Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan

Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan

Oleh Difathur Riza Afif (@difathur.ra)

Beberapa di antara kita, para pembaca, mungkin ada yang sudah berusia 37 tahun seperti kami. Atau mungkin bahkan ada yang sudah lebih. Jika kita berusia 37 tahun misalnya, dan kita memulai puasa penuh (dari sebelum terbit fajar sampai magrib) sejak usia 9 tahun, berarti kita sudah menjalankan puasa Ramadhan sebanyak 28 kali.

Seseorang yang sudah berusia 37 tahun, insyaAllah adalah orang yang sudah matang. Sudah Islam, baligh dan berakal. Soal pengertian puasa Ramadhan, rukun dan syaratnya tentu juga sudah diketahui semua. Namun meski demikian, pada kesempatan ini, kami mencoba menuliskan kembali apa pengertian puasa Ramadhan, syarat dan rukunnya. Agar bersama-sama, kita bisa menyegarkan ingatan kembali. Syukur-syukur bisa bermanfaat bagi yang sedang belajar atau ingin mencari referensi tentang hal-hal di atas.

Mari kita mulai dari pengertian apa itu puasa Ramadhan. Kata puasa dalam bahasa Arab disebut shaum, yang secara istilah fiqih berarti menahan diri sepanjang hari, dari sebelum terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari selama bulan Ramadhan. Menahan diri artinya, bertahan dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa.

Selanjutnya, mari kita bahas syarat wajib puasa Ramadhan. Syarat wajib pengertiannya adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melaksanakan suatu ibadah. Seseorang yang tidak memenuhi syarat wajib, maka gugurlah tuntutan kewajiban kepadanya.

Adapun syarat pertama seseorang diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah,  ia seorang Islam. Sebab, bagi seorang Islam, puasa adalah salah satu rukun keislamannya.

Syarat kedua, ia sudah baligh. Dengan ketentuan: Bagi laki-laki, pernah keluar mani dari kemaluannya, baik dalam keadaan tidur atau terjaga. Dan bagi perempuan, sudah keluar haid. Syarat keluar mani dan haid pada batas usia minimal 9 tahun. Jika pada usia tersebut ia belum keluar mani, atau haid bagi perempuan, maka batas minimal ia dikatakan baligh adalah usia 15 tahun.

Syarat ketiga, seorang Muslim wajib menjalankan ibadah puasa apabila ia memiliki akal yang sempurna atau tidak gila. Baik gila karena keterbatasan mental atau gila disebabkan mabuk. Seseorang yang dalam keadaan tidak sadar karena mabuk atau keterbatasan mental, tidak wajib menjalankan ibadah puasa. Namun, untuk yang tidak wajib berpuasa karena mabuk dengan sengaja, ia harus menjalankan ibadah puasa di kemudian hari (qodho’).

“Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: Orang yang tidur sampai ia terbangun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh.” (Hadis shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadis riwayat al-Nasa’i)

Syarat keempat adalah, kuat menjalankan ibadah puasa. Selain Islam, baligh, dan berakal, seseorang harus mampu dan kuat untuk menjalankan ibadah puasa. Apabila ia tidak mampu, maka diwajibkan mengganti pada bulan berikutnya atau membayar fidyah.

Syarat kelima, mengetahui awal bulan Ramadhan. Ya, selain syarat-syarat yang telah diuraikan di atas, puasa Ramadhan diwajibkan bagi Muslim, apabila ada salah satu orang terpercaya (adil) yang mengetahui awal bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal secara langsung (dengan mata biasa tanpa peralatan alat-alat bantu).

Orang yang melihat hilal, haruslah orang yang dapat dipercaya dan telah diambil sumpah. Jika kesaksiannya atas hilal itu benar, maka Muslim yang ada dalam satu wilayah dengannya berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Namun, apabila hilal tidak dapat dilihat karena tebalnya awan, maka cara untuk menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan menyempurnakan hitungan tanggal bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Sebagaimana hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Berpuasa dan berbukalah karena melihat hilal, dan apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah hitungan bulan menjadi 30 hari.” (HR. Imam Bukhari)

Selanjutnya, kita akan membahas tentang rukun puasa Ramadhan. Rukun puasa ada dua jumlahnya.

Yang pertama adalah niat. Niat puasa Ramadhan merupakan ibadah yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefardhuannya dalam niat tersebut. Contoh: “Saya berniat untuk melakukan puasa fardhu bulan Ramadhan.”

Jika ingin diucapkan lengkap, maka bunyinya sebagai berikut:

“Saya niat mengerjakan ibadah puasa untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah ﷻ semata.”

Dalil yang menjelaskan niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:  “Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu fajar, maka ia tidak berpuasa.” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i: 2293).

Setelah berniat, satu hal lagi yang harus kita penuhi sebagai rukun kedua puasa Ramadhan adalah, menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak sebelum terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari (magrib).

Jika syarat dan rukun puasa Ramadhan telah kita penuhi, insyaAllah puasa kita sudah sesuai dengan ketentuan agama. Terakhir, kami ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga, puasa dan segala amal ibadah yang kita laksanakan di bulan Ramadhan ini bisa berbuah Ridho Allah ﷻ.

Aamiin ya Rabbal Alaminn.

Artikel Terkait :

1. Zakat Membersihkan Jiwa dan Harta

2. Berlomba Kebaikan Dalam Bulan Ramadhan

3. Cara Hitung Zakat Maal

NH Zakat Kita

Tips Jitu Berpuasa Bumil dan Busui

Tips Jitu Berpuasa Bumil dan Busui

Oleh Putri (@putriersun)

Tips Jitu Berpuasa Bumil dan Busui. Bulan Ramadhan telah tiba. Wajib bagi umat Muslim yang telah baligh, sehat jasmani dan rohani untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa sendiri merupakan rukun Islam yang ketiga. Nah, bagaimana jika ibu menyusui tetap ingin menjalankan ibadah puasa tanpa mengganggu produksi  ASI? Berikut ini tipsnya:

  1. Perbanyak konsumsi cairan

Seperti yang kita tahu, kandungan terbanyak dalam ASI adalah cairan. 87.5% komponen ASI adalah air.  Untuk menjaga kuantitas ASI, Bunda harus minum air putih dari berbuka puasa hingga sahur sebanyak 2 liter. Bunda juga bisa menambah asupan cairan lain dari jus atau buah.

  1. Konsumsi makanan bernutrisi

Ibu menyusui harus mengonsumsi makanan yang bernutrisi dan beragam, sehingga kualitas ASI tetap terjaga saat berpuasa. Karena apa yang Bunda makan akan memengaruhi kualitas ASI. Selain air, ASI juga mengandung lemak, protein, kartinin, laktosa vitamin dan mineral.

Jika asupan nutrisi Bunda kurang, maka cadangan zat gizi dalam tubuh Bunda akan digunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, Bunda bisa mengalami kurang gizi. Selain mengonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi, jika diperlukan, Bunda juga bisa menambah asupan berupa multivitamin yang sesuai dengan rekomendasi dokter.

  1. Maksimalkan menyusui dan memerah ASI di malam hari

Saat siang hari, produksi ASI Bunda akan berkurang karena berpuasa. Sehingga, Bunda bisa memaksimalkan menyusui bayi dan memompa ASI. Produksi ASI dipengaruhi oleh supply and demand. Semakin sering ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang diproduksi. Bunda bisa menyiasatinya dengan cara menyusukan bayi di satu sisi payudara dan memompa di satu sisi lainnya. Bunda juga bisa mencoba teknik power pumping untuk menjaga produktivitas ASI.

  1. Cukup istirahat dan selalu bahagia

Jika Bunda kurang istirahat, maka tubuh akan terasa lemas dan akan mengganggu aktivitas Bunda saat berpuasa. Sebisa mungkin, jika bayi Bunda tidur, Bunda memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat. Stress, juga memengaruhi produksi ASI lho, Bund. Bunda harus merasa nyaman dan berpikir positif bahwa ASI Bunda bisa mencukupi kebutuhan Bayi. Pikiran yang tenang akan memicu hormon oksitosin yang sangat berpengaruh dalam produksi ASI.

  1. Tidak perlu memaksakan diri jika tidak kuat.

Ada beberapa orang yang mendapatkan keringanan untuk meninggalkan puasa, salah satunya adalah ibu menyusui. Jika dirasa Bunda tidak sanggup menjalankan puasa, ada alternatif yang bisa Bunda lakukan yaitu mengganti di hari-hari lain dan atau membayar fidyah. Berikut ini ketentuan qodho dan fidyah bagi orang-orang yang mendapat keringanan meninggalkan puasa.

Nah Bunda, di atas adalah tips berpuasa Ramadhan untuk Bunda yang sedang menyusui. Meski di tengah pandemi corona, semoga Ramadhan 2020 membawa berkah tersendiri bagi kita semua.

NH Zakat Kita

5 Tips untuk Ramadhan 2020 tetap Optimal

5 Tips untuk Ramadhan 2020 tetap Optimal

Oleh: Yola (@yolanaapr)

Bulan Ramadhan yang ditunggu-tunggu umat Islam seluruh dunia sudah datang. Tetapi, Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Ramadhan tahun 2020 bersamaan dengan adanya virus Corona yang menyebar hampir seluruh negara di dunia. Tercatat lebih dari 2,8 juta orang terjangkit dengan 200 ribu kasus kematian dan masih berpotensi untuk bertambah.

Virus Corona menyebar melalui kontak dengan orang yang terinfeksi saat mereka batuk/bersin, atau melalui kontak dengan tetesan air liur, atau cairan/ lendir hidung orang yang terinfeksi (droplet).

Sebagai ikhtiar untuk memutus penyebaran virus Corona, pemerintah Indonesia membuat kebijakan untuk menerapkan social distancing. Kebijakan tersebut mengharuskan masyarakat untuk tetap di dalam rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Saat Ramadhan, biasanya banyak sekali aktivitas yang dilakukan di luar rumah. Misalnya, hadir kajian, sholat tarawih di masjid,  buka bersama, bagi-bagi takjil/sedekah, sahur on the road dan masih banyak lagi.

Penerapan social distancing membuat umat Muslim kehilangan euforia Ramadhan akan tetapi mari tidak gundah dulu.  Bulan Ramadhan dalam situasi pelik seperti ini, tetaplah menjadi Ramadhan  yang membawa limpahan kemuliaan. Ia tetaplah bulan yang membelenggu setan selama 30 hari, waktunya semua pintu surga terbuka dan pintu neraka ditutup, dan yang masih sama istimewanya adalah peluang mendapat pahala yang besar dan mendapat ampunan Allah ﷻ.

Jadi, mari kita tetap bergembira menyambut bulan penuh berkah tahun ini dan hidupkan perjalanan selama 30 hari ke depan dengan menanam kebaikan, memanen pahala, hingga meraih kemenangan. 

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan untuk menghidupkan Ramadhan secara optimal saat di rumah saja?

  • Perbanyak Sholat

Sholat adalah ibadah yang pertama kali dihisab di akhirat kelak. Apabila seorang Muslim baik sholatnya maka baiklah semua amal lainnya. 

Terlebih di bulan Ramadhan, selain menjaga  keistiqomahan sholat wajib juga meningkatkan sholat sunah seperti sholat rawatib, sholat tahajjud, sholat dhuha, sholat hajat, dan sholat taubat.  Ibadah seperti ini sangat dianjurkan untuk dilakukan umat Muslim selama bulan Ramadhan.

Terutama di masa pandemi COVID-19, memang ada larangan beribadah jamaah di masjid, jika kita tetap melakukan ibadah Ramadhan seperti biasanya maka bisa menjadi bentuk tambah dukungan spiritual agar kuat mental selama menjalani #dirumahaja dan #workfromhome. Tambahan baik lainnya adalah hubungan silaturahmi dengan anggota keluarga menjadi semakin erat karena punya waktu lebih banyak bercengkrama, bagi yang tinggal 1 rumah dengan keluarga.

  • Streaming kajian online

Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap Muslim. Di rumah saja bukan berarti tidak bisa mengikuti kajian. Beruntungnya saat ini, era teknologi berkembang sangat cepat, banyak kemudahan digital yang bisa dimanfaatkan salah satunya adalah streaming kajian online. Satu bentuk produk digital yang menjadi sangat bermanfaat karena kita bisa tetap mengaji tanpa harus ke tempat ibadah langsung dan tetap bisa mendengarkan narasumber favorit dari rumah. Beberapa kanal streaming online yang bisa kita gunakan adalah youtube, facebook, instagram, dan aplikasi zoom

  • Tilawah Qur’an

Dalam QS. Al-Isra’ ayat 82,  Allah ﷻ berfirman bahwa Alquran menjadi penawar atau obat dari segala macam penyakit.  Memperbanyak baca Alquran di tengah tingginya resiko terpapar virus Corona bisa menjadi salah satu ikhtiar kita.  Pahala 10 per huruf yang dibaca, ditambah dibaca saat bulan Ramadhan menjadikan siapa saja yang membaca Alquran akan mendapat pahala berlimpah dari Allah ﷻ.

  • Banyak Sholawat

“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (Qs. Al- Ahzab: 56)

Orang yang banyak bersholawat akan mendapatkan banyak keistimewaan. Dimudahkan segala urusan dan akan dekat dengan Rasulullah kelak di akhirat.

Bosan di rumah saja? Mari sibukkan diri dengan sholawat.
  • Sedekah

Penerapan social distancing berdampak pada perekonomian masyarakat.  Banyak tenaga kerja harus “dirumahkan” karena omset perusahaan turun drastis dan tidak sanggup memberi gaji. Banyak juga pedagang kecil tidak mampu mendapatkan penghasilan karena sepi pembeli.

Ramadhan saat ini adalah momentum tepat untuk saling memerhatikan satu sama lain. Salah satu caranya dengan menyedekahkan sebagian rezeki yang Allah beri untuk mereka yang membutuhkan.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Allah ﷻ sudah menjanjikan balasan berlipat-lipat bagi orang yang mau sedekah. Jadi, tidak perlu pikir panjang untuk sedekah karena banyak keutamaannya.

NH Zakat Kita

 

Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta

Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta

Oleh : Yolanaapr Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta.

Kenapa harus zakat?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita pahami apa itu zakat.

Zakat berasal dari bentuk kata “zaka” yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq: 5).

Selain sebagai kewajiban bagi Muslim, ada manfaat yang didapat bagi yang melaksanakannya, dilihat dari makna zakat dalam bahasa Arab, sebagai berikut:

  1. Attohuru, artinya mensucikan atau membersihkan. Makna ini menunjukkan bahwa orang yang menunaikan zakat akan maka Allah akan membersihkan dan mensucikan jiwa dan hartanya.

  2. Albarakatu, artinya berkah. Makna ini mengandung arti bahwa harta yang senantiasa dibayarkan zakatnya akan dilimpahi berkah oleh Allah SWT. Keberkahan harta akan sejalan dengan keberkahan hidupnya.

  3. Annumuw, artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan orang yang selalu menunaikan zakat akan makin bertambah rezekinya. Tidak hanya rezeki soal materi tapi kesehatan dan lain-lain.

  4. Assolahu, artinya beres. Makna ini menegaskan bahwa orang yang senantiasa menunaikan zakat, terbebas dari masalah akan hartanya seperti kebangkrutan, dirampok, dicuri dan sebagainya.

Makna-makna tersebut menunjukkan bahwa betapa zakat memiliki faedah yang besar bagi kehidupan orang yang menunaikannya. Jadi, setiap Muslim tidak perlu ragu untuk menunaikan zakat, karena selain mendapat pahala di sisi Allah, juga mendapat kemuliaan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat ? 

Setelah memahami apa dan mengapa harus menunaikan zakat. Saatnya kita memahami kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat.  Zakat merupakan bagian dari rukun Islam, sehingga menjadi wajib hukumnya bagi Muslim yang telah memenuhi syarat,  untuk menunaikan zakat.

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka …”

(QS. At-Taubah 9: 103)

Zakat terdiri atas zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah merupakan zakat yang berupa sembako atau bahan makanan pokok. Zakat fitrah wajib ditunaikan bagi Muslim yang telah memenuhi syarat yaitu orang yang memiliki bahan makanan lebih dari satu sha’ (1 sha’= 4 mud, 1 mud= 675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya, selama sehari semalam ketika hari raya.

Waktu pelaksanaan zakat fitrah dikeluarkan selama bulan Ramadhan, sampai paling lambat menjelang shalat Ied. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa. Hal ini tercantum pada hadits Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Ied maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Ied maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud)

Sedangkan zakat mal merupakan zakat atas harta yang dimiliki dan terbagi atas zakat perdagangan, zakat profesi, zakat hewan ternak, zakat barang temuan dan zakat atas kepemilikan emas dan atau perak, zakat perusahaan.

Berbeda dengan zakat fitrah, zakat mal tidak memiliki waktu khusus untuk pembayarannya. Hanya saja zakat mal sangat bergantung pada nisab dan haul. Karena tidak ada waktu khusus dalam menunaikan zakat mal, maka lebih baik menyegerakan pelaksanaanya sehingga kewajiban terpenuhi dan kebersihan harta terjaga.

Artikel Terkait :

1. Mengubah Mustahik To Muzakki

2. Pentingnya Zakat Fitrah

Berlomba Kebaikan Pada Bulan Ramadhan

Berlomba Kebaikan Pada Bulan Ramadhan

Oleh : Ahmad

Alhamdulillah, puji syukur kita bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan. Bulan istimewa yang penuh rahmat dan ampunan. Pada bulan suci ini, semua ibadah dan amalan yang kita lakukan akan mendapat pahala berlipat ganda, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Tidak salah rasanya jika di bulan mulia ini seluruh umat Islam berlomba-lomba beribadah dan melakukan berbagai perbuatan baik. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan.

Apa saja kebaikan-kebaikan itu? Mari kita ulas satu per satu:

Puasa 

Ibadah wajib saat bulan Ramadhan adalah berpuasa. Selain menahan diri dari lapar dan haus, berpuasa juga harus mampu menjaga diri dari emosi, perbuatan maksiat dan hawa nafsu. Setiap amalan yang dikerjakan saat berpuasa akan dilipatgandakan. Dosa-dosa yang diperbuat di masa lalu akan diampuni oleh Allah ﷻ. Hal ini seperti tercermin dalam satu sabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda lain dari Rasulullah ﷺ yang menggambarkan istimewanya puasa pada bulan Ramadhan adalah berikut ini: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’ Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membaca Alquran 

Salah satu kebaikan lain di bulan Ramadhan adalah membaca Alquran. Membaca Alquran menjadi salah satu amalan yang wajib dilakukan. Walaupun hanya membaca satu huruf, Allah ﷻ akan memberikan banyak pahala untuk umatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” ( HR. At-Tirmidzi)

Melaksanakan Sholat Sunah dan Sholat Malam 

Selain dua kebaikan yang telah disebutkan di atas, kebaikan lain yang juga dapat dikerjakan di bulan Ramadhan adalah mengerjakan sholat sunah dan sholat malam. Sholat sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk dikerjakan di bulan suci di antaranya adalah sholat tarawih, witir dan tahajud.

Sholat tahajud pada bulan Ramadhan sangatlah istimewa. Keistimewaannya dapat kita lihat pada sabda Rasulullah ﷺ berikut ini: “Sesungguhnya Allah telah memfardukan puasa Ramadhan dan aku telah mensunahkan bagimu shalat di malam harinya. Maka barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat sunah di malam harinya karena iman dan mengharap pahala dari Allah, keluarlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersedekah

Bersedekah juga termasuk salah satu kebaikan yang dapat dikerjakan oleh umat Islam. Allah Ta’ala menjanjikan pahala dan balasan bagi orang-orang yang suka bersedekah. Banyak keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan, yaitu menghapus dosa, mendapatkan naungan di hari akhir, memberi keberkahan pada harta dan mendapat pahala berlipat ganda.

Itulah berbagai kebaikan di bulan Ramadhan yang bisa dilakukan oleh umat Islam. Salah satu kebaikan berbuah pahala adalah berzakat dan bersedekah.

Ayo, berlomba-lomba dalam kebaikan pada bulan Ramadhan!

Artikel Terkait :
Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

Oleh : devynawa

Zakat merupakan sistem ekonomi tertua di muka bumi. Zakat yang dikeluarkan muzaki (pemberi zakat) pada setiap Ramadhan, sejatinya bukanlah berhenti pada soal memenuhi kewajiban. Tentu ada fadhilah di setiap syariat yang ditetapkan dalam Islam. Zakat ini bisa berdampak luas pada perekonomian umat.

Zakat meniadakan keakuan seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dari zakat, kita belajar bahwa dalam harta seseorang ada hak orang lain, ada hak mustahik yang harus dikeluarkan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibanding rezeki yang diterima pemberi zakat tersebut. Namun bukan lagi menjadi hal sepele jika telah sampai ke mustahik (penerima zakat).

Jika dapat dikelola dengan baik, zakat bisa memiliki potensi yang tidak biasa. Zakat yang diberikan muzaki secara individu dan langsung kepada mustahik mungkin saja bersifat jangka pendek, hanya dalam bentuk santunan. Namun lain cerita jika zakat dikumpulkan dan disalurkan melalui sebuah lembaga amil yang memiliki perencanaan dan pengorganisasian yang lebih baik.

Lembaga ini akan merealisasikan  dalam bentuk program-program yang bersifat jangka panjang baik bidang sosial, ekonomi, kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, dengan harapan program tersebut memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

Zakat yang disalurkan melalui lembaga akan terhimpun lebih banyak sehingga berpotensi memiliki daya guna dan kemanfaatan yang lebih besar. Dari segi ekonomi, zakat yang tersalur menjadi lebih produktif dan mampu meningkatkan kemandirian umat. Pemberdayaan ekonomi umat ini bertujuan agar umat Islam terbebas dari kemiskinan sehingga bebas pula dari kekufuran dan mampu menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik.

Cara memberdayakan umat melalui dana zakat antara lain dengan memberikan bekal kepada mustahik berupa pemberian keterampilan atau ilmu usaha (wirausaha). Bekal keterampilan ini bisa diberikan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan.

Di sisi lain jika mustahik telah memiliki kemampuan wirausaha namun terbatas pada modal, maka pemberdayaan bisa diberikan melalui akses modal untuk bekal usaha. Pemberian modal ini akan disertai pendampingan sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan juga diberikan dari sisi marketing. Membuka jalan agar produk bisa terjual di pasaran.

Pun yang tidak kalah penting adalah sektor pendidikan. Terutama untuk anak yatim dan dhuafa. Dari sini, mustahik yang belum sampai pada usia kerja bisa diberdayakan melalui pemberian beasiswa pendidikan yang cukup. Atau dalam bentuk lain demi terpenuhinya pendidikan bagi yatim dhuafa. Program ini bertujuan menyiapkan anak yatim menjadi pribadi yang berwawasan dan memiliki bekal untuk memasuki usia produktif. Sehingga bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Melalui upaya-upaya optimalisasi dana zakat yang ada, umat akan diberdayakan secara jangka panjang terutama dari sisi ekonomi. Dari yang tadinya kurang menjadi cukup, dari yang tadinya penerima menjadi pemberi. Sehingga zakat dapat memperkecil jarak antara pemberi dan penerima.

Ramadhan ini adalah momentum untuk melibatkan diri, memberikan yang terbaik untuk pemberdayaan zakat menuju kemandirian ekonomi umat. Zakat tidak perlu menunggu kaya, sebab apa yang kita keluarkan sejatinya itulah yang kita punya.

Yuk berzakat! Karena zakat kita memberdayakan umat. Selamat mengoptimalkan hari-hari Ramadhan dengan berzakat.

Artikel Terkait :

  1. Zakat Membersihkan Jiwa dan Harta
  2. Berlomba Kebaikan Dalam Bulan Ramadhan
  3. Cara Hitung Zakat Maal
Sedekah Jariyah Mengalirkan Terus Pahala

Sedekah Jariyah Mengalirkan Terus Pahala

Oleh : Fajar Ryadi

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):  sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)

Siapa di antara kita yang tidak pernah mendengar hadis riwayat di atas? Saya yakin hampir seluruh pembaca pasti sudah khatam mendengar hadis ini. Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa sedekah jariyah adalah salah satu jenis amalan yang pahalanya akan mengalir terus selamanya meskipun seorang Muslim telah meninggal dunia.

Masya Allah, Allah memberikan kesempatan agar hamba-Nya bisa mengumpulkan banyak pahala saat hidup di dunia dan saat sudah tidak di dunia lagi. Tentu kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan oleh Allah. Mari kita kembangkan apa saja yang bisa kita lakukan agar mendapatkan pahala sedekah jariyah.

  1. Sedekah pembangunan masjid

Masjid telah menjadi pusat segala kegiatan umat Islam sejak dulu hingga sekarang. Banyak masjid dibangun di seluruh Indonesia untuk memfasilitasi umat Islam. Selain sebagai tempat melakukan peribadatan, masjid juga menjadi tempat pembelajaran seperti kajian keislaman maupun sebagai tempat mengaji Alquran bagi anak-anak.

Tidak salah jika dikatakan masjid memiliki banyak manfaat bagi banyak orang. Bayangkan jika kita bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan masjid. Berapapun rupiah yang kita sumbangkan akan dijadikan lantai tempat berpijak sholat, menjadi pilar yang menopang bangunan masjid, menjadi keran yang mengucurkan air wudhu. Masya Allah berapa banyak pahala yang mengalir terus selama masjid itu terus dipergunakan masyarakat.

  1. Sedekah pembangunan pesantren/madrasah

Sama halnya dengan masjid, pondok pesantren sebagai tempat untuk menimba ilmu, tentu juga berpotensi mengalirkan pahala jariyah yang tak terhenti. Bukankah ilmu yang bermanfaat juga disebutkan menjadi salah satu amalan yang dapat memberikan pahala jariyah. Maka pesantren atau madrasah menjadi wadah untuk menghasilkan ilmu yang bermanfaat.

Jika ingin mendapatkan aliran pahala jariyah, kita juga bisa bersedekah untuk pembangunan pesantren. Laznas Nurul Hayat memiliki banyak pesantren tahfidz yang tersebar di banyak kota. Dari SD, SMP, SMA hingga jenjang perkuliahan. Setiap ilmu yang dihasilkan dari pesantren tersebut, pahalanya akan kita terus nikmati meskipun kita sudah tiada.

  1. Sedekah pembuatan sumur di desa tertinggal

Segala puji kita panjatkan kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Tapi di belahan tempat lain banyak saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita. Salah satunya yang paling sederhana adalah kebutuhan air. Mungkin kita sering mengabaikan pemakaian air di rumah. Baik saat mandi, cuci baju atau wudhu. Kita terkadang boros menghabiskan air. Padahal di desa-desa tertinggal banyak saudara kita yang harus menempuh kiloan meter hanya untuk mendapatkan air.

Mari kita ambil investasi jangak panjang ini. Ikuti terus campaign zakatkita.org

Artikel Terkait :

1. Potensi Zakat di Indonesia

2. Mengubah Mustahik To Muzakki

3. Zakat Bersihkan Jiwa dan Harta

Sedekah Melipatgandakan Rejeki

Sedekah Melipatgandakan Rejeki

Oleh : Jr. Maimunnudin

Sedekah Melipatgandakan Rejeki. Janji Allah itu pasti. Setiap Allah menjanjikan sesuatu kepada hambanya, selalu ditepati. Allah janji jika kita melakukan perbuatan A, maka akan diberi B. Jika melakukan B akan diberi C, dan seterusnya. Begitu pula ketika Allah menyatakan bahwa jika kita bersedekah akan dilipatgandakan menjadi  tujuh atau bahkan lebih seperti yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (Qs. Al-Baqarah: 261)

Yang perlu kita lakukan cuma satu, yakni mengimani Allah. Bukan tugas kita untuk memikirkan bagaimana cara Allah memberi kita tujuh kali lipat atau bahkan yang lebih dari itu. Tugas kita ketika mendengar perintah-Nya adalah mengeksekusi perintah tersebut. Tentang bagaimana Allah memenuhi janji-Nya, itu mutlak hak Allah. Cukuplah kita yakin dan mengesekusinya.

Suatu ketika, ada seorang hamba Allah yang dalam situasi pandemi ini mendapatkan banyak cerita pengalaman hidup dari tetangga, saudara, dan rekan kerjanya. Cerita-cerita itu kebanyakan soal dampak pandemi yang mereka rasakan. Ada yang bercerita tentang gaji yang diterima tiap bulan turun drastis, ada yang mendapatkan PHK dari perusahaannya sedang di sisi lain ia harus tetap menjaga aliran uang masuk untuk menafkahi anggota keluarganya yang jumlahnya tidak sedikit.

Cerita-cerita yang didapat oleh hamba Allah ini memang sedang marak terjadi akhir-akhir ini. Menurut proyeksi Sri Mulyani, lonjakan pengangguran akibat pandemi jika tidak segera teratasi akan mencapai 2,8 juta orang: Pekerja formal dirumahkan, pelaku formal di-PHK, pelaku usaha terganggu karena terus melakukan produksi namun minim transaksi akibat perubahan perilaku konsumsi.

Berangkat dari situasi tersebut, hamba Allah sebut saja fulan, membaca peluang bahwa Ramadhan biasanya identik dengan kurma. Maka dia pun berjualan kurma. Si fulan, mencari suplier  yang dapat memberikan harga yang sangat murah. Semangatnya, untung tipis tidak masalah yang penting aliran cashflow untuk keluarga berjalan lancar dan berkah seperti nasihat yang pernah dia dengar.

Saudara, tetangga, dan rekan kerja ia hubungi untuk turut bergabung, sebagai salah satu bentuk ikhtiar memberi nafkah keluarga masing-masing. Keputusannya waktu itu adalah lebih baik memberi kailnya dari pada memberi ikannya. Dan tentu saja ia memberikan skema yang sangat mudah dan berasaskan saling percaya.

Ketika Ramadhan hari ke-2, si fulan mengalami dead stock. Dead stock adalah kondisi dimana produk berada di gudang dan tidak bergerak dalam kurun waktu tertentu. Sehingga menggangu alur keluar masuknya barang karena minimnya transaksi. Berhari-hari si fulan mencoba dengan segala cara untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pada saat bersamaan, ada salah satu rekannya menawarkan jeruk nipis. Si fulan sedikit terkejut karena dalam kesehariannya, kawannya ini berkutat pada sektor industri cetak. Namun pada saat itu dia menawarkan barang yang mudah ditemukan di pasar tradisonal.

Harga jeruk nipis yang ditawarkan terhitung masih logis. Hanya tujuh ribu rupiah per kilonya. Pada saat itu, di diri si fulan belum terpikir Al-Baqarah ayat 261 tentang ganjaran bersedekah. Namun ia memutuskan untuk membeli 10 kg jeruk nipis rekannya itu dan mengamanahkan kepada istrinya agar jeruk nipis itu dibagi kepada saudara dan tetangganya.

Yakin. Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Ternyata kemampuan kita terbatas dan ada batasnya. Yang diperlukan hanya yakin dan percaya ke Allah. Biarlah Allah yang mengeksekusi.

Dalam hitungan jam setelah jeruk nipis dibagikan, tak disangka-sangka rekan kerja si fulan menghubungi dirinya untuk  order kurma, yang jika ditotal, keuntungannya adalah sepuluh kali dari nilai yang ia belanjakan jeruk nipis. Allahu akbar. Kalau dikaitkan dengan keuntungan memang sedikit apalagi ada pembandingnya. Namun yang terpenting, masalah dead stock terselesaikan dengan mudah karena bersedekah jeruk nipis.

Mudah-mudahan keyakinan kita adalah keyakinan yang benar. Keyakinan yang tidak disandarkan kepada kekuatan diri semata. Keyakinan yang tidak diandalkan pada harapan kepada selain Allah. Dan selalu hanya mengharap ridho-Nya.

Apalagi pada bulan Ramadhan, bulan yang mempunyai keistimewaan untuk bersedekah sebagaimana sabda Rasullullah ﷺ, “Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan’.”  (HR.  At-Tirmidzi).

Dengan keistimewaan bulan Ramadhan, apakah kita yakin, akan melewatkan Ramadhan begitu saja tanpa bersedekah yang terbaik dan maksimal? 

Artikel Terkait :

1. Berlomba Kebaikan Pada Bulan Ramadhan

2. Cara Hitung Zakat Maal

3. Zakat Solusi Kesenjangan Ekonomi

Meraih Berkah Dari Rumah

Meraih Berkah Dari Rumah

Oleh : Putri

Sudah hampir tiga bulan sejak kasus Covid-19 diumumkan di Indonesia. Sudah hampir 3 bulan pula, pemerintah menganjurkan untuk melaksanakan kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Pemerintah juga melarang masyarakat berkumpul atau melakukan kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah meluasnya penularan virus Corona.

Ramadhan tahun 2020 akan menjadi Ramadhan yang sangat berbeda bagi kita semua. Bagaimana tidak? Biasanya kita lebih banyak melakukan kegiatan ibadah di masjid seperti shalat fardhu berjamaah, buka bersama, shalat Jumat, shalat tarawih hingga itikaf. Namun, saat ini kegiatan tersebut justru malah menjadi larangan. Banyak masjid yang tidak menyelenggarakan kegiatan ibadah.

Saat inilah waktunya untuk menghidupkan rumah. Mirip-mirip slogan produk perabotan rumah ya? Tapi memang betul. Adalah anjuran Nabi untuk menghidupkan rumah. Menjadikan rumah sebagai surga dengan melaksanakan shalat sunnah di rumah dan banyak membaca Alquran serta dzikir di dalam rumah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh  Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

اجعلوا في بيوتِكم من صلاتِكم، ولا تتَّخِذوها قبورًا

“Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan.” (HR. Al Bukhari no. 432, 1187, Muslim no. 777).

Tetap tinggal di rumah selama masa pandemi juga menjadi keutamaan karena ada pahala besar di dalamnya, yaitu setara dengan pahala syahid. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ath-tha’un (wabah), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

أَنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَيْتِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Wabah adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, wabah itu dijadikan oleh Allah sebagai rahmat untuk orang beriman. Ketika terjadi wabah, siapa pun yang tinggal di dalam rumahnya dalam keadaan sabar, mengharap pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”

Demikianlah keutamaan untuk menghidupkan sunnah dari dalam rumah dan pahala syahid meski hanya diam di rumah disaat wabah. Dengan memperbanyak ibadah bersama keluarga di rumah, insyaAllah akan mendatangkan keberkahan di dalam keluarga. Selain itu bisa menebus waktu bersama keluarga yang banyak berkurang karena aktivitas di luar rumah.

Lantas, bagaimana jika kita ingin membantu saudara-saudara kita yang penghasilannya berkurang atau bahkan hilang terkena dampak wabah Corona? Sedangkan kita dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah. Ingin membagikan sembako atau sedekah dari rumah, khawatir akan menimbulkan kerumunan. Meskipun tidak sampai berkerumun, interaksi dengan orang lain dengan intensitas tinggi juga meningkatkan risiko penularan virus Corona.

Alhamdulillah, Nurul Hayat Zakat Kita menawarkan solusi terbaik untuk Anda yang ingin berbagi tapi juga ingin tetap tinggal di rumah. Anda bisa bersedekah melalui aplikasi zakat kita yang bisa diunduh di layanan penyedia aplikasi atau klik zakatkita.org.

Tinggal klik saja melalui gawai yang Anda miliki, pilih jenis sedekahnya, infaq, sedekah jariyah atau sedekah buka puasa atau pilihan yang tersedia di layanan zakatkita.org, lalu transfer. Otomatis pahala sedekah akan mengalir kepada Anda, meski Anda tidak mendatangi mustahik langsung atau datang ke lembaga zakat. Dan yang terpenting, sedekah Anda insyaAllah sampai kepada mereka yang membutuhkan dan tepat sasaran.

Kalian di rumah saja, biar kami yang menyalurkan sedekahnya.

Artikel Terkait :
Menutup Pintu Keburukan dengan Bersedekah

Menutup Pintu Keburukan dengan Bersedekah

Oleh : Yeyen

Pada saat pandemi seperti ini, banyak orang merasakan kesulitan. Terutama karyawan yang terkena imbas PHK dan pedagang yang mengalami penurunan penjualan. Namun, semoga saat sulit ini tidak menjadi alasan bagi kita semua, untuk melupakan sedekah. Sebab, tidak peduli jumlah atau bentuk sedekah, Allah ﷻ pasti akan melihat sedekah yang kita lakukan.

Mari, jadikan sedekah sebagai bagian dari hidup di dunia untuk bekal di akhirat nanti. Mengingat bahwa pahala sedekah sangatlah banyak. Bahkan, dalam kondisi seperti ini pun sedekah dapat menutup pintu keburukan bagi yang melakukan.

Salah satu manfaat sedekah yang diamini oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah terlindungi dari bala, musibah, atau bencana. Sedekah bisa membantu menutup datangnya keburukan, menolak bala atau malapetaka, menghapus dosa hingga mendatangkan rezeki yang berlipat ganda bagi yang melakukan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sedekah menutup tujuh puluh pintu keburukan.” (HR. Thabrani).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa manfaat sedekah begitu banyak, hanya Allah yang bisa menghitungnya. Di antara manfaat sedekah adalah:

“Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang jelek, mencegah malapetaka (bala), sampai sedekah itu melindungi dari orang yang zalim.” 

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Orang-orang dahulu memandang bahwa sedekah akan melindungi dari orang yang suka berbuat zalim.” “Sedekah juga akan menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati, serta menyebabkan hati yakin dan berbaik sangka kepada Allah.” (‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 313).

Bersedekah juga dapat mengobati suatu penyakit. Tentunya dengan tidak melupakan perilaku hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan. Nabi Muhamaad pernah beberapa kali mengeluarkan sabda tentang manfaat sedekah satu ini: “Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR Al-Dailami)

“Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah, dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (Riwayat Imam At-Thabrani)

“Sedekah dapat menolak tujuh puluh macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Riwayat Imam At-Thabrani)

Selagi masih diberikan kesempatan untuk bersedekah, tidak ada ruginya jika segera melakukan. Apalagi mengingat bahwa pahala bersedekah sangatlah banyak. Bahkan tidak bergantung pada bentuk dan jumlah sedekah yang dilakukan. Bersedekah bukan hanya dilakukan pada saat memiliki uang dan harta yang banyak. Karena bersedekah dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja asal dilakukan dengan niat yang ikhlas dan tulus.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi ﷺ lalu ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Wahai Rasulullah, sedekah mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat engkau masih sehat, saat engkau takut menjadi fakir, dan saat engkau berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan’.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Mari bersedekah di NH Zakat Kita

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya