Percaya Pada Allah akan Masa Depan

 

Setiap harinya, dalam pikiran manusia kerap dipenuhi dengan bayangan-bayangan dimasa depan. Namun terlalau memikirkan masa depan, sama seperti membeli furnitur rumah yang bahkan belum dibangun. Ketika furnitur itu sudah berada ditangan, kita sudah tidak punya tempat untuk mewadahinya. Akibatnya, barang-barang itu akan memadati hidup dimasa sekarang.

Dengan kata lain, terlalu sering memikirkan masa depan sama artinya mengisi hari-hari dalam pikiran, perhatian, antisipasi, dan keccemasan yang mungkin tidak akan terjadi. Dalam sebuah artikel yang diunggah di About Islam, manusia kerap terburu-buru menuju masa depan demi sesuatu yang disebut sebagai kebaikan. Saat masih anak-anak, tidak sedikit yang ingin cepat besar sehingga bisa bermain dengan teman-teman lain yang lebih tua.

Pun saat remaja, kita tidak bisa menunggu untuk menjadi dewasa dan bebas dari batasan orang tua. Nantinya saat dewasa, manusia sudah bermimpi tentang masa pensiun ketika akhirnya dapat menikmati semua waktu luang yang ada.

Manusia kerap memiliki kecenderungan bergegas ke masa depan demi kebaikan yang dirasa ada di sana.  Tetapi tidak ada yang bisa menjamin hari esok. Tidak ada jaminan apa pun darinya. Ketika kita menaruh terlalu banyak harapan di hari esok, hal ini berisiko membawa hasil yang berbahaya. Manusia akan mulai merasa berhak atas masa depan tertentu yang mungkin tidak pernah datang.

Ketika masa depan yang diharapkan itu tidak terjadi, manusia bisa menjadi sangat emosional dan sengit. Lebih parah, manusia bisa kehilangan momen menikmati berkah yang didapat di momen saat ini.

Allah SWT telah memberi tahu tentang itu dalam Alquran dengan sangat jelas. Dalam QS An-Nahl ayat 1, Allah SWT berfirman, “Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.

Ayat ini mengingatkan tentang hari akhir yang tidak diketahui dan bisa diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang akan telah diatur akan datang pada saatnya. Manusia diminta untuk sabar hingga saatnya tiba.

Jika harus menjalani hidup dengan berpikir dan berharap untuk masa depan, hal ini dapat dilakukan dengan mengingat kita akan menerima yang baik di kehidupan selanjutnya, untuk kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Namun, kita hanya bisa bertemu dengan kesenangan di akhirat dengan mengambil tindakan di masa sekarang.  Jadi mari berharap untuk rahmat Allah dan menyerahkan masa depan kehidupan ini kepada kehendak Allah.

Alasan lain seorang manusia memikirkan masa depan karena memikirkan kemungkinan kejahatan yang bisa saja terjadi. Sebagai manusia, kita sering menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi di depan.

Saat masih anak-anak, kita khawatir tentang waktu tidur dan monster yang mungkin menunggu kita dalam gelap. Sebagai remaja, muncul kekhawatiran akan pekerjaan dan pernikahan. Setelah dewasa, terpikirkan hal-hal seperti kemiskinan, penyakit, dan yang lain.

Khawatir tentang masa depan adalah sesuatu yang hampir semua orang lakukan. Namun tidak peduli berapa banyak asuransi yang dibeli dengan tujuan melindungi diri dari apa yang akan datang, manusia tidak dapat mengubah kehendak Allah SWT untuk masa depan.

Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa mengetahui masa depannya atau mengubahnya. Allah SWT berfirman dalam Alquran QS Al-A’raf ayat 188, “Katakanlah (hai Muhammad), “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Dibalik ke khawatiran itu seharusnya manusia paham bahwa setan-setan memanfaatkannya seperti Nabi Muhammad umat-Nya tidak memiliki kuasa atas apa yang terjadi dimasa depan. Allah SWT pun memberi tahu dalam alqur’an surat Al-baqarah ayat 268 “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. 

Baca Juga : Report Jaring Ramdhan

Baca Juga : Amal Jariyah

Seringkali, cara ini adalah trik yang efektif. Berapa banyak yang telah melakukan perbuatan haram karena takut akan kemiskinan, sementara ketakutan itu sama artinya dengan kehilangan kesempatan untuk percaya kepada Allah SWT?

Berapa banyak manusia yang menjadi kikir karena mereka takut akan malapetaka, sementara pikiran itu menghilangkan kesempatan untuk Allah SWT ganti berkali-kali karena telah berbagi dalam amal? Berapa banyak yang menjadi frustrasi dan kecewa dengan mencoba memaksakan hasil di masa depan yang tidak tertulis, sementara kehilangan berkat saat ini?

Kekhawatiran yang ada pada[ manusia sama saja dengan meremehkan kebijaksanaan dan kemampuan Allah SWT untuk menyediakan masa depan. Jika umat Muslim harus khawatir tentang masa depan, Hari Penghakiman adalah satu-satunya masa depan yang kita tahu pasti dan layak untuk dicemaskan.

Manusia bisa berusaha mencegah hasil yang buruk dengan mengambil tindakan saat ini. Takutlah akan hukuman Allah dan tinggalkan urusan masa depan kehidupan sesuai atas kehendak Allah SWT. Yang bisa manusia lakukan saat ini hanyalah bersiap dan biarkan mengalir seperti yang telah ditetapkan. Namun, bukan berarti pula menusia berpasrah tanpa berusaha.

Berusaha mencari cara adalah bagian dari kehidupan. Seperti yang kita lihat dalam hadits riwayat Tirmidzi berikut : “Suatu hari Nabi Muhammad melihat seorang Badui meninggalkan untanya tanpa mengikatnya. Nabi lantas bertanya kepada orang Badui itu: ‘Mengapa kamu tidak mengikat unta kamu?‘ Orang Badui itu menjawab: ‘Saya menaruh kepercayaan pada Allah’. Nabi kemudian berkata: Ikatkan unta Anda terlebih dahulu, kemudian taruh kepercayaan Anda kepada Allah”.

Dalam hidup, manusia harus mencari cara memudahkan kehidupan. Meninggalkan masa depan bukan berarti tidak melindungi diri sendiri dari bahaya kehilangan milik kita.

Ketika manusia menyibukkan pikiran dengan masa depan, terkadang membuat kita melupakan kebijaksanaan dan kemampuan tertinggi Allah SWT. Manusia jadi merindukan berkah masa kini; membuang-buang waktu, dan kehilangan kesempatan mempersiapkan akhirat.

Baca Juga : Bersedekah dengan Sebutir Kurma

Pentingnya Menuntut Ilmu

pentingnya menuntut ilmu

Pentingnya Menuntut Ilmu – Dalam bahasa, Ilmu berasal dari aksara arab yang memiliki makna mengetahui. Dilansir dari buku berjudul “Agar Menuntut Ilmu jadi Mudah” oleh Abdul Hamid M Djamil, Lc. Menurut muslim A kadit, “Ilmu merupakan kumpulan sistematos sejumlah pengentahuan tenatng alam semesta yang diperoleh memalui kegiatan berpikir.” 

Sedangkan itu, Zainudin Sardar mendefinisikan ilmu dengan,“Cara mempelajari alam secara objektif dan sistematis serta ilmu merupakan suatu aktivitas manusia.”

Ilmu pengetahuan itu baik secara khusus ilmu agama maupun i;lmu pengetahuan secara umum merupakan bahian dari ciri khas manusia.

Dari Abu Hurairah R.A berkata rasulullah SAW bersabda : “apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakan kepadanya (HR. Muslim)

Ilmu bermanfaat yang dimaksud dalam hadits di atas adalah seseorang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, lalu mengamalkan atau diajarkan lagi kepada orang lain sehingga ia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya meskipun yang mengajarkan telah meninggal dunia.

Mengutip dalam buku “Hadis Tarbawi, Hadis-hadis Pendidikan” oleh Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, ilmu pengetahuan yang bermanfaat adalah segala ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain dan dapat menambah ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Hukum Mencari Ilmu

Ilmu memiliki kedudukan, Abdul Qadir’isa alam bukunya “Haqaaiqu At-tasawur” menyebutkan hukum mencari ilmu dapat dibagikan dalam tiga kategori yakni wajib, sunnah, dan haram.

Wajib

Para ulama mengklasifikasikan ilmu yang wajib dan dibagi dalam dua bagian yaitu wajib’ain dan wajib kifayah

  1. Wajib ‘ain

Menuntut ilmu disebut wajib ‘Ain adalah sebuah perintah wajib yang ditunjukan kepada setiap individu. Ilmu yang diperintahkan dengan perintah wajib ‘ain adalah ilmu-ilmu yang harus dipelajari oleh setiap orang Islam, yang jika tidak dipelajari, hukumnya berdosa.

Salah satu ilmu yang wajib dipelajari adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang eksistensi ketuhanan, kenabian dan alam gaib. Imu Fiqih yaitu ilmu yang mengupas tata cara beribadah. Sedangkan ilmu Tasawuf yaitu ilmu yang menjelaskan cara menjaga amal ibadah agar tidak sirna.

2. Wajib kifayah

Wajib Kifayah adalah sebuah peintah wajib yang ditunjukan kepada sebuah kelompok. Ilmu kfayah dipelajari adalah ilmu yang berfungsi untuk kesejahteraan manusia. Seperti meneladani Ilmu Fikih agar bisa mengajari orang lain, mempelajari Ilmu Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Fiqih, Ilmu Hitung, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kontraktor, Ilmu Biologi hingga Ilmu Pertanian yang semuanya berfungsi untuk kepentingan masyarakat luas.

Baca Juga : Sedekah Alas Surga

Jaring Ramadhan

Sunnah

sunnah merupakan sebuah perintah yang ditunjukkan kepada seluruh umat islam. Diantara ilmu yang hukumnya sunnah untuk dipelajari antara lain untuk mengetahui fadhailul ‘amal (tingkatan amal), ilmu untuk mengetahui ibadah sunnah dan ilmu untuk mengetahui perkarra-perkara yang makruh dalam agama.

Haram

Haram adalah perintah untuk meninggalkan sesuatu. Ilmu yang dilarang dengan tegas (haram) untuk dipelajari adalah ilmu-ilmu yang merusak atau mengganggu kehidupan orang lain seperti ilmu sihir, ilmu mantra dan ilmu-ilmu yang bertujuan untuk merusak agama islam.

Dilansir dalam Universitas Islam Indonesia, Dosen FTI UII, Ustaz Kholid Haryono, M.Kom menyampaikan bahwa segala urusan yang ada di dunia harus diniatkan untuk ibadah. “Tidak ada urusan dunia semuanya adalah urusan akhirat, apapun amal kita pilihannya adalah ibadah,” jelas Ustaz Kholid.

Salah satu bentuk ibadah adalah menuntut ilmu. Islam akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

“Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia wajiblah memiliki ilmunya, dan barang siapa ingin selamat dan berbahagia di akhirat wajiblah ia memiliki ilmunya pula dan barang siapa ingin keduanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula,” jelas Ustaz Kholid dalam laman Universitas Islam Indonesia.

5 Keutamaan Silahturahmi dalam Islam

keutamaan silaturahmi

Keutamaan Silaturahmi – Salah satu amalan umat muslim untuk menyambung tali persaudaraan. Silaturahmi dapat kita lakukan kapan saja agenda utama saat momen hari raya Idul Fitri atau lebaran.

Umumnya saat lebaran tiba, umat muslim selalu berbondong-bondong untuk mudik atau pulang kampung halaman. seolah mudik telah menjadi salah satu tradisi bagi umat muslim. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyambung silahturahmi dengan keluarga dan sanak saudara

Silahturahmi adalah amalan utama karena mampu menyambungkan apa-apa yang putus. Oleh karena itu, silahturahmi memiliki keutamaan atau manfaat yang luar biasa. Lantas apa saja sih keutamaan dari Silahturahmi untuk kehidupan sehari-hari? simak ulasannya yang dilansir sebagai berikut :

BACA JUGA : Cara Menghitung zakat maal

  • Memperluas Persaudaraan

Salah satu keutamaan silahturahmi adalah memperluas persaudaraan, Setiap orang menjalankan silahturahmi akan lebih banyak mengenal sahabat atau saudara yang lainnya. Seseorang yang jarang bersilahturahmi tentu tidak akan saling mengenal keluarga, sahabat yang lainnya, padahal diketahui bahwa semua umat islam adalah saudara. Inilah yang menjadi salah satu fungsi dari silahturahmi.

  • Menjadi Makhluk Yang Mulia

Keutamaan silahturahmi selanjutnya, yaitu dapat menjadikan kita sebagai makhluk yang mulia. Pasalnya menyambung silahturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silahturahmi merupakan akhlak yang terpuji dan akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak yang termulia didunia dan diakhirat? Maafkan orang yang telah menganiayaimu, sambung silahturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Sedangkan, seseorang yang suka memutus tali silahturahmi maka dianggap sebagai perusak kehidupan. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam salah satu Al-Qurab  berikut ini, Allah SWT berfirman: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan tali silahturahmi (kekeluargaan)? mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulika telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad:22-23)

Baca jugaa : Bantu biaya pendidikan Santri Yatim

  • Memperpanjang Umur

Tak hanya menjadi makhluk yang mulia, keutamaan silahturahmi yang dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Mengunjungi anggota keluarga dan sanak saudara merupakan salah satu cara untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan. Selain itu silahturahmi juga merupakan amalan yang memiliki nilai pahala besar.

Seseorang yang senantiasa menjaga tali silahturahmi maka allah akan melapangkan rezeki dan memperpanjang umurnya. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah Hadits berikut, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dI perpanjangkan umurnya maka sambunglah tali silahturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Menjaga dan memperkuat silaturahmi sangat penting dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini bukan hanya bermanfaat didunia saja, akan tetapi untuk kebaikan diakhirat juga kelak nanti.

  • Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Menjalin silaturahmi dengan sesama juga menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pasalnya saat kita mau menyambung silahturahmi dan memperlakukan manusia dengan baik, berarti kita telah menjalankan perintah Allah SWT. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Makhluk, hingga apabila dia selesai dari (menciptakan)mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “benar, apakah engkau ridha jika aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? ia menjawab: iyaa. dia berfirman: “itulah Untukmu.”

  • Dijauhkan dari Neraka

Keutamaan silatuhrahmi berikutnya ialah dijauhkan dari Neraka, seseorang Muslim yang menjalin kembali tali silahturahmi maka akan dijauhkan dari api neraka, Sebagaimana salah satu Hadits berikut ini, yang artinya:  “Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan Zakat dan menyambung tali silahturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ke-lima hadits tentang silahturahmi kita dapat menyimpulkan bahwa keutamaan dalam menjalankan silahturahmi justru membuat kita merasakan hal-hal yang positif. Maka dari itu jagalah silaturahmi dengan keluarga dan orang-orang terdekat kamu. niscaya Allah SWT akan mempermudah segala urusaan kita.

Zakat infaq sedekah makin mudah tinggal klik: zakatakita.org

 

Jalan kebenaran hanya satu

Jalan Kebenaran – yang menyampaikan kepada allah subhanahu wa ta’ala hakikatnya hanya satu Allah berfirman dalam QS.al-anam ayat 153 yang artinya :

Dan bahwa (yang kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain., karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. demikian itu diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

ibnu katsir rahimaullah berkata : “Allah menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal, karena kebenaran adalah satu. Oleh karena itu, Allah menyebut “jalan lain” dengan jamak, karena bercabang dan berpencar, seperti firman allah dalam surat Al-Baqarah ayat 257

“Allah pelindung orang-orang beriman. dia mengeluarkan merka dari kegelapan-kegelapan (kafir) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan  yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. mereka itu adalah penghuni neraka. mereka kekal didalamnya”

semakna dengan penjelasan Ibnu Katsir ini diucapkan oleh Ibnul Qayyim

Ibnu mas’ud radhiallahu’anhu berkata,“rasulullah SAW membuat garis dihadapan kami sebuah garis lalu beliau SAW berkata ‘ini adalah jalan allah’ lalu beliau SAW membuat garis kanan-kirinya  kemudian berkata ‘ini adalah jalan -jalan lain dimana disetiap jalan ada syaitan yang menyeru kepadanya.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata ” hal ini karena jalan yang menyampaikan kepada Allah SWT hanya satu, yaitu sebab Allah SWT mengutus rasulnya dan allah turunkan kitab-kitab nya  tidaklah seorang pun akan sampai kepadanya kecuali  melalui jalan ini. seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan semua pintunya, maka semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuai melalui jalan ini. sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan allah dan akan menyampaikan kepadanya.”

Asy-syatibi rahimahullah juga berkata,”ayat diatas adalah nash yang tegas pada permasalahan kita. sesungguhnya jalan kebenaran itu hanya satu, tidak menghendaki adanya keberagaman, berbeda dengan jalan yang bermacam-macam.”

Beliau rahimahullah juga berkata ,“Allah swt menerangkan bahwa jalan al-haq hanyalah satu yang bersifat umum didalam syariat, baik secara global maupun rinci. Sementara itu, ayat-ayat yang mencela perbedaan serta memerintahkan untuk kembali kepada syariat demikian banyak. Semuanya, secara pasti menunjukan bahwa tidak ada pertentangan di dalam syariat ini bahkan sumbernya hanya satu dan sepakat.”

Jadi adanya ayat-ayat yang mencela berpecah-belah itu untuk memperkuat bahwa al-haq itu kebenaran hanyalah satu. dengan demikian prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengikutnya. Sebab konsekuensi dari pendapat mereka itu adalah al-haq tidak hanya satu dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, justru benar dan terpuji. Jika demikian, gugurlah prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh, ini merupakan pendapat yang menyelisihi kesepakatan orang berakal, terlebih lagi orang yang berilmu. selain itu, juga menyelisihi dalil al qur’an dan al- hadits.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya