Nobar Nussa The Movie Bersama Sahabat Yatim NH

Nobar Nussa The Movie Bersama Sahabat Yatim NH

Nobar Nussa The Movie, alhamdulillah pada hari Sabtu, 30 Oktober 2021 telah terlaksana nobar Nussa The Movie bersama sahabat yatim NH. Acara nobar ini dilaksanakan di XXI Transmart Rungkut, Surabaya. Sebanyak 3 studio dipadati oleh 280 peserta yang 150 di antaranya adalah adik-adik yatim NH. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, sahabat sejuk NH, donatur cilik ANAS dan adik-adik yatim membaur menikmati keseruan Nussa The Movie.

Keseruan nobar Nussa The Movie, sudah terlihat sejak satu jam sebelum jadwal film diputar. Ya, satu jam sebelum film dimulai para peserta dan adik-adik yatim sudah memasuki XXI Transmart Rungkut dengan penuh antusias. Setelah melakukan registrasi, para peserta kemudian dipersilakan untuk memasuki studio masing-masing dan menempati kursi yang telah ditentukan. Sebelum film diputar,  panitia mengadakan sesi tanya jawab dan membagikan doorprize kepada para peserta. Terlihat adik-adik yatim dan para peserta lainnya begitu antusias menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh panitia. Dalam kesempatan ini, juga dilakukan penyerahan simbolis beasiswa Sahabat Yatim Cemerlang yang telah diberikan dari Januari hingga Oktober 2021.

Nobar Nussa The Movie Bersama Sahabat Yatim NH

Tepat pukul 13.00 WIB film dimulai. Sahabat sejuk, donatur cilik ANAS, dan adik-adik yatim NH terlihat begitu menikmati berbagai keseruan yang dilakukan oleh Nussa dan teman-temannya. Berkali-kali mereka tertawa lepas ketika Nussa dan tokoh-tokoh lain bertingkah lucu. Tak jarang mereka juga larut dalam suasana haru yang disajikan dalam film. Hingga tak terasa, sekira pukul tiga sore, film selesai. Dengan tertib, satu per satu peserta meninggalkan studio masing-masing.

Nobar Nussa The Movie Bersama Sahabat Yatim NH

Alhamdulillah, acara nobar Nussa The Movie bersama sahabat yatim NH ini berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Heri, salah satu koordinator yatim wilayah Jambangan, Surabaya, mengaku senang dengan acara ini. Menurutnya, selain menghibur, film ini juga bisa menginspirasi anak-anak untuk selalu berusaha sebaik mungkin, pantang menyerah, dan menjaga solidaritas dengan teman.

Adik-adik yatim yang hadir di acara ini pun merasa senang. Salah satunya adalah Bei, adik yatim asal Panjangjiwo, Surabaya. “Saya senang dengan acara ini. Filmnya bagus, seru, dan agak-agak bikin mau nangis pas di bagian akhirnya,” tuturnya. Tak hanya Bei, Ibu Emi, salah satu keluarga sejuk Nurul Hayat yang turut dalam acara ini juga merasa senang dengan acara nobar ini. “Alhamdulillah, acaranya seru. Filmnya bisa memacu imajinasi anak-anak untuk lebih kreatif lagi. Acara nobar ini sepertinya perlu diulang lagi karena seru dan bagus,” ucap beliau.

Baca Juga: Cara Menghitung zakat mal

Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Semoga usaha kita dalam memuliakan adik-adik yatim ini, bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan kita. Aamiin ya Rabbal Alamiinn..

Hukum Zakat Profesi atau Penghasilan

Hukum Zakat Profesi atau Penghasilan

Hukum zakat profesi atau biasa disebut zakat penghasilan menjadi perbincangan dan perdebatan di masa saat ini. Karena sebagian besar menyangkut hidup banyak orang yang bekerja sebagai karyawan dimana setiap bulan mereka mendapatkan gaji dari hasil kerjanya.

Nah, sekarang apa yang menjadi landasan hukum kewajiban zakat profesi? Dan berapa besar kadarnya, lalu kapan dikeluarkannya zakat profesi?

Dasar Hukum Zakat Profesi

  1. Ayat-ayat al-Quran yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya.
  2. Berbagai pendapat ulama terdahulu, maupun sekarang. Sebagian menggunakan istilah yang bersifat umum, yaitu al-amwaal. Sementara sebagian lagi secara khusus memberikan istilah dengan istilah al-Maal al-Mustafaad.
  3. Dari sudut keadilan, penetapan kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas. Para petani harus berzakat, apabila hasil panen pertaniannya mencukupi nishab. Dan sangat adil, jika zakat ini pun bersifat wajib pada penghasilan yang diperoleh para pekerja profesional semacam dokter, dosen, konsultan hukum dan lain sebagainya.
  4. Sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial manusia, kususnya bidang ekonomi. Kegiatan ekonomi masyarakat dalam bentuk keahlian dan profesi semakin berkembang dan bahkan menjadi ladang penghasilan utama sebagian besar masyarakat. Karenanya, zakat profesi menjadi penting dan harus diterapkan.

Kapan Zakat Profesi Dikeluarkan ?

Besar dan waktunya dianalogikan (disesuaikan) dengan dua jenis zakat. Yaitu, waktunya disesuaikan dengan zakat pertanian: setiap musim panen atau dalam hal ini ketika seseorang mendapat honor (gaji). Dan kadarnya disesuaikan dengan zakat perdagangan atau sama dengan zakat emas dan perak, yaitu kadar zakatnya 2,5 persen. Jadi, setiap bulan seseorang harus mengeluarkan zakat profesi sebesar 2,5 persen dari besarnya gaji.

Hukum Zakat Profesi Berdasarkan Quran

Akad adalah ibadah ,dan dalam beribadah hendaknya selalu berpatokan kepada dalil (tauqifiyyah).

Dan tentang zakat profesi,tidak ada dalil baik dari Al-Qur’an, maupun Sunnah Rasulullah SAW, dan Ijma’ atau Qiyas yang Shohih. Dan tidak satu pun dari kalangan para Ulama salaf yang menyatakan disyari’atkannya.

Kesimpulannya, mewajibkan sesuatu kepada harta manusia apa-apa yang tidak diwajibkan oleh Allah ,adalah perkara yang diharamkan,dan termasuk memakan harta manusia dengan cara yang batil Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا
إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui” (QS. Al Baqarah: 188).

Zakat Penghasilan dan Profesi tidak bisa disamakan dengan zakat hasil pertanian dan peternakan karena tidak ada nash maupun qiyas yang menjelaskannya. Zakat Profesi harus sesuai dengan nisab dan haul.
Para ulama menyatakan suatu kaidah yang agung hasil kesimpulan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa pada asalnya tidak dibenarkan menetapkan disyariatkannya suatu perkara dalam agama yang mulia ini kecuali berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman:

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka suatu perkara dalam agama ini tanpa izin dari Allah?” (Asy-Syura: 21)

Pada asalnya tidak ada kewajiban atas seseorang untuk membayar zakat dari suatu harta yang dimilikinya kecuali ada dalil yang menetapkannya. Berdasarkan hal ini jika yang dimaksud dengan zakat profesi bahwa setiap profesi yang ditekuni oleh seseorang terkena kewajiban zakat, dalam arti uang yang dihasilkan darinya berapapun jumlahnya, mencapai nishab atau tidak, dan apakah uang tersebut mencapai haul atau tidak wajib dikeluarkan zakatnya, maka ini adalah pendapat yang batil. Tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya. Tidak pula ijma’ umat menyepakatinya. Bahkan tidak ada qiyas yang menunjukkannya.

Adapun jika yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat yang harus dikeluarkan dari uang yang dihasilkan dan dikumpulkan dari profesi tertentu, dengan syarat mencapai nishab dan telah sempurna haul yang harus dilewatinya, ini adalah pendapat yang benar, yang memiliki dalil dan difatwakan oleh para ulama besar yang diakui keilmuannya dan dijadikan rujukan oleh umat Islam sedunia pada abad ini dalam urusan agama mereka.

Baca Juga: Cara Menghitung zakat penghasilan

Dalam istilah fikih, pendapatan/penghasilan professional tersebut mirip dengan maal mustafad yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih zakat. Zakat profesi ini bukan bahasan baru, karena para ulama fikih telah menjelaskannya dalam kitab-kitab klasik, diantaranya kitab al-Muhalla (Ibnu Hazm), al-Mughni (Ibnu Quddamah), Nail al-Athar (Asy-Syaukani), Subul As-Salam (Ash-Shan’ani).

Menurut mereka, setiap upah/gaji yang didapatkan dari pekerjaan itu wajib zakat (wajib ditunaikan zakatnya). Diantara para ulama yang mewajibkan zakat profesi adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’awiah, ash-Shadiq, al-Baqir, an-Nashir, Daud, Umar bin Abdul Aziz, al-Hasan, az-Zuhri, dan al-Auza’i.

Zakat profesi itu wajib ditunaikan berdasarkan ayat, maqashid dan maslahat. Diantara ayat yang mewajibkan zakat bersifat umum, seperti firman Allah SWT yang artinya: “Ambillah dari sebagian harta orang kaya sebagai sedekah (zakat), yang dapat membersihkan harta mereka dan mensucikan jiwa mereka, dan  doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu dapat memberi ketenangan bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103)

Hal ini sesuai dengan maqashid (tujuan) diberlakukannya zakat yaitu semangat berbagi, memenuhi hajat dhuafa dan kebutuhan dakwah. Pendapatan kaum profesional itu besar, harus terdistribusi kepada kaum dhuafa sehingga ikut memenuhi hajat mereka.

Bahkan jika menelaah penjelasan para sahabat, tabi’in, dan ulama setelahnya, begitu pula pandangan ulama kontemporer, lembaga fatwa di Indonesia dan lembaga zakat di tanah air, bisa disimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada satupun ulama atau lembaga ataupun otoritas fatwa yang tidak mewajibkan zakat profesi.

Tetapi, semuanya mewajibkan zakat profesi, perbedaannya sebagian mewajibkan adanya haul (melewati satu tahun), dan sebagian yang lain tidak mewajibkan haul. Kesimpulan zakat penghasilan atau zakat profesi itu wajib merupakan pandangan Majlis Ulama Indonesia. Wallahu a’lam.

Baca Juga : Cara Menghitung Zakat Mal

Cara Bayar Zakat Profesi Online

Bayar zakat sekarang makin mudah bisa via online cukup dari rumah, Sediakan handphone kemudian klik di browser zakatkita.org atau klik tombol di bawah ini:

klik zakatkitaorg

Hukum Zakat Perkebunan dan Pertanian

Hukum Zakat Perkebunan dan Pertanian

Hukum Zakat Perkebunan dan pertanian pada dasarnya tidak semua hasil pertanian dan perkebunan dikenai kewajiban berzakat. Selain ditetapkan berdasarkan nisab-nya, zakat hasil bumi ini juga dapat ditinjau dari 3 keadaan. Dari 3 kondisi ini bisa diketahui bagaimana hukum zakatnya.

  1. Lenyap atau hilang sebelum waktunya. Yakni kondisi sebelum biji-bijian masak atau buah yang dipanen layak konsumsi maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.
  2. Lenyap atau hilang setelah masa wajib dibayarkan zakatnya, tapi belum disimpan di tempat penyimpanan. Jika hal ini terjadi karena sengaja, maka pemilik tetap wajib membayarkan zakatnya. Jika tidak, maka tidak ada kewajiban mengganti zakatnya.
  3. Lenyap atau hilang setelah hasil panen disimpan.

Ada perbedaan pendapat mengenai wajib atau tidaknya zakat dalam ketiga kondisi di atas. Namun menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, jika ada unsur keteledoran dari pemiliknya, maka zakat tetap wajib dibayarkan. Jika tidak, maka tidak ada kewajiban mengganti zakat hasil pertanian dan perkebunan tersebut.

Dasar Wajibnya Hukum Zakat Perkebunan dan Pertanian

Zakat Hasil pertanian disyariatkan dalam Islam berdasarkan al-Qur`ân dan as-Sunnah serta Ijmâ’. Diantara dasar tersebut :

1. Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allâh) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allâh Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [al-Baqarah/2:267]

2. Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. [al-An’am/6:141]

3. Hadits Abdullâh bin Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُوْنُ، أَوْ كَانَ عَثَريّاً : الْعُشُرُ، وَمَا سُقِيَ باِلنَّضْحِ: نِصْفُ الْعُشُرِ

Pada pertanian yang tadah hujan atau mata air atau yang menggunakan penyerapan akar (Atsariyan) diambil sepersepuluh dan yang disirami dengan penyiraman maka diambil seperduapuluh. [HR al-Bukhâri]

4. Hadits Jâbir bin Abdillah Radhiyallahu anhu bahwa beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِيْمَا سَقَتِ الأَنْـهَارُ وَالْغَيْمُ: الْعُشُوْرُ، وَفِيْمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ: نِصْفُ اْلعُشُرِ

Semua yang diairi dengan sungai dan hujan maka diambil sepersepuluh dan yang diairi dengan disiram dengan pengairan maka diambil seperduapuluh [HR Muslim]

5. Hadits Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

بَعَثَنِيّ رَسُوْلُ اللهِ  إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ آخُذَ مِمَّا سَقَتِ السَّمَاءُ: الْعُشُرَ، وَفِيْمَا سُقِيَ باِلدَّوَالِيْ: نِصْفَ الْعُشُرِ

Rasûlullâh mengutusku ke negeri Yaman lalu memerintahkan aku untuk mengambil dari yang disirami hujan sepersepuluh dan yang diairi dengan pengairan khusus maka seperduapuluh [HR. an-Nasâ’i dan dishahihkan al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i 2/193]

Sedangkan Ijma’ telah menetapkan kewajiban zakat pada gandum, anggur kering dan kurma sebagaimana dinukilkan oleh Ibnul Mundzir rahimahullah dan Ibnu Abdilbarr rahimahullah serta Ibnu Qudâmah rahimahullah.

hukum Zakat perkebunan

Kapan Zakat Perkebunan dan Pertanian Ditunaikan ?

Zakat pada biji-bijian mulai diwajibkan apabila biji-bijian itu sudah kuat dan tahan bila di tekan. Sedangkan pada buah-buahan adabila sudah layak konsumsi seperti sudah memerah atau menguning pada buah korma. Penjelasan tentang layak konsumsi ini ada dalam beberapa hadits diantaranya :

a. Hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu secara marfû’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Haditsnya berbunyi :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهَي. قِيْلَ: وَمَا زَهْوَهَا؟ قَالَ: تَحْمَارُّ وتُصْفَارُّ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga matang. Ada yang bertanya, ‘Apa tanda matangnya?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Memerah dan menguning.’ [Muttafaqun ‘Alaih]

b. Hadits Anas Radhiyallahu anhu juga , beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعِنَبِ حَتَّى يَسْوَدَّ، وَعَنْ بَيْعِ اْلحَبِّ حَتَّى يَشْتَدَّ

Nabi melarang menjual anggur hingga berwarna kehitaman dan (melarang) dari jual beli biji-bijian hingga masak. [HR Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Daud 2/344]

c. Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma , beliau Radhiyallahu anhuma berkata :

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلاَحُهَا، نَهَى اْلبَائِعَ وَاْلمُبْتَاعَ. وَفِيْ لَفْظٍ لِلْبُخَارِيْ: كَانَ إِذَا سُئِلَ عَنْ صَلاَحِهَا قَالَ: حَتَّى تَذْهَبَ عَاهَتُهَا

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga nampak layak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang jual dan yang membeli. (Dalam lafadz Imam al-Bukhâri) : Apabila Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang layaknya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Hingga hamanya hilang’ [Mmuttafaqun ‘Alaihi].

Apabila buah-buahan sudah nampak layak dikonsumsi atau biji-bijian sudah matang, maka diwajibkan padanya zakat, ini menurut pendapat yang rajih dalam hal ini. Sebagian Ulama ada yang berpegang kepada keumuman firman Allâh Azza wa Jalla pada surat al-An’âm ayat ke-141 untuk mewajibkan zakat pertanian pada saat panennya. Namun mayoritas Ulama memandang waktu wajibnya zakat pertanian adalah ketika sudah matang dan pada hasil perkebunan ketika layak konsumsi. [Lihat al-Mughni 4/169 dan Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’ 4/89].

Jumlah Zakat yang Wajib Dikeluarkan dari Zakat Perkebunan

Pembagian zakat hasil pertanian dan perkebunan berdasarkan sistem pengairan ini akan menentukan besaran presentase zakat yang harus dikeluarkan oleh pemiliknya. Jika ditinjau dari sistem pengairannya, dapat dirinci ke dalam 5 kondisi yakni:

  1. Lahan yang disiram tanpa biaya. Artinya, semua lahan yang pengairannya dengan sistem tadah hujan atau menggunakan sungai/mata air di sekitarnya, maka nilai zakat yang harus dikeluarkan adalah 10% dari nilai hasil panen di tahun tersebut.
  2. Lahan yang irigasinya dengan pembiayaan. Adapun lahan pertanian yang sistem irigasinya berbiaya, maka kewajiban zakat yang dikenakan adalah sebesar seperduapuluh atau 5% dari hasil panen keseluruhan.
  3. Lahan yang irigasinya sistem campuran. Ada lahan pertanian yang sistem irigasinya 50% menggunakan pengairan alami dan 50% menggunakan irigasi berbayar. Menurut kesepakatan ulama besaran zakat hasil pertanian dan perkebunan yang harus dibayar adalah 7,5%.
  4. Lahan yang irigasinya berbayar dan tidak berbayar bergantian. Misalnya, selain dialiri irigasi berbayar, lahan juga terkena hujan. Hal ini perlu dilihat mana yang lebih dominan. Jika tadah hujan lebih dominan, maka zakatnya adalah 10%. Jika sebaliknya, maka zakatnya 5%.
  5. Lahan yang tidak bisa dipastikan mana sistem irigasi yang dominan, wajib dizakatkan sebesar 10%. Ini karena 10% merupakan nilai yang paling jelas untuk lahan dengan pembiayaan berbayar.

Cara Menghitung Zakat Perkebunan dan Pertanian

Contoh studi kasus cara menghitung zakat perkebunan kelapa sawit sebagai berikut:

Contoh : Pak Umar mempunyai kebun kelapa sawit dan hasil panennya sebanyak 30.000 kg dan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang sudah berumur 10 tahun adalah Rp. 2000,-/ kg. Maka cara menghitung zakatnya adalah sebagai berikut : Hasil panen 30.000 kg X Rp. 2000,- = Rp. 60.000.000,-. Jadi zakat yang harus dikeluarkan adalah : Rp.60.000.000,- X 5% (karena menggunakan perairan sendiri dan pupuk) = Rp. 3.000.000,-

Pendapat Kedua :
 Bahwa perkebunan kelapa sawit dan karet tidak termasuk zakat pertanian, karena tidak disebutkan di dalam hadist dan tidak pula termasuk makanan pokok. Tetapi jika perkebunan kelapa sawit dan karet ini dijual, maka termasuk dalam zakat perdagangan dan wajib dikeluarkan 2,5% dari aset yang ada, dengan syarat terpenuhi nishab seharga 85 gram emas dan berlaku satu tahun.

Baca Juga:  Cara Menghitung Zakat Mal

Contoh : Pak Umar mempunyai kebun kelapa sawit dan hasil panennya selama satu tahun adalah 30.000 kg, sedangkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang sudah berumur 10 tahun adalah Rp. 2000,-/ kg. Nishobnya adalah 85 gram emas = Rp.42.500.000 Maka cara menghitung zakatnya adalah sebagai berikut : Hasil panen 30.000 kg X Rp. 2000,- = Rp.60.000.000,-. Artinya bahwa hasil panen kelapa sawit tersebut sudah terkena zakat karena melebihi nishob. Jadi zakat yang harus dikeluarkan adalah : Rp.60.000.000,- X 2,5 % = Rp. 1.500.000,- setiap tahunnya.

Baca Juga:  Cara Menghitung Zakat Pertanian

Cara Bayar Zakat Online

Zakat makin mudah bisa dari rumah cukup via handphone saja klik zakatkita.org

klik zakatkitaorg

Dalam Rangka Hari Santri, NH Salurkan 6 Ton Telur

Dalam Rangka Hari Santri, NH Salurkan 6 Ton Telur

Dalam rangka memperingati Hari Santri tahun 2021, Laznas Nurul Hayat salurkan bantuan 6 Ton telur ke pondok pesantren dan keluarga pra sejahtera. Bantuan ini dibagikan di beberapa kota yaitu Madiun (2 Ton), Malang  (2 Ton), Semarang (1 Ton), dan Solo (1 Ton).

Di Solo, bantuan 1000 Kg telur diserah-terimakan pada tanggal 22 Oktober 2021. Bertempat di Bale Tawangarum, Balai Kota Surakarta, acara serah terima bantuan dihadiri oleh Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, Direktur Eksekutif Laznas Nurul Hayat Heri Latief, Kepala Cabang  Laznas Nurul Hayat Solo Lilik Purwanto, dan beberapa hadirin yang lain. Acara diawali dengan penandatanganan serah terima oleh Kepala Cabang Laznas Nurul Hayat Solo dan Walikota Surakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis 1000 Kg telur. Setelah penyerahan simbolis, acara diteruskan dengan bertukar  cendera mata oleh Direktur Laznas Nurul Hayat dan Walikota Surakarta.

“Terima kasih, hari ini saya menerima bantuan 1000 Kg telur dari Lembaga Amil Zakat Nurul Hayat. Luar biasa sekali bantuannya. Bantuan ini akan langsung kami salurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan dan pihak-pihak yang terdampak pandemi Covid-19. Alhamdulillah, bantuan ini luar biasa sekali, bisa meringankan permasalahan-permasalahan yang dihadapi warga selama pandemi ini,” tutur Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka.

Alhamdulillah, selain mendapatkan sambutan positif dari Walikota Surakarta, bantuan telur ini juga mendapatkan respon baik dari para penerima bantuan. “Kami dari Pondok Pesantren Hadil Iman, mengucapkan terima kasih kepada Laznas Nurul Hayat yang telah memberikan bantuan kepada anak-anak kami. Dan tentunya bantuan ini akan berdampak positif kepada para peternak, karena apa yang mereka usahakan mendapatkan hasil sesuai harapan. Semoga bantuan ini memberikan keberkahan kepada semua pihak,” ujar Ustadz Suharno. Tak hanya Ustadz Suharno, Rafi Ahmad, salah satu santri Pondok Pesantren Al Muayyad juga merasa senang dengan bantuan ini. “Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Nurul Hayat yang telah memberikan kami bantuan telur,” ucapnya dengan penuh semangat.

Bantuan 6 Ton telur ini, selain dalam rangka memperingati Hari Santri tahun 2021, juga merupakan respon dari permasalahan nasional yang merugikan peternak kecil. Ya, para peternak merugi karena harga telur anjlok namun harga pakan mengalami kenaikan. Dengan hadirnya program ini, Laznas Nurul Hayat membeli telur dengan harga normal, kemudian menyalurkannya kepada masyarakat yang berhak menerima.

Aryo Widyandoko, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta, mengapresiasi hadirnya program ini karena bisa membantu para peternak. “Terima kasih kepada Lembaga Amil Zakat Nurul Hayat yang telah memberikan bantuan 1000 Kg telur ayam, dibeli dengan harga normal dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Terima kasih karena peternak kami mendapat bantuan yang luar biasa, sehingga bisa mengurangi kerugian-kerugian yang mereka rasakan,” ujarnya.

Cara Menghitung zakat tambak ikan yang benar

Cara Menghitung zakat tambak ikan yang benar

Cara Menghitung zakat tambak – Tambak ikan adalah kolam buatan, biasanya di daerah pantai, yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana budidaya perairan. Hewan yang dibudidayakan biasanya adalah ikan, udang, kepiting, penyu dll. Penyebutan “tambak” ini biasanya dihubungkan dengan air payau atau air laut. Kolam yang berisi air tawar biasanya disebut kolam saja atau empang.

Menurut Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jatim praktik yang dilakukan di masyarakat antara lain:

  • Para petambak kadang memperoleh bibit ikan dari hasil pembenihan sendiri.
  • Para petambak kadang memperoleh bibit ikan dari hasil membeli kepada petani bibit.

Sehingga mencermati uraian mengenai asal bibit ikan itu diperoleh, maka status urudl al-tijarah (harta niaga) dari petambak di atas dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Untuk petambak dengan model bibit yang diperoleh dari hasil pembenihan sendiri, maka haul (masa satu tahun) urudl al-tijarah dihitung sejak mulai panen pertama, yang kemudian sebagian hasil panen itu disisihkan untuk diputar sebagai modal usaha lagi.
  2. Untuk model bibit yang kedua, maka haul urudl al-tijarah dihitung sejak mulai diterimanya (qabdlu) bibit yang dibeli dan hendak dibudiidayakan.

Ustadz Syamsudin melanjutkan bahwa, dengan mencermati 6 syarat mengenai urudl al-tijarah atau aset dagang, maka hal-hal yang bisa dimasukkan sebagai urudl al-tijarah, antara lain:

  1. Biaya pembelian benih ikan
  2. Aktiva lancar berupa tagihan ke pembeli hasil produk dan bisa diharapkan penunaiannya di dalam haul itu
  3. Utang produksi sebagai faktor pengurang besaran urudl al-tijarah

Ketiga biaya ini merupakan bagian dari modal disebabkan karena sudah disiapkan sejak awal oleh petambak dan diperoleh dengan jalan dibeli (mu’awadlah). Adapun biaya penyediaan tambak/kolam, mencakup biaya sewa tambak atau kolam, tidak masuk dalam bagian urudl al-tijarah dengan alasan merupakan tempat.

hukum zakat tambak ikan

Hukum Zakat Tambak Ikan

Jika kita menelaah referensi fikih zakat kontemporer dan peraturan perundang-undangan, akan ditemukan beragam pandangan antara lain sebagai berikut.

Pertama, wajib zakat dengan merujuk kepada nisab dan tarif zakat mustaghallat dan zakat pertanian. Zakat nelayan itu berlaku ketentuan zakat mustaghallat. Keduanya adalah hasil dari pengembangan alat produksi (ushul ats-tsabitah).

Oleh karena itu, nisabnya merujuk kepada zakat pertanian dengan tarif 5 hingga 10 persen. Dengan pandangan ini, hasil budi daya ikan atau hasil nelayan itu wajib zakat jika misalnya nilainya mencapai Rp 6.530.000 setelah dikurangi biaya dan dikeluarkan 5 persen sebagai tarif zakat. Hal ini seperti ditegaskan oleh sebagian para ahli di antaranya Profesor Husein Syahatah.

Kedua, wajib zakat dengan nisab minimal senilai 85 gram emas dengan tarif 2,5 persen. Seperti ditegaskan dalam perundang-undangan: “Hasil perikanan yang dikenakan zakat mencakup hasil budi daya dan hasil tangkapan ikan. Nisab zakat atas hasil perikanan senilai 85 gram emas. Kadar zakat atas hasil perikanan sebesar 2,5 persen. Zakat hasil perikanan ditunaikan pada saat panen dan dibayarkan melalui amil zakat resmi.” (Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif).

Bagi para ahli fikih yang menyimpulkan zakat yang berlaku dalam hasil nelayan adalah zakat pertanian itu didasarkan pada kesimpulan bahwa dari daftar proses dan hal-hal yang melekat dalam zakat pertanian dan zakat nelayan, ada satu kesamaan yang menyatukannya, yakni ada masa-masa panen.

Dalam pertanian, petani memetik hasilnya saat panen. Begitu pula seorang nelayan itu mencari ikan juga ada momentumnya (ada panennya) dan begitu pula saat dilakukannya dalam budi daya ikan.

Kemudian, dalam zakat pertanian objeknya tidak diperjualbelikan, begitu pula dengan zakat nelayan. Sebab, saat diperjualbelikan, hal tersebut tidak lagi mengikuti zakat pertanian, tetapi zakat perdagangan.

Cara Menghitung Zakat Tambak Ikan

Lantas cara menghtiung zakat tambak bagaimana?

Baca Juga :

Studi kasus pak Malik memiliki tambak ikan dengan biaya sewa tambak per tahun Rp 50 juta dan biaya operasional dalam satu tahun Rp 20 juta, sedangkan penghasilan kotor dalam satu tahun 200 juta. Berapa zakatnya pak Malik?

Jika dihitung nisabnya, volume usaha sudah mencapai kadar wajib untuk berzakat sama dengan 85 gr emas (Nisab 85 gram emas x Rp@900.000/gram = Rp 76.500.000). Nah, bilamana penghasilan usaha Pak Malik dalam setahun – modal tambah keuntungan = atau lebih dengan nilai 85 gram emas maka berarti pak Mulyono telah wajib mengeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 persen.

Dari contoh kasus diatas, dianggap bahwa biaya modal awal pak Malik senilai 50juta +20juta = Rp 70juta. Sedangkan penghasilan tambak bruto Rp 200 juta. Maka 200 juta dikurangi 70juta menghasilkan bersih dari modal dan keuntungan pak Malik di akhir tahun sebesar Rp 130 juta alias sudah memenuhi nisab yang mewajibkan untuk berzakat (Nisab 85 gram emas x Rp@900.000/gram =Rp 76.500.000).

HITUNGAN ZAKATNYA: 2,5 persen x 130.000.000 = Rp3.250.000. Jadi zakat yang dikeluarkan pak Mulyono dari hasil tambak tahun ini sebesar Rp.3.250.000.

Cara Bayar Zakat Tambak Via Online

Setelah mengetahui cara menghitung zakat tambak ikan, kini bayar zakat makin mudah cukup dari rumah bisa via online dari HP saja. Klik aja zakatkita.org

klik zakatkitaorg

Cermin

Cermin

Dikisahkan, di sebuah rumah pertanian seorang kakek bersama cucunya sedang duduk di beranda. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti dan seseorang menanyakan arah menuju ke kota terdekat. Setelah berbasa-basi, lelaki asing itu bertanya,  “Katakan tuan, orang macam apakah yang tinggal di sekitar sini?” “Mengapa engkau bertanya demikian?” Jawab orang tua itu. Setelah mendekat beberapa langkah, orang asing itu berkata, “Saya baru saja meninggalkan kota yang masyarakatnya adalah sekelompok orang sombong. Saya belum pernah bertemu dengan orang-orang yang kurang bersahabat seperti itu dalam hidup saya.” Orang asing itu melanjutkan, “Saya tinggal di kota itu lebih dari setahun tapi tidak pernah sekalipun saya merasa menjadi bagian dari masyarakat itu.” “Saya kira seperti itu pula keadaan yang akan engkau temui pada masyarakat di sini,” jawab lelaki tua itu. Dan orang asing itu mengucapkan selamat tinggal sambil berlalu. Cucunya terheran-heran atas apa yang baru didengarnya.

Tak berapa lama, mobil lain berhenti di depan rumah pertanian itu. Turunlah seseorang yang lagi-lagi menanyakan arah kota yang sama. Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, orang asing itu juga bertanya, “Bolehkah saya tahu, bagaimana keadaan  orang-orang di daerah ini?” Sekali lagi orang sepuh itu pun bertanya balik, “Mengapa engkau bertanya demikian?” Kemudian orang asing itu berkata, “Tahukah Anda,  saya tinggal di sebuah kota kecil yang sangat indah. Masyarakatnya membuat saya sangat betah tinggal di sana. Orang-orangnya sangat baik dan sangat penolong. Saya merasa berat untuk meninggalkan kota itu karena saya harus bertugas di daerah baru ini.”

Laki-laki tua itu tersenyum sembari berkata, “Di sini, engkau akan menemukan orang-orang yang sama baiknya dengan orang-orang di tempat yang kau tinggali dulu.” Orang asing itu pun berlalu. Tinggal sang cucu terheran atas apa yang baru saja didengarnya. Dan ia pun bertanya, “Kakek, mengapa memberi jawaban berbeda kepada dua orang asing itu untuk pertanyaan yang sama?” Sambil menepuk-nepuk bahu cucunya, sang kakek menjawab, “Sikap orang terhadap masyarakatlah yang menentukan bagaimana masyarakat bersikap terhadap mereka. Karena sesungguhnya orang-orang di seluruh dunia ini sama baiknya, sebab masyarakat adalah cermin yang memantulkan sikap kita pada mereka.”

Cermin itu adalah kita anakku. Apa yang kalian lihat pada orang lain, adalah cermin dirimu.  Apa yang engkau rasa adalah pantulan dirimu. Karena apa yang pernah engkau alami terhadap perilaku seseorang, pernah terjadi pada orang yang engkau temui. Baik dan buruk seseorang adalah baik dan burukmu. Itulah hakekat manusia. Namun seberapa baik dan buruk itu tergantung masing-masing, bagaimana ia mau belajar. Agar kebaikan lebih dominan atas keburukannya. Agar keburukannya tidak melebihi kebaikannya. Di situlah yang membedakan satu dengan yang lainnya. Seperti yang pernah Rasulullah ﷺ sampaikan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya, hingga orang lain merasa aman.” (HR. Tirmidzi).

Pada hakekatnya, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. Orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari sisi keburukannya. Sampai orang lain merasa aman di sampingnya. Dengan kata lain, orang terbaik adalah orang yang dalam satu sisi dapat memberikan manfaat pada orang lain dan di sisi lain mampu mengendalikan keburukannya sehingga menghasilkan ketenangan bagi  yang berada di dekatnya. Untuk itu, raba diri kalian anakku. Jangan-jangan keberadaan kita tidak begitu baik di mata orang-orang sekeliling karena keburukan yang kita timbulkan. Keburukan-keburukan yang kita lempar kepada orang lain yang sejatinya berasal dari keburukan kita.  Karena kita adalah cermin itu sendiri. Seberapa kita menjadi manfaat dan seberapa kita menjadi mudhorot bagi orang lain, adalah tergantung seberapa besar kebaikan kita mendominasi keburukan yang ada. Rasulullah ﷺ menggambarkan tentang cermin diri yang sangat mewakili dari zaman ke zaman: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”

Namun tidak jarang anakku, beberapa orang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia baik. Berhati-hatilah engkau akan urusan penting ini.  Karena baik saja tidak cukup. Karena masih ada rentetan dan tantangan agar baik itu berbuah pahala. Agar cermin dirimu bersih dari coretan yang sengaja dan tidak sengaja engkau lakukan. Agar cermin dirimu betul-betul manfaat untuk orang lain sebagaimana Rasulullah ﷺ tauladankan.

Suatu hari Umar bin Khatab mengawasi Abu Bakar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Setiap selesai sholat subuh, Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah untuk mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota Madinah itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin mengetahui dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan sahabatnya di situ. Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapati seorang nenek yang lemah dan buta. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ia pun bertanya kepada nenek itu, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui siapa dia. Setiap hari dia datang, membersihkan rumahku dan menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.” Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimat yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah dan berat khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Cukuplah kebaikan agama ini yang menjadi cermin dirimu anakku. Sehingga engkau menjadi cermin bagi yang lain. Banyak orang tidak membaca Quran dan Hadist. Namun ia bisa membaca dari cermin dirimu.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Memberi Rasa

Memberi Rasa

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh yang menampilkan kefakirannya, memasuki sebuah pasar untuk membeli selimut. Ia membutuhkan lima lembar selimut untuk keluarganya di musin dingin tahun itu. Uang yang ia miliki hanya 100 ribu. Ia sudah berkeliling di pasar itu namun tidak ada toko yang menjual lima lembar selimut dengan harga 100 ribu.

Putus asa, ia memasuki toko terakhir di pasar itu. Ia sempat ragu karena toko itu adalah toko yang sangat besar dan megah dibanding toko-toko lainnya. Dengan suara ragu lelaki tua itu bertanya, “Saya membutuhkan lima lembar selimut, namun saya hanya punya uang 100 ribu. Apakah Anda menjualnya?” Pemilik toko berkata, “Ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki. Harganya 25 ribu per lembar. Kalau bapak beli empat lembar, akan mendapatkan bonus satu lembar.” Dengan wajah sumringah bapak tua miskin itu langsung mengulurkan uangnya dan segera setelah mendapatkan selimutnya, ia beranjak pergi.

Anak pedagang selimut itu memperhatikan ayahnya dan berkata, “Bukankah kata ayah, itu selimut termahal di toko ini? Dan bukankah harganya 250 ribu per lembar?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Benar sekali nak, harga selimut itu 250 ribu per lembar. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Sedang hari ini kita berdagang dengan Allah . Ayah berharap, laki-laki tua itu dan keluarganya dapat terhidar dari dinginnya musim dingin kali ini. Ayah juga berharap Allah akan menyelamatkan keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti. Sesungguhnya, kalaulah tidak karena menjaga harga diri laki-laki tua tadi, ayah tidak ingin menerima uangnya. Tapi ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah, sehingga merasa malu.”

Sesampainya di rumah, istri lelaki tua itu terheran melihat selimut bagus yang dibawa suaminya. Apalagi setelah mereka menemukan harga yang tertulis di banderol selimut itu adalah 250 ribu selembar. Mereka berpikir bahwa penjual selimut itu salah memberi harga. Lalu anak gadisnya berinisiatif untuk mengembalikan selimut itu ke toko dimana ayahnya membeli. Anak lelaki tua itu berkata kepada anak pemilik toko, “Tadi pagi ayahku membeli lima lembar selimut di toko ini. Dan ternyata Anda salah memberi harga. Harga selimut ini 250 ribu per lembar, namun Anda memberikan harga 25 ribu. Untuk itu saya mengembalikan selimut ini.”

Anak pemilik toko itu pura-pura melihat label harga lalu berkata, “Masya Allah! Anda benar, harga selimut ini 250 ribu. Betapa Anda sekeluarga sangat baik. Menyelamatkan kami dari kerugian yang sangat besar. Kalau Anda tidak memberitahu, betapa banyak kerugian kami dengan tumpukan selimut yang sangat banyak itu. Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda.”

Ada rasa di sana. Ada cinta di sana. Ada adab yang indah. Yang setiap diri pasti mampu menangkapnya.

Namun ternyata, ini bukan pekerjaan mudah. Karena banyak sekali orang yang sesungguhnya sedang berbuat baik sekaligus melakukan kedzaliman. Banyak orang baik yang tanpa sadar menjadi orang yang paling buruk. Siapa? Mungkin kita, anakku. Sangat mungkin, karena perilaku itu seringkali terjadi tanpa disadari pelakunya. Banyak pekerjaan baik yang menyebabkan kita merasa penting, lalu meremehkan orang lain. Banyak pekerjaan penting yang menjadikan kita merasa lebih, lalu merendahkan orang lain. Banyak urusan ummat yang memunculkan rasa paling. Kemudian kita mengecilkan orang lain.

Anakku, kalau kita lihat sekeliling, banyak orang yang tiba-tiba merasa penting karena amanah yang diberikan pada mereka. Tiba-tiba merasa menjadi berbeda karena program-program yang dibuat sangat bermanfaat. Sangat inspiratif. Sangat berguna. Dan sangat-sangat yang lain. Kemudian muncul rasa bangga. Takjub dengan diri sendiri. Sampai lupa memberi empati karena sudah merasa penting, merasa paling, merasa terganggu dengan orang-orang yang minta bantuan. Merasa tidak ada waktu untuk orang-orang yang diperkirakan merepotkan dengan banyak keluhan. Sampai lupa memberi rasa.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Kita tidak pernah lepas dari ancaman orang-orang yang memerangi iman. Namun kita jarang mau belajar, anakku. Orang-orang itu, membujuk iman kita dengan yang tampak baik. Menjerat iman kita dengan layanan dan cinta. Orang-orang itu lapang hatinya menerima keluh kesah, lebar telinganya mendengar susah dan resah. Terbuka tangannya mengulurkan bantuan dengan rasa. Sedang kita, lupa memberi rasa.

“Seorang Arab Badui berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat ingin mengusirnya. Tapi Nabi bersabda kepada mereka,  ‘Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air atau setimba besar air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan bukan diutus untuk memberi kesususahan’.” (HR. Al Bukhari no. 323).

Anak-anakku, jangan-jangan selama ini amanah-amanah baik kita, menjadikan orang lain susah. Jangan-jangan pekerjaan kita yang tampak baik ini, menjadikan orang lain sempit jalannya. Hanya karena kita berdalih sesuai dengan prosedur dan profesionalisme. Sampai lupa memberi rasa. Lupa memberi cinta. Ya, banyak orang yang memberi bantuan namun tanpa rasa. Banyak orang yang menolong tapi tanpa cinta. Tidak sedikit yang berbuat baik namun terselip kesombongan. Juga tak kurang yang berjuang di jalan dakwah namun kikir rasa. Tersihir dengan kesibukannya dan takjub dengan amal solehnya. Alangkah sia-sianya.

Untuk itu anakku, berhati-hatilah kalian dengan tabiat ini. Karena setan bila tidak mampu membuat kita melakukan keburukan, ia akan menjadikan kita merasa baik. Dan rasa baik itulah yang menjadi pintu masuk semua keburukan. Jadilah orang baik yang dimaksud dalam agama ini. Yakni baik hubunganmu dengan Allah ﷻ, baik juga hubunganmu dengan sesama manusia. Sebagaimana anak penjual selimut itu berkata, “Sebagai ucapan terima kasih, izinkan kami memberi hadiah selimut-selimut itu untuk keluarga Anda…..” Wallahu’alam bishowab.

 

Penulis: Evie S. Zubaidi

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Mengasah Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak

Tentu orangtua ingin anaknya menjadi seseorang yang memiliki kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di sekitarnya. Orangtua hendaknya mengajarkan kepada anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dengan teman-teman sebayanya, bahkan dengan orang dewasa.  Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan sosial anak.  Supaya anak tidak tumbuh menjadi anak yang egois. Selain itu insyaAllah anak juga akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Bukankah tujuan manusia diciptakan ke dunia ini adalah sebagai khalifah (pemakmur bumi).  Nah,  dengan mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya insyaAllah kelak akan sangat bermanfaat ketika mereka menjalankan perannya sebagai pemakmur bumi,  apapun passion yang ditekuninya kelak.

Mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa

Untuk mengasah kemampuan bersosialisasi anak,  orangtua dapat mengajak anak menghadiri majelis orang dewasa. Para sahabat di zaman Rasulullah ﷺ telah mengajak anak-anak mereka untuk menghadiri kumpulan orang dewasa. Sehingga dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak pada majelis-majelis yang mulia. Bahkan dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap ilmu, menumbuhkan keberanian bertanya ataupun berpendapat, yang tentunya dapat menambah wawasan anak.

Saya sendiri senang mengajak anak menghadiri majelis ilmu, entah itu di rumah, aula, ataupun masjid. Ketika orangtua menuntut ilmu, tanpa terasa anak ikut menyimak, bahkan turut menghafalkan ayat Alquran yang sedang saya pelajari. Terkadang disediakan pendamping untuk anak.  Sehingga selagi orangtua mengikuti seminar, anak-anak diberikan kegiatan yang menyenangkan dan terarah.

Mengajarkan tugas rumah pada ananda

Sewaktu kecil,  kita pasti terbiasa membantu pekerjaan domestik orangtua seperti menyapu, mencuci piring,  atau berbelanja ke warung. Meskipun pekerjaan yang kita lakukan mungkin tidak sempurna,  setidaknya kita telah berlatih untuk melakukannya.

Sekarang setelah kita menjadi orangtua, insyaAllah kita makin memahami betapa pentingnya mengajarkan tugas rumah pada anak. Biasanya orangtua cenderung merasa tidak tega pada anak, akhirnya malah mengerjakan semuanya sendiri. Padahal bisa jadi anak malah merasa senang diberikan tanggung jawab oleh orangtuanya.

Pada zaman Rasulullah ﷺ, anak-anak sangat suka membantu memenuhi kebutuhan orang dewasa khususnya Rasulullah ﷺ. Hal ini karena anak-anak telah dididik orangtuanya untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga atau membantu kedua orangtuanya. Sehingga muncul kepekaan dalam diri anak-anak untuk membantu keperluan orangtuanya, bahkan sebelum diminta. Dan kita perhatikan bagaimana Nabi ﷺ memberikan balasan kepada anak yang melayaninya dengan memberikan doa atas pelayanan yang ia berikan.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa mengajarkan kemandirian pada anak, khususnya dalam mengerjakan tugas rumah, amat banyak manfaatnya. Hal tersebut akan membantu anak menguasai life skill yang amat ia butuhkan untuk survive. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti merapikan tempat tidur, mandi, makan, berpakaian sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri dst. Yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kepekaan anak untuk membantu kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya.  Dan seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ berikan apresiasi serta doa untuk anak yang sudah berusaha membantu kedua orangtuanya.

Membiasakan mengucap salam

Senyum,  salam, sapa,  sopan,  santun atau yang biasa disingkat 5 S oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memang terbukti menjadi modal bagi kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Jika kita mengajarkan tips ini pada anak,  insyaAllah akan memudahkan ananda dalam menjalin persahabatan dengan teman-teman sebayanya.

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu bahwa memberikan senyuman ramah ketika bertemu orang lain adalah sedekah. Sedangkan ketika menyapa saudara kita sesama muslim,  kita telah diajarkan untuk senantiasa mengucapkan salam.  Anak-anak mesti dibiasakan untuk mengucapkan salam. Khususnya apabila bertemu saudara sesama muslim (khususnya orangtua dan orang dewasa) atau akan masuk ke dalam rumah.

Memperhatikan anak saat sakit

Nabi ﷺ telah mengajarkan kita untuk menjenguk anak-anak yang sakit. Ketika seorang anak yang masih fitrah (bersih) mendapati orang dewasa menjenguknya ketika ia sakit, maka kelak ia akan terbiasa menjenguk orang lain yang sedang sakit. Ketika menjenguk anak yang sedang sakit, hal ini juga merupakan momen untuk menyampaikan nasihat-nasihat agar anak menjadi lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Memilihkan teman yang baik

Rasulullah ﷺ ketika kecil juga bermain bersama teman-teman sebaya. Ketika beliau sudah menjadi seorang Rasul, beliau masih menghampiri anak-anak yang sedang bemain dan memberi salam pada mereka. Beliau tidak pernah bersikap kasar kepada mereka, beliau juga tidak pernah mengusir mereka, tetapi justru mendoakan mereka agar memperoleh curahan rahmat dari Allah ﷻ.

Demikianlah,  seorang Nabi saja selain mendidik anak-anak beliau sendiri, juga mendidik anak-anak lain dengan penuh kelembutan. Hal ini dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada anak tetangga yang bermain ke rumah kita, luangkanlah waktu menemani mereka bermain seraya menyelipkan nasihat kepada mereka. Keakraban dengan anak-anak akan memudahkan untuk mengarahkan mereka menjadi lebih baik.

Orangtua juga dapat mengarahkan anak untuk memilih teman-teman yang baik dan shalih, karena seperti sabda Nabi ﷺ, “Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekadar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tak sedap (HR. Bukhari).

Menginap di rumah keluarga yang shalih

Pada zaman Nabi ﷺ ternyata telah dicontohkan bahwa keponakan beliau pernah bermalam di rumah beliau agar dapat meneladani langsung akhlak dan ibadah keseharian Nabi ﷺ. Saya pun paling senang manakala mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan keponakan-keponakan saya (anak dari kakak kandung). Terkadang saya mengajak mereka ke perpustakaan dan membacakan buku untuk mereka. Mereka juga kami arahkan untuk selalu menunaikan shalat lima waktu berjamaah.

 

Penulis: Hani Fatma Yuniar

Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat, Memperkecil Jarak Mustahik dan Muzakki

Zakat merupakan sistem ekonomi tertua di muka bumi. Zakat yang dikeluarkan oleh muzaki (pemberi zakat), sejatinya bukanlah berhenti pada soal memenuhi kewajiban. Tentu ada fadhilah di setiap syariat yang ditetapkan dalam Islam. Zakat ini bisa berdampak luas pada perekonomian umat. Utamanya untuk para mustahik.

Zakat meniadakan keakuan seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dari zakat, kita belajar bahwa dalam harta seseorang ada hak orang lain, ada hak mustahik yang harus dikeluarkan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibanding rezeki yang diterima pemberi zakat tersebut. Namun bukan lagi menjadi hal sepele jika telah sampai ke mustahik (penerima zakat).

Jika dapat dikelola dengan baik, zakat bisa memiliki potensi yang tidak biasa. Zakat yang diberikan muzaki secara individu dan langsung kepada mustahik mungkin saja bersifat jangka pendek, hanya dalam bentuk santunan. Namun lain cerita jika zakat dikumpulkan dan disalurkan melalui sebuah lembaga amil yang memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih baik.

Lembaga ini akan merealisasikan  dalam bentuk program-program yang bersifat jangka panjang baik bidang sosial, ekonomi, kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, dengan harapan program tersebut memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

Zakat yang disalurkan melalui lembaga akan terhimpun lebih banyak sehingga berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar. Dari segi ekonomi, zakat yang tersalur menjadi lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini bertujuan agar umat Islam terbebas dari kemiskinan sehingga bebas pula dari kekufuran dan mampu menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik.

Cara memberdayakan umat melalui dana zakat antara lain dengan memberikan bekal kepada mustahik berupa pemberian keterampilan atau ilmu usaha (wirausaha). Bekal keterampilan ini bisa diberikan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan.

Di sisi lain jika mustahik telah memiliki kemampuan wirausaha namun terbatas pada modal, maka pemberdayaan bisa diberikan melalui akses modal untuk bekal usaha. Pemberian modal ini akan disertai pendampingan sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan juga diberikan dari sisi marketing. Membuka jalan agar produk bisa terjual di pasaran.

Pun yang tidak kalah penting adalah sektor pendidikan. Terutama untuk anak yatim dan dhuafa. Dari sini, mustahik yang belum sampai pada usia kerja bisa diberdayakan melalui pemberian beasiswa pendidikan yang cukup. Atau dalam bentuk lain demi terpenuhinya pendidikan bagi yatim dhuafa. Program ini bertujuan menyiapkan anak yatim menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki bekal untuk memasuki usia produktif. Sehingga bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Melalui upaya-upaya optimalisasi dana zakat yang ada, umat akan diberdayakan secara jangka panjang terutama dari sisi ekonomi. Dari yang tadinya kurang menjadi cukup, dari yang tadinya penerima menjadi pemberi. Sehingga zakat dapat memperkecil jarak antara pemberi dan penerima.

Yuk berzakat! Karena zakat kita memberdayakan umat.

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Masih teringat jelas, bagaimana dahsyatnya gempa yang terjadi di Kabupaten Malang pada 10 April 2021 silam. Gempa dengan kekuatan 6,1 SR itu menimbulkan korban luka-luka bahkan korban jiwa. Juga mengakibatkan rusaknya fasiltas umum dan bangunan rumah warga.

Laznas Nurul Hayat, hadir menemani warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini. Selain memberikan berbagai macam bantuan pada fase tanggap darurat, Laznas Nurul Hayat juga terus mendampingi dalam masa recovery. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan huntara (hunian sementara) yang layak, yang disebut Griya Cahaya Hidup (GCH).

GCH untuk Warga Terdampak Gempa Malang Selatan

Seperti yang kita ketahui bersama, warga yang rumahnya terdampak gempa Malang Selatan, terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal. Tenda-tenda ini tentu kurang aman dan nyaman bagi mereka. Ketika siang hari, di dalam tenda tentu akan terasa panas. Sementara ketika malam hari, udara dingin akan terasa lebih menusuk. Belum lagi jika hujan turun, tenda yang bocor, menyebabkan air hujan langsung masuk dan membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi tidak tenang. Dari sinilah Laznas Nurul Hayat berniat untuk membantu menyediakan hunian yang layak untuk warga terdampak. Dan hunian-hunian tersebut, kini telah diserah-terimakan dan telah ditempati oleh warga.

 

Alhamdulillah, pada 28 Agustus 2021 lalu, Laznas Nurul Hayat melaksanakan peresmian serah terima Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Hadir dalam acara peresmian ini, Direktur Eksekutif Laznas Nurul Hayat Bapak Heri Latief,  Kepala Cabang Nurul Hayat Malang Bapak Indra Hermawan, Kepala Dusun, Kepala Desa, Babinsa, Babinkamtibmas, dan warga penerima bantuan. Pada kesempatan tersebut, sebanyak 26 unit Griya Cahaya Hidup diserah-terimakan kepada warga  Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

 

Pada kesempatan serah terima ini, warga yang mendapatkan bantuan Griya Cahaya Hidup mendapatkan satu foto mereka yang tengah berpose di depan rumah, sebagai bentuk simbolis serah terima Griya Cahaya Hidup. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut, Laznas Nurul Hayat juga menyerahkan bantuan berupa alat-alat pertukangan. “Alhamdulillah, pada acara peresmian Griya Cahaya Hidup beberapa waktu lalu, kami juga menyalurkan bantuan berupa alat pertukangan untuk pengerjaan galvalum seperti bor, alat potong dan sebagainya. Pembangunan huntara kali ini tidak hanya untuk memberikan bantuan hunian layak bagi warga terdampak gempa. Tapi juga menjadi balai latihan kerja bagi warga. Ya, di sini warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini, mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana proses pengerjaan galvalum. Jadi, selain mendapat bantuan Griya Cahaya Hidup mereka juga mendapatkan tambahan skill yang akan bermanfaat untuk mereka ke depannya. Setelah ini, warga akan membuat kelompok kerja di bidang pengerjaan galvalum. Tentunya ini menjadi nilai tambah manfaat tersendiri bagi warga,” tutur Indra Hermawan, Kepala Cabang Nurul Hayat Malang.

Alhamdulillah, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah para warga yang menjadi penerima bantuan Griya Cahaya Hidup. Bahkan saking bahagianya karena mendapat bantuan tempat tinggal, dengan inisiatif sendiri, mereka menggambar logo Laznas Nurul Hayat di tembok-tembok Griya Cahaya Hidup yang mereka tinggali. “Ya, warga bahagia dan menyambut positif bantuan ini. Semoga bantuan ini bisa membuat warga menjadi lebih tenang di rumah. Sehingga kepala keluarga bisa fokus untuk mencari nafkah tanpa kebingungan memikirkan tempat tinggal untuk keluarga,” tutur Kholaf Hibatulloh, Direktur Program Laznas Nurul Hayat yang juga turut hadir dalam acara tersebut.

Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur dan semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam pembangunan Griya Cahaya Hidup untuk warga terdampak gempa Malang Selatan. Semoga apa yang telah kita upayakan bersama, mendapat sebaik-baiknya balasan dari Allah ﷻ. Tak lupa juga mari kita doakan, agar warga yang terdampak gempa Malang Selatan ini dapat segera bangkit dan kembali seperti sedia kala. Aamiin ya Rabbal Alamiin..

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya