Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya – Meskipun manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan penuh kesalahan, namun Islam mengategorikan manusia sebagai makhluk paling mulia di muka bumi, serta lebih tinggi derajatnya dibandingkan makhluk-makhluk Allah SWT lainnya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra (17) : 70

Kemuliaan Manusia Dibandingkan Makhluk Lainnya – Kemuliaan derajat manusia ini karena ia dibekali keistimewaan ilmu pengetahuan, kepandaian bahasa (al-bayan), rasio (akal), serta tamyiz, kemampuan membedakan hal baik dan buruk,

Makhluk-makhluk lainnya, seperti binatang tidak memiliki kemampuan kompleks di atas, bahkan malaikat pun dianggap lebih rendah posisinya dibandingkan manusia. Sebab, malaikat tidak bersifat tamyiz. Malaikat hanya patuh pada Allah SWT dan tidak memiliki pilihan untuk melakukan maksiat.

Pilihan dan kesadaran terhadap yang benar (hak) dan yang salah (batil) inilah yang merupakan keistimewaan terbesar pada diri manusia. Namun, jika manusia tidak bisa memanfaatkan keistimewaan ini, maka derajatnya akan direndahkan serendah-rendahnya, bahkan lebih dari binatang. Sementara itu, jika ia berhasil mengendalikan hawa nafsu dan kesadarannya, maka manusia akan memperoleh ganjaran derajat paling tinggi di sisi Allah SWT.

Berikut ini beberapa bukti kemuliaan manusia yang diajarkan Islam beserta dalilnya dalam Al-Quran.

  1. Manusia dikaruniai pengetahuan

Sebagaimana dijabarkan dalam surah Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan gagasannya kepada para malaikat bahwasanya ia akan menciptakan manusia. Lantas, para malaikat bertanya kepada Allah SWT, untuk apa ia menciptakan manusia yang akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

Allah kemudian menyatakan bahwa manusia dikaruniai pengetahuan. Dengan demikian, mereka tidak selamanya akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, melainkan punya pilihan untuk melakukan kebaikan (memakmurkan bumi) atau menghancurkannya.

Pengetahuan yang dikaruniakan Allah SWT ini dijelaskan dalam ayat berikutnya, terutama ketika Allah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada Adam AS. Hal ini merupakan kemuliaan pertama yang membuat manusia lebih unggul dari malaikat.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama [benda-benda] seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’,” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

  1. Manusia dikaruniai akal dan pilihan untuk mempertimbangkan perkara baik dan buruk

Sebagaimana disebutkan di atas, malaikat tidak memiliki pilihan sebagaimana manusia. Demikian juga binatang hanya dikendalikan oleh insting sehingga tidak bisa memperhitungkan yang hak dan batil. Sementara, manusia dikaruniai akal untuk mempertimbangkan baik dan buruk atas suatu tindakan atau peristiwa di muka bumi ini.

Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: “Barang siapa menghendaki [untuk menjadi orang beriman] maka berimanlah, dan barang siapa menghendaki [untuk menjadi orang kafir] maka kafirlah,” (QS. Al-Kahfi [18]: 29).

  1. Manusia memiliki fisik yang sangat baik

Allah menciptakan manusia dengan fisik dan anggota tubuh terbaik sesuai fungsi dan kegunaannya. Dengan fisik yang sempurna, manusia dapat melakukan banyak hal yang tak bisa dicapai makhluk-makhluk lain di muka bumi ini. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk [fisik] yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin [95]: 4).

  1. Manusia adalah khalifah di muka bumi

Berdasarkan kemuliaan manusia yang disebutkan di atas, Allah mengangkat derajat manusia di muka bumi ini sebagai khalifah, sebagai pemimpin yang bertugas untuk memakmurkan semesta. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

  1. Takwa sebagai indikator kemuliaan

Meskipun manusia adalah makhluk yang mulia di muka bumi ini, namun yang derajat tertinggi di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa di antara manusia itu sendiri. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al Hujurat [49]: 13).

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan – Sedekah bisa kita lakukan dengan beragam cara. Sesuai dengan kondisi, potensi, dan kemampuan yang kita miliki. Bagi siapa saja yang diberi kelebihan harta, maka ia bisa bersedekah dengan materi ataupun non materi. Bagi siapa saja yang diuji dengan kekurangan harta, maka pintu sedekah tidak tertutup baginya. Ia bisa bersedekah dengan beragam cara dan meraih pahala sedekah sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang berharta. Sedekah dengan kebaikan dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya.

Bersedekah Dengan Ragam Kebaikan – Kata sedekah berasal dari bahasa Arab, yaitu shadaqah yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridha Allah dan pahala semata. Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan. Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain.

Berikut ini beberapa cara bersedekah dengan kebaikan yang dapat kita lakukan.

  1. Sedekah dengan hati

Seorang hamba bisa mendapatkan pahala sedekah hanya dengan niatnya yang tulus. Sebagian salaf berkata “Alangkah banyaknya amalan kecil menjadi besar karena niat, dan alangkah banyaknya pula amalan besar menjadi kecil karena niat.” Ya, niat seseorang yang tulus untuk menggunakan harta dalam kebaikan seandainya Allah memberinya, dapat mengantarkan dirinya untuk mendapatkan pahala yang sama dengan orang kaya.

  1. Sedekah dengan lisan

Lisan berpotensi menjadi bagian tubuh terbaik atau terburuk bagi seseorang. Ia akan menjadi anggota tubuh terbaik jika ia berbicara baik. Pun sebaliknya, lisan akan menjadi anggota tubuh terjelek jika ia berbicara buruk. Di antara hal-hal yang dapat menyebabkan lisan seseorang menjadi bengkok ialah menggunjing, mencaci maki, melaknat, mencela, mengadu domba, berdusta, dan menghina.

Adapun cara sedekah dengan lisan antara lain:

Berzikir

Berzikir dapat dilakukan di antaranya dengan membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu akbar), dan tahlil.

Berkata yang baik

Dengan berkata baik berarti seseorang telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain, seperti kebahagiaan saat menerima pemberian. Di antara perkataan yang baik yang termasuk sedekah antara lain:

Amar makruf nahi mungkar. Mengajak yang baik dan mencegah kemungkaran. Meminta anak untuk mengantarkan makanan kepada tetangga adalah amar makruf. Meminta jamaah di masjid agar merapikan barisan adalah amar makruf. Melarang adik-adik kita dari mengganggu orang lain adalah nahi mungkar. Mencegah teman kita dari berduaan dengan seseorang yang bukan mahramnya adalah nahi mungkar.

Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh) ketika bertemu dengan sesama muslim.

  1. Sedekah dengan perbuatan

Senyum adalah sedekah

Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR At-Tirmidzi)

Shalat dan puasa

Sedekah jenis ini termasuk sedekah kepada diri kita sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Begitu pagi tiba, seluruh persendian salah seorang dari kalian hendaknya bersedekah, dan setiap shalat dan puasa yang dilakukan adalah sedekah baginya…” (HR. Abu Dawud)

Mendamaikan orang dan membantu sesama

Mendamaikan dua orang yang berselisih dan berlaku adil terhadap keduanya adalah sedekah.

Membantu seseorang untuk menaiki kendaraannya adalah sedekah. Mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya juga adalah sedekah.

Menunjukkan alamat kepada orang yang bertanya adalah sedekah. Menunjukkan jalan orang yang pikun atau kurang baik penglihatannya adalah sedekah. Begitu pula menyingkirkan halangan dari jalan adalah sedekah.

Memberikan minum kepada manusia yang kehausan adalah sedekah. Memberikan bantuan air ke daerah-daerah yang kekeringan adalah sedekah, begitu juga memberikan air minum kepada binatang adalah sedekah.

Memberikan pinjaman uang kepada orang yang membutuhkan adalah sedekah. Demikian pula, menangguhkan utang kepada orang yang belum mampu melunasinya adalah sedekah.

Menahan diri dari berbuat jahat

Orang Islam yang baik adalah orang yang tidak mengganggu kaum muslimin lainnya dengan lidah dan tangannya. Disebutkan dalam sebuah hadits:

“Siapakah muslimin yang baik? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Yaitu orang Islam yang kaum muslimin merasa aman dari lidah dan tangannya’.” (HR. Muslim)

Menafkahi keluarga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, jika seorang Muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka yang demikian itu dihitung sebagai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Menanam tanaman

Sedekah dengan menanam tanaman memang ajaib, karena yang dicuri pun akan bernilai sedekah bagi sang penanamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiada seorang Muslim yang menanam tanaman kecuali yang ia makan itu bernilai sedekah, yang dicuri bernilai sedekah, yang dimakan binatang buas bernilai sedekah, dan yang dimakan burung juga bernilai sedekah. Begitu pula yang berkurang karena diminta seseorang juga bernilai sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Mengajarkan ilmu

Mengajarkan ilmu yang bermanfaat adalah sedekah, baik dengan menuliskannya dalam sebuah buku maupun menjelaskannya kepada orang lain. Maka dari itu hendaknya setiap muslim senantiasa mau belajar dan juga mengajarkan ilmu yang dipelajarinya kepada orang lain, sebab mengajarkan ilmu yang kita kuasai kepada orang lain termasuk sedekah bagi kita yang pahalanya akan terus mengalir sesudah meninggal nanti.

Semoga beragam cara bersedekah yang dipaparkan di sini dapat memudahkan kita untuk meraih pahala sedekah. Setiap muslim bebas memilih cara bersedekahnya, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan. Semoga Allah selalu menggerakkan hati dan memudahkan langkah kita untuk bersedekah, baik dengan materi maupun non materi.

Menanamkan Aqidah pada Anak

Menanamkan Aqidah pada Anak

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orang tua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ﷻ semata. Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orang tua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya aqidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah ﷻ semata. Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan aqidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?

Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah ﷻ. Kedua, ajak anak mengaktualisasikan aqidah dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir Islami pada anak.

Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan (rukun iman) merupakan perkara yang ghaib.  Orang tua mungkin bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada ananda.  Muhammad Suwaid dalam bukunya “Mendidik Anak Bersama Nabi” memaparkan bahwa ada lima pilar mendasar dalam menanamkan aqidah, yaitu:

  1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
  2. Mencintai Allah ﷻ dan merasa diawasi olehNya, memohon pertolongan kepadaNya serta beriman kepada Qadha’ dan Qadar
  3. Mencintai Nabi ﷺ dan keluarga beliau
  4. Mengajarkan Al Quran kepada Anak
  5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya

 

Mendikte Anak dengan Kalimat Tauhid

Hakim meriwayatkan dari ibnu Abbas r.a bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ajarkanlah kalimat La Ilaha ilallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama,  dan tuntunkanlah mereka (mengucapkan) La Ilaha illalLah ketika menjelang mati.” Ibnul qayyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Al Maulud mengatakan, “Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat La Ilaha ilalLah Muhammad Rasulullah, dan hendaklah sesuatu yang pertama didengar oleh telinga mereka adalah La Ilaha ilalLah (mengenal Allah azza wa jalla) dan mentauhidkanNya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah ﷻ bersemayam di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataan mereka, senantiasa bersama dengan mereka dimana pun mereka berada.

 

Menanamkan Kecintaan Kepada Allah

Bagaimana menumbuhkan kecintaan ananda kepada Allah ﷻ. Tentu lebih mudah jika orang tua menumbuhkan mahabbatullah ini sejak anak masih bayi, bahkan sejak anak dalam kandungan. Yaitu dengan cara:

  1. Sering menyebut asma Allah ﷻ
  2. Selalu menyebut nama Allah ﷻ dalam setiap kejadian yang dialami. Bismillah ketika memulai sesuatu. Alhamdulillah ketika menyelesaikan suatu aktivitas atau ketika mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ. Astaghfirullah ketika terkejut atau merasa ingin marah. Masya Allah ketika kagum akan sesuatu hal, dst. Anak adalah peniru ulung. Jika orang tuanya terbiasa mengucapkan kalimat thayyibah, maka anak akan ikut terbiasa mengucapkannya.
  3. Ajari ananda untuk memahami sifat-sifat Allah ﷻ
  4. Ajari bersyukur
  5. Senantiasa menjaga interaksi dengan Allah ﷻ lewat shalat, doa, dan dzikir. Interaksi yang kuat dengan Allah ﷻ akan memudahkan orang tua dalam mendidik anak, karena ada campur tangan Allah ﷻ di dalamnya.
  6. Kaitkan semua kebaikan dengan Allah ﷻ

Setiap kali menemui kebesaran Allah ﷻ lewat ciptaanNya, selalu mengingatkan anak bahwa keajaiban itu terjadi karena kehebatan Allah ﷻ. Ketika melihat gunung yang kokoh, langit yang indah penuh bintang, binatang yang beraneka ragam, maka yang diingat anak adalah kebesaran Allah ﷻ.

Menanamkan Kecintaan Pada Nabi ﷺ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang menghendaki Allah dan hari akhir.” (QS. Al Ahzab: 21)

Inti dari rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah menjadikannya lebih kita cintai dari pada diri, harta, dan anak-anak kita sendiri. Mencintai Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pondasi keislaman kita. Bahkan keimanan kepada Allah ﷻ, tidak akan sempurna kecuali dengan mencintainya. Cinta Rasulullah ﷺ sebaiknya juga kita ajarkan kepada anak sedini mungkin. Semakin dini akan semakin tertanam dalam diri anak. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengajari anak agar mencintai Rasulullah ﷺ. berikut diantaranya:

  1. Bershalawat kepadanya
  2. Menceritakan kisah-kisahnya
  3. Menceritakan betapa mulia dirinya
  4. Menjalankan sunnahnya
  5. Banyak berdialog dengan ananda tentang Rasulullah ﷺ

Mengajarkan Al Quran Pada Anak

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut adalah penegasan bahwa orang tua mempunyai kewajiban untuk membina, membimbing, dan mendidik anaknya, bukan hanya sukses di dunia tapi yang lebih tinggi lagi adalah terjauh dari azab api neraka. Dengan cara mengajarkan Al Qur’an pada anak. Pendidikan Al Qur’an sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak sedini mungkin, karena pendidikan yang diberikan pada masa kecil pengaruhnya akan lebih kuat, tajam dan lebih membekas daripada pendidikan yang diberikan setelah dewasa.

Menanamkan Kecintaan Membaca Al Quran Pada Anak:

  1. Mengajak anak untuk mengerti keutamaan-keutamaan dari membaca Al-Qur’an. Sampaikanlah keutamaan terbesar dari membaca Al Qur’an kepada anak kita, “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
  2. Membangun budaya membaca Al-Qur’an di dalam rumah sendiri.
  3. Mengambil pelajaran dari keluarga yang menghafal Al Qur’an sebagai inspirasi dan motivasi.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

#Laznasnurulhayat #Zakatkita

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Baitul mal sudah dikenal sejak tahun ke-2 hijriah pemerintahan Islam di Madinah. Berdirinya lembaga ini diawali dengan cekcok para sahabat Nabi SAW dalam pembagian harta rampasan Perang Badar. Maka, turunlah surat al-Anfal[8]ayat41 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Setelah turunnya ayat itu, Rasulullah mendirikan baitul mal yang mengatur setiap harta benda kaum Muslimin, baik itu harta yang keluar maupun yang masuk. Bahkan, Nabi SAW sendiri menyerahkan segala urusan keuangan negara kepada lembaga keuangan ini.

Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat – Sistem pengelolaan baitul mal kala itu masih sangat sederhana. Belum ada kantor resmi, surat menyurat, dokumentasi, dan lain-lain layaknya sebuah lembaga keuangan resmi negara.Harta benda yang masuk langsung habis dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang berhak mendapatkannya. Atau, dibelanjakan untuk keperluan umum. Oleh karena itu, tidak ditemukan catatan-catatan resmi tentang laporan pemasukan dan pengeluaran baitul mal.

Perbaikan pengelolaan baitul mal terjadi di masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq RA. Khalifah pertama itu menekankan pentingnya fungsi baitul mal. Sumber-sumbernya berasal dari zakat, zakat fitrah, wakaf, jizyah (pembayaran dari non-Muslim untuk menjamin perlindungan keamanan), kharraj (pajak atas tanah atau hasil tanah), dan lain sebagainya.

Dalam buku Pajak Menurut Syariah, Gusfahmi mengatakan, di tahun kedua kepemimpinannya, Abu Bakar menjalankan fungsi baitul mal secara lebih luas. Baitul mal tidak semata difungsikan untuk menyalurkan harta, tetapi untuk menyimpan kekayaan negara.

Pada masa itu pula ditetapkan gaji untuk khalifah yang diambil dari uang kas negara. Terdapat kisah menarik tentang awal mula penetapan gaji itu. Suatu ketika, Abu Bakar memanggul barang-barang dagangannya ke pasar. Di tengah jalan, sang khalifah bertemu Umar bin Khattab RA.

Umar pun bertanya, “Anda mau ke mana, wahai Khalifah?” “Ke pasar,” jawab Abu Bakar. Kata Umar, “Bagaimana mungkin Anda melakukannya, padahal Anda seorang pemimpin umat Muslim?” Abu Bakar menjawab, “Lalu, dari mana aku akan memberi nafkah keluargaku?” Umar kemudian berkata, “Mari kita pergi kepada Abu Ubaidah (pengelola baitul mal) agar dia menetapkan sesuatu untukmu.”

Sejak saat itu, seorang khalifah mendapatkan gaji yang hanya cukup untuk hidup sederhana, layaknya rakyat biasa. Tetapi, sebelum Abu Bakar meninggal dunia, ia justru berpesan kepada keluarganya untuk mengembalikan uang gaji itu kepada negara sebesar 6.000 dirharn. Umar pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah membuat orang setelahnya kepayahan.” Maksud Umar, kearifan Abu Bakar telah membuat khalifah setelahnya akan merasa berat mengikuti sikapnya.

Dl zaman tiga khalifah

Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, kekayaan negara di baitul mal meningkat tajam. Ia berhasil menaklukkan Kisra (Persia) dan Qaishar (Romawi). Harta kekayaan pun mengalir deras ke Kota Madinah. Pada tahun 16 H, Umar mendirikan kantor baitul mal di Madinah. Ia mengangkat Abdullah bin Irqam sebagai bendahara negara dan Abdurrahman bin Ubaid al-Qari sebagai wakilnya. Ia juga mengangkat juru tulis, menetapkan gaji pegawai pemerintah, dan menganggarkan dana angkatan perang.

Umar sangat hati-hati dalam mengelola uang negara ini. Ibnu Katsir dalam buku al-Bidayah wa an-Nihayah menukil pidato Umar, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini selain dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang Quraisy biasa. Dan aku adalah orang biasa seperti kebanyakan kaum Muslimin.”

Kekayaan negara makin melimpah ketika pemerintahan dipegang oleh Usman bin Affan RA. Selama 12 tahun memimpin umat Islam, Usman berhasil melakukan ekspansi ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, Transoxania, dan Tabaristan.

Ia juga sukses membangun armada laut yang kuat di bawah komando Muawiyah. Inilah angkatan laut Islam yang menguasai laut Mediterania. Baitul mal yang dikelola Ustman mampu membiayai angkatan laut tersebut.

Kantor pusat baitul mal kemudian dipindahkan oleh khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib RA, dari Madinah ke Kufah. Ali menganggarkan dana bantuan kepada kaum Muslimin yang membutuhkan. Disebutkan oleh Ibnu Katsir, Ali juga mendapatkan jatah dari baitul mal berupa kain yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separuh kakinya. Dan konon, kain itu banyak tambalan di beberapa bagiannya.

Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, orang-orang dekat Ali menyarankan agar ia mengambil uang dari baitul mal sebagai hadiah bagi orang-orang yang membantunya. Mendengar ini, Ali sangat marah dan berkata, “Apakah kalian memerintahkan aku untuk mencari kemenangan melalui kezaliman?”

Khalifah keempat awal Islam itu menunjukkan bagaimana menangani lembaga keuangan negara dengan penuh amanah. Kekayaan negara yang berasal dari rakyat benar-benar disalurkan untuk kepentingan rakyat. Sikap Ali yang menolak usulan para sahabatnya menunjukkan, kezaliman hanya akan membawa kebangkrutan meskipun secara kasat mata seolah menjadi kemenangan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Diciptakannya manusia tidak ada hal lain kecuali hanya untuk beribadah. Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas ditakdirkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”. Ayat ini berlaku umum  menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan.

Janganlah Terlalu Mendambakan Dunia – Setiap manusia di dunia memiliki jalan takdir hidupnya masing-masing. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah saw. menerangkan bahwa nasib manusia pada hakikatnya sudah ditentukan, termasuk rezeki, ajal, amal, kesedihan, dan kebahagiaannya. Hal ini seharusnya meniscayakan adanya iman kepada Allah bahwa Dia lah satu-satunya yang berkuasa dan tiadalah manusia melakukan sesuatu apapun kecuali ditujukan untuk menggapai ridha-Nya.

Manusia memang diciptakan dengan berbagai macam watak dan karakter. Berdasarkan tingkat kesadarannya, aktivitas yang dilakukan tentu juga akan berbeda-beda. Seseorang dengan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, akan bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan akhiratnya. Sementara seseorang dengan tingkat kesadaran tidak berimbang, akan lebih condong memprioritaskan salah satu dari keduanya.

Terlalu memperhatikan dunia hingga melupakan akhirat tentu tidak baik. Manusia memang diciptakan dengan akal dan dihiasi dengan keinginan (syahwat) pada keindahan-keindahan duniawi. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya adalah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa wanita, anak, harta, kendaraan, termasuk sawah ladang adalah keindahan dunia yang wajar jika manusia condong kepadanya. Kecintaan terhadap beberapa hal tersebut pada dasarnya adalah sah karena fitrah manusia memang diciptakan demikian. Namun kemudian menjadi tidak wajar jika kecintaan yang timbul menjadi berlebihan, apalagi menjadikan kesemuanya itu hanya sebagai tujuan hidup tanpa memperhatikan urusan akhirat.

Sejatinya, dunia memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya berbunyi, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” Dipahami dari ayat ini adalah bahwa bumi dijadikan untuk manusia, artinya manusia memiliki hak untuk memanfaatkan segala apa yang ada di dalamnya. Pemanfaatan itu tentu harus dipahami pada hal-hal yang mengandung maslahat saja, termasuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, dalam ukuran yang diizinkan oleh syariat.

Tentu kita semua pernah mendengar atau membaca kisah seseorang yang memiliki kekayaan tiada bandingannya di muka bumi ini, Qarun. Dikisahkan bahwa pada awalnya Qarun adalah seseorang yang miskin. Lalu dia meminta Nabi Musa as. untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan kepadanya. Doa itu akhirnya dikabulkan dan Qarun lantas menjadi orang yang kaya. Al-Quran menggambarkan betapa kekayaan tersebut sangat melimpah. Saking kayanya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya sangat berat dan harus diangkat oleh beberapa orang kuat. Namun, kecintaannya yang berlebihan terhadap harta kekayaannya memunculkan perasaan sombong yang pada akhirnya mengantarkannya pada kebinasaan.

Imam Bukhari meriwayatkan satu hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata, “Celaka budak dinar, dirham, dan kain (qathifah). Jika diberi dia ridha, jika tak diberi dia tak rela.” Melalui hadis tersebut, Rasulullah saw. menekankan bahwa sungguh tak elok manusia yang hatinya terpaku pada keberadaan harta. Menjadi kaya memang tidak salah, tapi menempatkan kekayaan pada hati tidaklah dianjurkan. Tercatat dalam sejarah, tidak sedikit para alim ulama yang mempunyai kekayaan yang banyak, namun kekayaan tersebut tidak menggoyahkan hati mereka dalam menyikapi kehidupan di akhirat.

Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah swt. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa akhirat memang telah disediakan sebagai tempat kembali, namun sebelumnya manusia juga ditakdirkan hidup di dunia. Dengan begitu, sebagaimana akhirat harus dipersiapkan, dunia juga harus dijadikan tempat mempersiapkan hidup di akhirat kelak.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah). Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat. Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik. Sebaliknya jika yang kita tanam berasal dari bibit yang baik, maka kita akan bergembira dengan hasil yang baik pula di akhirat kelak. Allah berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Persatuan dan kesatuan antar-sesama manusia tidak mungkin dapat terwujud kalau tidak ada semangat persaudaraan. Dalam konteks ke-Indonesaan persaudaraan harus dilakukan bukan hanya terhadap non-Muslim, namun juga terhadap sesama Muslim. Untuk itulah persaudaraan sesama Muslim, akan menumbuhkan ikatan kebersamaan yang kokoh walau banyak terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat dalam kehidupan bermasyarakat.

Persaudaraan antar-sesama Muslim

Di antara ayat yang secara tegas menyatakan bahwa sesama orang mukmin adalah bersaudara seperti dalam Surah al- Hujurat/49: 10.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (al-Hujurat/49:10)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Curahan rahmat kepada suatu umat, khususnya umat Muslim akan diberikan oleh Allah Swt sepanjang sesama memelihara persaudaraan di antara mereka. Ayat-ayat yang terdapat dalam Surah al-Hujurat ini secara umum berisi tentang petunjuk kepada umat islam khususnya, dan masyarakat manusia pada umumnya. Dalam ayat selanjutnya; 11 dan 12 berisi tentang peringatan kepada umat islam, di antaranya adalah bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan dan menghina, karena boleh jadi yang dilecehkan itu lebih baik dari yang melecehkan. Sesama orang yang beriman juga tidak boleh saling berprasangka buruk dan meng-ghibah.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa orang-orang yang berhijrah (al-Muhajirun) serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kaum Ansar), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Allah Swt berfirman di dalam Surat Al-Anfal yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. (al-Anfal/8: 72).

Kaum Muhajirin dan Anshar yang ber­saudara itu kemudian disifati oleh Al- Qur’an sebagai orang yang beriman dengan sebenarnya, firman Allah:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (al-Anfal: 74)

Salah satu alasan mengapa kaum Mus­limin harus meneguhkan tali persaudaraan adalah agar tidak terjadi fitnah dan ke­kacauan dalam masyarakat yang mereka bangun. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar, (al-Anfal: 73)

Menjalin Persaudaraan Dalam Islam – Fitnah atau kekacauan dan juga ke­rusakan yang dimaksud dalam ayat tersebut dapat dijelaskan dengan melihat latar belakang historis masyarakat pada saat ayat tersebut diturunkan. Kaum musyrik Mekah pada waktu itu sangat kejam terhadap kaum Muslimin, di sisi lain sebagian yang memeluk Islam masih memiliki keluarga dekat yang menentang ajaran Islam. Ada juga yang kendati berbeda agama tetapi masih terjalin antar-mereka persahabatan yang kental. Itu semua dapat melahirkan bahaya terhadap akidah kaum Muslimin, lebih-lebih mereka yang belum mantap imannya. Pergaulan dapat mempengaruhi mereka, akhlak buruk kaum musyrik dapat juga mengotori jiwa dan perilaku kaum Muslimin, belum lagi jika perasaan kasih sayang dan persahabatan itu mengantar kepada kemusyrikan atau kekufuran, atau mengakibatkan bocornya rahasia kaum Muslimin. Sedangkan bagi yang tidak menjalin persahabatan dengan kaum musyrik dapat melahirkan bahaya lain yaitu ancaman dan penyiksaan akibat keberadaan di tangan musuh dan ini bagi yang tidak kuat mentalnya dapat merupakan sebab kemurtadan. Karena itu, ayat di atas mengecam mereka yang tidak berhijrah apalagi kaum Muslimin yang telah berhijrah sangat mendambakan dukungan saudara-saudara seiman menghadapi aneka tantangan kaum musyrik serta orang-orang Yahudi dan munafik. Untuk itulah Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk meneguhkan persatuan dan menghindari perpecahan Tolong menolong dalam persaudaraan harus menjadi sifat seorang mukmin dalam hidup bermasyarakat.

Persaudaraan dengan non-Muslim

Persaudaraan yang diperintahkan Al-Qur’an tidak hanya tertuju kepada sesama Muslim, namun juga kepada sesama warga masyarakat termasuk yang non-Muslim. Salah satu alasan yang dijelaskan Al-Qur’an adalah bahwa manusia itu satu sama lain bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang satu, Surah al-Hujurat: 13 menegaskan hal ini:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah mencipta- kan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu ber­bangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti (al-Hujurat:13)

Persamaan seluruh umat manusia ini juga ditegaskan oleh Allah dalam Surah an- Nisa’: 1.

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasang­annya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari kedua­nya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluarga­an. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (an-Nisa’: 1)

Ayat-ayat dan juga beberapa hadits di atas menjelaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan, manusia tidak ada perbedaan. Mereka semuanya sama, dari asal kejadian yang sama yaitu tanah, dari diri yang satu yakni Adam yang diciptakan dari tanah dan dari padanya diciptakan istrinya.

Oleh karenanya, tidak ada kelebihan seorang individu dari individu yang lain, satu golongan atas golongan yang lain, suatu ras atas ras yang lain, warna kulit atas warna kulit yang lain, seorang tuan atas pembantunya, dan pemerintah atas rakyatnya. Atas dasar asal-usul kejadian manusia seluruhnya adalah sama, maka tidak layak seseorang atau satu golongan membanggakan diri terhadap yang lain atau menghinanya.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa misi utama Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat adalah untuk menegakkan prinsip persaudaraan dan mengikis habis segala bentuk fanatisme golongan maupun kelompok. Dengan persaudaraan tersebut sesama anggota masyarakat dapat melakukan kerja sama sekalipun di antara warganya terdapat perbedaan prinsip yaitu perbedaan akidah. Perbedaan-perbedaan yang ada bukan dimaksudkan untuk menunjukkan superioritas masing-masing terhadap yang lain, melainkan untuk saling mengenal dan menegakkan prinsip persatuan, persaudaraan, persamaan dan kebebasan.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain, itulah akhlak yang penting di era sekarang. Karena biasanya, orang yang meremehkan orang lain. Hanya bisa mengintip aktivitas orang lain. Jadi, dia sendiri tetap jalan di tempat. Sementara si orang lain terus melangkah dan berkarya.

Jangan Mudah Meremehkan Orang Lain – Islam adalah agama yang kaaffah. Islam mengatur segala sesuatunya dalam kehidupan  dan tidak ada yang terlewatkan. Salah satu hal yang diatur dalam agama islam adalah sikap tidak meremehkan orang lain. Bahkan sekalipun terhadap orang yang dibawah kita baik dari segi umur, status sosial, ekonomi, jabatan dan lainnya. Tetapi terkadang hal ini masih banyak orang yang meremehkan orang lain dan sikap meremehkan ini bisa dilihat dari ucapan,tingkah laku, gerak tubuh dan lainnya.

Rasulullah Saw pernah suatu ketika tidak memperdulikan atau bermuka kurang menyenangkan dihadapan abdullah bin ummi maktum ketika kedatangan para pembesar Quraysi hal ini disebutkan dalam tafsir ibnu katsir “ pada sautu hari Rasulullah Saw berbicara dengan beberapa pembesar Quraisy yang sangat beliau harapkan keislamannya.

Saat itu datanglah ummu maktum yang telah masuk islam terlebih dahulu, dia bertanya kepada Rasulullah Saw tetapi beliau hanya menoleh karena tidak ingin waktunya tersita demi mengajak para pembesar Quraisy. Sehingga beliau bermuka masam dan berpaling dari ummu maktum. Maka turunlah ayat “

عبس و تولى   ان جاءه الأعمي     وما يدريك لعله يزكي

dia Muhammad bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadany, tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa. Yakni berkenaan dengan penyucian dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya, atau mengenai nasihat atau nasihat atau mencegah diri dari yang diharamkan.

“adapun orang yang dirinya merasa serba cukup kamua melayaninya” yaitu pembesar-pembesar Quraysi yang sedang dihadapi Rasulullah Saw yang diharapkannya dapat masuk islam. Mereka kamu layani dan berpaling dari ummu maktum.

Abu ya’la meriwayatkan dari Anas ra. Tentang surat abasa’ ibnu ummu maktum menghadap Rasulullah Saw sedangkan beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf, Rasulullah berpaling dari ibnu ummu maktum maka turunlah surat ‘abasa’ setelah itu Rasulullah memuliakan ibnu ummu maktum.(HR. Abu ya’la)

Maka dari kisah ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak meremehkan orang lain. Karena ketika kita suka meremehkan orang lain pada dasarnya kita juga meremehkan diri sendiri ketika kita merendahkan orang lain pada hakikatnya kita juga meremehkan diri sendiri.: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan walau sedikitpun, mungkin kebaikan tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam surga dan kekal di dalamnya.

عنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

Artinya: “Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu sekali-kali meremehkan dari kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” HR. Muslim.

Dan jangan pernah meremehkan dosa walau sedikitpun, mungkin dosa tersebut merupakan sebab terbesar seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الْمُوبِقَاتِ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia adalah lebih tipis dibandingkan rambut dalam penglihatan kalian, sungguh kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya termasuk dari dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” HR. Ahmad dan Bukhari.

Maka jangan meremehkan siapapun. Karena sama sekali tidak ada orang hebat dengan cara meremehkan orang lain. Dan belum tentu orang yang diremehkan lebih buruk dari yang meremehkan. Mari kita perbaiki diri jangan sampai amalan-amalan kita hangus karena kita sering meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain. Kita gunakan amanah nikmat kesehatan ini untuk memperbanyak kebaikan-kebaikan amal kita.  Wallohu a’lam bi alshawab.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Salah satu sikap penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim adalah sikap menghormati dan menghargai orang lain. Menghormati dan menghargai orang lain merupakan salah satu upaya untuk menghormati dan menghargai diri sendiri. Bagaimana orang lain mau menghormati dan menghargai diri kita, jika kita tidak mau menghormati dan menghargainya. Cara mengormati dan menghargai orang lain pun berbeda tergantung dalam keberagaman masing-masing.

Menghargai Terhadap Sesama Muslim – Penghormatan kepada orang lain yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menimbulkan pengaruh besar dan membawa seseorang menjadi Muslim. Menghormati orang lain, dapat pula diungkapkan dalam hal yang mungkin dianggap sepele, di antaranya dengan bersikap ramah.

Lewat sikap ramah ini, melahirkan persatuan yang kuat di dalam tubuh umat. Rasul pun menyatakan agar Muslim tak menganggap remeh kebaikan walaupun hanya dengan menampakkan wajah ramah. Bisa kita ambil contoh dan teladan dari kesan Jarir bin Abdullah selama bergaul dengan Rasul.

“Sejak masuk Islam, saya melihat wajah Rasul selalu tersenyum ramah. Demikian terungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Shaleh Ahmad Asy-Syaami, menyampaikan penjelasan lain mengenai sikap menghormati orang. Jika diberi hadiah, Rasul akan menerimanya dan membalasnya dengan yang lebih baik.

Sebaliknya, saat menolak sebuah pemberian, dia akan menyampaikan permintaan maaf kepada orang yang ingin memberinya hadiah tersebut. Seperti yang ia katakan kepada sahabatnya Sha’b bin Jatstsamah. Waktu itu, Sha’b mau agar Rasul menerima pemberian daging hasil buruannya, namun ditolaknya.

Rasul menjelaskan, ia tak bersedia menerima bukan karena tidak suka Sha’b, tetapi karena sedang berihram. Selain itu, utusan Allah ini selalu mendoakan orang yang berbuat baik kepadanya sesuai dengan kondisi orang bersangkutan. Dikisahkan, Ibnu Abbas membantunya dengan memberikan air wudhu.

Kemudian, Rasul mendoakan agar Ibnu Abbas menjadi orang yang ahli dalam agama dan menguasai tafsir Alquran. Pada waktu lain, Abu Qatadah pernah menjaga tubuh Rasul yang sedikit miring dari tunggangannya pada malam hari agar tak jatuh. Rasul mendoakan agar Allah menjaga Abu Qatadah seperti Dia menjaga nabi-Nya.

Terhadap orang lain sesama Muslim, kita harus membina tali silaturahmi dan memenuhi hak-haknya seperti yang dijelasakan dalam hadist Nabi Muhamad SAW. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ditegaskan, Nabi SAW bersabda:

“Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima, yaitu 1) apabila bertemu, berilah salam kepadanya, 2) mengunjunginya, apabila ia (Muslim lain) sedang sakit, 3) mengantarkan jenazahnya, apabila ia meninggal dunia, 4) memenuhi undangannya, apabila ia mengundang, dan 5) mendoakannya, apabila ia bersin,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Kita harus membina dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim, karena persaudaraan sesama Muslim diibaratkan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan (H.R. al-Bukhari dan Muslim), atau bagaikan suatau badan yang jika anggotanya sakit akan terasa pada bagian lainnya (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Selebihnya, di antara sesama Muslim tidak boleh saling menghina dan mengkhianati, sebaliknya diantara mereka harus saling mencintai seperti mencintai dirinya sendiri.

Dengan demikian, janganlah perbedaan pendapat menjadikan tali persaudaraan terputus. Sebab tidak ada kemuliaan pada sikap diri merendahkan sesama, apalagi merasa diri yang paling benar untuk selanjutnya memaki-maki bahkan melucuti kehormatan sesama Muslim.

Sebaiknya berupaya agar tetap bisa saling merendahkan diri. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang merendahkan diri di hadapan Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Hanya dengan sikap demikian, perintah Allah yang bersifat strategis dalam upaya membangun kekuatan umat bisa dilaksanakan dengan baik dan tersistem.

‌ۘوَتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡبِرِّوَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖوَلَاتَعَاوَنُواْعَلَىٱلۡإِثۡمِوَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚوَٱتَّقُواْٱللَّهَ‌ۖإِنَّٱللَّهَشَدِيدُٱلۡعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Jadi, mari tetap menjadi pribadi yang benar dengan tidak membiarkan sesama terjerumus pada ketidakbenaran. Andai pun harus bereaksi dengan sikap keras, tetaplah itu diorientasikan pada terwujudnya semangat ukhuwah, bukan permusuhan.

Semoga Allah senantiasa membimbing diri kita untuk senantiasa menghormati, menghargai sesama Muslim, sehingga dengan demikian barisan umat Islam semakin kuat dalam segala sisi kehidupan. Wallahu a’lam.

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri – Jaga kehormatan dan harga diri dalam islam Kehormatan merupakan hal penting dalam Islam. Menjaga kehormatan merupakan hal penting dalam Islam. Saking pentingnya, setiap muslim tidak hanya diwajibkan menjaga kehormatan diri sendiri, tapi juga harus menjaga kehormatan orang lain.

Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:⁣ “Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.”⁣ (Shahih al-Bukhary, no. 1427⁣)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata “Orang yang menjaga kehormatannya adalah yang tidak meminta dengan ucapannya, sedangkan orang yang merasa cukup adalah yang tidak mengharap-harapkan dengan hatinya, karena sesungguhnya merasa cukup lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan menjaga kehormatan, dan kekayaan yang paling mulia adalah kekayaan jiwa.”⁣

Menjaga kehormatan adalah sikap yang dapat menjaga seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, baik yang dilakukan oleh tangan, lisan atau kemaluannya.

Termasuk di dalamnya, meninggalkan hal-hal yang mungkar,  untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak pantas, atau berlebih-lebihan.

Salah satu sikap menjaga kehormatan ialah menikah dan menutup aurat bagi seorang wanita agar mendapatkan kemuliaan.

“Dan hendaklah menjaga kesuciannya, yaitu orang – orang yang tidak (belum) mampu menikah, hingga Allah memberikan kecukupan (memampukan) mereka dari karunia-Nya.” (Quran Surat An-Nur Ayat 33)

Selain itu, upaya menjaga kehormatan diri sendiri dan orang lain adalah menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang untuk dilihat.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: hendaknya mereka menjaga pandanganya dan memelihara kemaluanya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaknya mereka menahan pandanganya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang biasa tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasanya kecuali kepada suami mereka.” (Q.S An-Nur 30-31).

Dari ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada hambanya agar selalu menjaga pandangan dari apa yang diharamkan, tujuanya adalah untuk menjaga hati, sebagaimana salah satu ungkapan yang berbunyi “Pandangan adalah Panah Beracun menuju hati (Ismail bin Umar bin Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir). Dan pada ayat di atas pada huruf “mim” dalam lafadz “min absharihinna” adalah bermakna sebagian. Sedangkan untuk lafadz “furuj” tidak terdapat huruf “min” dikarenakan dalam urusan pandang memandang lebih luas dibandingkan urusan menjaga kemaluan.

Menjaga Kehormatan dan Harga Diri – Ketika tidak sengaja memandang perkara yang haram, maka hukum bagi pandangan yang pertama masih bisa dimaafkan dan harus memalingkan pandangan ke arah lain, sebagaimana di dalam riwayat Jarir bin Abdullah al-bajali, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tidak sengaja dan beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandangan”. (Shihabuddin Mahmud al – Alusi ,Ruhul-Ma’ani). Sedangkan untuk urusan menjaga kemaluan tidak ada rukhsah sama sekali. Sementara itu wanita sebagai maskot dari keindahan dunia menjadikan dirinya sebagai objek nomor satu yang melahirkan bahayanya pandangan.

Dalam Agama Islam memberikan ketetapan-ketetapan kepada ummatnya seperti larangan adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan (ikhtilath), saling berpandangan (nazhar), berpegangan (lamsu), ke luar rumah tanpa ada mahram yang menemaninya dan berbicara antara lawan jenis tanpa adanya hajat. Hal ini sesekali bukan dalam rangka mengekang gerak-gerik wanita Muslimah, akan tetapi lebih karena menjaga kesuciannya dari hal-hal yang dapat merusak agamanya.

Sehingga tidak heran jika Islam memberikan aturan untuk menjaga kehormatan orang lain (hifzhil-Irdhi) seperti larangan melontarkan tuduhan zina (qadzaf). Begitu juga aturan untuk menjaga nasab (hifzun-nasl) seperti aturan pernikahan. Hifzun-nasl tidak hanya di implementasikan dalam bentuk perintah saja, tetapi juga dalam bentuk penjagaan seperti larangan zina dan had-nya. Lalu apa kaitan menjaga pandangan dengan menjaga kehormatan? coba perhatikan dan renungkan dengan seksama perbedaan antara seorang muslimah yang suka jelalatan matanya dengan seorang muslimah yang selalu menundukkan pandanganya, tentu saja terlihat beda penilaiannya.

Seorang muslimah yang suka jelalatan akan mendapatkan citra negatif dibandingkan dengan seorang muslimah yang senantiasa menundukkan pandanganya, seorang muslimah akan mempunyai nilai positif di mata orang lain, muslimah tersebut akan dinilai lebih sopan dan lebih dihargai lagi kehormatannya. Maka dari itu pentingnya menjaga kehormatan seharusnya dimulai dari hal terkecil terlebih dahulu seperti menjaga pandangan, karena mata adalah jendela hati. Jika yang masuk ke mata adalah perkara-perkara kotor, maka hati kita akan kotor pula. Maka dari itu pentingnya menjaga kehormatan seharusnya dimulai dari hal terkecil terlebih dahulu seperti menjaga pandangan dan menjaga hati dari sifat dengki.

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain – Orang yang pertamakali dapat merasakan kebahagiaan adalah orang yang mampu menghayati saat dirinya membahagiakan orang lain. Buah perbuatan baik akan tumbuh subur dalam jiwa mereka, moral mereka, dan nurani mereka. Mereka akan memperoleh kelapangan dan kegembiraan, ketenangan dan kedamaian.

Bila suatu saat kesedihan mengitari Anda, kedukaan menyakiti Anda, cobalah untuk berbuat baik kepada seseorang dan persembahkanlah keindahan kepadanya. Tentu Anda akan merasakan kegembiraan dan ketentraman.

Berilah orang yang kekurangan; tolonglah orang yang teraniaya, selamatkanlah orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, kunjungilah orang yang sakit dan tolonglah orang yang terkena bencana, niscaya kebahagiaan akan bertaburan dari setiap sudut memenuhi ruang hati Anda.

Kita bisa membuat diri kita bahagia dengan membahagiakan orang lain. Karena sesungguhnya banyak hal yang Allah perintahkan di dunia ini berkenaan dengan membahagiakan orang lain. Kita tidak hanya diperintahkan melakukan ibadah yang berhubungan dengan Allah langsung. Tapi Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong satu sama lain dalam kebaikan. Sungguh Allah Maha Baik dan menyukai kebaikan.

Nikmatnya Membahagiakan Orang Lain – Bahagia atau kebahagiaan menjadi elemen terpenting yang patut untuk diraih dan dipertahankan. Ada banyak tuntunan yang bisa dilakukan agar kebahagiaan senantiasa berpihak pada kita, salah satunya adalah dengan berpikir positif. Namun, tentu saja hal itu berlaku untuk diri sendiri saja.

Sementara dalam Islam, salah satu cara meningkatkan iman dan takwa adalah kita juga dianjurkan untuk senantiasa berbagi kebahagiaan pada orang lain.

Berikut ini ganjaran yang akan didapatkan ketika membahagiakan orang lain :

  1. Mendapat Pengampunan dari Allah SWT

Sama halnya dengan keutamaan dzikir pagi, keutamaan membuat orang lain bahagia dalam islam yang lain adalah mendapatkan pengampunan dosa dari Allah swt. Hal ini tertulis dalam kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah yang berbunyi.

“Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, Allah Ta’ala menciptakan 70.000 malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.”

  1. Diberi Kemudahan Hidup

Keutamaan orang membuat orang lain bahagia dan mengangkat kesulitan orang lain akan diberi kemudahan hidup dan senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT. Hal itu disebutkan dalam hadits Abu Hurairah :

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).”

  1. Dikarunia Umur yang Panjang

Orang yang senantiasa membuat orang di sekitarnya bahagia tentunya memiliki tali silaturahmi yang erat pada sesamanya. Menjaga tali silaturahmi termasuk hal terpuji yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Bahkan dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi akan dikaruniai baginya umur yang panjang.

  1. Mendapatkan Pahala yang Berlimpah

Selain keempat manfaat yang utama di atas, membahagiakan orang lain juga jelas akan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa membuat orang lain bahagia merupakan akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah SWT.

  1. Diringankan Beban Pikirannya

Memberikan kebahagiaan kepada orang lain bisa meringankan beban yang ada di pikiran. Hal itu dikarenakan oleh energi positif yang lahir dari hati saat menyenangkan orang lain akan ikut mempengaruhi pikiran anda sehingga beban yang ada di dalam pikiran akan menjadi lebih ringan dari sebelumnya.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya