Membangun Ekonomi Indonesia dengan Berzakat

Membangun Ekonomi Indonesia dengan Berzakat

Tak terasa sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan tahun 2020, ini adalah saat saat yang tepat untuk memperbanyak ibadah kita di bulan Ramdhan ini. Salah satu bentuk ibadah nya adalah menunaikan kewajiban berzakat.

Zakat merupakan salah satu rukun iman, yang terdiri dari zakat fitrah yang ditunaikan saat Ramadan dan zakat mal. Keduanya wajib ditunaikan oleh para muzaki (orang yang wajib membayar zakat) melalui badan zakat yang selanjutnya disaluran kepada para mustahik (orang yang berhak menerima zakat).

Dari penjelasan singkat tentang pengertian zakat diatas, dapat kita pahami bahwa zakat memiliki manfaat untuk membantu mengembangkan ekonomi secra merata. Tahukah Anda seberapa besar potensi zakat di Indonesia?

Menurut data dari BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) di tahun 2019, Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslim yang besar tentunya memiliki potensi zakat sebesar Rp 233,8 triliun (setara 1,57 persen dari PDB tahun 2018) yang dibagi dalam lima objek zakat, yaitu pertanian (Rp 19,79 triliun), peternakan (Rp 9,51 triliun), uang (Rp 58,76 triliun), perusahaan (Rp 6,71 triliun), dan penghasilan (Rp 139,07 triliun). Namun, zakat yang berhasil dikelola secara profesional sebesar delapan triliun rupiah, atau hanya 3% dari potensi zakat di Indonesia.

Melihat besarnya potensi yang ada, dengan mengoptimalkan potensi zakat akan membawa manfaat yang lebih besar tidak hanya bagi masyarakat Muslim tetapi lebih jauh bagi Indonesia, khususnya perekonomian Indonesia.

  1. Potensi Zakat untuk mengurangi kemiskinan

Zakat memiliki peran penting bagi ekonomi Indonesia, karena lewat zakat pendapatan dapat didistribusikan secara merata dan mengurangi tingkat kemiskinan, asalkan zakat perlu dikelola dengan baik dan disalurkan dengan tepat sasaran. 

Kemiskinan terjadi bukan semata-mata karena pendapatan yang kecil namun juga akses untuk mendapatkan bahan pokok tidak sama akibat harga yang tidak wajar atau kurangnya kemampuan membeli. Berdasarkan data BPS, zakat berhasil mengentaskan 28% mustahik dari garis kemiskinan. Ini membuktikan bahwa zakat berperan penting dalam mengurangi kemiskinan melalui distribusi pendapatan yang lebih merata.

  1. Penyaluran Zakat mampu memberdayakan ekonomi secara makro

Zakat mampu menumbuhkan ekonomi dalam sector riil, karena zakat dapat disalurkan dengan bentuk usaha yang produktif dan memberdayakan sehingga memiliki dampak kepada mustahik dan juga ekonomi Indonesia secara makro. Hasil penelitian Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS mengenai ”Efektivitas Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat BAZNAS Pusat tahun 2018”, menunjukan bahwa penyaluran zakat mampu meningkatkan pendapatan mustahik rata-rata sebesar 97,88% atau mendekati 100%.

  1. Zakat sebagai Pemicu investasi

Terakhir, zakat bisa menjadi pemicu masyarakat untuk berinvestasi. Karena sejatinya Zakat mal dikenakan kepada harta yang tidak produktif (mengendap) dan telah dimencapai masa haul atau satu tahun. Sedangkan harta yang produktif tidak akan dikenakan zakat mal, dengan adanya hal tersebut dapat menjadi pemicu bagi muzaki untuk mengelola hartanya agar produktif. Meningkatnya jumlah harta yang produktif mampu meningkatkan jumlah investasi yang akan meningkatkan arus perputaran barang dan jasa dalam ekonomi.

Dari artikel diatas dapat disimpulkan bahwa Zakat memiliki potensi yang besar untuk membangun ekonomi di Indonesia, sayangnya zakat yang berhasil dikelola hanya sebatas 3% dari potrensi yang sebenarnya. Oleh karena itu LAZNAS NH Zakat Kita hadir dengan platform zakatkita.org yang dapat memudahkan masyarakat untuk berakat kapan saja dan dimana saja.

Mari berzakat di zakatkita.org dan bersama membangun ekonomi Indonesia

Sedekah mudah di Zakatkita.org

Sedekah mudah di Zakatkita.org

Sedekah mudah di Zakatkita.org “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa ayat 114)

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menyisihkan hartanya untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Salah satunya dengan bersedekah. Karena Allah sangat menyukai amalan bersedekah, seperti yang disampaikan dalam surat An Nisaa ayat 114. Balasan orang  yang beramal sedekah, Allahb S.W.T akan memberikan pahala yang besar.

Sedekah berasal dari bahasa Arab Shodaqoh yang memiliki artian pemberian yang diberikan oleh seseorang ke orang lain secara spontan dan sukarela tanpa ada batasan jumlah atau tenggat waktu tertentu. Amalan sedekah ini lebih luas maknanya daripada zakat ataupun infak. Karena sedekah bisa berupa apapun termasuk amalan amalan kecil, amalan baik yang dilakukan kepada orang lain, termasuk tersenyum. Karena menurut hadist : “Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu” (Sahih, H.R. Tirmidzi no 1956).

Sedekah juga bisa diberikan kepada siapapun, tidak ada batasan penerima sedekah. Sedekah bisa diamalkan kapan saja, tidak ada ketentuan waktu untuk mengamalkan sedekah. 

Adapun keutamaan- keutamaan bersedekah adalah

  1. Dihapuskan Dosa-Dosanya

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).

Sedekah, itulah cara mudah yang disediakan Allah agar dapat mengikis perbuatan-perbuatan dosa kita. Cukup dengan tersenyum saja, Anda sudah bersedekah karena senyum adalah salah satu sedekah termudah yang dapat kita sebarkan dengan mengukir garis senyum di bibir kita.

  1. Terdapat Pintu Surga yang Hanya Bisa Dimasuki oleh Orang-Orang yang Bersedekah

Begitu pula bagi orang yang suka bersedekah. Di surga nanti, dia akan dipanggil oleh pintu khusus untuk orang-orang yang suka bersedekah Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari berikut ini, yang artinya: “Barang siapa termasuk orang yang senantiasa bersedekah maka dia akan dipanggil masuk surga lewat pintu sedekah”

  1. Dilipat gandakan harta dan pahalanya

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Seperti yang disampaikan dalam ayat diatas, Allah akan melipat gandakan pahala dan harta orang yang meminjamkan hartanya dalam bentuk pinjaman yang baik (sedekah)

  1. Dijauhkan Dari Api Neraka

Dengan bersedekah kita akan dijauhkan dari api nereka, walaupun bersedekah hanya dengan kalimah thayyibah. Sedekah dengan apapun itu akan menjauhkan kita dari api neraka seperti hadist Rasulullah S.A.W : “Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah.”

  1. Diberikan Keberkahan Harta

“Katakanlah, Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi siapa saja yang dia kehendaki diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dia kehehendaki-Nya). Dan apa yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rejeki sebaik-baiknya.” (Qs. Saba ; 39)
Seperti apa yang disampaikan dalam surat Saba ayat 39, Allah akan melapangkan rejeki bagi siapa yang bersedekah atau menginfakkan rezekinya.

Kini, agar dapat memudahkan Anda untuk bersedekah, LAZNAS NH Zakat Kita hadir dengan platform zakat,infak, dan sedekah yang mudah lewat zakatkita.org . Di platform zakatkita.org Anda bisa memilih program kebaikan yang sesai dengan Anda, dan pilihan program kebaikan yang banyak dan beragam. Melalui platform zakatkita.org bersedekah, infak dan zakat menjadi lebih mudah dan praktis, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dan juga, pemilih metode transaksi yang mudah dapat mempermudah Anda. Mulai dari Gopay, VA, atau transfer.

Yuk bersama-sama #BerbagiKebaikan mudah lewat zakatkita.org

Kemenangan Tak Terlupakan

Kemenangan Tak Terlupakan

Oleh: Kholaf Hibatulloh, Direktur Program NH. Tentang Kemenangan Tak Terlupakan

Ramadhan 1441 H ini akan kita kenang sebagai bulan Ramadhan yang sangat berkesan. Pada bulan Ramadhan 1441 H ini, Allah ta’ala  tidak hanya mengajarkan bagaimana menahan nafsu dunia. Tetapi kita juga dihadapkan pada persoalan pelik yang itu juga dialami oleh semua orang.

Alhamdulillah, kini Syawal telah tiba. Hari raya pun kita rayakan dengan situasi dan kondisi yang berbeda  (asumsi saya hari raya dirayakan dengan protokol kesehatan yang ketat.  Artikel ini saya tulis saat masih dalam bulan Ramadhan).

Banyak yang  tidak bisa pulang kampung ataupun mudik. Media video call pun menjadi alternatif untuk bisa bertatap muka, meskipun tidak langsung. Dan meski tetap tidak bisa menggantikan rasa rindu yang memuncak.

Orangtua yang anaknya merantau, ataupun sebaliknya. Seorang Ayah yang harus bekerja jauh untuk menafkahi anak dan istri di rumah. Mereka tidak bisa pulang karena syarat ketat dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan menularnya Covid-19.

Hal ini pun dirasakan oleh jutaan orang di negeri ini. Bukan hanya saya ataupun Anda. Sehingga kita tidak perlu terlalu bersedih. Kita syukuri dan nikmati saja proses hidup yang memang sudah Allah ta’ala takdirkan ini.

Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum dimana kita kembali fitrah atas segala kesalahan yang kita lakukan. Semoga Allah  ta’ala jadikan hati ini semakin tenang, lapang dan hanya bergantung kepada-Nya semata.

Sebulan penuh kita berperang melawan hawa nafsu. Namun jika Anda sadar, Ramadhan taun ini lawan kita sebenarnya  tidak hanya hawa nafsu, tapi juga soal kepedulian.

Pada saat semua orang mengalami ujian Covid 19, begitu juga Anda. Apakah hal ini semakin membentuk kepedulian antar manusia tambah membuncah atau justru membuat kita semakin individualis?

Hanya kita sendiri yang bisa menjawab.

Jika kita masuk kategori yang semakin terbentuk kepeduliannya, berarti Anda menang telak. Ibarat di sepak bola, Anda menang telak atas lawan Anda dengan skor 2 : 0. Kemenangan  telak ini tentu tidak akan pernah Anda lupakan. Karena kemenangan yang sangat berkesan. Kemenangan Ramadhan yang tidak hanya menguatkan hubungan antara hamba kepada Allah ta’ala, tetapi juga hubungan antar hamba.

Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah  yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Keluarga sejuk Nurul Hayat, saya mewakili manajemen Yayasan Nurul Hayat mengucapkan selamat  Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Mari bersama melanjutkan kebaikan yang telah kita rangkai selama ini. Melalui program kemanfaatan yang dikelola oleh Yayasan Nurul Hayat melalui LAZNAS NH Zakat Kita.

Kami sadar,  semua yang ada saat ini adalah berkat doa Anda melalui amanah zakat, infak,  sedekah.  Dan tentu juga doa dari mereka yang  menjadi penerima manfaat. Kami hanya sebagai penghubung. Agar amanah Anda bisa tepat sasaran kepada yang membutuhkan. Semoga apa yang Anda percayakan kepada LAZNAS NH Zakat Kita dapat mensucikan harta yang  ada di tangan dan juga menjadikan keshalehan pada keluarga Anda.

Oh ya. Klik zakatkita.org

Rasakan kemudahan zakat, infak, sedekah dan donasi kemanusiaan melalui platform NH Zakat Kita. Salam..

Jangan Lupa Isi Hatimu

Jangan Lupa Isi Hatimu

OLEH: EVIE  SILFIA  ZUBAIDI

Dalam kitab Fawaaidul Fawaai, Imam Ibnul Qaayyim Al-Jauziyah menyebutkan bahwa setidaknya ada empat pilar kekufuran yang kadang bercokol di dalam diri manusia. Keempat pilar tersebut adalah sifat sombongdengkimarah dan syahwat.

1. Kesombongan akan menghalangi seorang hamba untuk bersikap tunduk dan patuh.

2. Kedengkian akan menghalangi seorang hamba untuk menerima nasihat, apalagi melaksanakannya.

3. Kemarahan akan menghalangi seorang hamba untuk berlaku adil.

4. Syahwat akan menghalangi seorang hamba untuk tekun dalam beribadah.

Selanjutnya beliau berkata, “Sungguh melenyapkan gunung dari tempatnya lebih mudah daripada melenyapkan keempat pilar kekufuran tersebut dari dalam diri seseorang. Bila keempat hal tersebut telah bercokol dalam hatinya, maka amalannya tidak ada lagi yang benar dan jiwanya pun tidak akan pernah bersih.”

Untuk itu jangan lupa isi hatimu. Dengan apa?

Dengan mengenal Allah ﷻ. Karena Allah ﷻ adalah sumber kebaikan dan motivasi terbaik untuk melakukan kebaikan. Dan kebaikan itulah yang akan menghadirkan iman dalam hatimu.

Karena mencintai iman dan menjadikan keimanan di dalam hati merupakan puncak keimanan.

Karena bagi orang yang beriman, mencintai kebaikan dan membenci kejahatan merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Orang yang beriman tidak bisa mencintai kebenaran sekaligus kejahatan.

Demikian pula sebaliknya, orang beriman tidak bisa membenci kekufuran sekaligus mencintai keimanan. Untuk itu jangan lupa isi hatimu. Sebagaimana

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kebaikan itu mendatangkan ketenangan, sedang kejelekan itu senantiasa memunculkan kegelisahan.”  (HR. Al Hakim).

Untuk itu anakku, jangan lupa isi hatimu. Dengan kebesaran Allah ﷻ. Karena kotornya hati tidak lebih dari tidak mengenal Allah ﷻ. Karena rusaknya hati, bersebab tidak mengetahui tentang perjalanan iman.

Mari kita perlahan memaknai kejahatan-kejahatan hati. Bahwa kemarahan itu tak ubahnya seperti binatang buas, yang apabila dilepaskan oleh pemiliknya, niscaya ia akan menerkam dirinya.  Syahwat itu tak ubahnya api, bila api itu dinyalakan, niscaya akan membakar dirinya. Kesombongan itu, layaknya seorang yang berhasil merebut kerajaan kita, yang jika tidak membinasakan kita, ia pasti akan mengusir kita dari kerajaan kita sendiri. Adapun kedengkian, sifat ini diibaratkan dengan memusuhi orang yang lebih mumpuni atau ahli daripada kita.

Untuk itu anakku, jangan lupa isi hatimu dengan mengenal Allah ﷻ sampai tumbuh kokoh imanmu. Sampai bersih hatimu. Sampai engkau menyukai kebaikan dan membenci keburukan.

Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwa dan kamu tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim).

“Tanyakan pada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu tentram, sedangkan dosa adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu gelisah meskipun orang lain berulang kali membenarkanmu.” (HR. Ahmad).

Dikisahkan, Rasulullah ﷺ sedang duduk-duduk bersama sahabat-sahabatnya. Beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga.” Baru saja Rasulullah ﷺ diam dari sabdanya, tampak seorang sahabat Anshar datang. Jenggotnya masih basah terkena bekas air wudhu. Dan terlihat tangan kirinya sedang menenteng kedua sandal yang ia punya.

Keesokan harinya, Nabi Muhammad ﷺ kembali mengatakan satu hal yang sama persis, dan muncul kembali orang dengan ciri-ciri yang sama seperti kemarin. Hal yang sama persis seperti ini kembali terulang hingga pada hari ketiga. Pada hari ketiga tersebut, usai Rasulullah ﷺ berdiri meningalkan majelis, salah seorang sahabat, Abdullah bin Amir bin Al Ash membuntuti orang yang dimaksud Rasulullah ﷺ tersebut dan berkata, “Aku sedang punya masalah dengan ayahku. Dan aku berjanji untuk tidak masuk rumahnya selama tiga hari. Bolehkah aku menginap di rumahmu sampai tiga hari?” “Ya, silakan,” jawab lelaki yang Rasulullah ﷺ pastikan akan masuk surga itu.

Abdullah bin Amr bin al Ash kemudian menginap di rumah lelaki tersebut selama tiga hari. Ia menyebutkan, “Tidak ada yang istimewa dari lelaki itu. Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya mengatakan apapun kecuali dengan ucapan yang baik.” Maka ia pun berterus terang kepada laki-laki Anshar itu, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara aku dan ayahku tidak ada masalah. Tapi aku mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan hingga tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga.’ Lantas engkaulah yang tiba-tiba datang.

Hal itu yang mendorongku untuk menginap di rumahmu supaya aku bisa melihat dan meniru amalmu. Namun aku justru tidak melihatmu melakukan banyak amal. Sebenarnya amalan apa yang yang mengantarmu, hingga pada derajat sebagai mana sabda Nabi ﷺ bahwa engkau min ahlil jannah?”

Lelaki itu berkata, “Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah ﷻ berikan kepadanya.”Mendapat jawaban ini, Abdullah menimpali, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau menjadi penduduk surga. Dan inilah yang kami tidak mampu.”

NH Zakat Kita

Balita versus Kita

Balita versus Kita

Oleh @nurulrahma tentang Balita versus Kita

Saya selalu takjub tiap kali melihat ponakan-ponakan saya belajar jalan. Melihat kegigihan anak sekecil itu, melihat jatuh-bangun mereka sampai akhirnya berhasil berjalan sendiri itu betul-betul pengalaman yang mengharukan!

Awalnya, saya hanya merasa amazed melihat anak sekecil itu sudah mulai berdiri, merembet, dan pelan-pelan belajar berjalan. Seperti melihat boneka lucu yang bisa jalan aja gitu. Lalu biasanya di awal, mereka akan sering jatuh-bangun. Kadang karena hilang keseimbangan, kadang karena mereka kelihatan sedang capek dan mau istirahat dulu. Kadang mereka sampai terjatuh, kadang mereka terlihat kesal dengan dirinya sendiri, kadang mereka juga sampai menangis saat jatuh dan kesakitan.

Meski demikian hebatnya, berapa kali pun mereka terjatuh, mereka akan bangkit untuk mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya mereka mulai bisa berjalan dan berlari kencang.

Melihat kegigihan mereka membuat saya berpikir, “Apa jadinya jika mereka kapok lalu menyerah dan enggak mau mencoba lagi?”

Dan saya juga berpikir, “Jika anak usia satu tahun saja bisa punya kegigihan seperti itu, kenapa kita yang sudah duduk di bangku SMA atau kuliah tidak bisa mempunyai kegigihan yang sama?”

Memang benar masalah kita sekarang sudah jauh lebih besar daripada sekadar belajar jalan, tapi kemampuan dan pengalaman yang kita miliki juga sudah jauh lebih banyak daripada anak usia satu tahun. Tidak seharusnya kita yang sudah dewasa ini mudah kapok saat terjatuh dan mudah menyerah begitu saja baik itu dalam hal pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Jika hari ini kita bisa berjalan dengan lancar, ingat bahwa hal itu adalah buah dari kegigihan kita belajar jalan saat balita dulu.

Jika dulu kita memutuskan untuk terus mencoba lagi, kenapa sekarang kita jadi lembek dengan menyerah begitu saja?

Rasa kesal, sakit, dan trauma akan selalu datang dengan sepaket dalam proses pembelajaran kita. Dari usia kanak-kanak sampai lanjut usia nanti akan tetap sama jalan ceritanya, yang berbeda hanya tingkat kesulitannya saja. Itulah sebabnya penting untuk kita bertambah kuat seiring bertambahnya usia. Kita harus bisa menjadi manusia yang lebih besar supaya kita juga sanggup menghadapi masalah yang lebih besar. Pastikan kita akan selalu cukup kuat untuk lulus dari tiap tahap ujian kehidupan.

Berapapun usia kita saat ini, ingat selalu bahwa segala hal yang terbaik dalam hidup ini memang tidak pernah mudah untuk menjalankannya. Jangan manja dan jangan mudah putus asa! Jika kita jatuh 100 kali, bangkit lagi 100 kali, lagi dan lagi dan lagi.

Yap, terkadang saya selalu berpikir, “Kayaknya saya mau menyerah aja.”“Saya mau kibarkan bendera putih aja.”

“Sepertinya, saya memang makhluk yang tiada gunanya.”

Bahkan kerap kali, saya mempertanyakan mengapa untuk hal-hal kecil, sederhana bin remeh temeh aja, saya terkadang clueless, tidak bisa mengambil keputusan secara bijak, tangkas, dan tepat!

NH Zakat Kita

Berjumpa Nabi Setiap Hari

Berjumpa Nabi Setiap Hari

Ada banyak keutamaan bersholawat. Keutamaan yang satu ini, sangat disenangi oleh para pencinta nabi ﷺ. Yaitu, menghadapnya kita kepada ruh nabi ﷺ setiap kita membaca shalawat.

Kalau orang-orang shalih yang meninggal dunia saja, ruhnya dinyatakan hidup dan bisa menyaksikan orang-orang yang hidup di dunia, apalagi para nabi. Apalagi Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ mendapatkan tempat utama. Mendapat jalur istimewa, menjumpai ruh ummatnya. Dalam mimpi. Dan juga saat menerima shalawat dari ummatnya.

Beliau juga bersabda, “Tidaklah seseorang yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah akan mengembalikan ruhku sehingga aku bisa menjawab salam tersebut.” (HR. Abu Daud).

Ini dikuatkan oleh hadits Rasulullah ﷺ yang lain, “(Arwah) para nabi itu hidup di dalam kubur mereka, mereka itu shalat.” (HR. Al-Bazzar).

Bagaimana keadaan nabi ﷺ saat dikembalikan ruh beliau, ini adalah perkara ghaib. Terutama dalam mekanisme alam ruh. Kita tidak mengetahuinya. Allah ta’la  berfirman,  “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (Al Ahzab: 58).

Agar tak menjadi polemik yang kemudian mengaburkan esensi, maka makna menghadapnya kita dengan Rasulullah ﷺ, kita kembalikan saja kepada pemahaman bahwa itu diluar jangkauan akal kita. Allah ta’ala lebih tahu, tanpa kita harus melogikakan tentang bagaimananya.

Yang pasti, kita yakin dengan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ tersebut. Bahwa kalau kita tiap pagi membiasakan membaca shalawat. Berarti kita adalah orang yang pagi harinya senantiasa “berjumpa” dengan Rasulullah ﷺ.

Kita yang hidup di waktu setelah Rasulullah ﷺ wafat, sangat merindukan perjumpaan dengan Rasulullah ﷺ. Perjumpaan di dunia, bisa terjadi melalui mimpi. Karena bermimpi berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, adalah perjumpaan sesungguhnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Istimewa sekali seseorang yang Rasulullah ﷺ berkenan menjumpainya di alam mimpi. Setidaknya ia berada dalam dua keadaan. Pertama, karena ia adalah orang sholeh. Yang keshalihannya membuat ia istiqamah menjalankan sunnah nabi ﷺ. Senantiasa bersholawat kepada nabi ﷺ. Dan tentu saja sangat cinta dan merindukan nabi ﷺ. Keadaannya itu, membuat Rasulullah ﷺ berkenan hadir kepadanya dalam mimpi. Sebagai obat kerinduan bagi mereka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya.”

Sebagian lain dijumpai Rasulullah ﷺ dalam mimpinya bukan karena ia seorang yang shalih. Akan tetapi, melalui sebab mimpi berjumpa dengan Rasulullah ﷺ itulah, kelak akan menjadikan ia lebih baik. Ini mungkin tidak sebanyak kelompok pertama. Yang pasti, tidaklah nabi ﷺ hadir dalam mimpi kecuali ada manfaat yang akan diterima oleh pemilik mimpi tersebut.

Bagaimana dengan yang belum mendapat karunia mimpi bertemu Rasulullah ﷺ?

Perbanyaklah sholawat. Karena dalam bersholawat, ruh kita dan ruh Rasulullah ﷺ saling berhadapan. Bersholawatlah dengan keyakinan tersebut. Lakukanlah dengan khusyuk dan perasaan tawadhu. Karena tidaklah nabi ﷺ mengabarkan tentang dikembalikan ruhnya itu kecuali agar kita termotivasi dan berbahagia dengan sholawat.

Memang berbeda sekali dengan ketika seseorang dijumpai Rasulullah ﷺ dalam mimpi. Saat itu, kesadaran dzahir kita “mati”, sehingga ruh kita tak terhijab untuk memperhatikan perjumpaan dengan ruh Rasulullah ﷺ. Sedangkan saat kita dalam kondisi sadar (tidak tidur) justru kesadaran dzahir inilah yang menghijab kita dari Rasulullah ﷺ. Namun tidak demikian dengan Rasulullah ﷺ sendiri. Atas izin Allah ﷻ, baginda Nabi ﷺ menjawab salam ummatnya yang bersholawat kepada beliau.

Dalam riwayat Sayyidina Abu Bakar, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena Allah Ta’ala menugaskan seorang Malaikat dikuburku. Jika salah seorang dari umatku bershalawat kepadaku, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya fulan bi

NH Zakat Kita

Qurban New Normal

KOLOM Juli 2020 – Kholaf Hibatulloh (Direktur Program Nurul Hayat) tentang Qurban new normal

Qurban new normal

Adaptasi atas dampak Covid-19 harus kita lakukan. Termasuk juga adaptasi dengan situasi pandemi, pada saat pelaksanaan ibadah qurban nanti. Untuk kenyamanan Anda dan keluarga, tentu harapannya ibadah qurban nanti bisa dilakukan dari rumah saja. Tidak perlu keluar. Bisa pesan dari rumah. Qurban salur atau pun kirim ke rumah.

Nurul Hayat saat ini kembali menghadirkan berbagai kemudahan. Kami menghadirkan zakatkita.org/qurban dan kandang.id sebagai solusi Anda dan keluarga dalam menunaikan ibadah qurban di tengah pandemi ini.

Layanan yang berada di alamat website www.zakatkita.org/qurban hadir bagi Anda yang ingin qurbannya disalurkan ke daerah yang kekurangan daging qurban. Sistem pemesanannya mudah. Juga bisa pilih lebih dari satu jenis hewan. Seperti sapi dan kambing. Bisa juga pilih lebih dari satu ekor. Sangat mudah.

Ditambah lagi, Anda akan mendapatkan kemudahan metode pembayaran yang  sesuai pilihan Anda. Anda juga akan mendapatkan laporan penyaluran hewan qurban dalam waktu sekitar 7 hari sejak pemotongan hewan qurban.

Pada tahun lalu, Alhamdulillah, qurban kita telah disalurkan di 21 provinsi dengan total penerima qurban sebanyak 146.330 kepala keluarga. Tahun 2020 ini, qurban Anda kami targetkan dapat tersebar di 33 provinsi di Indonesia.

Bagi Anda yang ingin hewan qurbannya dikirim ke rumah, kami membuka layanan di alamat website kandang.id yang merupakan kandang  virtual  terbesar. Tersedia ribuan ekor hewan qurban yang  bisa Anda pesan dari rumah. Karena sistemnya real time stock, jangan sampai stock hewan yang Anda pilih keduluan orang lain.

Untuk saat ini ketersediaan hewan di kandang.id hanya berada di kota yang terdapat perwakilan kantor Nurul Hayat. Tentu ini demi kemudahan dalam pengiriman hewan qurban kepada Anda dan keluarga. Sehingga rasa nyaman dan mudah bisa semakin Anda rasakan.

Kedua hal tersebut sesuai dengan surat  edaran Dinas Peternakan dan diperkuat oleh surat edaran Kementerian Agama tentang pelaksanaan qurban di tengah pandemi saat ini. Dimana cashless dan contactless menjadi poin penting dalam surat edaran tersebut.

Qurban new normal  sebagai adaptasi dalam menunaikan ibadah qurban saat ini, harus kita lakukan demi keamanan dan kenyamanan Anda dan keluarga.

Mau qurban disalurkan ke desa minus?  zakatkita.org/qurban, jawabnya. Atau mau  qurban dikirim ke rumah atau lokasi pemotongan qurban di sekitar rumah? kandang.id, solusinya.

Kami sangat memahami atas apa yang anda rasakan. Dimana kegiatan ibadah harus dilakukan, namun keadaan tidak memungkinan untuk bisa berinteraksi langsung.

Tak bisa dimungkiri, keramaian dalam memilih hewan qurban memang menjadi hal menarik tersendiri. Terutama bagi Anda yang memiliki buah hati. Tentu ini juga menjadi pembelajaran dalam berqurban. Mari kita melihat sisi hikmah yang Allah ta’ala hadirkan untuk keluarga atau buah hati kita. Dimana pada masa ini, keluarga dan buah hati tetap bisa berqurban walaupun hanya dari rumah.

Selamat melaksanakan ibadah qurban . Selamat berbagi kemanfaatan bagi mereka yang tidak bisa berqurban. (*)

Percaya Itu Perlu Kerja Keras

Percaya Itu Perlu Kerja Keras

Oleh Evie Silfia Zubaidi tentang Percaya Itu Perlu Kerja Keras

Suatu hari, Nabi Sulaiman sedang berjalan-jalan. Lalu beliau melihat seekor semut sedang berjalan sembari mengangkat sebutir kurma. Nabi Sulaiman pun terus mengamati semut tersebut. Kemudian beliau memanggil semut itu sembari bertanya, “Hai semut kecil, untuk apa kurma yang kau bawa itu?” Si semut menjawab, “Ini adalah kurma yang Allah berikan kepadaku sebagai makananku selama satu tahun,” demikian semut itu berkata dengan lugas.

Nabi Sulaiman kemudian mengambil sebuah botol dan berkata kepada si semut, “Wahai semut,  kemarilah! Masuklah ke dalam botol ini, aku akan memberimu satu butir kurma untuk makananmu selama satu tahun. Dan tahun depan, akan akan datang kembali untuk melihat keadaanmu.”

Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman, karena beliau adalah penguasa saat itu. Setahun berlalu. Sesuai janjinya, Nabi Sulaiman datang kembali untuk melihat keadaan si semut. Namun Nabi Sulaiman heran, karena melihat kurma yang ia berikan tidak banyak berkurang. Beliau pun bertanya kepada si semut, “Hai semut, mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu?” Kemudian si semut menyampaikan isi hatinya sebagai jawaban atas pertanyaan Nabi Sulaiman.

“Wahai Nabi Allah ﷻ, mengapa kurma ini masih tersisa banyak, karena selama ini aku hanya mengisap airnya dan aku juga banyak berpuasa. Ya Nabi Allah ﷻ, selama ini Allah ﷻ lah yang memberiku sebutir kurma setiap tahun. Namun kali ini engkau yang  memberiku kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi, karena engkau bukanlah Allah Al Malik yang Maha Memberi Rezeki,” jawab

Sebuah kisah hikmah yang sangat mengoyak kesadaran. Karena selama ini kepercayaan diri ini di atas rata-rata. Menganggap setiap yang telah dikerjakan karena Allah ﷻ. Dan menganggap semua harapan tersandar hanya kepada Allah ﷻ. Padahal sesungguhnya, semua yang  tampak baik dan benar itu baru sebatas perbincangan dan status di media sosial. Baru sebatas konsep seharusnya. Selebihnya belum terlaksana. Belum bertemu caranya. Sehingga belum bisa mengaplikasikannya.

Anakku, sangat lazim kata-kata kita ini muncul, “Kerjakan karena Allah ﷻ dan berharaplah kepada Allah ﷻ. Karana kalau kau berniat dan berharap karena Allah ﷻ, tidak akan ada yang mampu mengecewakanmu.” Nasihat bijak ini sesungguhnya tidaklah mudah sebagaimana diucapkan. Bahkan amatlah sulit. Mengapa? Karena kita terbiasa bekerja bukan untuk  Allah ﷻ. Maafkan bunda, karena begitulah yang sebenarnya.

Kalau kalian tengok, begitu banyak manusia-manusia pandai, yang  menghasilkan penemuan-penemuan dan karya-karya hebat yang memberi manfaat serta sumbangsih kepada banyak manusia. Atau mungkin kita, dalam keseharian berpeluh dengan segala macam kesibukan dan kerepotan, sibuk dan merasa penting. Namun sayangnya yang terlihat baik dan bermanfaat itu bukan karena mencari ridho Allah ﷻ. Tapi hanya memenuhi kesenangan diri yang tak pernah ada habisnya.

Kalaupun ada pernyataan, semua jerih payah ini untuk keluarga, untuk anak-anak, untuk kehidupan yang lebih baik. Atau semua perjuangan ini untuk ummat, itu tidak lebih hanya bentuk dalih untuk melegalkan, bahwa bersibuk dan berjibaku dengan dunia itu adalah kepatutan. Karena sudah jamak manusia melakukan.

Keadaan itu sangat jelas digambarkan dalam Alquran, “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al-Kahfi (18): 103-104).

Mereka telah bekerja keras dan bersusah payah, namun usaha mereka sia-sia disebabkan tidak terkait dengan iman dan keikhlasan. Karena tujuannya salah, yang disibukkan salah, maka pengharapannya pun salah. Berharap pada dunia adalah hal yang sangat biasa. Berharap pertolongan manusia sudah menjadi kelaziman. Sehingga terlupa yang paling inti dalam kehidupan, yakni meletakkan harapan kepada  Allah ﷻ. Bahwa tidak ada daya selain karena Allah ﷻ semata.

Kita bisa bukan karena kita punya kemampuan anakku,  kita bisa bukan karena punya kepandaian. Bisa bukan pula karena kita mempunyai daya dari harta,  kedudukan dan pengaruh. Bukan. Bisa itu karena Allah ﷻ membuat itu bisa. Untuk memahamkan hal yang  sepertinya sederhana ini, ternyata perlu kerja keras.

Sejujurnya, apapun pencapaian prestasi yang sudah dihasilkan selama ini, banyak yang mengaku itu karena kemampuan diri. Padahal bukan. Kita harus pandai membedakan ikhtiar dan ketetapan Allah ﷻ. Tugas kita hanyalah ikhtiar. Sedikit dan banyak yang kita upayakan, di situlah letak kita menggantungkan diri kepada Allah ﷻ. Itulah iman.

Namun sekali lagi, untuk memahami iman ini ternyata perlu kerja keras. Perlu belajar yang sangat lama dan tidak pernah ada tamatnya. Sampai kita tahu, bahwa kita ternyata tidak bisa apa-apa kalau tidak Allah ﷻ beri kemampuan. Perlu berlatih terus menerus, sampai kita paham, bahwa kita bukan siapa-siapa sampai Allah ﷻ memuliakan kita dengan apa yang Dia beri. Ternyata menemukan iman itu memerlukan kerja keras.

Dalam sejarah, Imam Nawawi dan Imam Asy Syathibi, juga Imam Ahmad sangat luar biasa menjaga keikhlasan atas apa yang beliau kerjakan. Beliau bertiga tawaf keliling Kakbah sembari membawa kitab karangannya dan berdoa ratusan kali untuk mendapatkan ridho Allah ﷻ atas upayanya. Bahkan kata Imam Syathibi dalam karangannya “Al-Qira’at Assab’u” ia ribuan kali memikirkan keikhlasannya atas apa yang ia kerjakan. Begitulah para alim mengawali pekerjaannya.  Mereka sangat teliti menelisik hatinya, agar apa yang diupayakan semata karena Allah ﷻ, bukan yang lain.

Lalu bagaimana dengan kita anakku? Ternyata kita masih harus belajar keras untuk bisa ikhlas. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan kerikil kecil. Memberatkanya tapi tidak bermanfaat sama sekali.”Seperti kisah semut di atas, yang berkata kepada Nabi Sulaiman, “Ya Nabi Allah ﷻ, selama ini Allah ﷻ lah yang memberiku sebutir kurma setiap tahun. Namun kali ini engkau yang memberiku kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi, karena engkau bukanlah Allah Al Malik yang Maha Memberi Rezeki.”  Ternyata untuk percaya, kita perlu kerja keras, anakku.

Wallahu A’lam Bisshowab.

NH Zakat Kita

Mendidik Anak Sejak Ia Dilahirkan

Mendidik Anak Sejak Ia Dilahirkan

Saat-saat setelah bayi dilahirkan adalah saat-saat paling membahagiakan bagi kedua orangtua. Momen kelahiran bayi khususnya bagi ibu yang melahirkan, adalah momen yang menakjubkan dan dapat memperkuat keimanan kepada Allah ﷻ. Bagaimana seorang ibu harus berjuang dengan rasa sakit yang sangat dahsyat, saat berjuang hanya Allah ﷻ yang terlintas dan hanya Allah ﷻ tempat bergantung. Kini bayi yang dinanti-nantikan telah hadir ke dunia. Menjadi babak baru bagi kedua orangtua. Nah, bagaimana orangtua memulai lembaran baru dalam kehidupan mereka sebagai pemegang amanah dari Allah ﷻ ini?

Anak Adalah Perhiasan Sekaligus Fitnah

Melihat kelucuan dan kepolosan anak, hati orangtua akan terhibur. Kelelahan seorang ibu akan terobati manakala melihat balitanya tersenyum jenaka. Kepenatan ayah akan sirna manakala sepulang kerja disambut gembira buah hatinya. Bayi terlahir dalam keadaan lemah, sehingga ketika ia mulai bisa mengangkat kepala dan tengkurap, alangkah gembira hati orangtuanya. Belum lagi jika anak tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang shalih nan berbakti, pasti hati orangtua merasa bangga dan bahagia.

Begitulah adanya, anak memang perhiasan bagi setiap orangtua dan keluarganya. Binar mata anak-anak yang polos nan lucu bisa melelehkan setiap orang yang menatapnya. Seperti firman Allah ﷻ dalam Al Qur’an: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14).

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Akan tetapi amalan-amalan yang kekal lagi baik adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi: 46).  Pada ayat ini disampaikan, anak adalah perhiasan, namun demikian janganlah kita terlalu mencintai anak sehingga melalaikan, bahkan melalaikan anak dari perintah-perintah Allah ﷻ, hingga akhirnya Allah ﷻ murka kepada kita.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.”  (Al Anfal: 28).

Ada kalanya orangtua terlalu mencintai anaknya dengan cara yang salah. Hingga akhirnya malah melalaikan anak dari perintah Allah ﷻ. Misalnya ketika waktu subuh, orangtua tidak tega membangunkan anak untuk shalat karena takut anak masih mengantuk atau air demikian dingin.

Menunaikan Hak-Hak Anak Setelah Ia Dilahirkan ke Dunia 

Menjadi orangtua adalah dambaan, dan kini impian itu telah menjadi kenyataan. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ﷻ, mari tunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya, berusaha menunaikan hak-hak anak setelah ia dilahirkan.

Adapun hak-hak anak sesaat setelah dilahirkan antara lain:

  •  Mengucapkan Selamat Atas Kelahirannya

Saat seorang bayi dilahirkan, maka dianjurkan mengucapkan selamat atas kelahiran bayi tersebut. Oleh karenanya, marilah kita mengucapkan selamat kepada setiap kelahiran bayi, sebab itu membawa pengaruh positif bagi bayi maupun orangtuanya. Janganlah mencela kehamilan dan kelahiran seorang bayi, apalagi mencela seseorang yang memiliki anak banyak.  Sesungguhnya setiap kehamilan dan kelahiran itu telah ditakdirkan Allah ﷻ. Dan sesungguhnya Nabi ﷺ amat bangga dengan banyaknya jumlah umat Islam.

  • Mengumandangkan Adzan dan Iqamah

Pada saat bayi dilahirkan, seorang ayah hendaknya mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi dan iqamah di telinga kirinya. Agar suara pertama yang didengar bayi adalah kalimat-kalimat yang berisi kebesaran dan keagungan Allah ﷻ serta syahadat. Selain itu adzan juga dapat menghindarkan bayi dari gangguan setan.

  •  Mentahnik

Selanjutnya orangtua hendaknya mentahnik bayi. Tahnik adalah menggosokkan buah kurma pada langit-langit mulut bayi.

Menunaikan Hak-Hak Anak Pada Hari ke-7 Setelah Kelahirannya

Adapun hak-hak anak yang hendaknya ditunaikan orangtua pada hari ke-7 setelah kelahirannya antara lain:

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak (yang lahir) tergadai oleh aqiqahnya yang disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Pada hadits tersebut dijelaskan bahwa seorang bayi yang dilahirkan hendaknya di aqiqahi, diberi nama dan dicukur rambutnya pada hari ketujuh. Mengenai berapa jumlahnya, Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Yazid secara marfu’, “Aqiqah adalah hak yang mesti ditunaikan. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.”

  • Mencukur Rambut Anak

Pada hadits di atas disebutkan bahwa anak hendaknya dicukur rambutnya pada hari ke-7. Selanjutnya rambut anak ditimbang, lalu orangtua bersedekah dengan perak seberat rambut yang ditimbang.

  • Memberi Nama yang Baik

Hendaknya orangtua memberikan nama yang baik bagi anak. Nama yang baik bisa diambilkan dari nama nabi atau orang-orang shalih. Nama yang memiliki makna baik adalah doa bagi anak.

  • Mengkhitan

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Jabir pernah berkata, “Adalah Rasulullah ﷺ mengaqiqahi Hasan dan Husain serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.” Berdasarkan hadits di atas, Hasan dan Husain telah dikhitan pada hari ke-7 setelah kelahirannya,  sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengkhitan anak. Namun tidak mengapa jika karena suatu hal khitan baru bisa dilaksanakan di kemudian hari, asalkan dilakukan sebelum anak memasuki usia baligh. Khitan hukumnya wajib bagi anak laki-laki, namun sunnah bagi anak perempuan.

  • Menyusui Anak Hingga Berusia Dua Tahun

Apa yang lebih membahagiakan selain memberikan asupan gizi terbaik bagi anak sejak ia dilahirkan dan makanan apa yang lebih baik dari ASI. Menyusui bukan hanya perkara pemenuhan gizi, menyusui lebih kepada pemenuhan jiwa bagi anak. Oleh karena ibu yang sedang menyusui bayinya diharapkan untuk menghadirkan hatinya untuk sang bayi, diawali dengan mengucapkan bismillah, menatap mata bayi dan memberikan usapan dengan penuh kasih sayang.

Bukan hanya bayi yang merasa bahagia, ibu pun akan merasakan kebahagiaan saat melakukannya. Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

 

PELATIHAN SKILL BEKAM UNTUK GURU AL QURAN

PELATIHAN SKILL BEKAM UNTUK GURU AL QURAN

Pelatihan skill bekam untuk guru al qur’an. Bekam adalah salah satu metode pengobatan yang di wariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun sayang nya, tidak semua orang islam mengetahui dan paham tentang metode ini.

Dalam rangka untuk mensyiarkan metode pengobatan ala Nabi, maka NH Zakat Kita mengikutkan 5 ustadz/ ustadzah Guru Al Quran binaan dalam pelatihan bekam Sunnah. Acara yang diadakan oleh Yayasan Insan Yahya Madani Semarang ini berlangsung selama 2 hari (5-6/09) di Rumah Tahidz Yasmin, Jalan Ganesha Utara 3 No 334.

Acara di isi oleh Ir Suryono selaku pengurus PBI (Perhimpunan Bekam Indonesia) Jawa Tengah. Para peserta di ajarkan tentang banyak hal seputar bekam. Mulai dari pemahaman aqidah dalam pengobatan, diagnosa dan patofisiologi, hingga SOP (standart operating procedure) dalam melakukan bekam. Selain teori-teori, mereka juga melakukan praktik membekam dan dibekam dengan sesama peserta pelatihan.

“Alhamdulillah luar biasa tambah ilmu dan ketrampilan tentang bekam. Terima Kasih kepada NH Zakat Kita Cabang Semarang yang telah menfasilitasi kami ikut pengembangan skill dalam pelatihan bekam ini,” ujar Imron Rasyid selaku salah satu ustadz binaan NH

Insya Allah setelah pelatihan 2 hari kemarin, para binaan NH tersebut akan mengikuti proses pembinaan praktek bekam lebih lanjut. Khusus untuk 3 orang yang menunjukkan hasil maupun perkembangan yang baik maka akan diberikan reward berupa seperangkat alat bekam lengkap. Dan tidak menutup kemungkinan juga akan ada pendampingan sampai dengan memiliki izin praktek bekam sendiri.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya