NH Banyuwangi Hadirkan Program Konservasi Terumbu Karang

NH Banyuwangi Hadirkan Program Konservasi Terumbu Karang

Nurul Hayat Banyuwangi bersama Kelompok Masyarakat Putera Samudra, Kampung Mandar Banyuwangi, menggagas sebuah program sadar lingkungan yang bertujuan untuk melestarikan ekosistem bawah laut di kawasan Pantai Boom Banyuwangi melalui Program Konservasi Terumbu Karang.

Berawal dari keprihatinan masyarakat bahwa sebagian besar penduduk nelayan di wilayah Kampung Mandar harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencari atau menangkap ikan. Sedangkan di kawasan laut yang berada tampak di depan mata hanya bisa digunakan untuk jalur lewat saja. Faktor utama yang mempengaruhi adalah tidak banyak populasi ikan yang berada di kawasan laut terdekat. Sehingga para nelayan rela menempuh jalur berkilo-kilo jika ingin memperoleh hasil ikan yang lebih banyak.

Melalui upaya program konservasi terumbu karang di kawasan laut terdekat, kami berharap menjadi solusi untuk membentuk ekosistem baru bawah laut. Program ini diharapkan juga dapat memotivasi masyarakat pada umumnya untuk turut menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya di darat, tapi juga kelestarian alam laut.

“Sesuai rencana, kami akan mulai memasang rumah terumbu karang ini dari kedalaman 4 meter. Yang nantinya akan bergeser semakin ke tengah hingga jarak 500 meter dari bibir pantai dengan kedalaman kira-kira 400 meter di bawah permukaan laut. Ini dilakukan supaya populasinya bisa sampai juga ke pinggir pantai, tidak hanya di tengah-tangah laut,” kata Hilmansyah, ketua Pokmas Putera Samudra.

Selain mengembalikan kelestarian alam bawah laut, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan populasi ikan di kawasan tersebut. Yang juga akan berbanding lurus dengan hasil tangkap masyarakat Kampung Mandar yang notabene sebagian besar adalah nelayan. Tentu itu akan berdampak besar bagi pendapatan ekonomi mereka. Dan nantinya mereka tidak perlu lagi  menempuh jarak yang terlalu jauh untuk menangkap ikan di laut.

Meneladani Akhlak Nabi Ibrahim

Meneladani Akhlak Nabi Ibrahim

Meneladani Akhlak Nabi Ibrahim Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Kholilullah (kekasih Allah)-. Di antara kisah beliau adalah ketika beliau didatangi para malaikat yang akan diutus untuk membinasakan kaum Luth. Para malaikat tersebut terlebih dahulu mendatangi Ibrahim dan istrinya, Sarah untuk memberi kabar gembira akan kelahiran anak mereka yang ‘alim yaitu Nabi Allah Ishaq ‘alaihis salam. Kisah tersebut disebutkan dalam ayat berikut ini :

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (24) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (25) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ (26) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (27) فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28) فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaama”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.  Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).” (QS. Adz Dzariyat: 24-30)

 

Menjawab Salam dengan Yang Lebih Baik

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala benar-benar memuji kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihis salam. Para malaikat sebagai tamu tadi, ketika masuk ke rumah beliau, mereka memberikan penghormatan dengan ucapan, “Salaaman”. Aslinya, kalimat ini berasal dari kalimat, “Sallamnaa ‘alaika salaaman (kami mendoakan keselamatan padamu)”. Namun lihatlah bagaimana jawaban Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam terhadap salam mereka. Ibrahim menjawab, “Salaamun”. Maksud salam beliau ini adalah “salaamun daaim ‘alaikum (keselamatan yang langgeng untuk kalian)”. Para ulama mengatakan bahwa balasan salam Ibrahim itu lebih baik dan lebih sempurna daripada salam para malaikat tadi. Karena Ibrahim menggunakan jumlah ismiyyah (kalimat yang diawali dengan kata benda) sedangkan para malaikat tadi menggunakan jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja). Menurut ulama balaghoh, jumlah ismiyyah mengandung makna langgeng dan terus menerus, sedangkan jumlah fi’liyah hanya mengandung makna terbaharui. Artinya di sini, balasan salam Ibrahim lebih baik karena beliau mendoakan keselamatan yang terus menerus. Inilah contoh akhlaq yang mulia dari Nabi Allah Ibrahim ‘alaihis salam. Kita bisa mengambil pelajaran dari sini bahwa hendaklah kita selalu menjawab ucapan salam dari saudara kita dengan balasan yang lebih baik. Sebagaimana Allah Ta’ala pun telah memerintahkan kita seperti itu dalam ayat,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)

Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: “Assalaamu ‘alaikum”, maka minimal kita jawab: “Wa’laikumus salam”. Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: “Wa’alaikumus salam wa rahmatullah”, atau kita tambahkan lagi: “Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh”. Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih. Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum (bukan cemberut) dan menghadapkan wajah padanya. Inilah di antara bentuk membalas salam dengan yang lebih baik.

Baca Juga : Berbagi Kemanfaatan Kepada Ibu-Ibu Tukang Sapu

Memuliakan Tamu

Dalam cerita Ibrahim ini juga terdapat pelajaran yang cukup berharga yaitu akhlaq memuliakan tamu. Lihatlah bagaimana pelayanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk tamunya. Ada tiga hal yang istimewa dari penyajian beliau:

Beliau melayani tamunya sendiri tanpa mengutus pembantu atau yang lainnya.

Beliau menyajikan makanan kambing yang utuh dan bukan beliau beri pahanya atau sebagian saja.

Beliau pun memilih daging dari kambing yang gemuk. Ini menunjukkan bahwa beliau melayani tamunya dengan harta yang sangat berharga.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bagaimana sebaiknya kita melayani tamu-tamu kita yaitu dengan pelayanan dan penyajian makanan yang istimewa. Memuliakan dan menjamu tamu inilah ajaran Nabi Ibrahim, sekaligus pula ajaran Nabi kita Muhammad ‘alaihimush sholaatu wa salaam. ‘Abdullah bin ‘Amr dan ‘Abdullah bin Al Harits bin Jaz’i mengatakan, “Barangsiapa yang tidak memuliakan tamunya, maka ia bukan pengikut Muhammad dan bukan pula pengikut Ibrahim” (Lihat Jaami’ul wal Hikam, hal. 170). Begitu pula dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47, dari Abu Hurairah)

Seseorang dianjurkan menjamu tamunya dengan penuh perhatian selama sehari semalam dan sesuai kemampuan selama tiga hari, sedangkan bila lebih dari itu dinilai sebagai sedekah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ » . قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ »

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia perhatian dalam memuliakan tamunya.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud perhatian di sini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu perhatikanlah ia sehari semalam dan menjamu tamu itu selama tiga hari. Siapa yang ingin melayaninya lebih dari tiga hari, maka itu adalah sedekah baginya.” (HR. Bukhari no. 6019 dan Muslim no. 48, dari Syuraih Al ‘Adawi). Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah seharusnya tuan rumah betul-betul perhatian melayani tamunya di hari pertama (dalam sehari semalam) dengan berbuat baik dan berlaku lembut padanya. Adapun hari kedua dan ketika, hendaklah tuan rumah memberikan makan pada tamunya sesuai yang mudah baginya dan tidak perlu ia lebihkan dari kebiasaannya. Adapun setelah hari ketiga, maka melayani tamu di sini adalah sedekah dan termasuk berbuat baik. Artinya, jika ia mau, ia lakukan dan jika tidak, tidak mengapa (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 21/31). Imam Asy Syafi’i rahimahullah dan ulama lainnya mengatakan, “Menjamu tamu merupakan bagian dari akhlaq yang mulia yang biasa dilakukan oleh orang yang nomaden dan orang yang mukim” (Lihat Syarh Al Bukhari libni Baththol, 17/381). Sudah sepatutnya kita dapat mencontoh akhlaq yang mulia ini.

 

Berbicara dengan Lemah Lembut

Dalam ayat yang kami bawakan di awal tadi, kita dapat menyaksikan bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam juga mencontohkan akhlaq berbicara lembut kepada para tamunya. Lihatlah ketika menjawab salam tamunya, beliau menjawab, “Salaamun qoumun munkarun” (selamat atas kalian kaum yang tidak dikenal). Kalimat ini dinilai lebih halus dari kalimat ‘ankartum‘ (aku mengingkari kalian). Begitu pula ketika Ibrahim mengajak mereka untuk menyantap makanan. Bagaimana beliau menawarkan pada mereka? Beliau katakan, “Ala ta’kuluun” (mari silakan makan). Bahasa yang digunakan Ibrahim ini dinilai lebih halus dari kalimat, “Kuluu” (makanlah kalian). Ibaratnya Ibrahim menggunakan bahasa yang lebih halus ketika berbicara dengan tamunya. Kalau kita mau sebut, beliau menggunakan bahasa “kromo” (bahasa yang halus dan lebih sopan di kalangan orang jawa). Inilah contoh dari beliau bagaimana sebaiknya seseorang bertutur kata. Inilah pula yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1/155, hasan)

Demikianlah akhlaq mulia dari Nabi Ibrahim yang seharusnya dapat kita jadikan teladan. Dalam sebuah ayat, Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6)

Buah Manis Dari Syukur

Buah Manis Dari Syukur

Buah Manis dari SyukurDari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun terkadang terus merasa kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal. Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menganggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah nikmat dari Allah yang luar biasa.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.

Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridho’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada keridho’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada keridho’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi keridho’an. 

Buah Manis dari Syukur

Syukur Adalah Sifat Orang Beriman

Rasulullah ` bersabda, “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (H.R. Muslim no.7692).

Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah

Allah l berfirman, “Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (Q.S. Az-Zumar [39]: 7).

Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah

Allah berfirman, “Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa [4]: 147).

Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat

Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Ganjaran Di Dunia dan Akhirat

Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah l berfirman, “Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Ali Imran [3]: 145). Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).

 

Bumi Allah itu luas, syukur kita jangan sampai sempit.

Keutamaan Tawadhu’

Keutamaan Tawadhu’

Mendapat Kemuliaan dari Allah

Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang tawadhu’ kepada Allah, pasti dimuliakan Allah” (HR. Muslim). Inilah pesan Nabi yang benar-benar kita lihat secara nyata dalam kehidupan hari ini. Betapa, semakin tawaduk seseorang, ia semakin disukai. Allah ﷻ membuat hati setiap manusia menjadi suka terhadap pribadi-pribadi tawadhu’.

Sebaliknya juga demikian. Manakala terdapat sifat sombong pada diri seseorang, ia pasti tidak disukai orang lain dan kedudukannya jatuh di mata orang-orang.

Maka di hadapan kita ada dua pilihan. Merendahkan hati sehingga kita ditinggikan kedudukan, atau meninggikan hati sehingga kita direndahkan kedudukan.

Mendapat Surga Tertinggi

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang tawadhu’ satu derajat kepada Allah ﷻ, Allah ﷻ angkat ia satu derajat hingga mencapai Surga yang tertinggi. Sebaliknya, siapa yang sombong satu derajat kepada Allah ﷻ, Allah ﷻ rendahkan ia satu derajat hingga mencapai Neraka terbawah.” (HR. Ahmad)

Betapa tinggi kedudukan mukmin yang tawadhu. Allah ﷻ menjaminkan untuknya Surga tertinggi disebabkan ketawadhu’annya. Sebaliknya, bertapa buruk kedudukan orang yang sombong. Mari kita tanyakan pada diri sendiri. Berada digolongan manakah kita? Apapun jawabannya, bukankah kita sangat menginginkan Surga? Dan Tawadhu dapat menghantarkan kita ke sana, sedang sombong akan menghalangi kita ke Surga bahkan jatuh ke Neraka.

Perintah Allah dan RasulNya

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ sehingga seseorang tidak boleh berlaku congkak atas orang lain dan tidak boleh berlaku aniaya.” (HR. Abu Dawud)

Peringatan Rasulullah ﷺ tersebut sudah sangat jelas. Tinggal pada diri kita, butuh kerelaan untuk melakukan muhasabah dan mengevaluasi cara kita bergaul dengan orang lain selama ini.

Tanah Adalah Jalan Terdekat Menuju Langit

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah berfirman, ‘siapa yang bersikap tawadhu kepadaKU seperti ini (Rasulullah menunjuk tanah dengan bagian dalam telapak tangannya dan menjatuhkannya ke tanah) maka Aku akan meninggikannya seperti ini (beliau membalikkan telapak tangannya tinggi-tinggi menuju langit)” (HR. Ahmad).

Ketika kita kian bersikap tawadhu kepada Allah ﷻ  dalam hidup bermasyarakat, pada saat itulah kita semakin dimuliakan Allah ﷻ. Perhatikan sekali lagi dua perumpamaan di atas. Makin diri ini menempel ke tanah kerendahan, makin naiklah kita ke langit kemuliaan.

Bukan sebuah kebetulan juga, bila Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang lain mengatakan, jarak terdekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat bersujud. Posisi sujud adalah posisi merendahkan diri. Kepala yang menjadi tempat berfikir dan sumber kecerdasan, direndahkan serendah-rendahnya menjadi sejajar dengan telapak kaki. Namun, disaat seperti inilah Allah ta’ala mendekat dengan sangat dekat kepada hambaNya.

Tidak Masuk Surga yang Hatinya ada Sombong

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak masuk Surga orang yang hatinya memendam kesombongan walau seberat atom” (HR, Muslim). Dalam riwayat lainnya, “Tidak masuk Surga orang yang dalam hatinya terbetik kesombongan meski seberat biji sawi.”

Maka tak perlu menjadi sombong seperti Namrudz, yang mengejek Ibrahim dengan berkata, “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan manusia,” lalu dia memanggil dua orang, yang satu ia bunuh, satu lagi ia biarkan hidup. Tak perlu juga menjadi Firaun, yang mengaku sebagai Tuhan. Untuk diharamkan dari Surga, tak perlu menjadi seperti keduanya. Karena Rasulullah hanya mensyaratkan sebiji sawi kesombongan, sudah menghalangi seseorang dari Surga.

Adakah kita mendustakan kebenaran? Adakah kita merendahkan orang lain?

Apakah Engkau Hendak Menyaingi Allah?

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah ﷻ berfirman, “Kesombongan adalah pakaianKu dan kemuliaan adalah jubahKu. Siapa yang mau menyaingiKu dalam keduanya, pasti Aku siksa.” (HR.Ahmad)

Bertawaduklah kepada Allah. Jangan menyaingi kebesaranNya. Tidakkah kita menginginkan Allah ﷻ memberikan karunia Surga?

Perhatikan Wasiat Luqman

Allah ﷻ berfirman dalam wasiat Luqman kepada anaknya, “Jangan engkau memalingkan muka (tushair) dari manusia dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh” (QS. Luqman : 18).

Apa makna Tusha’ir? Ia berasal dari kata shi’ir. Yaitu sejenis penyakit yang menimpa leher unta sehingga ia tidak bisa menggerakkan lehernya. Ia pun berjalan dengan leher mendongak ke atas.

Perhatikan perumpaan dari Al-Quran yang sangat menarik tersebut. Al-Quran menyamakan orang-orang yang sombong, dengan ciri gestur tubuhnya yang khas, dengan unta yang berpenyakit shi’ir. Mendangak kepala ke atas, sulit menunduk. Kalau unta, karena lehernya yang sakit, kalau manusia karena hatinya yang berpenyakit.

 

#LaznasNurulHayat  #Zakatkita

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain, itulah akhlak yang penting di era sekarang. Karena biasanya, orang yang meremehkan orang lain. Hanya bisa mengintip aktivitas orang lain. Jadi, dia sendiri tetap jalan di tempat. Sementara si orang lain terus melangkah dan berkarya.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain – Islam adalah agama yang kaaffah. Islam mengatur segala sesuatunya dalam kehidupan  dan tidak ada yang terlewatkan. Salah satu hal yang diatur dalam agama islam adalah sikap tidak meremehkan orang lain. Bahkan sekalipun terhadap orang yang dibawah kita baik dari segi umur, status sosial, ekonomi, jabatan dan lainnya. Tetapi terkadang hal ini masih banyak orang yang meremehkan orang lain dan sikap meremehkan ini bisa dilihat dari ucapan,tingkah laku, gerak tubuh dan lainnya.

Rasulullah Saw pernah suatu ketika tidak memperdulikan atau bermuka kurang menyenangkan dihadapan abdullah bin ummi maktum ketika kedatangan para pembesar Quraysi hal ini disebutkan dalam tafsir ibnu katsir “ pada sautu hari Rasulullah Saw berbicara dengan beberapa pembesar Quraisy yang sangat beliau harapkan keislamannya.

Saat itu datanglah ummu maktum yang telah masuk islam terlebih dahulu, dia bertanya kepada Rasulullah Saw tetapi beliau hanya menoleh karena tidak ingin waktunya tersita demi mengajak para pembesar Quraisy. Sehingga beliau bermuka masam dan berpaling dari ummu maktum. Maka turunlah ayat “

عبس و تولى   ان جاءه الأعمي     وما يدريك لعله يزكي

dia Muhammad bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadany, tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa. Yakni berkenaan dengan penyucian dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya, atau mengenai nasihat atau nasihat atau mencegah diri dari yang diharamkan.

“adapun orang yang dirinya merasa serba cukup kamua melayaninya” yaitu pembesar-pembesar Quraysi yang sedang dihadapi Rasulullah Saw yang diharapkannya dapat masuk islam. Mereka kamu layani dan berpaling dari ummu maktum.

Abu ya’la meriwayatkan dari Anas ra. Tentang surat abasa’ ibnu ummu maktum menghadap Rasulullah Saw sedangkan beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf, Rasulullah berpaling dari ibnu ummu maktum maka turunlah surat ‘abasa’ setelah itu Rasulullah memuliakan ibnu ummu maktum.(HR. Abu ya’la)

Maka dari kisah ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak meremehkan orang lain. Karena ketika kita suka meremehkan orang lain pada dasarnya kita juga meremehkan diri sendiri ketika kita merendahkan orang lain pada hakikatnya kita juga meremehkan diri sendiri.: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan walau sedikitpun, mungkin kebaikan tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam surga dan kekal di dalamnya.

عنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

Artinya: “Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu sekali-kali meremehkan dari kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” HR. Muslim.

Dan jangan pernah meremehkan dosa walau sedikitpun, mungkin dosa tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia adalah lebih tipis dibandingkan rambut dalam penglihatan kalian, sungguh kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya termasuk dari dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” HR. Ahmad dan Bukhari.

Maka jangan meremehkan siapapun. Karena sama sekali tidak ada orang hebat dengan cara meremehkan orang lain. Dan belum tentu orang yang diremehkan lebih buruk dari yang meremehkan. Mari kita perbaiki diri jangan sampai amalan-amalan kita hangus karena kita sering meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain. Kita gunakan amanah nikmat kesehatan ini untuk memperbanyak kebaikan-kebaikan amal kita.  Wallohu a’lam bi alshawab.

NH Madiun Berikan Modal untuk Koperasi Berani Jujur

NH Madiun Berikan Modal untuk Koperasi Berani Jujur

Koperasi Berani Jujur – Alhamdulillah, Nurul Hayat Madiun terus menebar kemanfaatan. Kali ini, Nurul Hayat (NH) Madiun memberikan suntikan modal untuk kelompok Koperasi Berani Jujur (KBJ) Balerejo, sebesar sepuluh juta rupiah.

Dana hibah sebesar sepuluh juta rupiah yang telah dikucurkan empat tahun yang lalu, dengan konsep syariah (pinjam tanpa bunga, permodalan bagi hasil, jual beli, tabungan dan infak ), kini telah berkembang menjadi aset Koperasi Berani Jujur sebesar dua puluh juta rupiah.

Alhamdulillah, adanya Koperasi Berani Jujur Nurul Hayat di Balerejo ini betul-betul sangat membantu para anggotanya yang mayoritas petani. Para anggota yang memiliki kebutuhan  mendesak, seperti ketika harus membayar iuran sekolah anaknya tapi mereka belum panen, mereka bisa mendapatkan pinjaman tanpa bunga untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.  Tidak hanya itu saja, adanya Koperasi Berani Jujur ini juga sangat membantu pada saat anggota membutuhkan pupuk untuk sawahnya namun belum memiliki dana.

Karena perkembangan KBJ Balerejo ini sangat bagus, antusias, dan semangat juga luar biasa, KBJ Balerejo mendapat suntikan modal sebesar sepuluh juta rupiah. Dari suntikan modal tersebut, akhir tahun 2021, dengan memaksimalkan program menabung, target omset KBJ mencapai empat puluh juta rupiah.

Serah terima bantuan ini, langsung diberikan oleh BM Nurul Hayat Madiun, Khoirur Rohman, pada Rabu, 24 November 2021. “Kita harapkan KBJ ini menjadi KBJ percontohan sehingga bisa bermunculan KBJ-KBJ lain. Yaitu KBJ yang mandiri, artinya permodalan  bisa dari tabungan atau dari urunan anggota,” tutur Khoirul dalam sambutannya.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh sahabat sejuk Nurul Hayat yang telah mendukung program-program kemanfaatan Laznas Nurul Hayat. Termasuk salah satunya adalah program Koperasi Berani Jujur ini. Semoga apa yang telah sahabat sejuk berikan, mendapat balasan terbaik dari Allah ta’ala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

#KBJ #KoperasiBeraniJujur #Laznas #LaznasNH #NurulHayat #NHZakatKita #Madiun #Sosial #SosialKemanusiaan #DanaSosial #ZakatKita

.

www.zakatkita.org I #TempatBerinfak

Cermin

Cermin

Dikisahkan, di sebuah rumah pertanian seorang kakek bersama cucunya sedang duduk di beranda. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti dan seseorang menanyakan arah menuju ke kota terdekat. Setelah berbasa-basi, lelaki asing itu bertanya,  “Katakan tuan, orang macam apakah yang tinggal di sekitar sini?” “Mengapa engkau bertanya demikian?” Jawab orang tua itu. Setelah mendekat beberapa langkah, orang asing itu berkata, “Saya baru saja meninggalkan kota yang masyarakatnya adalah sekelompok orang sombong. Saya belum pernah bertemu dengan orang-orang yang kurang bersahabat seperti itu dalam hidup saya.” Orang asing itu melanjutkan, “Saya tinggal di kota itu lebih dari setahun tapi tidak pernah sekalipun saya merasa menjadi bagian dari masyarakat itu.” “Saya kira seperti itu pula keadaan yang akan engkau temui pada masyarakat di sini,” jawab lelaki tua itu. Dan orang asing itu mengucapkan selamat tinggal sambil berlalu. Cucunya terheran-heran atas apa yang baru didengarnya.

Tak berapa lama, mobil lain berhenti di depan rumah pertanian itu. Turunlah seseorang yang lagi-lagi menanyakan arah kota yang sama. Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, orang asing itu juga bertanya, “Bolehkah saya tahu, bagaimana keadaan  orang-orang di daerah ini?” Sekali lagi orang sepuh itu pun bertanya balik, “Mengapa engkau bertanya demikian?” Kemudian orang asing itu berkata, “Tahukah Anda,  saya tinggal di sebuah kota kecil yang sangat indah. Masyarakatnya membuat saya sangat betah tinggal di sana. Orang-orangnya sangat baik dan sangat penolong. Saya merasa berat untuk meninggalkan kota itu karena saya harus bertugas di daerah baru ini.”

Laki-laki tua itu tersenyum sembari berkata, “Di sini, engkau akan menemukan orang-orang yang sama baiknya dengan orang-orang di tempat yang kau tinggali dulu.” Orang asing itu pun berlalu. Tinggal sang cucu terheran atas apa yang baru saja didengarnya. Dan ia pun bertanya, “Kakek, mengapa memberi jawaban berbeda kepada dua orang asing itu untuk pertanyaan yang sama?” Sambil menepuk-nepuk bahu cucunya, sang kakek menjawab, “Sikap orang terhadap masyarakatlah yang menentukan bagaimana masyarakat bersikap terhadap mereka. Karena sesungguhnya orang-orang di seluruh dunia ini sama baiknya, sebab masyarakat adalah cermin yang memantulkan sikap kita pada mereka.”

Cermin itu adalah kita anakku. Apa yang kalian lihat pada orang lain, adalah cermin dirimu.  Apa yang engkau rasa adalah pantulan dirimu. Karena apa yang pernah engkau alami terhadap perilaku seseorang, pernah terjadi pada orang yang engkau temui. Baik dan buruk seseorang adalah baik dan burukmu. Itulah hakekat manusia. Namun seberapa baik dan buruk itu tergantung masing-masing, bagaimana ia mau belajar. Agar kebaikan lebih dominan atas keburukannya. Agar keburukannya tidak melebihi kebaikannya. Di situlah yang membedakan satu dengan yang lainnya. Seperti yang pernah Rasulullah ﷺ sampaikan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya, hingga orang lain merasa aman.” (HR. Tirmidzi).

Pada hakekatnya, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari sisi keburukannya. Sampai orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain, orang terbaik adalah orang yang dalam satu sisi dapat memberikan manfaat pada orang lain dan di sisi lain mampu mengendalikan keburukannya sehingga menghasilkan ketenangan bagi  yang berada di dekatnya. Untuk itu, raba diri kalian anakku. Jangan-jangan keberadaan kita tidak begitu baik di mata orang-orang sekeliling karena keburukan yang kita timbulkan. Keburukan-keburukan yang kita lempar kepada orang lain yang sejatinya berasal dari keburukan kita.  Karena kita adalah cermin itu sendiri. Seberapa kita menjadi manfaat dan seberapa kita menjadi mudhorot bagi orang lain, adalah tergantung seberapa besar kebaikan kita mendominasi keburukan yang ada. Rasulullah ﷺ menggambarkan tentang cermin diri yang sangat mewakili dari zaman ke zaman: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”

Namun tidak jarang anakku, beberapa orang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia baik. Berhati-hatilah engkau akan urusan penting ini.  Karena baik saja tidak cukup. Karena masih ada rentetan dan tantangan agar baik itu berbuah pahala. Agar cermin dirimu bersih dari coretan yang sengaja dan tidak sengaja engkau lakukan. Agar cermin dirimu betul-betul manfaat untuk orang lain sebagaimana Rasulullah ﷺ tauladankan.

Suatu hari Umar bin Khatab mengawasi Abu Bakar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Setiap selesai sholat subuh, Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah untuk mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota Madinah itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin mengetahui dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan sahabatnya di situ. Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapati seorang nenek yang lemah dan buta. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ia pun bertanya kepada nenek itu, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui siapa dia. Setiap hari dia datang, membersihkan rumahku dan menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.” Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimat yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah dan berat khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Cukuplah kebaikan agama ini yang menjadi cermin dirimu anakku. Sehingga engkau menjadi cermin bagi yang lain. Banyak orang tidak membaca Quran dan Hadist. Namun ia bisa membaca dari cermin dirimu.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Memberi Rasa

Memberi Rasa

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh yang menampilkan kefakirannya, memasuki sebuah pasar untuk membeli selimut. Ia membutuhkan lima lembar selimut untuk keluarganya di musin dingin tahun itu. Uang yang ia miliki hanya 100 ribu. Ia sudah berkeliling di pasar itu namun tidak ada toko yang menjual lima lembar selimut dengan harga 100 ribu.

Putus asa, ia memasuki toko terakhir di pasar itu. Ia sempat ragu karena toko itu adalah toko yang sangat besar dan megah dibanding toko-toko lainnya. Dengan suara ragu lelaki tua itu bertanya, “Saya membutuhkan lima lembar selimut, namun saya hanya punya uang 100 ribu. Apakah Anda menjualnya?” Pemilik toko berkata, “Ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki. Harganya 25 ribu per lembar. Kalau bapak beli empat lembar, akan mendapatkan bonus satu lembar.” Dengan wajah sumringah bapak tua miskin itu langsung mengulurkan uangnya dan segera setelah mendapatkan selimutnya, ia beranjak pergi.

Anak pedagang selimut itu memperhatikan ayahnya dan berkata, “Bukankah kata ayah, itu selimut termahal di toko ini? Dan bukankah harganya 250 ribu per lembar?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Benar sekali nak, harga selimut itu 250 ribu per lembar. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Sedang hari ini kita berdagang dengan Allah . Ayah berharap, laki-laki tua itu dan keluarganya dapat terhidar dari dinginnya musim dingin kali ini. Ayah juga berharap Allah akan menyelamatkan keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti. Sesungguhnya, kalaulah tidak karena menjaga harga diri laki-laki tua tadi, ayah tidak ingin menerima uangnya. Tapi ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah, sehingga merasa malu.”

Sesampainya di rumah, istri lelaki tua itu terheran melihat selimut bagus yang dibawa suaminya. Apalagi setelah mereka menemukan harga yang tertulis di banderol selimut itu adalah 250 ribu selembar. Mereka berpikir bahwa penjual selimut itu salah memberi harga. Lalu anak gadisnya berinisiatif untuk mengembalikan selimut itu ke toko dimana ayahnya membeli. Anak lelaki tua itu berkata kepada anak pemilik toko, “Tadi pagi ayahku membeli lima lembar selimut di toko ini. Dan ternyata Anda salah memberi harga. Harga selimut ini 250 ribu per lembar, namun Anda memberikan harga 25 ribu. Untuk itu saya mengembalikan selimut ini.”

Anak pemilik toko itu pura-pura melihat label harga lalu berkata, “Masya Allah! Anda benar, harga selimut ini 250 ribu. Betapa Anda sekeluarga sangat baik. Menyelamatkan kami dari kerugian yang sangat besar. Kalau Anda tidak memberitahu, betapa banyak kerugian kami dengan tumpukan selimut yang sangat banyak itu. Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda.”

Ada rasa di sana. Ada cinta di sana. Ada adab yang indah. Yang setiap diri pasti mampu menangkapnya.

Namun ternyata, ini bukan pekerjaan mudah. Karena banyak sekali orang yang sesungguhnya sedang berbuat baik sekaligus melakukan kedzaliman. Banyak orang baik yang tanpa sadar menjadi orang yang paling buruk. Siapa? Mungkin kita, anakku. Sangat mungkin, karena perilaku itu seringkali terjadi tanpa disadari pelakunya. Banyak pekerjaan baik yang menyebabkan kita merasa penting, lalu meremehkan orang lain. Banyak pekerjaan penting yang menjadikan kita merasa lebih, lalu merendahkan orang lain. Banyak urusan ummat yang memunculkan rasa paling. Kemudian kita mengecilkan orang lain.

Anakku, kalau kita lihat sekeliling, banyak orang yang tiba-tiba merasa penting karena amanah yang diberikan pada mereka. Tiba-tiba merasa menjadi berbeda karena program-program yang dibuat sangat bermanfaat. Sangat inspiratif. Sangat berguna. Dan sangat-sangat yang lain. Kemudian muncul rasa bangga. Takjub dengan diri sendiri. Sampai lupa memberi empati karena sudah merasa penting, merasa paling, merasa terganggu dengan orang-orang yang minta bantuan. Merasa tidak ada waktu untuk orang-orang yang diperkirakan merepotkan dengan banyak keluhan. Sampai lupa memberi rasa.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Kita tidak pernah lepas dari ancaman orang-orang yang memerangi iman. Namun kita jarang mau belajar, anakku. Orang-orang itu, membujuk iman kita dengan yang tampak baik. Menjerat iman kita dengan layanan dan cinta. Orang-orang itu lapang hatinya menerima keluh kesah, lebar telinganya mendengar susah dan resah. Terbuka tangannya mengulurkan bantuan dengan rasa. Sedang kita, lupa memberi rasa.

“Seorang Arab Badui berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat ingin mengusirnya. Tapi Nabi bersabda kepada mereka,  ‘Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air atau setimba besar air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan diutus untuk memberi kesususahan’.” (HR. Al Bukhari no. 323).

Anak-anakku, jangan-jangan selama ini amanah-amanah baik kita, menjadikan orang lain susah. Jangan-jangan pekerjaan kita yang tampak baik ini, menjadikan orang lain sempit jalannya. Hanya karena kita berdalih sesuai dengan prosedur dan profesionalisme. Sampai lupa memberi rasa. Lupa memberi cinta. Ya, banyak orang yang memberi bantuan namun tanpa rasa. Banyak orang yang menolong tapi tanpa cinta. Tidak sedikit yang berbuat baik namun terselip kesombongan. Juga tak kurang yang berjuang di jalan dakwah namun kikir rasa. Tersihir dengan kesibukannya dan takjub dengan amal solehnya. Alangkah sia-sianya.

Untuk itu anakku, berhati-hatilah kalian dengan tabiat ini. Karena setan bila tidak mampu membuat kita melakukan keburukan, ia akan menjadikan kita merasa baik. Dan rasa baik itulah yang menjadi pintu masuk semua keburukan. Jadilah orang baik yang dimaksud dalam agama ini. Yakni baik hubunganmu dengan Allah ﷻ, baik juga hubunganmu dengan sesama manusia. Sebagaimana anak penjual selimut itu berkata, “Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda…..” Wallahu’alam bishowab.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Tentu orangtua ingin anaknya menjadi seseorang yang memiliki kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di sekitarnya. Orangtua hendaknya mengajarkan kepada anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan teman-teman sebayanya, bahkan dengan orang dewasa.  Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan sosial anak.  Supaya anak tidak tumbuh menjadi anak yang egois. Selain itu insyaAllah anak juga akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Bukankah tujuan manusia diciptakan ke dunia ini adalah sebagai khalifah (pemakmur bumi).  Nah,  dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya insyaAllah kelak akan sangat bermanfaat ketika mereka menjalankan perannya sebagai pemakmur bumi,  apapun passion yang ditekuninya kelak.

Mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa

Untuk mengasah kemampuan bersosialisasi anak,  orangtua dapat mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa. Para sahabat di zaman Rasulullah ﷺ telah mengajak anak-anak mereka untuk menghadiri kumpulan orang dewasa. Sehingga dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak pada majelis-majelis yang mulia. Bahkan dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap ilmu, menumbuhkan keberanian bertanya ataupun berpendapat, yang tentunya dapat menambah wawasan anak.

Saya sendiri senang mengajak anak menghadiri majelis ilmu, entah itu di rumah, aula, ataupun masjid. Ketika orangtua menuntut ilmu, tanpa terasa anak ikut menyimak, bahkan turut menghafalkan ayat Alquran yang sedang saya pelajari. Terkadang disediakan pendamping untuk anak.  Sehingga selagi orangtua mengikuti seminar, anak-anak diberikan kegiatan yang menyenangkan dan terarah.

Mengajarkan tugas rumah pada ananda

Sewaktu kecil,  kita pasti terbiasa membantu pekerjaan domestik orangtua seperti menyapu, mencuci piring,  atau berbelanja ke warung. Meskipun pekerjaan yang kita lakukan mungkin tidak sempurna,  setidaknya kita telah berlatih untuk melakukannya.

Sekarang setelah kita menjadi orangtua, insyaAllah kita makin memahami betapa pentingnya mengajarkan tugas rumah pada anak. Biasanya orangtua cenderung merasa tidak tega pada anak, akhirnya malah mengerjakan semuanya sendiri. Padahal bisa jadi anak malah merasa senang diberikan tanggung jawab oleh orangtuanya.

Pada zaman Rasulullah ﷺ, anak-anak sangat suka membantu memenuhi kebutuhan orang dewasa khususnya Rasulullah ﷺ. Hal ini karena anak-anak telah dididik orangtuanya untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga atau membantu kedua orangtuanya. Sehingga muncul kepekaan dalam diri anak-anak untuk membantu keperluan orangtuanya, bahkan sebelum diminta. Dan kita perhatikan bagaimana Nabi ﷺ memberikan balasan kepada anak yang melayaninya dengan memberikan doa atas pelayanan yang ia berikan.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa mengajarkan kemandirian pada anak, khususnya dalam mengerjakan tugas rumah, amat banyak manfaatnya. Hal tersebut akan membantu anak menguasai life skill yang amat ia butuhkan untuk survive. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti merapikan tempat tidur, mandi, makan, berpakaian sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri dst. Yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepekaan anak untuk membantu kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya.  Dan seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ berikan apresiasi serta doa untuk anak yang sudah berusaha membantu kedua orangtuanya.

Membiasakan mengucap salam

Senyum,  salam, sapa,  sopan,  santun atau yang biasa disingkat 5 S oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memang terbukti menjadi modal bagi kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Jika kita mengajarkan tips ini pada anak,  insyaAllah akan memudahkan ananda dalam menjalin persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu bahwa memberikan senyuman ramah ketika bertemu orang lain adalah sedekah. Sedangkan ketika menyapa saudara kita sesama muslim,  kita telah diajarkan untuk senantiasa mengucapkan salam.  Anak-anak mesti dibiasakan untuk mengucapkan salam. Khususnya apabila bertemu saudara sesama muslim (khususnya orangtua dan orang dewasa) atau akan masuk ke dalam rumah.

Memperhatikan anak saat sakit

Nabi ﷺ telah mengajarkan kita untuk menjenguk anak-anak yang sakit. Ketika seorang anak yang masih fitrah (bersih) mendapati orang dewasa menjenguknya ketika ia sakit, maka kelak ia akan terbiasa menjenguk orang lain yang sedang sakit. Ketika menjenguk anak yang sedang sakit, hal ini juga merupakan momen untuk menyampaikan nasihat-nasihat agar anak menjadi lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Memilihkan teman yang baik

Rasulullah ﷺ ketika kecil juga bermain bersama teman-teman sebaya. Ketika beliau sudah menjadi seorang Rasul, beliau masih menghampiri anak-anak yang sedang bemain dan memberi salam pada mereka. Beliau tidak pernah bersikap kasar kepada mereka, beliau juga tidak pernah mengusir mereka, tetapi justru mendoakan mereka agar memperoleh curahan rahmat dari Allah ﷻ.

Demikianlah,  seorang Nabi saja selain mendidik anak-anak beliau sendiri, juga mendidik anak-anak lain dengan penuh kelembutan. Hal ini dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada anak tetangga yang bermain ke rumah kita, luangkanlah waktu menemani mereka bermain seraya menyelipkan nasihat kepada mereka. Keakraban dengan anak-anak akan memudahkan untuk mengarahkan mereka menjadi lebih baik.

Orangtua juga dapat mengarahkan anak untuk memilih teman-teman yang baik dan shalih, karena seperti sabda Nabi ﷺ, “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekadar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tak sedap (HR. Bukhari).

Menginap di rumah keluarga yang shalih

Pada zaman Nabi ﷺ ternyata telah dicontohkan bahwa keponakan beliau pernah bermalam di rumah beliau agar dapat meneladani langsung akhlak dan ibadah keseharian Nabi ﷺ. Saya pun paling senang manakala mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan keponakan-keponakan saya (anak dari kakak kandung). Terkadang saya mengajak mereka ke perpustakaan dan membacakan buku untuk mereka. Mereka juga kami arahkan untuk selalu menunaikan shalat lima waktu berjamaah.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

Fikih Zakat Lengkap

FIKIH ZAKAT

Fikih Zakat Lengkap (Free E-Book)

Fikih Zakat – Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Sedangkan dalam istilah fiqih, zakat memiliki arti sejumlah harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqin). Zakat dijadikan nama untuk harta yang diserahkan tersebut, sebab harta yang dizakati akan berkembang dan bertambah. Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni berkata :وَسُمِّيَتْ بِذاَلِكَ ِلأَنَّ المْاَلَ يَنْمُوْ بِبَرَكَةِ إِخْرَاجِهاَ وَدُعَاءِ الآخِذِ“Disebut zakat karena harta yang dizakati akan berkembang sebab berkah membayar zakat dan doa orang yang menerima.” (Syekh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Surabaya, al-Haramain, cetakan kedua, 2002, halaman 104)

Sahabat sejuk Nurul Hayat, kami akan share panduan lengkap tentang Fikih Zakat beserta e-booknya di bawah ini. Klik Setiap Bab dan Sub Bab nya untuk melihat detail pembahasannya.

Konsep Dasar Zakat

Pengertian Zakat

Pengertian Zakat

Pada dasarnya jenis zakat dibagi menjadi dua yaitu, Zakat Nafs (Jiwa) disebut juga Zakat Fitrah dan Zakat Maal (Harta). Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang idul fitri pada bulan suci Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan seperti beras, gandum, dan sejenisnya. Apabila kita mau menggantinya dengan uang, kita harus membayar sesuai dengan harga dari makanan pokok tersebut dikalikan besaran zakatnya yaitu 3,5 liter atau 2,5 kilogram.

Sementara zakat maal (harta) adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan Nisab dan haulnya. Waktu pengeluaran zakat ini tidak dibatasi, jadi bisa dikeluarkan sepanjang tahun ketika syarat zakat terpenuhi. Zakat jenis ini akhirnya melahirkan banyak jenis zakat diantaranya : zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, hasil temuan, obligasi, tabungan, emas dan perak dan lainnya. Masing-masing jenis zakat memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Apabila seseorang muslim merdeka, berakal, balig, memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab (syarat jumlah minimum harta yang dapat dikategorikan sebagai harta wajib zakat) dan haulnya (masa kepemilikian harta sudah berlalu selama dua belas bulan Qamariah/ tahun Hijriyah) maka seseorang wajib mengeluarkan zakat harta. Orang yang mengeluarkan atau membayarkan zakat disebut Muzzaki.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya