara yang memacu kendaraannya dengan kecepatan 100 km/jam. Tiba-tiba mengalami microsleep sekitar 5 detik. Akibatnya, kendaraan yang dikendarai pun tiba-tiba melaju tanpa kendali sejauh 200 meter dan tentu saja, keadaan itu dapat memicu terjadinya kecelakaan yang fatal.

Lantas, Apa Penyebabnya?

Ketahuilah apa itu Microsleep – Microsleep diyakini terjadi ketika beberapa bagian otak “tertidur”, sementara bagian otak lainnya tetap aktif. Salah satu bagian otak yang menjadi tidak aktif saat microsleep adalah bagian yang berfungsi memproses suara. Inilah sebabnya, orang yang sedang mengalami microsleep tidak merespons panggilan.

Microsleep riskan terjadi pada orang yang sangat mengantuk tapi menahan dirinya untuk tidur. Ini bisa terjadi kapan saja pada orang-orang yang kekurangan tidur, misalnya pekerja shift malam atau penderita gangguan tidur.

Apa yang Terjadi pada Microsleep?

Sebelum jatuh ke dalam microsleep, akan muncul tanda-tanda berupa sulit menahan mata untuk tetap terbuka dan berulang kali menguap. Biasanya, orang yang sedang mengalami microsleep akan:

  • Hilang fokus
  • Tidak mendengar pembicaraan orang lain
  • Tidak ingat kejadian 1–2 menit yang lalu
  • Menjatuhkan barang yang sedang dipegang
  • Hilang kontrol postur tubuh sehingga kepala terjatuh tiba-tiba

Agar Terhindar dari Bahaya Microsleep

Microsleep tidak berbahaya bila terjadi saat kamu tengah bersantai di sofa sambil menonton film hingga larut malam. Akan tetapi, ini bisa jadi masalah jika kamu tertidur ketika meeting di kantor. Bahkan, bisa sangat berbahaya bila terjadi saat kamu mengemudi, karena dapat menyebabkan kecelakaan.

Oleh karena itu, microsleep perlu dicegah atau dikendalikan agar tidak membahayakan keselamatan dan tidak mengganggu produktivitasmu. Caranya adalah sebagai berikut:

Saat berada di rumah

  • Usahakan untuk tidur yang cukup setiap malam, yakni sekitar 7–9 jam. Sebelum tidur, hindari minum minuman berkafein atau beralkohol dan perbanyak minum air putih.
  • Matikan lampu kamar dan buat suasana kamarmu senyaman mungkin. Atur suhu kamar agar tidak terlalu dingin atau terlalu panas.

Ketika sedang berkendara

Hindari mengemudi ketika sedang mengantuk. Bila memungkinkan, minta teman untuk menyetir selama kamu tidur. Namun, jika kamu sedang berkendara seorang diri, lakukan beberapa hal berikut:

  • Microsleeps dapat dihindari dengan memenuhi kebutuhan waktu tidur 7-9 jam, berhati-hatilah jika kamu hanya tidur kurang dari 6 jam saat malam hari. Lebih baik jangan berkendara dalam kondisi seperti ini.
  • Saat merasa lelah atau mengantuk segera berhenti dan gunakan waktu untuk tidur sejenak, jika kamu sedang berkendara jarak jauh beristirahatlah setiap 1-2 jam sekali.
  • Konsumsi kopi sebelum mengemudi,namun beri jarak waktu. Pada umumnya kopi memberikan efek 30 menit setelah dikonsumsi. Atau kamu juga bisa konsumsi minuman berenergi untuk tetap terjaga saat berkendara.
  • Lakukan aktivitas yang membuat kamu tetap terjaga seperti mengobrol saat berkendara atau mendengarkan musik dengan tempo cepat.

Ketika sedang bekerja

  • Jangan mengoperasikan mesin apa pun ketika mengantuk
  • Lakukan olahraga ringan, seperti meregangkan kaki atau berjalan, untuk mengusir rasa kantuk
  • Cuci muka atau berdiskusi dengan teman kantor perihal pekerjaan, untuk mengalihkan kantuk.

Microsleep memang hanya terjadi selama beberapa detik. Namun, ini bisa meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan, terutama jika terjadi saat kamu mengemudi atau bekerja dengan mesin. Jadi, usahakan untuk tidak kurang tidur sebelum melakukan hal-hal yang berbahaya atau membutuhkan konsentrasi.

Bila kamu sering sulit tidur, masih mengantuk meski sudah cukup tidur, atau sering mengalami microsleep, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, karena bisa jadi kamu mengalami gangguan tidur, seperti sleep apnea atau narkolepsi.

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain – Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah aneka potensi kelebihan olehNya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia

Karena sesungguhnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada kita .

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Al-Isra Ayat 7)

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain – Yang terpenting agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas, karena ikhlas adalah salah satu kunci diterimanya amalan kita. Dan hanya amalan yang diterima Allah Jalla fii ‘Ulaah yang akan memberikan manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ

“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat, ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan, menjadikannya tumbuh benih-benih, bermekarannya tunas-tunas, merekahnya bunga-bunga di taman, hingga menggerakkan berputarnya roda kehidupan. Dan hanya amalan yang diterima Allah Jalla fii ‘Ulaah yang akan memberikan manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Demikianlah, cahaya pribadi kita hendaknya mampu menyemangati siapapun, bukan hanya diri kita, tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan sepenuhnya melimpahan energi karunia Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah energiNya, Subhanallah. Ingatlah, hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantasnya kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, yakni menjadi seperti yang disabdakan Nabi SAW, sebagai khairunnas. Sebaik-baik manusia! Insya Allah

Doa Mustajab Saat Hujan

Doa Mustajab Saat Hujan

Doa Mustajab Saat Hujan – Doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang menjadi rutinitas sehari-hari. Dalam Islam, kita dianjurkan untuk memanjatkan doa dalam waktu-waktu tertentu, salah satunya adalah saat hujan turun.

Waktu-waktu saat hujan turun adalah waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT saat turun hujan.
Sejumlah hadis meriwayatkan saat turun hujan merupakan waktu yang mustajab berdoa. Artinya, pada waktu ini, doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda terdapat tiga keadaan waktu yang mustajab untuk berdoa.

“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan yakni bertemunya dua pasukan, menjelang salat dilaksanakan, dan saat hujan turun,” dari Ibnu Qudamah dalam Al Mughni.
Hadis lain yang juga menyebut saat hujan turun merupakan waktu terkabulnya doa.
“Dua doa yang tidak akan ditolak yaitu doa ketika azan dan doa ketika ketika turunnya hujan,” hadis dari Sahl bin Sad.
Dalam hadis riwayat Abu Hurairah juga disebutkan pintu-pintu langit terbuka saat hujan turun.
“Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka saat perang fi sabilillah berkecamuk, turunnya hujan, ketika salat wajib, maka perbanyaklah berdoa pada waktu tersebut,” bunyi hadis tersebut.

Doa saat hujan merupakan salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya. Hal ini karena saat turun hujan merupakan saat turunnya rahmat dari Allah. Hal ini seperti yang disebutkan dalam buku berjudul Rahasia Agar Doa Selalu Dikabulkan Allah yang disusun oleh Fahruddin Ghozy (2018:220) yang menyebutkan bahwa hujan merupakan rahmat yang besar dari Allah SWT.

Tak hanya itu, dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa saat hujan turun termasuk salah satu waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Artinya: “Dua doa yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi.)

Berdasarkan hadist tersebut, kita dianjurkan untuk memanjatkan doa agar doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Nabi mencontohkan saat hujan turun untuk membaca doa “Allahumma shoyyiban nafi’an” yang berarti permohonan untuk diturunkan hujan yang bermanfaat. Hal tersebut dijelaskan dalam hadits berikut ini:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Artinya: “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari No. 1032)

Selain hadits di atas, Nabi juga mengajarkan kita untuk membaca doa lainnya saat turun hujan yang lebat. Doa saat turun hujan lebat ini merupakan doa yang berisi permohonan untuk diberikan hujan yang tidak merusak atau hujan yang mendatangkan musibah bagi manusia. Berikut ini adalah hadits lengkapnya:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari

Artinya: Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari no. 1014)

Alih-alih gelisah saat hujan turun, sebaiknya panjatkan doa kepada Allah SWT. Doa atau permintaan apa saja yang baik boleh dipanjatkan kepada Allah SWT. Tak terbatas pada doa tertentu saja.
Selain itu, umat Islam juga dapat membaca doa saat turun hujan. Doa ini meminta agar hujan yang mengguyur menjadi berkah dan manfaat bagi setiap makhluk.

Pemaparan mengenai doa saat hujan beserta dalil yang menganjurkannya dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi Anda, khususnya untuk membaca doa saat hujan turun.

 

 

 

Beginilah Cara Rasulullah Bergaul

Beginilah Cara Rasulullah Bergaul

Beginilah Cara Rasulullah Bergaul – Rasulullah merupakan salah satu utusan Allah yang sangat penyabar, lapang hati, penyayang, pemurah, dan pemaaf. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, iffah (memelihara diri dari sifat keji), amanah, zuhud, serta tawadu.

Tidak hanya itu saja, pada pribadi Rasulullah terkumpul seluruh karakter baik lagi terpuji. Sifat-sifat mulia tersebut beliau tampakkan dihadapan para sahabat, bahkan musuh-musuhnya. Benci dan dengki tidak mampu menutupi keagungan sifat-sifat Rasulullah. Mereka menyaksikan sendiri dan mengakuinya.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang mulia” (QS al-Qalam: 4).

Beginilah Cara Rasulullah Bergaul – Rasulullah adalah sebaik-baik Nabi dalam membina umatnya. Beliau sebaik-baik ayah bagi anak-anaknya. Sebaik-baik suami bagi para istrinya. Sebaik-baik kakek bagi cucu-cucunya. Dan sebaik-baik sahabat bagi para sahabatnya.

Perlu umat Islam ketahui, bahwa dalam pergaulan, Rasulullah mewariskan kesan mendalam kepada para sahabatnya. Beliau selalu mendahului mengucapkan salam kepada orang yang dijumpainya lalu menyodorkan tangannya terlebih dahulu untuk bersalaman. Beliau tidak akan melepas tangannya sebelum orang itu melepas tangannya sendiri.

Jika Rasulullah dipanggil, beliau akan menengok dengan seluruh anggota tubuhnya. Apabila bercakap-cakap dengan seseorang, beliau tidak memalingkan wajahnya sampai orang itu pergi. Wajahnya selalu diarahkan kepada orang yang semajelis dengan beliau. Sehingga, orang-orang yang bersama Rasulullah merasakan bahwa mereka sangat dihargai dan dihormati.

Selain itu, Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan seseorang hingga ia selesai berbicara. Kecuali jika orang itu keterlaluan, maka beliau memutuskan pembicaraannya dengan melarangnya berbicara, atau dengan berdiri berpaling meninggalkannya.

Rasulullah yang mulia ini menghormati tamu yang masuk ke rumahnya. Kadang-kadang tamu beliau dipersilakan duduk di atas bajunya serta diberi bantal. Jika tamunya menolak, beliau terus menawarkan hal itu hingga tamu itu berkenan duduk di atasnya.

Salah satu contoh, ketika Jabir bin Abdillah al-Bajali hadir di majelis Rasulullah, ia tidak mendapati tempat maka ia duduk di dekat pintu. Lalu Rasulullah melipat bajunya dan memberikan kepadanya seraya berkata, “Silakan duduk di atasnya!”

Diambillah baju itu oleh Jabir dan diletakkan di wajahnya lalu diciumnya seraya menangis serta dikembalikannya kepada Rasulullah yang mulia. “Semoga Anda dimuliakan oleh Allah sebagaimana engkau memuliakanku,” kata Jabir.

Tatkala seseorang datang ke rumah beliau karena suatu keperluan, sedangkan beliau sedang menunaikan salat, beliau meringankan salatnya untuk segera menemui tamunya. “Apakah engkau memiliki keperluan?” kata beliau. Apabila keperluannya telah terpenuhi, beliau lalu kembali menunaikan salatnya.

Kekasih Allah ini selalu menasihati para sahabatnya dengan bahasa yang santun, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Beliau tidak bercakap-cakap dengan sesuatu yang menyinggung perasaan dan menyakiti hati para sahabatnya.

Bila tidak bertemu dengan salah seorang dari para sahabatnya selama sekian hari, Rasulullah selalu menanyakannya. Bila sahabatnya itu pergi, beliau mendoakannya. Jika sakit, beliau menjenguknya. Bila sudah wafat dan beliau belum mensalatinya, Rasulullah datang ke kuburannya.

Bergaul itu ada seninya. Seninya adalah menjaga etika. Etika pergaulan yang ditanamkan Rasulullah akan turun kepada Anda, jika akhlak beliau ada pada diri Anda. Tanpa meneladani beliau, kemuliaan belum pantas disematkan pada diri Anda. Wallahu A’lam.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • +62-822-3077-3077
  • cs@nurulhayat.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ