Percaya Pada Allah akan Masa Depan

 

Setiap harinya, dalam pikiran manusia kerap dipenuhi dengan bayangan-bayangan dimasa depan. Namun terlalau memikirkan masa depan, sama seperti membeli furnitur rumah yang bahkan belum dibangun. Ketika furnitur itu sudah berada ditangan, kita sudah tidak punya tempat untuk mewadahinya. Akibatnya, barang-barang itu akan memadati hidup dimasa sekarang.

Dengan kata lain, terlalu sering memikirkan masa depan sama artinya mengisi hari-hari dalam pikiran, perhatian, antisipasi, dan keccemasan yang mungkin tidak akan terjadi. Dalam sebuah artikel yang diunggah di About Islam, manusia kerap terburu-buru menuju masa depan demi sesuatu yang disebut sebagai kebaikan. Saat masih anak-anak, tidak sedikit yang ingin cepat besar sehingga bisa bermain dengan teman-teman lain yang lebih tua.

Pun saat remaja, kita tidak bisa menunggu untuk menjadi dewasa dan bebas dari batasan orang tua. Nantinya saat dewasa, manusia sudah bermimpi tentang masa pensiun ketika akhirnya dapat menikmati semua waktu luang yang ada.

Manusia kerap memiliki kecenderungan bergegas ke masa depan demi kebaikan yang dirasa ada di sana.  Tetapi tidak ada yang bisa menjamin hari esok. Tidak ada jaminan apa pun darinya. Ketika kita menaruh terlalu banyak harapan di hari esok, hal ini berisiko membawa hasil yang berbahaya. Manusia akan mulai merasa berhak atas masa depan tertentu yang mungkin tidak pernah datang.

Ketika masa depan yang diharapkan itu tidak terjadi, manusia bisa menjadi sangat emosional dan sengit. Lebih parah, manusia bisa kehilangan momen menikmati berkah yang didapat di momen saat ini.

Allah SWT telah memberi tahu tentang itu dalam Alquran dengan sangat jelas. Dalam QS An-Nahl ayat 1, Allah SWT berfirman, “Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.

Ayat ini mengingatkan tentang hari akhir yang tidak diketahui dan bisa diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang akan telah diatur akan datang pada saatnya. Manusia diminta untuk sabar hingga saatnya tiba.

Jika harus menjalani hidup dengan berpikir dan berharap untuk masa depan, hal ini dapat dilakukan dengan mengingat kita akan menerima yang baik di kehidupan selanjutnya, untuk kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan ini. Namun, kita hanya bisa bertemu dengan kesenangan di akhirat dengan mengambil tindakan di masa sekarang.  Jadi mari berharap untuk rahmat Allah dan menyerahkan masa depan kehidupan ini kepada kehendak Allah.

Alasan lain seorang manusia memikirkan masa depan karena memikirkan kemungkinan kejahatan yang bisa saja terjadi. Sebagai manusia, kita sering menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan hal-hal buruk apa yang akan terjadi di depan.

Saat masih anak-anak, kita khawatir tentang waktu tidur dan monster yang mungkin menunggu kita dalam gelap. Sebagai remaja, muncul kekhawatiran akan pekerjaan dan pernikahan. Setelah dewasa, terpikirkan hal-hal seperti kemiskinan, penyakit, dan yang lain.

Khawatir tentang masa depan adalah sesuatu yang hampir semua orang lakukan. Namun tidak peduli berapa banyak asuransi yang dibeli dengan tujuan melindungi diri dari apa yang akan datang, manusia tidak dapat mengubah kehendak Allah SWT untuk masa depan.

Nabi Muhammad SAW juga tidak bisa mengetahui masa depannya atau mengubahnya. Allah SWT berfirman dalam Alquran QS Al-A’raf ayat 188, “Katakanlah (hai Muhammad), “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Dibalik ke khawatiran itu seharusnya manusia paham bahwa setan-setan memanfaatkannya seperti Nabi Muhammad umat-Nya tidak memiliki kuasa atas apa yang terjadi dimasa depan. Allah SWT pun memberi tahu dalam alqur’an surat Al-baqarah ayat 268 “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. 

Baca Juga : Report Jaring Ramdhan

Baca Juga : Amal Jariyah

Seringkali, cara ini adalah trik yang efektif. Berapa banyak yang telah melakukan perbuatan haram karena takut akan kemiskinan, sementara ketakutan itu sama artinya dengan kehilangan kesempatan untuk percaya kepada Allah SWT?

Berapa banyak manusia yang menjadi kikir karena mereka takut akan malapetaka, sementara pikiran itu menghilangkan kesempatan untuk Allah SWT ganti berkali-kali karena telah berbagi dalam amal? Berapa banyak yang menjadi frustrasi dan kecewa dengan mencoba memaksakan hasil di masa depan yang tidak tertulis, sementara kehilangan berkat saat ini?

Kekhawatiran yang ada pada[ manusia sama saja dengan meremehkan kebijaksanaan dan kemampuan Allah SWT untuk menyediakan masa depan. Jika umat Muslim harus khawatir tentang masa depan, Hari Penghakiman adalah satu-satunya masa depan yang kita tahu pasti dan layak untuk dicemaskan.

Manusia bisa berusaha mencegah hasil yang buruk dengan mengambil tindakan saat ini. Takutlah akan hukuman Allah dan tinggalkan urusan masa depan kehidupan sesuai atas kehendak Allah SWT. Yang bisa manusia lakukan saat ini hanyalah bersiap dan biarkan mengalir seperti yang telah ditetapkan. Namun, bukan berarti pula menusia berpasrah tanpa berusaha.

Berusaha mencari cara adalah bagian dari kehidupan. Seperti yang kita lihat dalam hadits riwayat Tirmidzi berikut : “Suatu hari Nabi Muhammad melihat seorang Badui meninggalkan untanya tanpa mengikatnya. Nabi lantas bertanya kepada orang Badui itu: ‘Mengapa kamu tidak mengikat unta kamu?‘ Orang Badui itu menjawab: ‘Saya menaruh kepercayaan pada Allah’. Nabi kemudian berkata: Ikatkan unta Anda terlebih dahulu, kemudian taruh kepercayaan Anda kepada Allah”.

Dalam hidup, manusia harus mencari cara memudahkan kehidupan. Meninggalkan masa depan bukan berarti tidak melindungi diri sendiri dari bahaya kehilangan milik kita.

Ketika manusia menyibukkan pikiran dengan masa depan, terkadang membuat kita melupakan kebijaksanaan dan kemampuan tertinggi Allah SWT. Manusia jadi merindukan berkah masa kini; membuang-buang waktu, dan kehilangan kesempatan mempersiapkan akhirat.

Baca Juga : Bersedekah dengan Sebutir Kurma

Pentingnya Menuntut Ilmu

pentingnya menuntut ilmu

Pentingnya Menuntut Ilmu – Dalam bahasa, Ilmu berasal dari aksara arab yang memiliki makna mengetahui. Dilansir dari buku berjudul “Agar Menuntut Ilmu jadi Mudah” oleh Abdul Hamid M Djamil, Lc. Menurut muslim A kadit, “Ilmu merupakan kumpulan sistematos sejumlah pengentahuan tenatng alam semesta yang diperoleh memalui kegiatan berpikir.” 

Sedangkan itu, Zainudin Sardar mendefinisikan ilmu dengan,“Cara mempelajari alam secara objektif dan sistematis serta ilmu merupakan suatu aktivitas manusia.”

Ilmu pengetahuan itu baik secara khusus ilmu agama maupun i;lmu pengetahuan secara umum merupakan bahian dari ciri khas manusia.

Dari Abu Hurairah R.A berkata rasulullah SAW bersabda : “apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakan kepadanya (HR. Muslim)

Ilmu bermanfaat yang dimaksud dalam hadits di atas adalah seseorang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, lalu mengamalkan atau diajarkan lagi kepada orang lain sehingga ia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya meskipun yang mengajarkan telah meninggal dunia.

Mengutip dalam buku “Hadis Tarbawi, Hadis-hadis Pendidikan” oleh Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, ilmu pengetahuan yang bermanfaat adalah segala ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain dan dapat menambah ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Hukum Mencari Ilmu

Ilmu memiliki kedudukan, Abdul Qadir’isa alam bukunya “Haqaaiqu At-tasawur” menyebutkan hukum mencari ilmu dapat dibagikan dalam tiga kategori yakni wajib, sunnah, dan haram.

Wajib

Para ulama mengklasifikasikan ilmu yang wajib dan dibagi dalam dua bagian yaitu wajib’ain dan wajib kifayah

  1. Wajib ‘ain

Menuntut ilmu disebut wajib ‘Ain adalah sebuah perintah wajib yang ditunjukan kepada setiap individu. Ilmu yang diperintahkan dengan perintah wajib ‘ain adalah ilmu-ilmu yang harus dipelajari oleh setiap orang Islam, yang jika tidak dipelajari, hukumnya berdosa.

Salah satu ilmu yang wajib dipelajari adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang eksistensi ketuhanan, kenabian dan alam gaib. Imu Fiqih yaitu ilmu yang mengupas tata cara beribadah. Sedangkan ilmu Tasawuf yaitu ilmu yang menjelaskan cara menjaga amal ibadah agar tidak sirna.

2. Wajib kifayah

Wajib Kifayah adalah sebuah peintah wajib yang ditunjukan kepada sebuah kelompok. Ilmu kfayah dipelajari adalah ilmu yang berfungsi untuk kesejahteraan manusia. Seperti meneladani Ilmu Fikih agar bisa mengajari orang lain, mempelajari Ilmu Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Fiqih, Ilmu Hitung, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kontraktor, Ilmu Biologi hingga Ilmu Pertanian yang semuanya berfungsi untuk kepentingan masyarakat luas.

Baca Juga : Sedekah Alas Surga

Jaring Ramadhan

Sunnah

sunnah merupakan sebuah perintah yang ditunjukkan kepada seluruh umat islam. Diantara ilmu yang hukumnya sunnah untuk dipelajari antara lain untuk mengetahui fadhailul ‘amal (tingkatan amal), ilmu untuk mengetahui ibadah sunnah dan ilmu untuk mengetahui perkarra-perkara yang makruh dalam agama.

Haram

Haram adalah perintah untuk meninggalkan sesuatu. Ilmu yang dilarang dengan tegas (haram) untuk dipelajari adalah ilmu-ilmu yang merusak atau mengganggu kehidupan orang lain seperti ilmu sihir, ilmu mantra dan ilmu-ilmu yang bertujuan untuk merusak agama islam.

Dilansir dalam Universitas Islam Indonesia, Dosen FTI UII, Ustaz Kholid Haryono, M.Kom menyampaikan bahwa segala urusan yang ada di dunia harus diniatkan untuk ibadah. “Tidak ada urusan dunia semuanya adalah urusan akhirat, apapun amal kita pilihannya adalah ibadah,” jelas Ustaz Kholid.

Salah satu bentuk ibadah adalah menuntut ilmu. Islam akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

“Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia wajiblah memiliki ilmunya, dan barang siapa ingin selamat dan berbahagia di akhirat wajiblah ia memiliki ilmunya pula dan barang siapa ingin keduanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula,” jelas Ustaz Kholid dalam laman Universitas Islam Indonesia.

5 Keutamaan Silahturahmi dalam Islam

keutamaan silaturahmi

Keutamaan Silaturahmi – Salah satu amalan umat muslim untuk menyambung tali persaudaraan. Silaturahmi dapat kita lakukan kapan saja agenda utama saat momen hari raya Idul Fitri atau lebaran.

Umumnya saat lebaran tiba, umat muslim selalu berbondong-bondong untuk mudik atau pulang kampung halaman. seolah mudik telah menjadi salah satu tradisi bagi umat muslim. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyambung silahturahmi dengan keluarga dan sanak saudara

Silahturahmi adalah amalan utama karena mampu menyambungkan apa-apa yang putus. Oleh karena itu, silahturahmi memiliki keutamaan atau manfaat yang luar biasa. Lantas apa saja sih keutamaan dari Silahturahmi untuk kehidupan sehari-hari? simak ulasannya yang dilansir sebagai berikut :

BACA JUGA : Cara Menghitung zakat maal

  • Memperluas Persaudaraan

Salah satu keutamaan silahturahmi adalah memperluas persaudaraan, Setiap orang menjalankan silahturahmi akan lebih banyak mengenal sahabat atau saudara yang lainnya. Seseorang yang jarang bersilahturahmi tentu tidak akan saling mengenal keluarga, sahabat yang lainnya, padahal diketahui bahwa semua umat islam adalah saudara. Inilah yang menjadi salah satu fungsi dari silahturahmi.

  • Menjadi Makhluk Yang Mulia

Keutamaan silahturahmi selanjutnya, yaitu dapat menjadikan kita sebagai makhluk yang mulia. Pasalnya menyambung silahturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silahturahmi merupakan akhlak yang terpuji dan akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak yang termulia didunia dan diakhirat? Maafkan orang yang telah menganiayaimu, sambung silahturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Sedangkan, seseorang yang suka memutus tali silahturahmi maka dianggap sebagai perusak kehidupan. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam salah satu Al-Qurab  berikut ini, Allah SWT berfirman: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan tali silahturahmi (kekeluargaan)? mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulika telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad:22-23)

Baca jugaa : Bantu biaya pendidikan Santri Yatim

  • Memperpanjang Umur

Tak hanya menjadi makhluk yang mulia, keutamaan silahturahmi yang dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Mengunjungi anggota keluarga dan sanak saudara merupakan salah satu cara untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan. Selain itu silahturahmi juga merupakan amalan yang memiliki nilai pahala besar.

Seseorang yang senantiasa menjaga tali silahturahmi maka allah akan melapangkan rezeki dan memperpanjang umurnya. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah Hadits berikut, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dI perpanjangkan umurnya maka sambunglah tali silahturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Menjaga dan memperkuat silaturahmi sangat penting dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini bukan hanya bermanfaat didunia saja, akan tetapi untuk kebaikan diakhirat juga kelak nanti.

  • Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Menjalin silaturahmi dengan sesama juga menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pasalnya saat kita mau menyambung silahturahmi dan memperlakukan manusia dengan baik, berarti kita telah menjalankan perintah Allah SWT. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Makhluk, hingga apabila dia selesai dari (menciptakan)mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “benar, apakah engkau ridha jika aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? ia menjawab: iyaa. dia berfirman: “itulah Untukmu.”

  • Dijauhkan dari Neraka

Keutamaan silatuhrahmi berikutnya ialah dijauhkan dari Neraka, seseorang Muslim yang menjalin kembali tali silahturahmi maka akan dijauhkan dari api neraka, Sebagaimana salah satu Hadits berikut ini, yang artinya:  “Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan Zakat dan menyambung tali silahturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ke-lima hadits tentang silahturahmi kita dapat menyimpulkan bahwa keutamaan dalam menjalankan silahturahmi justru membuat kita merasakan hal-hal yang positif. Maka dari itu jagalah silaturahmi dengan keluarga dan orang-orang terdekat kamu. niscaya Allah SWT akan mempermudah segala urusaan kita.

Zakat infaq sedekah makin mudah tinggal klik: zakatakita.org

 

Jalan kebenaran hanya satu

Jalan Kebenaran – yang menyampaikan kepada allah subhanahu wa ta’ala hakikatnya hanya satu Allah berfirman dalam QS.al-anam ayat 153 yang artinya :

Dan bahwa (yang kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain., karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. demikian itu diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

ibnu katsir rahimaullah berkata : “Allah menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal, karena kebenaran adalah satu. Oleh karena itu, Allah menyebut “jalan lain” dengan jamak, karena bercabang dan berpencar, seperti firman allah dalam surat Al-Baqarah ayat 257

“Allah pelindung orang-orang beriman. dia mengeluarkan merka dari kegelapan-kegelapan (kafir) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan  yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. mereka itu adalah penghuni neraka. mereka kekal didalamnya”

semakna dengan penjelasan Ibnu Katsir ini diucapkan oleh Ibnul Qayyim

Ibnu mas’ud radhiallahu’anhu berkata,“rasulullah SAW membuat garis dihadapan kami sebuah garis lalu beliau SAW berkata ‘ini adalah jalan allah’ lalu beliau SAW membuat garis kanan-kirinya  kemudian berkata ‘ini adalah jalan -jalan lain dimana disetiap jalan ada syaitan yang menyeru kepadanya.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata ” hal ini karena jalan yang menyampaikan kepada Allah SWT hanya satu, yaitu sebab Allah SWT mengutus rasulnya dan allah turunkan kitab-kitab nya  tidaklah seorang pun akan sampai kepadanya kecuali  melalui jalan ini. seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan semua pintunya, maka semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuai melalui jalan ini. sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan allah dan akan menyampaikan kepadanya.”

Asy-syatibi rahimahullah juga berkata,”ayat diatas adalah nash yang tegas pada permasalahan kita. sesungguhnya jalan kebenaran itu hanya satu, tidak menghendaki adanya keberagaman, berbeda dengan jalan yang bermacam-macam.”

Beliau rahimahullah juga berkata ,“Allah swt menerangkan bahwa jalan al-haq hanyalah satu yang bersifat umum didalam syariat, baik secara global maupun rinci. Sementara itu, ayat-ayat yang mencela perbedaan serta memerintahkan untuk kembali kepada syariat demikian banyak. Semuanya, secara pasti menunjukan bahwa tidak ada pertentangan di dalam syariat ini bahkan sumbernya hanya satu dan sepakat.”

Jadi adanya ayat-ayat yang mencela berpecah-belah itu untuk memperkuat bahwa al-haq itu kebenaran hanyalah satu. dengan demikian prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengikutnya. Sebab konsekuensi dari pendapat mereka itu adalah al-haq tidak hanya satu dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, justru benar dan terpuji. Jika demikian, gugurlah prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh, ini merupakan pendapat yang menyelisihi kesepakatan orang berakal, terlebih lagi orang yang berilmu. selain itu, juga menyelisihi dalil al qur’an dan al- hadits.

Harta Hanya Titipan

Harta Hanya Titipan

Harta Hanya TitipanSejatinya, kita tidak pernah kehilangan sesuatu. Karena pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Coba lihat kembali siapa yang memiliki diri kita? Allah. Jangan pernah merasa memiliki. Kalau ternyata kita hanya dititipi. -Harun Tsaqif-

Kita tidak memiliki apa apa selain yang Allah ridhoi untuk kita. Termasuk harta kita. Maka, tugas kita hanyalah menjaga titipan tersebut sebaik mungkin. Dan harta terbaik adalah harta yang disedekahkan. Sebagai manusia apalagi hamba Allah, harus bijak dan mampu memanfaatkan dengan baik titipan Allah yang luar biasa cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Dalam sebuah hadist :

 

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).

 

Pada hari kiamat, setiap dari kita akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Termasuk tentang harta. Apakah dengan cara halal kita mendapatkannya? dan untuk hal-hal apa saja harta tersebut dibelanjakan? Sebagaimana Allah memerintahkan untuk makan makanan yang halal, cara mendapatkan makanan tersebut pun dengan cara yang halal juga. Halalnya makanan dan cara mencarinya sangat ditekankan, sehingga kita wajib makan harta yang halal, maka jika sewaktu di dunia kita selalu memperhatikan makanan yang kita makan dan cara mencarinya, tentu akan menyelamatkan kita dari pertanyaan pada hari kiamat.

Tanda sayang Allah terhadap hamba-NYA yaitu melalui ujian. Bisa jadi harta yang berlimpah itu merupakan ujian dari Allah. Allah ingin tahu, jika diberi harta yang banyak apakah dia ini tetap mau beribadah kepada Allah dan tidak sombong? atau mungkin Allah ingin tahu apakah harta tersebut dimanfaatkan dengan baik atau tidak? 

Sama halnya dengan harta yang sedikit. Allah ingin menguji apakah Hamba-NYA ini mau bersyukur atas apa yang Allah kehendaki atau tidak? lalu dengan yang sedikit itu apakah dia akan memanfaatkannya dengan baik atau tidak? Allah pun maha adil. Allah tahu batas kemampuan hamba-NYA.Tidak akan Allah menguji diluar kemampuan hamba-NYA. Dan tidak mungkin Allah memberi masalah tanpa solusi. Oleh karena itu seberapa banyak harta yang kita miliki, baiknya disyukuri. Seperti dalam firman Allah berikut :

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrahim:7)

 

Baca Juga : Dunia ini Hanya Permainan

Sedekah adalah harta yang sesungguhnya. Sedekah juga merupakan cara kita untuk mesyukuri nikmat Allah melalui harta. Namun sayangnya, ada sebagian orang malah gara-gara sibuk mencari harta hingga lupa kepada Pemberi harta. Mereka lupa kepada yang empunya rezeki yaitu Allah Swt. Gara-gara mencari harta lupa salat, tinggal puasa, yang lebih parah lagi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah. Padahal dalam hartanya memiliki hak-hak fakir miskin yang harus ia tunaikan. Sebagai pengingat kembali, dalam pandangan Islam, harta yang kita miliki bukanlah harta kita, melainkan semua titipan dari Allah Swt. Kita tidak tahu kapan harta itu diambil oleh Allah Swt secara tiba-tiba. Kita tak bisa mengklaim itu harta kita seutuhnya ketika nyawa sudah terpisah dari badan.

Namun, hanya satu cara agar harta tersebut benar-benar menjadi abadi milik kita yaitu dengan cara bersedekah. Harta hanya titipan ini kita belanjakan di jalan Allah. Kita sisihkan harta kita untuk membayar zakat dan menolong orang-orang yang lemah. Ketika harta yang kita keluarkan di jalan Allah, sesungguhnya kita sudah menabung untuk akhirat kelak. Yuk, sedekah!

 

Amal Jariyah

Amal Jariyah

Amal Jariyah – Berbagi terhadap sesama merupakan amalan yang baik yang dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah amal jariyah. Dalam Islam, amal jariyah merupakan amalan yang terus mengalir kebaikannya meski orang yang melakukannya telah meninggal dunia. Ketika amalan-amalan yang lain terputus, amal jariyah akan tetap  memberinya pahala yang tiada henti.

Ada tiga kategori amal jariyah manusia, yaitu ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan anak muslim yang mendoakannya. Hal ini seperti dalah hadist yang berbunyi :

“Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya (kedua orang tua).” (HR.Muslim)

 

Amal jariyah tidak hanya tentang waqaf. Cakupan amal jariyah atau sedekah jariyah dapat diperluas. Dengan catatan, amalan tersebut masih bermanfaat bagi generasi mendatang. Sebut saja seperti mendirikan, membangun serta merawat berbagai fasilitas yang sering dipergunakan oleh lembaga pendidikan, lalu mendirikan rumah sakit, masjid/musholla, panti asuhan untuk anak-anak yatim dan terlantar, mewariskan Al-Quran dan lainnya.

Terkesan sederhana sekali. Namun, tindakan tersebut dapat memberi manfaat luar biasa bagi kehidupan. Ketika orang lain merasakan manfaatnya, maka pahalanya akan terus mengalir ke kamu.

Kalau kamu ingin yang lebih mudah, coba lah untuk memberikan manfaat dari ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah mengajarkan saudara, teman atau anak untuk mengaji. Setiap huruf yang dibacakan orang tersebut, kamu akan mendapat pahalanya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Ada tujuh amalan yang pahalanya tetap mengalir untuk seorang hamba setelah dia meninggal, padahal dia berada di dalam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu agama, (2) orang yang mengalirkan sungai (yang mati) (3) orang yang membuat sumur, (4) orang yang menanam kurma, (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang memberi mushaf Al-Qur’an, dan (7) orang yang meninggalkan seorang anak yang senantiasa memohonkan ampun untuknya setelah dia wafat.” (HR Baihaqi).

 

Contoh paling sederhana lagi yaitu orang tua yang mengajarkan al-fatihah pada anaknya. Karena bacaan al-fatihah itu akan anak bawa sepanjang hidupnya, akan ia bacakan 17 kali dalam sehari. Maka, orang tuanya sendiri yang harus langsung mengajarkan al-fatihah pada sang anak. Karena pahalanya akan terus mengalir untuk orang tuanya. Contoh lain lagi, menjadi perantara hidayah bagi orang lain. Yaitu mengajarkan ilmu kepada orang lain dan ketika orang lain itu mengamalkannya, maka pahala tersebut akan mengalir kepada pemberi ilmu.

Amalan tersebut menghasilkan pahala yang datang kepadanya dan dianjurkan untuk melaksanakannya semasa hidup karena Islam selalu mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat kebaikan.

Berbuat kebaikan yang dimaksud adalah menebarkan kebajikan dan kasih sayang kepada sesama serta kebaikannya bisa terus dimanfaatkan oleh orang banyak.

Seorang muslim memiliki hakikat bahwa Ia merupakan seorang insan yang mempunyai keimanan juga kebaikan dalam kehidupannya. Bukan hanya sebatas beribadah kepada Allah saja akan tetapi juga perlu untuk menjalin hubungan antar sesama atau yang biasa disebut Hablum Minannas. Mengenai hal tersebut upaya yang bisa kita lakukan agar amal yang kita perbuat bermanfaat bagi orang lain adalah dengan memahami pengertian amal jariyah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bersedekah dengan Sebutir Kurma

Bersedekah dengan Sebutir Kurma

Bersedekah dengan Sebutir Kurma – Bersedekah tidak mesti banyak, yang penting adalah ikhlas dan halal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu.” (HR. Muslim, no. 1014).

 

Hadits ini menjelaskan kemuliaan bersedekah dan jaminan Allah SWT bahwa harta yang disedekahkan tidak akan berkurang tetapi bertambah dan terus bertambah sehingga di hari kiamat nanti orang yang bersedekah terheran-heran menerima balasan sedekah dengan sebutir kurma seperti sebesar gunung atau lebih besar lagi.

Kalimat “bersedekah dengan sebutir kurma” tidak menunjukkan kekhususan bersedekah dengan satu biji kurma, tetapi hanyalah perumpamaan bersedekah dengan sesuatu yang sedikit atau sepele baik berupa uang, makanan, minuman, pakaian, atau lainnya.

Kalimat “dari penghasilan yang baik” menunjukkan bahwa sedekah yang diterima oleh Allah hanyalah sedekah yang bersumber dari penghasilan yang cara mendapatkannya secara halal. Sebaliknya, sedekah dari penghasilan yang tidak baik maka tidak akan diterima oleh Allah SWT, meskipun nominal sedekahnya sangat fantastis namun tetap tertolak.

Akibat jelek dari makanan dan pekerjaan yang haram adalah doa sulit terkabul. Dalam hadits disebutkan tentang seorang musafir yang sudah dalam keadaan benar-benar memohon kepada Allah sambil mengangkat tangannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim, no. 1014)

 

Mengenai sedekah dengan harta haram, maka bisa ditinjau dari tiga macam harta haram berikut:

  • Harta yang haram secara zatnya. Contoh: khamar, babi, benda najis. Harta seperti ini tidak diterima sedekahnya dan wajib mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau dimusnahkan.
  • Harta yang haram karena berkaitan dengan hak orang lain. Contoh: HP curian, mobil curian. Sedekah harta semacam ini tidak diterima dan harta tersebut wajib dikembalikan kepada pemilik sebenarnya.
  • Harta yang haram karena pekerjaannya. Contoh: harta riba, harta dari hasil dagangan barang haram. Sedekah dari harta jenis ketiga ini juga tidak diterima dan wajib membersihkan harta haram semacam itu. Namun apakah pencucian harta seperti ini disebut sedekah? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Intinya, jika dinamakan sedekah, tetap tidak diterima karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim, no. 224). Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. (HR. Muslim no. 1014). Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 92-93.

 

Baca juga : Sedekah Listrik untuk Pesantren Tahfidz Nurul Hayat

Kalimat “sampai (sedekah kurma itu) sebesar gunung atau lebih besar lagi”. Hadits ini menunjukkan bahwa siapapun bisa bersedekah, dan kekurangan harta atau banyaknya kebutuhan bukanlah alasan untuk tidak bersedekah. Orang kaya sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah sebagai ungkapan syukur dan demi mempertahankan nikmat, sedangkan orang miskinpun dianjurkan untuk bersedekah sebagai ungkapan syukur atas nikmat iman dan agar keluar dari jerat kesulitan. Perhatikanlah bagaimana hadis ini memberikan illustrasi indah bersedekah satu biji kurma dengan ganjaran hingga sebesar gunung atau lebih besar lagi. Hadis ini menunjukkan keutamaan bersedekah meskipun dengan sesuatu yang sedikit. 

Oleh karena itu, janganlah kita meremehkan bersedekah dengan Rp. 1000, Rp. 5000, atau satu kotak susu, atau satu kantong sayuran, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah bersedekah dengan tulus ikhlas semata-mata berharap ridha Allah SWT dan bersumber dari penghasilan baik, niscaya Allah akan memelihara sedekah tersebut sampai pada hari kiamat nanti ia didapati seperti sebesar gunung atau lebih besar lagi. Jangan lupa sedekah.

 

Sabar dan Sholat

Sabar dan Sholat

Sabar dan Sholat – Dinamisnya hidup terkadang menjadi manusia sering merasakan kebahagiaan dan kesenangan. Meski begitu tentu manusia juga tak akan terlepas dengan berbagai persoalan yang menerpa kehidupan di dunia. Sakit, masalah keluarga, pekerjaan, bahkan permasalahan dalam sosial tak dapat dihindari oleh manusia untuk menjalani kehidupan yang singkat ini. Tentu berangkat dari hal tersebut. Manusia akan senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah SWT. Sehingga Allah memerintahkan kita manusia untuk mencari pertolongan dari Allah SWT.

Dalam dua ayat surat Al Baqarah, Allah memerintahkan bagi hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153).

 

Baca Juga : Hunian Baru untuk Penyintas Semeru

Faedah ayat

Pertama. Petunjuk dan sekaligus perintah dari Allah agar seorang hamba meminta pertolongan kepada Allah dengan melakukan dua sebab ini yaitu sabar dan shalat.

Kedua. Allah dalam ayat ini memanggil khusus kepada orang-orang yang beriman, menunjukkan betapa penting perintah Allah untuk bersabar dan melaksanakan salat. Meminta pertolongan dengan sabar dan shalat adalah tuntutan dan konsekuensi keimanan seseorang.

Ketiga. Sabar adalah kunci datangnya pertolongan Allah dalam menghadapi musibah. Kesabaran mencakup tiga hal: sabar dalam taat, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menghadapi takdir buruk berupa musibah.

Keempat. Salat adalah sebab datangnya pertolongan Allah. Ibadah salat yang dimaksud adalah mencakup salat wajib dan juga berbagai salat sunah.

Kelima.  Amal ibadah akan terasa berat bagi orang yang tidak khusyu, lebih-lebih lagi ibadah salat. Yang dimaksud orang yang khusyu di sini adalah orang beriman yang benar-benar menundukkan dan merendahkan diri terhadap perintah Allah.

Keenam. Penetapan sifat ma’iyyah bagi Allah, yaitu kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya. Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar dalam makna kebersamaan yang khusus, yaitu Allah senantiasa membantu dan memberi pertolongan kepada mereka. Ini merupakan berita gembira bagi orang-orang yang sabar.

 

Setiap hari manusia diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan Sholat lima waktu sehari semalam sebagai bentuk ujian Allah SWT kepada manusia apakah orang tersebut masih memiliki iman atau tidak. 

Dalam salah satu kajian Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Sholat itu satu-satunya wasilah Ibadah yang disebutkan dalam alquran untuk langsung memohonkan kebutuhan yang langsung dirasakan oleh manusia. Bahkan sebelum manusia diminta untuk Sholat, Adi Hidayat mengukapkan dalam penjelasan ayat Al-Baqarah ayat 45-46, Allah langsung menayakan masalah yang dihadapi oleh manusia. 

“Dalam ayat itu Allah menempatkan Sholat dalam urutan ke dua. Kata Allah hai hamba ku jika kalian punya persoalan dalam hidup maka mintakan solusinya kepada ku (Allah SWT),” agar setiap orang yang memiliki masalah tidak mengurainya melalui sosial media yang hanya akan mendapatkan tanggapan yang negatif bagi manusia. Tapi kata Adi Hidayat mintalah pertolongan itu dalam sholat.

Jangan ketika dapat masalah langsung lari ke medsos. Namun, ingatlah Allah. Mintalah pertolongan pada Allah. Bagaimana? satu, dengan sabar. Terima dulu masalah itu, problematika apapun itu sebesar apapun kata Allah karena memang hanya anda yang sanggup. Mustahil Allah menurunkan ujian dan cobaan jika Allah tidak menurunkan solusi dan hikmah dari masalah itu. Apapun permasalahnnya tetap sabar dan sholat solusi terbaik.

 

Setiap Amalan Tergantung Pada Niat

Setiap Amalan Tergantung Pada Niat

Setiap Amalan Tergantung Pada Niat – Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

 

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah, berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia seperti karena mengejar wanita. Dalam hadits disebutkan contoh amalannya yaitu hijrah, ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia.

Niat secara bahasa berarti al-qashd (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertedak) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah, letak niat dalam batin (hati).

Kalimat “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya”, ini dilihat dari sudut pandang al-manwi, yaitu amalan. Sedangkan kalimat “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, ini dilihat dari sudut pandang al-manwi lahu, yaitu kepada siapakah amalan tersebut ditujukan, ikhlas lillah ataukah ditujukan kepada selainnya.

Baca Juga : NH Madiun Berikan Modal untuk Koperasi Berani Jujur

Niat punya peranan penting dalam setiap ibadah termasuk dalam sedekah. Ada kisah dalam hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab yang sudah  sangat masyhur di tengah-tengah kita yaitu kitab Riyadhus Sholihin. Kisah ini berkaitan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap amalan itu tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. 

Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422).

 

Kisah di atas menceritakan bahwa ayah Ma’an (Yazid)  ingin bersedekah kepada orang fakir. Lantas datang anaknya (Ma’an) mengambil sedekah tersebut. Orang yang diwakilkan uang tersebut di masjid tidak mengetahui bahwa yang mengambil dinar tadi adalah anaknya Yazid. Kemungkinan lainnya, ia tahu bahwa anak Yazid di antara yang berhak mendapatkan sedekah tersebut. Lantas Yazid pun menyangkal dan mengatakan bahwa uang tersebut bukan untuk anaknya. Kemudian hal ini diadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersabda, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati”.

 

Ilmu Sebelum Ramadhan

Ilmu Sebelum Ramadhan

Ilmu Sebelum Ramadhan – Puasa punya keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Maka tentu saja untuk memasuki bulan yang mulia ini dan ingin menjalani kewajiban puasa, hendaklah kita punya persiapan yang matang. Persiapan yang utama adalah persiapan ilmu. Karena orang yang beribadah pada Allah tanpa didasari ilmu, maka tentu ibadahnya bisa jadi sia-sia. Sebagaimana ketika ada yang mau bersafar ke Jakarta lalu tak tahu arah yang mesti ditempuh, tentu ia bisa ‘nyasar’ dan  tersesat. Ujuk-ujuk sampai di tujuan, bisa jadi malah ia menghilang tak tahu ke mana. Demikian pula dalam beramal, seorang muslim mestilah mempersiapkan ilmu terlebih dahulu sebelum bertindak.  

 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal? Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib, dan Jabir. Lihat catatan kaki Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69)

Ilmu sebelum ramadhan yang seperti apa? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fitri, juga setelahnya. Semoga dengan mempelajarinya, bulan Ramadhan kita menjadi lebih berkah.

Baca Juga : Baitul Mal di Masa Rasulullah dan Sahabat

Sebagaimana datangnya orang terpenting di dunia, segala sesuatu akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kehadiran bulan Ramadhan. Apalagi tamu yang akan datang ini banyak memberikan hadiah kebaikan bagi yang menyambutnya.

Ramadhan itu adalah bulan kesabaran. Sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan, pada bulan  itu rizki orang-orang mukmin ditambah. Siapa yang memberikan makanan bagi orang  yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka.  Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikitpun. Barang siapa yang meringankan beban pekerjaan orang lain, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Oleh karena itu dalam bulan Ramadan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. Dua bagian yang pertama ialah bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan hendaklah memohon ampunan kepada-Nya. Dua bagian yang kedua yaitu kamu memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga”. 

Ibadah puasa Ramadhan merupakan amal yang istimewa, karena ibadah yang lain adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan ibadah puasa adalah milik Allah. Dalam melaksanakan puasa diharapkan tidak hanya dapat meninggalkan makan, minum dan segala yang membatalkannya, akan tetapi harus dapat menjaga diri dari segala perbuatan yang tercela. Puasa itu diharapkan dapat membentuk sikap mental kita, menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dan beribadah dengan penuh keikhlasan.   Dalam berpuasa, manusia muslim dibentuk agar dapat meningkatkan kesabaran, ketabahan, peningkatan daya tahan mental dan fisik. Rasa haus dan lapar dikala berpuasa, dapat meningkatkan solidaritas sosial terhadap orang-orang miskin yang ditimpa kesulitan, dan anak-anak yatim yang terlunta-lunta.

KANTOR PUSAT

  • Perum IKIP Gunung Anyar Blok B-48 Surabaya (Maps)
  • cs@nurulhayat.org

Platform donasi Yayasan Nurul Hayat, klik aja zakatkita.org

PUBLIKASI

  • Majalah
  • Event
  • Laporan Publik
  • Laporan Situasi
  • Berita

GABUNG

  • Relawan
  • Karir
  • Mitra Kami
  • Ajukan Program

LAYANAN

  • Zakat
  • Infaq
  • Sedekah
  • Kalkulator Zakat
  • Layanan Lainnya

INFORMASI

  • Kantor Cabang
  • FAQ

Copyright © 2001-2021 Yayasan Nurul Hayat Surabaya