Nurul Hayat Kantongi Perpanjangan Izin Lembaga Amil Zakat Nasional

Nurul Hayat Kantongi Perpanjangan Izin Lembaga Amil Zakat Nasional

Jakarta – Nurul Hayat kembali menerima izin dari Kementerian Agama Republik Indonesia, sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional. Bertempat di Menteng, Jakarta, Senin (29/3/21), keputusan ini sesuai dengan SK Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 903 Tahun 2020 tentang pemberian izin kepada Yayasan Nurul Hayat sebagai Lembaga Amil Zakat Skala Nasional.

Perpanjangan izin Laznas ini menandakan bahwa Nurul Hayat telah diakui secara sah oleh otoritas berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku untuk melanjutkan kiprahnya membersamai umat dalam mengelola zakat, infak dan sedekah di Indonesia. SK No 903/2020, ditandatangani oleh Menteri Agama RI, Bapak Yaqut Cholil Qoumas.

Disampaikan langsung oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Bapak Drs. H. Tarmizi Tohor, MA. dan diterima oleh Bapak Heri Latief, SE selaku Direktur Eksekutif Nurul Hayat. Menurut Pak Tarmizi, izin perpanjangan SK Laznas ini didasarkan oleh beberapa pertimbangan dan penilaian yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia terhadap kinerja Nurul Hayat.

"Nurul

Permohonan perpanjangan izin Laznas ini, harus diperbaharui setiap lima tahun sekali. Sebelumnya, tahun 2015 Nurul Hayat dikukuhkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Lembaga Amil Zakat ber-skala Nasional melalui SK MA No. 422/2015.

Perwakilan dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama berharap, diamanahkan kembali Nurul Hayat sebagai Laznas, program-program zakat pemberdayaan akan terus berkembang. Semoga juga gerakan zakat terus maju, mengingat potensi zakat yang luar biasa dapat mengangkat perekonomian masyarakat Indonesia.

Zakat, didesain untuk kebaikan masyarakat Islam. Zakat dari masyarakat untuk masyarakat. Potensinya besar, realisasinya sedikit. Melalui Lembaga Amil Zakat, kita kelola dana zakat lebih efektif. Mohon doanya, Nurul Hayat terus mengemban amanah dengan sebaik-baiknya dan membawa keberkahan. Barokallah fiikum.

Ragam Kemudahan Berzakat di Era Teknologi

Ragam Kemudahan Berzakat di Era Teknologi

Oleh Devy Nawa (@devynawa)

Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah. Di dalamnya, umat Muslim berlomba-lomba melakukan kebaikan dan memaksimalkan ibadah. Selain kewajiban puasa, salah satu ibadah yang diburu demi meraih keberkahan Ramadhan adalah berzakat. Bagi setiap Muslim, melekat padanya kewajiban menunaikan zakat fitrah. Zakat ini dapat mensucikan jiwa dan hati serta mengembalikan manusia pada fitrahnya. 

Kewajiban umat Muslim soal berzakat, tentu bukan hanya zakat fitrah saja. Umat Muslim juga perlu mensucikan harta benda yang dimilikinya melalui zakat mal.  Zakat mal ini hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang hartanya telah mencapai nisab (batas seseorang harus mengeluarkan zakat).

Dalam penyaluran zakat, muzakki (orang yang berzakat) dapat menyalurkan langsung zakatnya kepada mustahik atau dapat juga melalui lembaga pengelola dana zakat. Jika menelisik sirah, Rasulullah memberikan teladan untuk menyalurkan zakat melalui amil atau lembaga. Pada masa itu Rasulullah memerintahkan para sahabat menjadi amil untuk mengurus pembagian zakat. 

Zakat melalui lembaga, berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar serta menjadikan zakat lebih produktif. Artinya, zakat mampu meningkatkan kemandirian ekonomi para mustahik. Hal ini dikarenakan dana yang terhimpun lebih besar dan penyalurannya pun dilakukan lebih teroganisir dan strategis.

Nurul Hayat atau dikenal juga dengan sebutan NH adalah sebuah lembaga yang berfokus kepada zakat. Lembaga ini, telah menjadi Lembaga Amil Zakat Nasional sejak tahun 2015. Hal ini menunjukkan bahwa secara luas umat telah mendukung dan mempercayakan zakatnya untuk dikelola NH. Berzakat di NH memiliki beberapa keuntungan. Di antaranya adalah: 

Nurul Hayat lembaga milik umat yang mandiri

Lembaga milik umat artinya lembaga yang dipercaya oleh umat karena mengedepankan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana amanah dari umat. Dalam layanan perhitungan zakat dan penyalurannya, telah teraudit syariat dan keuangan akuntan publik dengan predikat wajar tanpa pengecualian. 

Demi memberikan pelayanan yang profesional kepada umat, Nurul Hayat juga menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001: 2015. Sedangkan sebagai lembaga yang mandiri, NH berusaha memenuhi gaji karyawan melalui hasil unit usaha yayasan. Sehingga dana dari umat berupa zakat, infaq dan sedekah dapat tersalur optimal untuk mendukung program perberdayaan sosial dan dakwah.

Layanan yang memudahkan muzakki

Jemput Zakat. Zakat itu mudah. Nurul Hayat telah berkomitmen memberikan pelayanan terbaik untuk umat melalui jemput zakat. Bagi muzakki yang tidak sempat datang langsung, bisa memanfaatkan layanan ini. Setiap bulannya akan ada petugas yang berkunjung untuk mengambil zakat ke rumah, kantor atau lokasi yang telah disepakati. 

Layanan Digital. Pada era yang serba cashless sekarang ini, Nurul Hayat telah menyediakan sembilan saluran perbankan. Banyaknya variasi pilihan perbankan, memudahkan zakat ditunaikan dari jarak jauh. Nurul Hayat juga telah bekerjasama dengan beberapa dompet digital seperti OVO, Gopay, LinkAja, dan DANA.

Ragam Kemudahan Berzakat di Era Teknologi

Selain itu, tersedia juga saluran digital melalui aplikasi layanan bayar zakat online, Zakatkita. Sejak diluncurkan tahun 2016 aplikasi ini telah tersedia di google playstore android. Zakatkita hadir untuk memudahkan umat Islam membayar zakat melalui smartphone masing-masing. Zakatkita juga tersedia dalam versi web. Di dalamnya terdapat kalkulator zakat untuk membantu muzakki menghitung zakat yang harus dikeluarkan.

Mendapat bukti setor zakat

Perlu diketahui bahwa di tanah air, berzakat dapat menjadi pengurang pajak yang harus dibayar ke negara. Namun, pengurangan itu berlaku apabila zakat dilakukan melalui lembaga zakat resmi. Sebagai lembaga amil zakat yang telah mengantongi izin dari pemerintah melalui SK Menteri Agama RI Nomor 422/2015, NH menjadi lembaga kredibel yang dapat mengeluarkan bukti setor zakat sebagai pengurang pajak. 

Memiliki program pemberdayaan yang luas

Salah satu hal penting yang perlu ada dalam lembaga pengelola zakat menurut BAZNAS adalah program pendayagunaan zakat yang lebih besar dibanding program santunan. Nurul Hayat dengan program pemberdayaan yang khas, telah dirasakan langsung oleh puluhan ribu penerima manfaat. Karena kemanfaatan itu pula Nurul Hayat telah menerima berbagai apresiasi. Selama tiga tahun berturut-turut dari 2017 hingga 2019 Nurul Hayat menjadi LAZNAS terbaik dalam BAZNAS Award.

Keistimewaan Hidup Dengan Berzakat

Keistimewaan Hidup Dengan Berzakat

Oleh Yeyen (@yeyen.munandar)

Kata zakat dalam Alquran selalu beriringan dengan kata shalat. Ini menunjukan bahwa shalatnya orang Islam tidak ada artinya jika dia tidak berzakat. Begitupun sebaliknya, zakatnya orang Islam tidak bernilai jika tidak dibarengi dengan shalat.

Zakat memiliki banyak keistimewaan, hikmah dan manfaat, baik bagi pemberi zakat (muzaki), penerima (mustahik), maupun bagi masyarakat luas. Zakat ternyata menyimpan banyak keistimewaan terutama bagi yang melaksanakannya dengan niat yang tulus dan ikhlas. Adapun keistimewaan dari berzakat dapat dipahami pada penjelasan berikut:

  1. Dari Segi Keimanan
  • Membersihkan Diri

Dengan membayar zakat, seseorang akan terbiasa dengan kegiatan berbagi atau kedermawanan dan terhindar dari termasuk golongan orang kikir. Sehingga orang tersebut akan merasa dirinya lebih bermanfaat ketika memberikan sesuatu yang berguna untuk orang lain.

  • Mencapai Keimanan yang Sempurna

Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari: 13).

Manusia pasti membutuhkan dan mencintai uang sebagai sesuatu yang dimiliki. Oleh karena itu, terkadang orang tidak rela melepaskan apa yang dia cintai tanpa imbalan. Dengan membayar zakat, seseorang akan menyadari tidak mengharapkan imbalan duniawi melainkan pahala dari Allah SWT semata.

  • Menenangkan Hati

Jika zakat dilakukan dengan ikhlas dan tanpa paksaan, maka zakat dapat membentuk pribadi yang ikhlas dan tulus. Sehingga hati akan merasa tenang dalam menjalani

  • Pelindung di Hari Akhir

Pada saat hari kiamat, Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, tentang salah satu dari tujuh jenis orang yang akan berada di bawah teduh Allah SWT pada saat hari kebangkitan adalah: “Orang-orang yang beramal dan menyembunyikannya sedemikian rupa sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”

  • Menghapus Dosa

Berzakat dapat menambah pahala dan mengurangi atau bahkan menghapus dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Amal memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (Dalam HR. At-Tirmidzi dan An-Nasaa’i).

       2. Dari Segi Sosial

  • Terbiasa Berbagi Rezeki

Empati saat berzakat membuat sadar bahwa kita memiliki saudara sesama yang harus diperlakukan dengan baik, sebagaimana kebaikan yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

  • Melatih Sikap Merendah

Zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan, tetapi bukan secara terang-terangan. Karena Allah SWT tidak menyukai hambanya yang berhati tinggi. Seperti apa yang difirmankan oleh Rasulullah SAW, “Amal yang diberikan secara rahasia dapat memadamkan kemurkaan Allah SWT.” (Dalam HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban)

  • Mencegah Kriminalitas

Manfaat zakat lainnya adalah mencegah kejahatan seperti perampokan atau pencurian. Sebagian kejahatan timbul karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar. Oleh karena itu, berzakat merupakan salah satu upaya mengurangi kesulitan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

     3.Dari Segi Perekonomian

  • Meningkatkan Rezeki

Jika seseorang mengamalkan kekayaannya, dia akan terlindung dari penyakit dan Allah SWT akan meningkatkan kualitas hidupnya. Seperti yang disebutkan dalam hadits: “Kekayaan tidak akan berkurang karena amal.”

  • Meningkatkan Keberkahan Harta

Zakat merupakan kunci agar harta menjadi berkah. Harta yang berkah akan membuat pemiliknya selalu tenang. Harta berkah tidak selalu harus banyak, tapi yang selalu ada ketika dibutuhkan dan membuat pemiliknya selalu tenang.

Rasul SAW bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah (zakat) dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidaklah orang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

  • Sarana Penyaluran Harta

Jika seseorang ingin hartanya bertambah, buatlah harta itu menjadi berkah dengan mendapatkannya melalui cara yang halal. Lalu membelanjakannya di jalan Allah dengan berzakat.

Allah SWT berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 261)

Mari bersedekah dan berzakat di zakatkita.org

 

Cara Hitung Zakat Mal yang Praktis

Cara Hitung Zakat Mal yang Praktis

Oleh Suhartono (@suhartono.msd)

Dalam Islam, hanya ada dua zakat yang wajib dibayarkan oleh seorang Muslim yang mampu. Yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Adapun zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan individu maupun lembaga atas harta/penghasilan yang dimilikinya dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. 

Selanjutnya, akan kita bahas syarat dan cara menghitung zakat mal. Tapi sebelum kita mengetahui cara menghitung zakat mal, kita kupas dulu syarat harta wajib zakat sebagaimana tersaji dalam uraian berikut:

  • Milik penuh

Artinya, harta tersebut merupakan milik sepenuhnya dari individu/lembaga yang akan mengeluarkan zakat dan diperoleh dengan cara yang halal. Jadi, untuk harta korupsi /mencopet tidak wajib zakat ya, tapi wajib dikembalikan ke pemiliknya.

  • Berkembang

Harta tersebut, jika misal digunakan untuk usaha maka akan berpotensi untuk berkembang jumlahnya.

  • Mencapai nisab

Artinya, jumlah minimal harta sehingga wajib dizakatkan. Jika harta yang dimiliki belum memenuhi nisab, maka tidak ada kewajiban berzakat.

  • Lebih dari kebutuhan pokok

Sebelum mengeluarkan zakat mal hendaknya memastikan bahwa kebutuhan pokok diri dan keluarganya sudah betul-betul tercukupi. Karena harta yang wajib zakat adalah harta yang berlebih.

  • Bebas dari hutang

Orang yang memiliki hutang mengakibatkan tidak terpenuhinya nisab. Maka dirinya tidak wajib membayar zakat mal. Jadi, pastikan hutangnya dipenuhi dulu ya.

  • Berlalu satu tahun (Al Haul)

Harta yang wajib dizakatkan adalah harta yang masa kepemilikannya sudah mencapai minimal 1 tahun (haul). Ini berlaku untuk hewan ternak, perhiasan, harta simpanan dan hasil perniagaan.

Ada bermacam-macam jenis harta yang wajib zakat, berikut tujuh jenis objek yang wajib dizakatkan:

  1. Hewan ternak, meliputi segala jenis dan ukuran: Ayam, domba, kerbau, kambing, sapi.
  2. Emas dan perak, meliputi segala perhiasan/harta yang terbuat dari emas dan perak dalam bentuk apa pun.
  3. Hasil pertanian, yaitu jenis tumbuhan yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, padi, umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dll.
  4. Hasil tambang, yaitu meliputi hasil alam yang didapat dari perut bumi, misalnya minyak, batubara, logam mulia, mutiara, dsb.
  5. Harta perniagaan, termasuk dalam harta yang diperuntukkan dalam kegiatan jual beli, seperti makanan, pakaian, perhiasan, peralatan, dll.
  6. Barang temuan (rikaz), umum juga disebut dengan harta karun. Meliputi harta temuan yang tidak diketahui siapa pemiliknya.
  7. Zakat profesi, yakni zakat yang dikeluarkan dari penghasilan (profesi) yang telah mencapai nisab.  

Selanjutnya, bagaimana cara menghitung zakat mal? Ada syarat dan ketentuan khusus mengenai cara menghitung zakat mal, yaitu:

Zakat mal = 2,5% x Total jumlah harta yang disimpan selama setahun

Sebagai contoh, Pak Tono mempunyai tabungan senilai Rp150 juta, deposito bank sebanyak Rp200 juta, rumah kost senilai Rp300 juta, dan simpanan emas seharga Rp350 juta. Total harta yang dimiliki beliau adalah Rp1 miliar.

Harga emas di pasaran saat ini adalah Rp 800.000, maka batas nisab zakat mal Pak Tono adalah Rp 68 juta. Karena jumlah hartanya lebih besar dari syarat nisab, beliau wajib membayar zakat mal sebesar Rp1 Miliar x 2,5% = Rp25 juta/tahun.

Catatan: Khusus untuk zakat emas, perak, dan hasil perniagaan, nilai nisabnya sama dengan 85 gram emas murni.

Ada cara yang lebih mudah untuk menghitung zakat mal, tinggal klik tidak perlu ribet. Kunjungi saja website zakatkita untuk membantu menghitung zakat Anda.

Mari bersedekah dan berzakat di zakatkita.org

Zakat Kunci Hidup Sehat dan Bahagia

Zakat Kunci Hidup Sehat dan Bahagia

Oleh Yeyen (@yeyen.munandar)

Pernahkah ketika Anda sedang sendiri, Anda memikirkan arti bahagia dan pentingnya hidup sehat untuk diri Anda? Juga pernahkah Anda terpikir kaitan dua hal tersebut dengan kegiatan berzakat? Mari kita cari tahu hubungan ketiga hal tersebut berdasarkan pandangan syariah dan penelitian dari ilmuan.

Banyak pendapat terkait arti bahagia dan sehat. Salah satu arti bahagia yaitu ketika seseorang merasa bangga terhadap diri sendiri karena bermanfaat bagi orang lain. Dan salah satu kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain yaitu dengan cara memberi. Tidak perlu menunggu punya banyak uang untuk memberi, karena berapapun rezeki yang kita dapatkan maka perlu kita bagi dengan sesama.

Penelitian yang dilakukan oleh Moll dkk (2006) di Universitas California menyebutkan, ada kaitan antara sehat dan bahagia serta kegiatan memberi. Penelitian ini dilakukan dengan memantau aktivasi otak saat seseorang melakukan kegiatan memberi.  Ketika seseorang melakukan kegiatan memberi, maka terjadi peningkatan aktivasi di area otak. Peningkatan aktivasi tersebut dipengaruhi oleh adanya peningkatan empati pada seseorang.

Perasaan bahagia yang muncul ketika kegiatan memberi, timbul karena adanya peningkatan hormone Oxytocin yang terletak pada bagian belakang atau posterior kelenjar pituitary di otak. Hormone Oxytocin mempengaruhi setiap aspek kehidupan sosial dan ekonomi, khususnya yang berhubungan dengan perasaan kedermawanan dan empati pada diri seseorang.

Hasil penelitian ini berhubungan dengan perintah zakat dalam Islam. Secara syariah, Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang suka memberi dan yang senantiasa menginfakkan harta bendanya di jalan yang benar.

Mereka yang menjalankan perintah ini, akan mendapatkan balasan yang berlimpah berupa ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, kesehatan serta penghargaan yang amat besar. Bukan hanya dari Allah SWT tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Berikut adalah bukti bahwa zakat mendatangkan hikmah tersendiri bagi yang melakukan:

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.S Al-Lail: 4-7)

Ayat tersebut menjelaskan jika seseorang memberikan hartanya di jalan Allah SWT maka Allah SWT akan memberikan kemudahan pada setiap langkah orang tersebut. Sehingga ketika seseorang berzakat maka orang tersebut akan mendapatkan barokah dari Allah SWT berupa kemudahan menjalani hidup.

 “Shodaqoh/zakat itu dapat menghapus kesalahan sebagaimana air dapat meredam api.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Sebagai manusia, tentunya kita pernah melakukan kesalahan yang berhubungan dengan agama maupun yang berhubungan dengan orang lain. Hal tersebut dapat dihapuskan dengan zakat. Zakat merupakan jalan penghapus dosa dan penyuci jiwa agar kita mendapatkan ketenangan. Nah, jika jiwa seseorang selalu dalam kondisi penuh ketenangan, maka orang tersebut akan merasa lebih bahagia.

Kesimpulannya, berzakat telah terbukti meningkatkan aktivasi di area otak sehingga mampu membuat seseorang lebih bahagia dan lebih sehat. Secara syariah telah dijelaskan bahwa zakat dapat mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dalam jiwa. Dan Allah SWT akan memudahkan setiap langkah orang yang menunaikan zakat.

Mari bersedekah dan berzakat di zakatkita.org

Pentingnya Membayar Zakat Fitrah

Pentingnya Membayar Zakat Fitrah

Oleh Nur Wantika (@nur_wantika)

Zakat, sebagai salah satu rukun Islam, hukumnya wajib bagi umat Muslim. Sebagaimana disebutkan dalam HR. Bukhari Muslim, bahwa Islam dibangun atas lima hal: kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan haji.

Dinamakan zakat karena mengandung harapan mendapat berkah, penyucian diri dan tambahan kebaikan. Zakat berasal dari kata dasar Az-zaka yang berarti berkembang, suci, dan berkah.

Manfaat zakat untuk membersihkan dan menyucikan diri terekam dalam Alquran. 

Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (At-taubah: 103)

Zakat  dapat membersihkan hati manusia dari noda kekikiran, keserakahan, memandang rendah, dan keras hati terhadap orang-orang yang kurang mampu secara finansial. 

Menunaikan zakat dapat meningkatkan diri menjadi orang yang baik juga dapat membantu sesama dalam bentuk moral maupun perbuatan sehingga kita semua bisa menjadi orang yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Zakat dibagi menjadi 2 macam, yaitu zakat fitrah dan zakat mal.

Pada artikel ini, kita akan fokus membahas tentang zakat fitrah. Zakat fitrah hukumnya wajib bagi pemeluk agama Islam. Besar  zakat fitrah yang harus dikeluarkan adalah sebesar satu sha’ yang nilainya setara dengan 2.5 kilogram beras, gandum, kurma, sagu dan sejenisnya yang setara dengan kebutuhan makanan pokok satu orang dalam satu hari. 

Besar zakat fitrah mengacu pada hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Ibnu Umar Radiyallahu‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi hamba yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum Muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ied.” 

Mengapa zakat fitrah hukumnya wajib? Ada dua sisi yang  bisa kita pahami.

Pertama, sebagai penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Mukmin yang baik ialah yang menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.  Kedua, di balik perintah Allah SWT selalu ada pesan yang tersirat maupun tersurat.

Kewajiban menunaikan zakat dapat menumbuhkan rasa kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia. Dengan berzakat, kita juga bisa membantu orang-orang kurang beruntung dan hidup dalam keterbatasan yang ada di sekitar kita. 

Sesungguhnya, jika kita mau merenung sejenak, di sekitar kita masih banyak orang-orang yang kurang mampu, yang untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan dalam pemenuhannya. Tak jarang diantara mereka dalam satu hari hanya bisa makan satu kali. Itu pun dengan sajian seadanya. Maha Sempurna Allah yang telah menurunkan kewajiban berzakat. Karena dengan zakat inilah kita bisa saling tolong-menolong.

Jadi, tunggu apalagi?

Mari berzakat di zakatkita.org

Mari bersedekah, membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Artikel terkait :

  1. Keistimewaan Hidup Dengan Berzakat
  2. Zakat Kunci Hidup Sehat dan Bahagia
Raksasa Potensi Dana Zakat di Indonesia

Raksasa Potensi Dana Zakat di Indonesia

Oleh Anisah (@anisahfathinah)

Potensi zakat di Indonesia terbilang sangat besar. Pada tahun 2019, angkanya mencapai Rp 233.8 triliun. Angka tersebut diungkapkan oleh Direktur Pendistribusian dan Pemberdayaan Badan Amil Zakat Nasional, Irfan Syauqi Beik, pada seminar nasional ekonomi dan keuangan syariah, Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (7/11/2019).

Lantas, bagaimana potensi zakat di 2020? Fantastis, ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengungkapkan, potensi zakat nasional tahun 2020 mencapai kisaran angka Rp 340 triliun. Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi cara paling mudah dalam menghitung potensi itu. “Sekitar Rp 340 triliun. Sumber dari zakat itu kan sebetulnya dari kekayaan masyarakat sehingga yang paling mudah dari Produk Domestik Bruto (PDB),”  jelas Bambang (www.goariau.com04/2/2020).

Ya, angka potensi zakat level nasional memang luar biasa. Bila potensi tersebut dapat dikembangkan secara optimal maka zakat diyakini dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi Indonesia seperti tingginya angka pengangguran, kemisikinan, dan berbagai permasalahan lainnya. 

Terutama di masa saat ini, dimana ekonomi global telah dihancurkan oleh pandemi Covid-19 yang juga telah merenggut ribuan nyawa. Fenomena ini dapat menciptakan turbulensi ekonomi yang mempengaruhi kemajuan ekonomi global secara signifikan. Orang miskin dan yang membutuhkan akan menjadi kelompok yang paling kena dampak karena mereka tidak memiliki akses fasilitas kesehatan dan kebutuhan sehari-hari yang layak.

Zakat adalah sesuatu yang sangat penting. Hal ini tercermin dari perintah Allah, Tuhan yang Maha Kaya:

“Dan, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Rasul supaya kamu diberi rahmat.” (QS An-Nuur [24]: 56). 

Memerhatikan ayat di atas, terlihat bahwa posisi zakat setara dengan shalat. Bahwa dalam kesigapan mengamalkan zakat seharusnya sama dengan saat kita bersungguh-sungguh menegakkan shalat. Persis seperti saat kita mendengar muadzin berseru “hayya alash-shalah” (marilah shalat). 

Zakat, didesain untuk kebaikan masyarakat Islam. Inilah kenapa Rasulullah SAW sangat serius mengurus masalah zakat. Ini jugalah yang membuat kita bisa memahami, sebab Abu Bakar RA -– Khalifah pertama — juga sangat serius saat menangani masalah zakat. Mari kita coba bersama memaknai bagaimana perilaku umat Islam terhadap zakat dan permasalahan yang ditimbulkan lewat kesaksian ulama terkemuka Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar Jilid 20. 

Cendekiawan Muslim dari Universiras Al-Azhar Mesir itu memberikan analisis yang menarik: “Islam mempunyai kelebihan atas seluruh agama-agama dan syariat-syariat yang ada dengan kewajiban berzakat. Hal ini diakui oleh para cerdik-pandai diseluruh bangsa di dunia. Seandainya, kaum Muslimin melaksanakan kewajiban zakat sebagai rukun agama tentu di kalangan mereka tidak akan ditemukan lagi orang-orang yang hidupnya sengsara. Padahal Allah SWT memberikan kepada mereka rezeki yang berlimpah-limpah, akan tetapi kebanyakan mereka melalaikan kewajiban ini. Mereka mengkhianati agama dan umatnya, akibatnya nasib mereka sekarang ini lebih buruk dalam kehidupan ekonomi dan politiknya dari seluruh bangsa-bangsa lain di dunia ini.” (Yusuf Qardawi, 1993: 1122).

Kesaksian yang ditulis lebih dari seabad lalu itu ternyata masih kita alami sampai detik ini. 

Sayangnya, fakta tentang pengamalan zakat sungguh memprihatinkan. Meski potensinya besar tetapi zakat yang terealisasi di Indonesia baru 3,5 persen atau sekitar Rp 8 triliun yang bisa dikelola (www.kompas.com7/11/2019).

Ini artinya, masih sangat besar potensi zakat yang belum terkelola atau dengan kata lain, kesadaran umat untuk berzakat masih tergolong rendah.

Jika zakat yang terhimpun tak sampai 5% maka rasanya patut dipertanyakan letak keislaman kita. Hal ini dikarenakan sebagian besar muslim di Indonesia tidak mengamalkan perintah berzakat. Dalam konteks ini, Muhammad Rasyid Ridha benar saat menulis: “Seandainya kaum Muslimin melaksanakan kewajiban zakat sebagai rukun agama, tentu di kalangan mereka tidak akan ditemukan lagi orang-orang yang hidupnya sengsara, padahal Allah memberikan kepada mereka rezeki yang berlimpah-limpah, akan tetapi kebanyakan mereka melalaikan kewajiban ini.” 

Banyak hal yang perlu kita optimalkan dalam kegiatan zakat seperti, penghimpunan zakat global yang dilakukan dengan teknologi digital. Saat ini, ide-ide kreatif yang terkait mulai dirumuskan ke dalam rencana strategis para lembaga zakat. Semoga segera mampu mendorong pergerakan penghimpunan zakat. Tentunya, perlu ada dukungan dari regulasi pemerintah sebagai penguatan kapasitas sistem kelembagaan dan sumber daya manusia agar rencana bisa berjalan dengan baik.

Agar potensi ini tak sekadar menjadi angan-angan, ayo bekerja keras dan tetap jujur. Dengan begitu, kita bisa mendapat rezeki yang banyak dan halal. Selain itu, kita bisa mengajak kawan-kawan ASN, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Swasta, dan Perusahaan untuk terlibat taat menunaikan zakat. 

Sesegera mungkin kewajiban zakat ini ditunaikan, kita segera merasakan berbagai janji Allah SWT tentang pelipat-gandaan balasan-Nya. InsyaAllah, permasalahan di negeri ini dapat ditangani secara cepat dan berakhir bahagia. Aamiin.

Mari bersedekah dan berzakat di zakatkita.org

Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta

Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta

Oleh : Yolanaapr Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta.

Kenapa harus zakat?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita pahami apa itu zakat.

Zakat berasal dari bentuk kata “zaka” yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 5).

Selain sebagai kewajiban bagi Muslim, ada manfaat yang didapat bagi yang melaksanakannya, dilihat dari makna zakat dalam bahasa Arab, sebagai berikut:

  1. Attohuru, artinya mensucikan atau membersihkan. Makna ini menunjukkan bahwa orang yang menunaikan zakat akan maka Allah akan membersihkan dan mensucikan jiwa dan hartanya.

  2. Albarakatu, artinya berkah. Makna ini mengandung arti bahwa harta yang senantiasa dibayarkan zakatnya akan dilimpahi berkah oleh Allah SWT. Keberkahan harta akan sejalan dengan keberkahan hidupnya.

  3. Annumuw, artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan orang yang selalu menunaikan zakat akan makin bertambah rezekinya. Tidak hanya rezeki soal materi tapi kesehatan dan lain-lain.

  4. Assolahu, artinya beres. Makna ini menegaskan bahwa orang yang senantiasa menunaikan zakat, terbebas dari masalah akan hartanya seperti kebangkrutan, dirampok, dicuri dan sebagainya.

Makna-makna tersebut menunjukkan bahwa betapa zakat memiliki faedah yang besar bagi kehidupan orang yang menunaikannya. Jadi, setiap Muslim tidak perlu ragu untuk menunaikan zakat, karena selain mendapat pahala di sisi Allah, juga mendapat kemuliaan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat ? 

Setelah memahami apa dan mengapa harus menunaikan zakat. Saatnya kita memahami kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat.  Zakat merupakan bagian dari rukun Islam, sehingga menjadi wajib hukumnya bagi Muslim yang telah memenuhi syarat,  untuk menunaikan zakat.

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka …”

(QS. At-Taubah 9: 103)

Zakat terdiri atas zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah merupakan zakat yang berupa sembako atau bahan makanan pokok. Zakat fitrah wajib ditunaikan bagi Muslim yang telah memenuhi syarat yaitu orang yang memiliki bahan makanan lebih dari satu sha’ (1 sha’= 4 mud, 1 mud= 675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya, selama sehari semalam ketika hari raya.

Waktu pelaksanaan zakat fitrah dikeluarkan selama bulan Ramadhan, sampai paling lambat menjelang shalat Ied. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa. Hal ini tercantum pada hadits Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Ied maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Ied maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud)

Sedangkan zakat mal merupakan zakat atas harta yang dimiliki dan terbagi atas zakat perdagangan, zakat profesi, zakat hewan ternak, zakat barang temuan dan zakat atas kepemilikan emas dan atau perak, zakat perusahaan.

Berbeda dengan zakat fitrah, zakat mal tidak memiliki waktu khusus untuk pembayarannya. Hanya saja zakat mal sangat bergantung pada nisab dan haul. Karena tidak ada waktu khusus dalam menunaikan zakat mal, maka lebih baik menyegerakan pelaksanaanya sehingga kewajiban terpenuhi dan kebersihan harta terjaga.

Artikel Terkait :

1. Mengubah Mustahik To Muzakki

2. Pentingnya Zakat Fitrah

Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

Oleh : devynawa

Zakat merupakan sistem ekonomi tertua di muka bumi. Zakat yang dikeluarkan muzaki (pemberi zakat) pada setiap Ramadhan, sejatinya bukanlah berhenti pada soal memenuhi kewajiban. Tentu ada fadhilah di setiap syariat yang ditetapkan dalam Islam. Zakat ini bisa berdampak luas pada perekonomian umat.

Zakat meniadakan keakuan seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dari zakat, kita belajar bahwa dalam harta seseorang ada hak orang lain, ada hak mustahik yang harus dikeluarkan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibanding rezeki yang diterima pemberi zakat tersebut. Namun bukan lagi menjadi hal sepele jika telah sampai ke mustahik (penerima zakat).

Jika dapat dikelola dengan baik, zakat bisa memiliki potensi yang tidak biasa. Zakat yang diberikan muzaki secara individu dan langsung kepada mustahik mungkin saja bersifat jangka pendek, hanya dalam bentuk santunan. Namun lain cerita jika zakat dikumpulkan dan disalurkan melalui sebuah lembaga amil yang memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih baik.

Lembaga ini akan merealisasikan  dalam bentuk program-program yang bersifat jangka panjang baik bidang sosial, ekonomi, kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, dengan harapan program tersebut memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

Zakat yang disalurkan melalui lembaga akan terhimpun lebih banyak sehingga berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar. Dari segi ekonomi, zakat yang tersalur menjadi lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini bertujuan agar umat Islam terbebas dari kemiskinan sehingga bebas pula dari kekufuran dan mampu menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik.

Cara memberdayakan umat melalui dana zakat antara lain dengan memberikan bekal kepada mustahik berupa pemberian keterampilan atau ilmu usaha (wirausaha). Bekal keterampilan ini bisa diberikan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan.

Di sisi lain jika mustahik telah memiliki kemampuan wirausaha namun terbatas pada modal, maka pemberdayaan bisa diberikan melalui akses modal untuk bekal usaha. Pemberian modal ini akan disertai pendampingan sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan juga diberikan dari sisi marketing. Membuka jalan agar produk bisa terjual di pasaran.

Pun yang tidak kalah penting adalah sektor pendidikan. Terutama untuk anak yatim dan dhuafa. Dari sini, mustahik yang belum sampai pada usia kerja bisa diberdayakan melalui pemberian beasiswa pendidikan yang cukup. Atau dalam bentuk lain demi terpenuhinya pendidikan bagi yatim dhuafa. Program ini bertujuan menyiapkan anak yatim menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki bekal untuk memasuki usia produktif. Sehingga bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Melalui upaya-upaya optimalisasi dana zakat yang ada, umat akan diberdayakan secara jangka panjang terutama dari sisi ekonomi. Dari yang tadinya kurang menjadi cukup, dari yang tadinya penerima menjadi pemberi. Sehingga zakat dapat memperkecil jarak antara pemberi dan penerima.

Ramadhan ini adalah momentum untuk melibatkan diri, memberikan yang terbaik untuk pemberdayaan zakat menuju kemandirian ekonomi umat. Zakat tidak perlu menunggu kaya, sebab apa yang kita keluarkan sejatinya itulah yang kita punya.

Yuk berzakat! Karena zakat kita memberdayakan umat. Selamat mengoptimalkan hari-hari Ramadhan dengan berzakat.

Artikel Terkait :

  1. Zakat Membersihkan Jiwa dan Harta
  2. Berlomba Kebaikan Dalam Bulan Ramadhan
  3. Cara Hitung Zakat Maal
Sedekah Melipatgandakan Rejeki

Sedekah Melipatgandakan Rejeki

Oleh : Jr. Maimunnudin

Sedekah Melipatgandakan Rejeki. Janji Allah itu pasti. Setiap Allah menjanjikan sesuatu kepada hambanya, selalu ditepati. Allah janji jika kita melakukan perbuatan A, maka akan diberi B. Jika melakukan B akan diberi C, dan seterusnya. Begitu pula ketika Allah menyatakan bahwa jika kita bersedekah akan dilipatgandakan menjadi  tujuh atau bahkan lebih seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (Qs. Al-Baqarah: 261)

Yang perlu kita lakukan cuma satu, yakni mengimani Allah. Bukan tugas kita untuk memikirkan bagaimana cara Allah memberi kita tujuh kali lipat atau bahkan yang lebih dari itu. Tugas kita ketika mendengar perintah-Nya adalah mengeksekusi perintah tersebut. Tentang bagaimana Allah memenuhi janji-Nya, itu mutlak hak Allah. Cukuplah kita yakin dan mengesekusinya.

Suatu ketika, ada seorang hamba Allah yang dalam situasi pandemi ini mendapatkan banyak cerita pengalaman hidup dari tetangga, saudara, dan rekan kerjanya. Cerita-cerita itu kebanyakan soal dampak pandemi yang mereka rasakan. Ada yang bercerita tentang gaji yang diterima tiap bulan turun drastis, ada yang mendapatkan PHK dari perusahaannya sedang di sisi lain ia harus tetap menjaga aliran uang masuk untuk menafkahi anggota keluarganya yang jumlahnya tidak sedikit.

Cerita-cerita yang didapat oleh hamba Allah ini memang sedang marak terjadi akhir-akhir ini. Menurut proyeksi Sri Mulyani, lonjakan pengangguran akibat pandemi jika tidak segera teratasi akan mencapai 2,8 juta orang: Pekerja formal dirumahkan, pelaku formal di-PHK, pelaku usaha terganggu karena terus melakukan produksi namun minim transaksi akibat perubahan perilaku konsumsi.

Berangkat dari situasi tersebut, hamba Allah sebut saja fulan, membaca peluang bahwa Ramadhan biasanya identik dengan kurma. Maka dia pun berjualan kurma. Si fulan, mencari suplier  yang dapat memberikan harga yang sangat murah. Semangatnya, untung tipis tidak masalah yang penting aliran cashflow untuk keluarga berjalan lancar dan berkah seperti nasihat yang pernah dia dengar.

Saudara, tetangga, dan rekan kerja ia hubungi untuk turut bergabung, sebagai salah satu bentuk ikhtiar memberi nafkah keluarga masing-masing. Keputusannya waktu itu adalah lebih baik memberi kailnya dari pada memberi ikannya. Dan tentu saja ia memberikan skema yang sangat mudah dan berasaskan saling percaya.

Ketika Ramadhan hari ke-2, si fulan mengalami dead stock. Dead stock adalah kondisi dimana produk berada di gudang dan tidak bergerak dalam kurun waktu tertentu. Sehingga menggangu alur keluar masuknya barang karena minimnya transaksi. Berhari-hari si fulan mencoba dengan segala cara untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pada saat bersamaan, ada salah satu rekannya menawarkan jeruk nipis. Si fulan sedikit terkejut karena dalam kesehariannya, kawannya ini berkutat pada sektor industri cetak. Namun pada saat itu dia menawarkan barang yang mudah ditemukan di pasar tradisonal.

Harga jeruk nipis yang ditawarkan terhitung masih logis. Hanya tujuh ribu rupiah per kilonya. Pada saat itu, di diri si fulan belum terpikir Al-Baqarah ayat 261 tentang ganjaran bersedekah. Namun ia memutuskan untuk membeli 10 kg jeruk nipis rekannya itu dan mengamanahkan kepada istrinya agar jeruk nipis itu dibagi kepada saudara dan tetangganya.

Yakin. Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Ternyata kemampuan kita terbatas dan ada batasnya. Yang diperlukan hanya yakin dan percaya ke Allah. Biarlah Allah yang mengeksekusi.

Dalam hitungan jam setelah jeruk nipis dibagikan, tak disangka-sangka rekan kerja si fulan menghubungi dirinya untuk  order kurma, yang jika ditotal, keuntungannya adalah sepuluh kali dari nilai yang ia belanjakan jeruk nipis. Allahu akbar. Kalau dikaitkan dengan keuntungan memang sedikit apalagi ada pembandingnya. Namun yang terpenting, masalah dead stock terselesaikan dengan mudah karena bersedekah jeruk nipis.

Mudah-mudahan keyakinan kita adalah keyakinan yang benar. Keyakinan yang tidak disandarkan kepada kekuatan diri semata. Keyakinan yang tidak diandalkan pada harapan kepada selain Allah. Dan selalu hanya mengharap ridho-Nya.

Apalagi pada bulan Ramadhan, bulan yang mempunyai keistimewaan untuk bersedekah sebagaimana sabda Rasullullah ﷺ, “Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan’.”  (HR.  At-Tirmidzi).

Dengan keistimewaan bulan Ramadhan, apakah kita yakin, akan melewatkan Ramadhan begitu saja tanpa bersedekah yang terbaik dan maksimal? 

Artikel Terkait :

1. Berlomba Kebaikan Pada Bulan Ramadhan

2. Cara Hitung Zakat Maal

3. Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • +62-822-3077-3077
  • cs@nurulhayat.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 LAZNAS Nurul Hayat